
Hay para readers semua, dimulai dri eps 77 sampai 80 author salah up. yang di eps 77 seharusnya di bagian ini, sdh author coba perbaiki tpi GK bisa. author jdi GK semangat lanjut nulisnya.
jadi gimana menurut para readers kalau ceritanya ditamatin sampai sini aja? atau masih ada yg mau cerita ini lanjut?
komen yah🙂
terimakasih yg udh setia membaca🙏
.
.
"Sedang apa kau di sini?" tanya rania.
"kau juga sedang apa di sini? rumahmu di sekitar sini?"
"tidak, aku hanya kebetulan lewat saja."
sasha mencengkram kuat pergelangan tangan Rania, membuat wanita itu meringis. Rania berusaha menepis tangan Sasha dan mendorongnya, "kau ini apa-apaan sih, sakit tahu."
"itu tidak seberapa dengan sakit dan malu yang aku rasakan karena kau." Ketus sasha.
"itu bukan karena aku, tapi karena ulah yang kau buat sendiri."
Plakkk
tamparan keras mendarat di pipi Rania hingga meninggalkan bekas berwarna merah, Rania memegangi pipinya karena terasa nyeri dia menatap ke arah sasha dengan tatapan tajam.
"Sasha kau apa-apaan sih?"
sasha yang ingin menampar rania kembali wanita itu langsung mencegahnya dan menepis kasar tangan sasha.
"otak kau di buat dari apa sih? masalah kau denganku itu sebenarnya apa sih?"
"banyak! kedatangan kau ke SMA Dharma Yudha saja sudah kesalahan besar, dan sekarang kau beraninya merebut alkana dan membuatnya berpihak pada kau!" kata Sasha kesal.
"Aku tidak pernah merebut apapun darimu, apa kau dan alkana sebelumnya memiliki hubungan khusus? bahkan alkana tidak pernah menyukaimu, jangan pernah membahas alkana di antara kita. alkana akan selamanya menjadi milikku dan tidak akan bisa menjadi milikmu, walau kau Gunakan cara licik sekalipun." tegas Rania.
Sasha menjambak rambut Rania dengan kuat dan melepaskannya saat ada seseorang melintas di dekat mereka, Sasha menarik tangan rania dengan kasar agar keluar dari supermarket, Rania berusaha menepisnya dan berontak, namun dia tidak memiliki kesempatan itu.
saat mereka telah jauh dari supermarket, Rania menepis tangan Sasha dan mendorongnya kasar, dia berusaha berlari secepat mungkin karena merasa Hawa sudah tidak enak. saat Rania menoleh ke belakang, benar saja tiga lelaki bertubuh tegap sedang mengejarnya bersama dengan Sasha.
"mas alkana tolong aku." lirih Rania.
Rania terus berlari hingga kakinya tersandung, membuatnya terjatuh hingga kakinya mengeluarkan darah segar, seketika lelaki itu menyeringai dan tersenyum mengerikan ke arah Rania, membuat wanita itu ketakutan. bahkan lukanya tidak terasa sakit lagi karena lebih besar rasa takutnya, saat ini dia ingin menghubungi alkana namun dengan cepat Sasha melemparkan ponsel Rania hingga pecah membuat Rania membulatkan matanya.
__ADS_1
"lakukan apa yang Aku perintahkan." setelah memerintahkan orang suruhannya, sasha langsung melangkahkan kakinya menuju mobil dan meninggalkan tempat itu.
"pergi Kalian! aku tidak ada urusannya dengan kalian." teriak Rania Ntar ketakutan.
Setelah tangan lelaki itu ingin memegang Rania. Krakk. hampir saja tulangnya terpatah di buat alkana. mereka membulatkan matanya saat tangan temannya hampir patah berkata dan dia terjatuh. manik mata alkana menyala tajam, dia benar-benar sangat marah saat ini.
"badjingan, sialan kalian!" umpat alkana, dia langsung melayangkan pukulannya ke arah lelaki di hadapannya.
"Jangan pernah sentuh wanitaku dengan tangan busuk kalian!" teriak alkana, dia kembali melayangkan tendangan kuat ke arah perut lawannya hingga meringis kesakitan.
Rania berdiri dan menjauh, tubuhnya gemetar saat alkana juga ikut terjatuh karena lawannya keroyokan.
"Mas alkana."
alkana kembali bangkit dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah, pukulan keras mendarat lagi di wajah alkana, membuat alkana menyeringai dan langsung melayangkan pukulan lagi ke wajah preman di hadapannya dan melemparkan tendangan kuat ke wajah pria satunya.
namun mereka tidak kalah begitu saja, membuat alkana kewalahan menghadapi tiga preman sekaligus. Rania mencari batu atau apa saja yang bisa membantu alkana, saat dia menemukan batu itu dia langsung melemparkan ke arah lelaki botak hingga mengenai kepalanya, membuat preman itu marah besar dan menghampiri Rania namun alkana langsung menghadangnya dan memukul wajah lelaki itu hingga mengeluarkan darah segar.
Alex dan kenan yang kebetulan melintasi jalan itu menggunakan motor langsung berhenti dan membulatkan matanya. mereka bergegas menuju alkana dan melayangkan pukulan kuat kepada lawan, alkana menatap mereka dengan tersenyum dan langsung mereka bertiga menghabisi para preman itu hingga mereka kabur saat Rania membunyikan suara sirine polisi.
alkana langsung menatap ke arah Rania dan menghampirinya, dia menangkap wajah istrinya itu.
