
"Kak awas!" teriak Sherly saat ada mobil di depan mereka.
Kenan terkejut dan langsung mengarahkan motornya ke trotoar hingga mereka terjatuh bersama, kenan langsung membulatkan matanya dan melirik ke belakang dia langsung menarik kakinya yang terjepit dan berdiri membantu Sherly.
"Kau tidak apa-apa? aku sudah bilang jangan ikut denganku!" ketus Kenan.
"apa sih Kak, mau kakak jatuh lagi aku juga tidak masalah." sahut Sherly membersihkan tubuhnya.
kenan langsung menoyor kepala Sherly, "jadi kau mau kita jatuh lagi? kalau ada yang luka bagaimana?"
"ck, apa sih. tidak kok." ketus Sherly.
Kenan langsung mengangkat motornya agar berdiri kembali, di bantu dengan Sherly walaupun Sherly hanya menimbang tenaga sedikit saja. saat telah kembali berdiri baru banyak orang yang berdatangan untuk membantu mereka.
"telat Pak Bu, Kami pergi dulu ya kami tidak apa-apa kok." ujar ujar Sherly.
dia langsung naik ke atas motor dan kenan membunyikan klakson, lalu langsung melajukan nya. Mereka menuju ke arah rumah sakit, jarak dari sekolah menuju tempat itu cukup jauh.
sedangkan di belakang mobil alkana telah mengikutinya dan tepat berada di belakang motor kenan, Alex yang duduk di belakang memajukan kepalanya.
"itu kaki Sherly Kenapa?" tanya Alex yang melihat luka di kaki Sherly.
Rania juga ikut memperhatikan, "iya ya, kenapa ya? lukanya besar begitu, kenapa juga dia Biasa saja? apa tidak sakit?"
"Apa mungkin mereka berdua tadi jatuh?" tanya alkana.
"bisa jadi, bagaimana kalau kita suruh mereka masuk ke dalam mobil saja." usul Alex
"Apa kau kira Kenan akan mau? Bahkan dia saja tertutup dengan kita, kau tahu sendiri sifat anak itu bagaimana." sahut alkana.
Mereka semua fokus menatap lurus ke depan, bahkan Dino saja yang selalu banyak bicara, Kini dia menjadi lebih banyak diam. dia tidak menyangka jika orang seceria itu ternyata punya masa lalu besar yang selalu ingin dia tutupi.
__ADS_1
sesampainya di rumah sakit mereka langsung turun dan mengejar kenan yang masuk ke dalam lebih dulu, bahkan kenan saja tidak tahu jika temannya yang lain mengikutinya. saat dia ingin masuk ke dalam ruangan mamanya, dia menoleh ke belakang melihat temannya yang telah berada di belakangnya.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Kenan.
"Sedang apa? kau itu teman kami, tidak usah memberi pertanyaan bodoh seperti itu." ketus alkana.
"Kak jangan berbicara seperti itu." ujar Rania kepada alkana dengan memegang tangan lelaki itu.
alkana berbicara seperti itu karena dia sangat tahu sekali Jika temannya itu tidak akan pernah ingin memberitahukan keadaannya kepada orang lain, alkana terus saja ingin mengetahui semua kondisi teman dan keluarganya namun hanya Kenan saja yang terlalu tertutup padanya.
Kenan menundukkan kepalanya dan langsung berbalik badan dan masuk ke dalam, jantungnya seakan terhenti berdetak saat itu juga saat melihat wanita kesayangannya telah terbujur kaku dengan senyuman yang indah. air matanya mengalir lagi dengan deras, dia langsung berlari menunggu menuju jasad ibunya.
"Ma, Mama bangun! Mama apa tidak mendengar perkataan Kenan? Kenan sudah berjanji akan membahagiakan Mama, tapi kenapa mama malah pergi bukannya kembali." teriak Kenan histeris.
"Kenan akan dengan siapa kalau mama pergi? apa Mama tidak pernah memikirkan itu?" Kenan langsung memeluk tubuh yang kaku itu.
Alex mendekat dan mengusap punggung Canon untuk menguatkannya, "tante sudah tenang di sana, kau harus ikhlas ya."
"Kenapa kalian semua egois? tidak ada yang pernah memikirkan perasaanku, Kenapa kalian memilih jalan kalian tanpa memikirkan perasaan anak kalian." Kenan masih terus berteriak.
