
"ayo naik ke atas panggung." ajak Kenan terus-menerus.
"tidak!" tolak Alex tegas.
Kenan langsung melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke belakang Alex, membuat lelaki itu ikut memutar kepalanya untuk melihat apa yang akan Kenan lakukan. Kenan langsung menendang bokong Alex hingga lelaki itu memajukan langkahnya, terus berulang kali dia menendangnya.
"dasar, kau teman laknat! Sakit woi." teriak Alex.
saat sampai di atas panggung, kini Kenan langsung menari di samping Rania dengan mengibaskan selendangnya seakan itu adalah rambut miliknya.
"Surti nge-dance dulu ya." teriak kenan. semua penonton pun ikut terbawa suasana dan satu ruangan menari bersama mengikuti gerakan alkana dan Rania. berakhirnya dance yang di tampilkan oleh Rania maka acara itu juga telah selesai.
di depan kelas Rania dan yang lainnya menghela nafas karena merasa lelah akibat menari terus-menerus.
"sialan memang, kan Jadi ketahuan kalau aku ini sebenarnya pernah debut jadi Idol di Korea." ujar Alex.
"jadi apa kau bilang? idol? debut jadi tukang gali kuburan yang benar!" ujar Kenan menohok.
"kau tidak tahu saja kalau aku sudah ngedance seperti apa."
"Ya seperti tadi lah, seperti orang-orangan sawah yang terkena angin." cibir kenan.
Rania tertawa kecil dan langsung menatap alkana yang telah menggenggam jemarinya dengan erat.
"eh, mau ke mana kak?"
"woi si bucin! alkana bucin vano anggara." teriak Alex.
"Rania Kenapa kau pergi? aku dengan siapa dong?" Tanya Sherly.
"ya sama babang Kenan lah." jawab Kenan terus.
"aku ini normal, aku tidak suka dengan Surti." ketus Sherly.
"tenang, kalau malam nanti babang jadi Yanto." jawab Kenan dengan centil.
"bukannya kau kalau malam jadi serigala berbulu belut." timpal Dina.
Sherly langsung melirik ke arah Dino begitupun sebaliknya, Dino tersenyum ramah dan langsung menatap ke arah kenan kembali.
"ya sudah, kalau dedek Sherly tidak mau surti mau gabung dengan pria-pria dulu.'
__ADS_1
Kenan langsung melangkahkan kakinya dan duduk di atas pangkuan lelaki yang sedang berkumpul tidak jauh dari tempat Mereka berdiri tadi.
"woi, Minggir kau Kenan. bokong kau tepos tulang semua, sakit kakiku!" teriak teman yang didudukinya itu.
"hei ini Surti." Kenan langsung menggeser temannya dan langsung duduk di tengah-tengah para lelaki tersebut.
"jangan bilang kalian sedang menceritakan pesona Dedek ya ujar kenan.
"Tidak tertarik." jawab temannya lagi.
"baguslah kalau begitu, kalian menggibah siapa? ikut dong, Eh kalian tahu tidak masa iya-" Kenan terus menggibah dengan para lelaki itu, dan anehnya mereka menanggapinya dengan serius.
di lain tempat alkana mengunci ruang penyimpanan barang olahraga, alkana langsung menarik Rania hingga dia bersandar di pintu. lalu alkana mengunci pergerakan tubuh Rania, Rania meneguk salivanya dalam-dalam dia menatap manik tajam suami itu.
"K-kak alkana m-mau ngapain? ini sekolah loh." ujar Rania gugup.
"jelaskan semuanya yang terjadi padaku." Perintah alkana.
"Jelaskan apa?"
"Kenapa bisa tiba-tiba ada di sini, dan juga kenapa tadi bisa nge-dance di depan semua orang? Lalu kenapa tidak pernah membalas pesan atau menjawab teleponku? kamu sudah tidak menyukai aku? kamu mau aku hukum dengan berat?"
"Sebenarnya aku sudah sampai di Indonesia dari kemarin, aku hanya ingin memberi kamu kejutan saat di sekolah, jadinya aku menginap di rumah mama. dan untuk masalah dance tadi, Pak Nando yang menyuruhku menampilkan itu. Sedangkan masalah pesan Aku hanya tidak mau kalau kamu terus menyusul ku ke negara y, dan bisa membuat kamu bolos terus dan membuat nilai kamu jadi hancur. sebentar lagi kamu lulus kan, jadi jangan bermain-main lagi. selesaikan sekolahmu dengan baik, karena nantinya Pasti anak kita bangga mempunyai Papa seperti kamu." jelas rania untuk membujuk suaminya yang sedang kesal itu.