"sayang, kamu tidak apa-apa kan? ada yang luka, atau ada yang sakit?"
"mas, luka kamu lebih parah, turunkan saja." perintah Rania.
"sudah, diam." tegas alkana.
kenan dan Alex ikut berlari, namun kerah baju Alex langsung di tarik oleh Kenan, "motor kita woi."
Alex menepuk jidatnya dan langsung berbalik, mereka Langsung melajukan motor mereka menuju apartemen alkana. tiba-tiba motor Dino juga berhenti di depan Apartemen ini membuat kenan dan Alex menghampirinya.
"ngapain kau ke sini?" tanya Kenan.
"mau mengantar makanan dari Tante Silvi, Kenapa kau pada kusut semua seperti itu mukanya?" tanya Dino.
"aaaaaww." teriak alkana kencang membuat mereka bertiga membulatkan matanya dan langsung berebut naik lebih dulu.
Sesampainya di dalam apartemen alkana, mereka mengerjapkan mata berulang kali saat melihat alkana dan Rania berciuman tanpa sengaja karena alkana terjatuh membuat Rania ikut terjatuh.
kedua tangan Alex Menutup Mata Dino Dan Kenan. Rania langsung bangkit dan duduk sambil mengusap bibirnya, dia berlagak seperti orang polos yang tidak terjadi apapun, begitupun dengan alkana yang ikut Duduk di sebelah Rania dengan wajah lugunya.
"tiba-tiba aku sudah jadi dewasa saja." ujar dino.Kenan menepis tangan Alex dan menghampiri mereka.
"sempat-sempatnya ya kalian begitu." Kenan memperagakan ciuman dengan tangannya.
__ADS_1
Rania menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan langsung bangkit, Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya di ikuti oleh alkana. ketiga lelaki Jomblo itu saling menatap dan menggaruk kepala belakangnya merasa bodoh sendiri.
Dino duduk dan membuka makanan itu lalu memakannya, begitupun dengan Kenan dan Alex yang juga ikut memakannya dengan Tatapan yang datar. bahkan Dino lupa tujuan awalnya datang ke tempat ini.
setelah beberapa saat alkana keluar dengan lukanya yang telah di obati oleh Rania, namun Rania tidak ingin keluar kamar karena merasa malu.
bel apartemen berbunyi, alkana langsung membukanya, "Dani, Sedang apa kau di sini?"
"Eh kak alkana, ini aku mau mengantar makanan atas nama Rania. aku kira ini rumah Rania atau jangan-jangan." ucapan Dani terpotong saat melihat Dino Dan yang lainnya muncul di permukaan.
"a-aku s-salah Antar makanan ya?' tanya Dani gugup.
"Oh, kau kurir Makanannya? tidak kosong kan di dalamnya? nanti di jalan kau lapar kau habiskan pula." tanya Kenan.
"eh, ti-tidak kok kak. t-tapi ini pesanan Rania, mungkin aku salah alamat ya Kak." ujar di Dani masih gugup.
"tidak, Ini benar. dia pesan untuk aku, makasih ya." alkana langsung mengambil makanan itu dan membayarnya.
"Ya sudah, Ngapain kau masih di situ saja?" tanya Alex.
"Eh, iya Aku pergi dulu ya Kak." Dani langsung berlari, karena tubuhnya yang gempal membuatnya begitu lucu. Alex dan Kenan tertawa ngakak, mereka selalu suka mengerjai Dani di manapun. sedangkan alkana langsung menuju ke kamar untuk memanggil Rania agar keluar.
"Sayang ayo makan dulu." teriak alkana dari depan pintu kamar.
"Oke." Rania dengan semangat membuka pintu dan melompat ke gendongan alkana, dia melingkarkan kakinya di pinggang alkana.
"ekhem hemmm." dehem ketiga pria itu, Rania langsung menoleh dan membulatkan matanya.
"aku lupa kalau mereka masih di sini." Rania tersenyum kaku dan langsung turun, dia bersembunyi di balik tubuh suaminya hingga sampai di ruang keluarga.
Mereka memilih makan di tempat itu dari pada di meja makan, kenan dengan lahap menyantap makanannya begitupun dengan yang lain. lalu bel kembali berbunyi membuat Rania melangkahkan kaki membukakan pintu.
pintu terbuka memperlihatkan lelaki yang sangat dia kenali, "Dani? Kenapa kau ada di sini?"
"kau juga ada di sini?" tanya Dani membulatkan matanya.
keempat lelaki di dalam saling menatap dan langsung menuju ke depan, "kami sedang kumpul-kumpul, Kenapa? kau mau ikut? Kenapa kembali lagi?" Kenan berbicara dengan spontan.
"ti-tidak, Bagaimana ya? makanannya salah, itu pesanan Pak Nando." jelas Dino dengan menyengir.
"Boleh tukar, Kak? ini punya kalian." Dani memberikan makanan itu.
mereka berlima menatap Dani dengan tatapan horor, Karena makanannya telah mereka makan hingga tinggal tersisa setengahnya.
"sialan kau Dani!" teriak alkana kesal.
__ADS_1