
alkana benar-benar hancur saat melihat istri tercintanya rapuh seperti ini, dia juga di liputi rasa bersalah karena telah menutupi kebenaran tentang penyakit mendiang ibu mertuanya. mereka duduk di tepi ranjang, alkana menangkup wajah Rania dengan ke dua tangannya. di kecupnya kening dan mata sembab istrinya secara bergantian.
"sayang, mas minta maaf karena sudah menutupi ini semua dari kamu. mas tahu mas salah, tapi mas juga tidak bisa mengingkari janji mas pada bapak. mas akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, jangan benci mas ya." pinta alkana merasa bersalah.
Rania mendongak menatap manik mata suaminya itu, "mas kamu tidak salah kok, aku yang terlalu emosional tadi, aku juga minta maaf sudah berkata kasar sama kamu. untuk masalah penyakit ibu, ya mungkin memang tuhan menuliskan takdirnya seperti ini, Rania hanya harus ikhlas agar ibu tenang di sana."
alkana menganggukkan kepalanya, dia tersenyum miris melihat betapa rapuhnya sang istri.
"sayang, kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. nanti setelah kamu sudah lebih baik, kita kembali ke Jakarta lagi." ujar alkana.
"tidak mas, kamu kembali lah ke Jakarta. kamu kan harus segera menyelesaikan ujian akhir, biar aku di sini dengan bapak." sahut Rania.
di tengah-tengah percakapan mereka berdua, tiba-tiba pintu kamar Rania di ketuk dari luar. alkana pun beranjak dari untuk membuka pintu.
"Alex? kenan?" panggil alkana saat melihat kedua sahabtnya sudah berdiri di depan pintu.
tiba-tiba dari belakang Sherly berlari dan mendorong mereka dengan sekuat tenaga agar minggir dari pintu, Alex dan kenan sampai terhuyung ke samping, tapi tidak sampai jatuh.
"huwaaaaaa! Rania, kamu harus kuat ya. kamu harus kuat, aku selalu menyemangati mu." ujar Sherly menangis histeris.
Rania dan ke tiga lelaki yang berdiri di depan pintu, saling memandang. padahal Rania tidak menangis, kenapa malah Sherly yang menangis sehisteris itu?
"Rania kau harus kuat, seperti aku. aku selalu tegar saat menghadapi masalah tuntutan orang tuaku, kau harus mencontoh aku pokoknya. hiks." sambung Sherly lagi dengan masih menangis, gadis itu memeluk Rania dengan erat.
kenan yang melihat itu, jiwa julidnya pun timbul seketika.
"kuat apanya, kau saja menangis sekencang itu. padahal rania saja tidak menangis, sok-sokan menyuruh Rania mencontoh mu, mencontoh mu menangis begitu maksudmu?" cibir kenan.
"ck, kak Kenan kau ini tidak tahu aku sedang sedih ya. menyebalkan sekali." ketus Sherly saat sudah bisa meredakan tangisnya.
"ck sudahlah kalian, berisik saja. Rania maafkan mereka berdua ya. otak mereka sepertinya terjatuh di perjalan tadi, jadi maklumi saja kalau mereka agak sedikit tidak waras" ujar Alex.
Sherly dan kenan melotot mendengar ucapan jahat yang keluar dari mulut jahanam Alex itu.
__ADS_1
"oh iya, kami juga minta maaf karena terlambat sampai di sini. soalnya tadi kami sempat tersesat, gara-gara si bodoh kenan ini tidak bisa membaca maps." sambung Alex yang lagi-lagi di bubuhi sedikit ejekan.
Rania hanya menganggukkan kepalanya, "iya kak tidak apa-apa kok, tapi kenapa kalian bisa tahu?"
"si anak bawang yang memberi tahu." sahut Alex.
Rania kembali menganggukkan kepalanya, "tapi seharusnya kalian tidak perlu repot jauh-jauh ke sini."
