
sesampainya mereka semua di kampung halaman Rania, tepatnya di rumah kedua orang tua Rania, di depan sana sudah berkibar bendera kuning. wanita itu segera keluar dari mobil dengan terburu-buru, matanya yang sejak tadi di banjiri air mata sudah nampak sedikit bengkak. saat dia masuk juga sudah ada sebuah keranda, yang akan mengantarkan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
"ibuuuu!" teriak rania pilu.
orang-orang yang sedang takziah pun memberi akses untuk Rania, dan terlihat pak Hary mendatanginya.
"nak, kita harus ikhlas. ibumu sudah tenang di sana, dia sudah tidak akan sakit lagi." ujar pak Hary dengan memeluk anak semata wayangnya.
Rania hanya bisa menangis sesegukan mendengarnya, dia kemudian berjalan mendekati ibunya yang sudah terbujur kaku, dia langsung memeluknya dengan menangis histeris.
"ibu ini Rania, ibu lihat Rania sudah di sini. ibu jangan pergi, rania masih butuh ibu, kenapa ibu mau pergi tidak bilang pada Rania. ibu mereka jahat, mereka tidak ada yang memberi tahu Rania jika ibu sakit. Rania pasti jadi anak yang durhaka, karena di saat ibu sakit tidak ada Rania di samping ibu." racau Rania dengan masih sesegukan.
alkana yang melihat Rania pun menjadi tidak tega, pria itu segera menghampiri Rania, kemudian di peluknya tubuh rapuh istrinya itu.
"sayang, kamu harus kuat ya."
"hiks, m-mas ibu benar-benar pe-pergi." adu Rania tersendat-sendat, karena suaranya habis sebab menangis.
"apa ini alasan kalian menikahkan ku begitu cepat?" gumam Rania yang masih bisa di dengar oleh alkana.
alkana yang mendengar gumaman Rania pun melirik ke arah mama Silvi dan papa Hendra, jika alkana pikir lagi, apa yang Rania ucapkan itu ada benarnya juga. mereka menjodohkan alkana dan Rania, agar Rania ada yang menjaga setelah ibunya pergi. ya mungkin memang seperti itu.
"sayang, kita doakan semoga ibu bahagia di sana." ujar alkana mencoba menenangkan., alkana benar-benar tidak tega melihat Rania dengan kondisi seperti ini.
ibu di makamkan hari ini juga, Rania berdiri menatap tempat di mana ibunya akan beristirahat untuk selamanya di sana. tempat itu semakin lama semakin tertutup, membuat Rania rasanya tidak kuat untuk berpijak. untung saja alkana selalu berada di samping Rania, merangkulnya sejak tadi, jika tidak mungkin rania sudah tumbang.
__ADS_1
satu-persatu orang sudah pergi, kini hanya tinggal ada Rania dan alkana. pak Yadi sudah lebih dulu menunggu di mobil, Karena tidak kuat jika harus berlama-lama di sana. Rania kemudian memeluk nisan ibunya, ada rasa sedikit tidak rela melihat ibunya sudah di bumikan.
"bu, Rania akan mencoba ikhlas. Rania Akan selalu mendoakan ibu, semoga ibu bahagia di atas sana."
"ibu janji kan sama Rania, ibu akan selalu bahagia. Rania minta maaf belum bisa karena belum bisa membahagiakan ibu, tapi ibu sudah pergi, maafkan Rania karena Rania belum bisa menjadi anak yang berbakti. semoga ibu mau memaafkan Rania, Rania sayang ibu."
alkana berjongkok, pria itu hancur melihat wanita yang sangat di cintainya rapuh seperti itu. dia mengusap bahu Rania, guna menenangkannya.
"mas kamu pulanglah lebih dulu, aku masih ingin di sini." perintah Rania.
"tidak sayang, mas akan di sini menemanimu." sahut alkana.
"mas, untuk sekarang aku ingin sendiri. mengertilah."
"sayang, mas minta maaf ya."
alkana mengangguk, kemudian mengecup kilas kening Rania sebelum dia bangkit.
