
"kakak ipar? siapa maksudmu?" tanya Kenan.
alkana langsung menyikut perut Dino, hingga lelaki itu meringis kesakitan dan menatap manik mata yang menyala tajam ke arahnya. Dino menyengir dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak terasa gatal, lalu alkana langsung menepis kasar tangan dino yang berada di bahunya.
"pergi sekarang, atau aku usir kau dari rumah!" ancam alkana berbisik.
"ah elah, kak. jadi aku menginap di mana dong?" tanya Dino.
"bodo amat! mau kau tidur di kandang aligator juga aku tidak peduli, sekali lagi kau membahas kakak ipar di sini, lihat saja kau!" ancam alkana lagi.
"woii, di tanya malah bisik-bisik! kalian anggap kami di apa di sini? lalat?" ketus Kenan.
"woi, Helena. kau juga sedang apa berdiri di situ terus? kalau sudah melihat lelaki tampan saja matamu langsung kuning." ketus Alex.
"heh, sewot banget. dari pada melihat kalian, membuat mood ku hancur saja." ketus Helena balik.
"cih, dasar kau junior tidak akhlak!" teriak Alex karena Helena sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.
"awas loh kalian jodoh nanti, amin." ujar Kenan.
"amit-amit jabang bayi, aku mah ogah. lebih baik aku dengan dedek Sherly saja, tidak akan menolak kalau itu."
"iya, kau tidak menolak, tapi sherly-nya yang rasa-rasa langsung kena azab kalau menikah denganmu." cibir Kenan pedas.
"woi, kalian berdua berisik sekali sih. kalian siapanya kakak ku? bodyguard?" tanya Dino kepada Kenan dan Alex.
"aaargh, kau yang benar saja kak kalau mencari bodyguard, yang beres sedikitlah. masa iya seperti ini kau jadikan bodyguard, mereka itu cocoknya jadi host rumpi lambe turah." beo Dino.
"heh, apa kau bilang? jangan main-main ya, kau belum tahu saja kalau aku makan bagaimana!" ketus Kenan.
"urusannya dengan makan apa?" tanya Alex mengerutkan kening.
"ya makanku saja banyak, apalagi tenagaku ya pasti banyaklah." sahut Kenan.
Dino mengulum Senyum Dan langsung menatap ke arah alkana, "kak, ayo antar aku ke kantor kepala sekolah, aku mau satu kelas dengan kakak ipar."
lagi-lagi Dino meringis karena perutnya menjadi sasaran empuk alkana.
"maksudnya, satu kelas dengan calon kakak ipar." Dino mengembangkan senyum kaku.
"Kenan, Alex. antarkan Dino ke kantor kepala sekolah, kalau dia banyak omong hajar saja sesuka kalian." perintah alkana. kini dia langsung meninggalkan parkiran menuju ke kelas.
"asikkk, ada sasaran empuk." ujar Alex dengan menyeringai.
"awas saja kau main-main denganku ya! kau kelas berapa dan kau siapanya alkana?" tanya Alex.
__ADS_1
"kelas sebelas dan aku adik sepupu kesayangan alkana, jadi kalian harus menolongku." Dino menarik tangan mereka berdua meninggalkan parkiran.
kenan dan Alex membulatkan matanya saat dirinyalah yang ditarik oleh Dino, sebab seharusnya mereka berdua yang menuntun Dino menuju kantor kepala sekolah bukan malah mereka yang dituntun Dino.
"kenapa jadi kita yang dituntun?" tanya Kenan bodoh.
"sudah, kau diam saja! kita lihat saja dia mau pergi ke mana." sahut Alex.
tatapan para siswa-siswi mengarah pada mereka bertiga, lebih tepatnya mengarah pada Dino. akan tetapi yang tebar pesona malah Kenan dan Alex, mereka Melambaikan tangan ke arah semua siswa-siswi yang menetap ke arah mereka.
"sudah sampai." ujar Dino melepaskan genggaman tangannya pada dua lelaki tersebut.
"****, sialan! kau sudah tahu tempatnya, jadi untuk apa kau mengajak kami sampai sini, hah?" tanya Kenan kesal.
"hanya ingin mengajak kalian study tour di sekolah ini, ya sudah aku masuk dulu ya bye."