"tidak jauh kok." sahut Kenan.
"oh iya, kak Kenan Kok ikut? bukankah kak Kenan tidak menganggap kita temanmu?" tanya Rania.
kenan si paling bobrok itu, masih betah pura-pura hilang ingatan.
"semenjak aku melihat kalian di rumah sakit, aku jadi menganggap kalian teman, tapi hanya sedikit saja. jadi aku harus ikut saat ada yang sedang bersedih." jelas kenan dengan wajah datarnya yang menyebalkan di mata semua orang.
Rania pun bangkit dari duduknya, berjalan keluar kamar, "kalian buatlah nyaman diri kalian di sini, aku akan keluar menenangkan diri dulu."
"Rania aku ikut." Sherly yang hendak mengejar rania di tahan oleh alkana.
alkana mengajak mereka semua menuju ruang tamu, di sana ada mama Silvi, papa Hendra dan juga pak Hary.
"Al, Rania mana nak?" tanya mama Silvi yang tak melihat keberadaan menantunya bersama mereka.
"Rania sedang ingin menenangkan diri, ma." sahut alkana.
"ya sudah, terima kasih ya kalian sudah mau jauh-jauh datang ke sini. tolong bantu hibur Rania ya, biar dia kembali ceria lagi." ujar mama Silvi.
"itu sudah pasti Tante." sahut Sherly dan di angguki oleh yang lainnya.
"Rania jika sedang sedih sulit di hibur, jika dia ada mengatakan hal kasar saya mohon jangan di masukkan ke hati ya." pinta pak Hary.
"bapak tenang saja, Alex dan kenan yang wajahnya jelek dan tingkahnya yang menyebalkan saja kami terima dengan tangan terbuka." timpal Dino.
__ADS_1
Alex dan kenan langsung menggeplak lengan dino, di kiri dan kananya secara bersamaan.
"aaws, sakit woi." keluh Dino.
"tuh kan pak lihat, selain jelek dan menyebalkan mereka juga suka menganiaya orang." adu Dino.
"sudahlah, kalian ini kenapa tidak berhenti berdebat sih." ketus Sherly.
para orang tua yang melihat tingkah konyol mereka yang tidak ada habisnya, pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Hary, kami pamit dulu ya. kamu dan rania yang tabah ya, aku yakin Nilam sudah tenang di atas sana." ujar papa Hendra berpamitan.
"iya hati-hati di jalan ya, terimakasih sudah datang ke sini. dan terima kasih juga, karena alkana dan kalian telah menjaga Rania dengan baik." ujar pak Hary.
"itu sudah menjadi tugas alkana untuk menjaga istrinya, kami sudah menganggap Rania layaknya putri kami sendiri kok." sahut mama Silvi.
"Tante, om hati-hati di jalan." ujar mereka bersamaan.
pak Hary pun mengantarkan besannya itu ke depan.
hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam, bapak sudah pergi ke kamarnya untuk istirahat. sedangkan teman-teman alkana dan Rania, mereka juga sudah ke kamar karena mereka menginap. namun berbeda dengan alkana, pria itu tengah kelimpungan mencari keberadaan sang istri yang sejak tadi belum kembali ke dalam rumah. dia berjalan mengelilingi pekarangan rumah, dan terlihat Rania sedang berdiri di tepi kolam ikan dengan melempari sebuah batu.
"sayang." panggil alkana.
Rania tidak menoleh, dia tetap fokus pada kegiatannya melempari baru ke arah kolam.
"sayang, masuk yuk. ini sudah malam, di sini dingin, tidak baik untuk kesehatan kamu." ajak alkana.
Rania menoleh, pandangan matanya menyorot sendu, alkana langsung memeluk istrinya itu.
"kita masuk ya, kamu harus istirahat." ujar alkana.
"mereka semua sudah pergi?" tanya Rania.
__ADS_1
"iya sudah pergi, pergi ke alam mimpi." sahut alkana.