"mas akan tunggu di mobil." pamit alkana.
setelah kepergian alkana, Rania kembali memeluk Nisan ibunya. wanita cantik itu memejamkan matanya, seolah tengah meresapi pelukan hangat dari sang ibu.
"nak, ayo pulang. bapak ada titipan dari ibu untuk kamu." suara pak Hary mengagetkan Rania.
Rania menoleh sekilas, kemudian kembali menatap nisan ibunya.
__ADS_1
"ibu, Rania pamit pulang dulu ya. Rania akan sering ke sini untuk menjenguk ibu."
Rania kemudian bangkit dan berjalan ke arah mobil, dia mendahului bapaknya. dia tidak menyahut ucapan pak Hary, karena dia merasa kecewa pada bapaknya itu.
sesampainya di mobil, Rania duduk dengan pandangan kosong dengan alkana di sampingnya. ada rasa tidak rela saat mobil mulai melaju meninggalkan area pemakaman.
"nak, bapak minta maaf ya. bapak ada titipan dari ibu kamu, semoga setelah kamu melihatnya kamu akan mengerti." ujar pak Hary.
setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai kembali di rumah. pak Hary segera memberikan sebuah titipan dari mendiang ibu Rania, pria paruh baya itu memeluk putrinya. bapak juga sama hancurnya dengan rania, tapi ya mau bagaimana lagi, takdir sudah tertulis dan yang maha kuasa sudah berkehendak.
"nak, jangan sampai kamu membenci alkana, dia mencintaimu dengan tulus. lihatlah video itu, maka setelahnya kamu akan mengerti." ujar pak Hary lembut.
Rania mengangguk mengerti, dia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dulu sebelum menikah dengan alkana. dia ingin melihat sendirian, ada pesan apa yang ibunya sampainya di dalam video itu.
sesampainya Rania di dalam kamar, dia memejamkan matanya mencoba menguatkan dirinya sebelum melihat video itu. perlahan dia menghembuskan napas berat, kemudian jemarinya mulai memutar video itu.
terlihat di dalam video itu, ibunya yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit, dengan segala macam peralatan medis di sekelilingnya.
nampak ibunya tengah tersenyum di sana, hal itu membuat mata Rania kembali berkaca-kaca.
ibu: "anak ibu yang cantik, apa kabar sayang? ibu harap kamu baik-baik saja ya. ibu pergi dulu ya sayang, kamu harus selalu bahagia. jangan membenci bapak atau alkana, Karena ini adalah keinginan ibu. alkana sangat mencintaimu sayang, kamu harus menjadi istri yang baik untuknya ya, jadilah istri yang berbakti pada suamimu. ibu sudah tenang sekarang, karena kamu sudah bersama orang yang tepat. ikhlas kan kepergian ibu ya sayang, agar ibu bahagia di tempat baru ibu. ibu menyayangimu, hiduplah dengan bahagia."
tangis Rania seketika pecah kembali, rasanya tidak kuat harus di tinggalkan oleh orang yang begitu di sayangi. terlebih ini adalah ibu, Dunia akan serasa hampa tanpa sosok ibu yang mendampingi.
pintu kamar terbuka, tampaklah alkana di sana. pria tampan itu segera menghampiri istrinya yang tengah terisak, Rania langsung menubruk tubuh alkana, dia memeluk suaminya dengan sangat erat. Rania sungguh sangat menyesali ucapannya yang mengatakan membenci pria itu, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sangat bersyukur karena telah di pertemukan dengan alkana.
__ADS_1
"untuk saat ini mas akan mengijinkan kamu menangis, menangis lah sampai kamu lega. tapi setelah ini, mas hanya ingin kamu selalu tersenyum. ini harus menjadi terakhir kalinya mas melihat kamu serapuh ini, kamu harus kuat, ibu pasti akan sedih jika melihat kamu seperti ini. janji ya sayang." ujar alkana.
Rania tidak mengeluarkan suara apapun, hanya ada suara isakan kecil yang keluar dari bibirnya yang pucat.