Dino langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, sedangkan Alex dan kenan saling bertatapan lalu mengumpat kesal tentang Dino dalam hati mereka. mereka Langsung memutar langkah dan menuju ke kelas.
di dalam kelas alkana mengambil benda pipih dari sakunya, dia sangat merindukan istrinya di saat seperti ini. ingin sekali dia bolos untuk dua bulan, akan tetapi dia sudah kelas dua belas dan tidak ada lagi waktu untuk bersantai-santai. dia langsung mencari kontak bernama *coklat susu* dengan emot hati berwarna hitam, dia selalu menyimpan nama rania seperti itu dari pertama kali mereka kenal. dia langsung menekan untuk melakukan panggilan video, dan tidak butuh waktu lama Rania langsung menjawabnya.
dengan wajah yang masih kusut Rania berulang kali mengerjapkan matanya, dan tersenyum manis ke arah alkana.
"hai, ini masih pagi sekali. kamu kenapa sudah menelepon?"
"kangen."
"sama coklat susu."
"siapa coklat susu?" tanya Rania dengan mengerutkan keningnya.
alkana mengangkat bahunya dan mengulum senyum, "aku besok kembali ke sana lagi ya, aku tidak nyaman sendirian di sini."
"ya ampun, baru juga sampai di Indonesia masa iya sudah mau kembali ke sini lagi. nanti saja ya tunggu satu minggu lagi."
"apa?! kamu mau menyiksa suamimu secara perlahan?" tanya alkana dengan kesal.
"huust, memang di kelas hanya ada kakak saja?" tanya Rania panik.
alkana langsung mengedarkan pandangannya dan ternyata ada vino yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, alkana tertawa bodoh dan menunjuk ke arah ponsel.
"gila kali ya, masa saudaraku mau nyiksa suaminya. minta di ruqyah kali ya."
alkana langsung melirik kembali ke arah ponsel dan memanyunkan bibirnya, "pokoknya tunggu saja, aku pasti akan sampai sana lagi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."
"tidak boleh! kamu jangan bandel dong.
__ADS_1
"sayang, cium." lanjut Rania tersenyum.
"a-apa?" tanya alkana gugup.
"cium, sayang!" teriak Rania.
alkana langsung melirik kembali ke arah vino, ternyata lelaki itu sudah tidak terlihat membuat alkana tersenyum lega. lalu menatap ke arah Rania dia mendekatkan bibirnya ke ponsel, namun Kenan dan Alex langsung datang dan mengejutkan alkana hingga sontak saja alkana mematikan sambungan video call mereka.
kenan menaikkan satu alisnya, "itu Rania kan?"
"ya ampun, alkana kita ternyata sudah besar ya." ujar Alex kepada Kenan.
"iya benar, jangan cepat-cepat besar ya sayang nanti kami sedih."
"CK, berandal sialan! minggir kalian mengganggu saja, Dino mana?" tanya alkana.
"CK, kurang ajar sekali sepupu kesayangan kau itu al, masa iya sudah tahu ruang kepala sekolah kami tetap di bawa-bawanya." protes kenan.
"iya, apa tidak semakin merasa tidak berguna coba kalau seperti ini." timpal Alex.
alkana tertawa kecil melihat tingkah mereka, "rasakan itu, makanya aku malas banget dia ada di rumahku apalagi sekolah di sini bisa semakin panas otakku."
"kami kenapa tidak pernah melihat, Dino? dia anak tantemu yang mana?" tanya Kenan.
"tanteku yang di luar negeri, kalian tidak akan tahu jadi Percuma saja aku jelaskan."
ponsel Alex tiba-tiba berdering membuatnya bergoyang-goyang karena getaran dari ponselnya tersebut, Kenan dan alkana saling menatap dan mengerutkan kening karena tidak tahu tingkah apalagi yang dibuat oleh Alex.
"ponselku bergetar." ujar Alex.
"****, sialan kau! aku kira kenapa." umpat Kenan.
"siapa ini? nomor asing, kalian tahu Ini nomor siapa?" tanya Alex mengarahkan ponselnya ke arah kedua temannya.
"tidak tahu." jawab Kenan dan alkana secara bersamaan.
Alex langsung mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya, "ya halo, dengan pria tampan di sini."
"iyuh, pria tampan." ucap Sherly.
"sher-sherly? ah, kau benar Sherly?" tanya Alex tidak percaya.
"wah, akhirnya dedek sherly terbuka mata batinnya." teriak Alex gembira.
dia langsung menjauh dan ingin mendengarkan yang ingin apa yang akan dikatakan oleh Sherly, membuat Kenan merasa kesal dan mengikutinya.
__ADS_1
"pasti ada yang aneh nih."