Kenan mengusap air matanya dengan kasar, "mama, maafkan Kenan kalau belum bisa menjadi anak yang baik. Maafkan Kenan belum bisa membahagiakan Mama, untuk terakhir kalinya mama harus janji dengan kenan ya, harus bahagia di tempat baru Mama."
tubuh Kenan langsung ambruk ke bawah memeluk lututnya dan menangis, yang membuat siapapun yang melihatnya merasakan sakit yang saat ini kenan rasakan. lelaki itu kehilangan ceria dan senyumannya dalam sekejap, semua kebahagiaan itu di renggut begitu saja. Kenan tidak ingin merasakan kehilangan lagi, akan tetapi umur seseorang sudah di tentukan oleh Tuhan.
dia menangis sesegukan, Alex ikut Duduk di sampingnya dan memeluk lelaki itu untuk menenangkannya. alkana juga ikut menguatkan Kenan, mereka duduk berdampingan dan tidak ada yang bisa kuat menyaksikan kesedihan ini.
"hanya mama yang aku punya, Sekarang aku tidak memiliki tujuan apapun lagi." ujar Kenan dengan Getir.
"Kau punya kami semua, Kau boleh anggap Mamaku mamamu juga." sahut alkana.
"kami semua ada untukmu, Jangan pernah merasa sendirian." Timpal Alex.
__ADS_1
pintu terbuka membuat mereka semua menoleh, manik mata Kenan langsung menyala dan dia langsung berdiri, tangannya mengepal kuat dan langsung mendaratkan pukulan keras ke wajah lelaki yang baru saja datang yang tak lain adalah Papanya. Alex langsung menarik tubuh Kenan, sedangkan lelaki paruh baya itu menatap Kenan dengan tatapan bersalah.
"Maafkan Papa Ken."
"sedang apa kau di sini? mau tertawa di depan jasad Mama bersama ****** itu!" teriak Kenan.
"kau yang telah merusak kehidupan dan kebahagiaan kami, yang seharusnya mati itu kau bukan Mamaku." teriak kenan lagi.
"kak Kenan Jangan berbicara seperti itu." Timpal Sherly.
"Kenapa? biar kalian semua tahu kalau lelaki ini tidak pantas untuk di hargai, di mana perasaannya saat Mamaku menunggu kabarnya Selama 2 bulan ternyata dia sudah punya anak dengan wanita lain. Mama kecelakaan parah karena surat cerai yang dia berikan, dan aku tidak akan terima kalau dia datang ke sini hanya untuk melihat Mamaku." jelas Kenan dengan amarah yang membara.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam, yang di lalui Kenan cukup sulit bahkan semua harta telah di rampas oleh lelaki itu, Kenan dan ibunya selama ini hanya menumpang hidup bersama nenek, Ibu dari mamanya.
Alex melepaskan tangannya dari Kenan karena dia tak tahu keadaan Kenan, karena tidak merasakannya tetapi itu cukup menyakitkan. kenan ingin sekali menghabisi lelaki itu namun dia tahan saat Tangannya sudah berada tepat di wajah papanya, namun alkana langsung menarik tangan Papanya untuk keluar dari ruangan Rania mengikuti alkana yang juga keluar.
"Kak Kenan jangan seperti ini lagi ya, pasti mamanya kakak tidak akan suka jika Kakak seperti ini. bukankah mama kakak sudah pergi dengan senyuman terbaiknya, biarkan dia bahagia di rumah yang seharusnya Dan kau juga harus bahagia seperti sebelumnya, kami semua di sini ada untukmu dan selalu mendukungmu." jelas Sherly.
Di luar alkana langsung melepaskan genggaman tangannya dan menatap tajam ke arah lelaki paruh baya itu.
"Aku tidak tahu kenapa Om bisa tega melakukan hal seperti itu, dan aku juga tidak mau tahu, yang aku inginkan jangan pernah mengganggu Kenan untuk waktu yang lama sampai dia benar-benar bisa menerima keadaan dan kenyataan yang ada. jadi alkana mohon Om pergi dari sini."
"Om akan pergi, tapi Om minta kamu jaga Kenan ya. berikan surat ini untuk kenan saat dia sudah merasa lebih baik, Terima kasih ya alkana." lelaki itu langsung pergi dan mengusap pasar air matanya yang membasahi pipinya.
"Aku tidak menyangka kehidupan Kak Kenan ternyata menyakitkan seperti ini, tawanya selama ini hanya kedok saja untuk menutupi semua masalahnya." ujar Rania yang ikut menangis.
alkana langsung memeluk tubuh istrinya, air matanya lolos begitu saja. mereka bersahabat semenjak dari taman kanak-kanak, alkana sangat tahu perasaan Kenan saat ini lelaki itu tidak sekuat yang selama ini dia Tunjukkan pada dunia dia bahkan sangat rapuh.
manik mata alkana membulat saat tidak sengaja melihat sosok mertuanya masuk ke dalam salah satu ruangan.
"bapak."
__ADS_1
Rania langsung melepaskan pelukan itu dan menatap alkana, lalu mengikuti langkah suaminya itu, Sedangkan alkana langsung melangkahkan kakinya di ikuti oleh Rania.