Rania menganggukkan kepalanya dan alkana langsung menyeringai, kemudian memeluk pinggang Rania dan menariknya.
"Jadi kamu mau kita punya anak sekarang?" tanya alkana tersenyum nakal.
Rania membulatkan matanya, 'sepertinya aku salah berbicara ini.' Rania menggerutu di dalam hatinya.
"bukan! maksudku nanti, entah itu kapan."
"Kalau mau sekarang juga tidak masalah kok, kamu mau sekarang?"
"mas ih, sana. ini di sekolah, kalau nanti ada yang mendengar kita bagaimana? awas ih, jangan dekat-dekat." usir Rania.
alkana tidak mempedulikan ucapan istrinya itu dia terus mendekatkan wajahnya, membuat Rania terus berusaha menghindar, namun alkana malah menyeringai dan terus mendekatkan wajahnya.
"mas ih, sanaan. kita masih di sekolah loh, nanti ada yang melihat bagaimana? alkana si mesum akut, ah bagaimana Coba?" tanya Rania terus menghindari serangan alkana.
pintu digedor-gedor dari luar membuat mereka berdua membulatkan matanya dan saling menatap, Rania meneguk salivanya dengan susah payah dan juga melingkarkan tangannya di pinggang alkana dan memeluknya, karena gemetar dan juga takut ketahuan.
__ADS_1
Alkana malah tersenyum lebar, saat ketakutan Rania malah membuat mereka semakin tidak berjarak dan itu menguntungkannya.
"aku di dalam, Siapa itu yang berani mengusik waktu istirahatku, hah?" teriak alkana.
dan itu membuat gedoran pintu terhenti, "aku Alex, cepat keluar."
ternyata sebelumnya di tempat lain, saat kenan sedang bercanda dengan para teman-temannya dia mendapatkan panggilan telepon dari rumah sakit yang merawat ibunya.
"Halo ada apa dok?" tanya kenan dengan cemas.
"kamu segera lah ke sini ya, Ibu kamu telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu, kamu yang kuat ya." ujar dokter tersebut dengan suara getir.
seketika Kenan terdiam, ponselnya jatuh ke lantai hingga pecah layarnya. air matanya menetes begitu saja, temannya yang lain malah tertawa karena mengira Jika dia masih berakting menjadi surti. Alex yang tahu perubahan dari kenan langsung mendekat.
"Kenan, Kau kenapa?"
Sherly juga ikut mendekat dan mengusap air mata kenan, "Surti bisa menangis juga ya."
"mamaku sudah meninggal." jawab Kenan dengan getir dan air mata yang terus mengalir.
Sherly dan Alex begitupun dengan yang lainnya langsung membulatkan matanya, Sherly menatap Kenan dengan Tatapan yang bersalah dia langsung mendekat dan mengusap punggung lelaki itu.
"Kak Kenan yang kuat ya, Insya Allah ibu kakak sudah bahagia di tempatnya yang baru." ujar Sherly dengan tatapan merasa bersalah.
kenan langsung melepaskan selendang dan wig yang dia pakai dengan kasar, dia melepaskan sarung yang dia pakai, lalu langsung berlari meninggalkan mereka semua.
"sherly kau ikuti dia ya." pinta. Alex.
sherly langsung mengejar kenan menuju parkiran dan Menghadang motornya yang ingin melaju begitu saja.
"Kak Aku ikut ya."
"tidak! aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."
"aku tidak peduli, aku juga tidak mau kakak membahayakan nyawa Kakak sendiri."
"aku bilang minggir!" tegas Kenan tidak seperti biasanya.
Sherly menggelengkan kepalanya, Kenan langsung menangis di tempat itu juga karena sudah tidak mampu menahan kesedihannya. Sherly tanpa sadar ikut meneteskan air matanya dia langsung mendekati Kenan dan memeluknya. kenan langsung melepaskan pelukan itu dan langsung ingin melajukan motornya, namun sherly menahannya dan langsung ikut naik ke atas motor.
"turun!"
__ADS_1
"Kak, kami semua temanmu. Jangan pernah merasa kalau kau itu hanya sendiri." Sherly langsung melingkarkan tangannya di pinggang kenan. Kenan menghela nafasnya panjang dan langsung melajukan motornya.
sedangkan di tempat lain, alkana dan Alex begitupun juga dengan Rania langsung berlarian menuju parkiran. mereka langsung ingin mengikuti Kenan karena mereka tidak tahu selama ini keadaan Mama Kenan, karena lelaki itu selalu menutupinya semenjak perceraian kedua orang tuanya.