Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
eps 26 ibu, tolong Rania!


__ADS_3

Alkana mengambil sumpit yang ada di samping tubuh Rania lalu menyentil jidat Rania, " kenapa kau menutup mata?"


"Awwws." Ringis Rania mengusap kasar jidatnya gang selalu menjadi sasaran empuk alkana.


"Y-ya aku hanya menutup mata saja!" Jawabnya gugup, dan langsung mengambil sumpitnya dan kembali melahap mie di mangkuknya.


Alkana tersenyum mengejek lalu langsung ikut makan mie tersebut dan membantu rania untuk menghabiskannya, setelah itu Rania membereskan peralatan bekas makan mereka tadi. Setelah itu dia langsung menyusul alkana dan duduk di sebelah lelaki itu untuk nonton acara tv, mereka berdua menonton film horor yang mana membuat Rania terus-menerus memejamkan matanya karena merasa takut.


"Kalau takut masuk saja ke kamar tidurlah, ngapain sok-sokan ikut nonton." Ledek alkana.


"Tapi aku penasaran kak!"


"Ya sudah, kalau begitu kau tenang lah jangan berteriak terus, ini sudah malam kalau ibu dan bapak bangun bagaimana? Membuatku pusing mendengarnya!"


"Ya sudah sih tidak usah di dengar!" Ketus Rania.


"Huftt." Alkana menghembuskan nafasnya kasar karena merasa kesal.


Saat hantu di film nya muncul, rania terkejut dan dia bersembunyi di belakang tubuh alkana dan beberapa kali menarik baju lelaki itu hingga sedikit robek di bagian lengannya.


"CK, minggir kau sana! Mau langsung masuk ke kamar atau tidur di sini agar kau ditemani hantu itu." Ujar alkana menakuti.


Rania yang ketakutan langsung melarikan diri, dia lari dengan terbirit-birit dan langsung menutup pintu kamar dengan rapat. Dia langsung berbaring di ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya, dia berusaha memejamkan matanya namun dia malah membayangkan hantu menyeramkan yang tadi dia lihat.


Alkana pun dengan usil memasuki kamar secara diam-diam dan tanpa suara sama sekali, dia mendekat kearah saklar lampu dan menekannya berulangkali. Dan terjadilah lampu kamar itu seperti berkedip karena menjadi hidup mati, sangat cocok dengan suasana horor.


'ibu... Tolong Rania Bu! Ada apa ini? Apa ada hantu di kamar ini?' batinnya gelisah.


'ah, lebih baik aku pejamkan mata saja, pura-pura tidur untuk membohongi hantunya agar dia segera pergi hehe.' lanjutnya lagi.


"Aaaa badanku gemetar!" Teriak Rania tertahan.


Alkana yang mendengar teriakan Rania menahan tawanya, lalu langsung menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Dia menatap langit-langit kamarnya, dia membayangkan kehidupannya untuk beberapa tahun ke depan.


"Apa iya akan seperti ini terus? Apa aku akan bisa melepasnya nanti? Huh, sudahlah biarkan mengalir apa adanya saja, lebih baik aku segera tidur." Gumamnya.


Alkana langsung memjamkan matanya dan tertidur, sedangkan Rania belum bisa tidur. Mulutnya terus-menerus komat-kamit membaca doa agar dirinya tidak di ganggu oleh para hantu jahat, dan agar hantunya segera pergi. Lalu setelah itu dia kembali memejamkan matanya dan akhirnya dia pun tertidur dengan pulas.


.


.


.


Pagi hari di meja makan, Rania terus melempar senyum manisnya ke arah alkana yang menatapnya datar. Rania mengumpat kesal di dalam hatinya, karena alkana tidak bisa di ajak kerja sama.


Rania yang geram pun menendang kaki alkana hingga lelaki itu mengaduh kesakitan laku menatap Rania dengan tajam, "apa sih!"


"Senyum dong!" Bisik rania dengan kesal.


Ingatan alkana kembali pada rencana drama mereka, lalu akhirnya alkana tersenyum dengan sangat manis, sudah seperti orang yang dimabuk cinta. Lalu merangkul pinggang rania dan mengecup keningnya dengan mesra, ibu dan bapak Rania yang melihat adegan itu pun hanya mengulum senyum. Sedangkan Rania sedang berusaha menenangkan jantung yang sudah berdebar tak karuan, lalu dia menatap alkana.


'kenapa harus sampai segitunya sih? Membuat jantungku tidak aman saja, hatiku sudah Tremor karena tindakanmu tahu!' batin Rania menggerutu.


"Mas, mau makan dengan apa?" Tanya Rania sambil melirik ke arah ibunya.

__ADS_1


"Emm, makan apa ya sayang?" Alkana bergaya seolah dirinya tengah berpikir.


Rania menatapnya lalu berbisik, "cepat! Mau makan dengan apa?"


"Mas akan makan apa saja yang kamu siapkan!" Jawab alkana dengan tersenyum manis ke arah Rania.


"Jadi, kalau aku kasih hati aku mas mau?" Tanya Rania.


"Tentu mau dong sayang! Kan hati kamu memang untuk mas!"


"Ahh, mas bisa aja deh." Rania memukul pelan lengan alkana dengan centil.


Lalu Rania melirik ke arah bapak dan ibunya yang sudah kembali masuk ke dalam kamar, dia langsung bernafas dengan lega. Dia menatap alkana, dia langsung tertawa dengan lepas karena semenjak tadi prutnya sudah sakit menahan tawa.


"Kenapa kau tertawa?"


"Kakak menggelikan tahu kalau seperti tadi, sudah seperti bayi imut yang menggemaskan." Ledek Rania.


"Hei, kau tidak tahu kalau aku ini imut dan menggemaskan?" Tanya alkana dingin.


Rania langsung melengos sebal, dia menyesal karena telah salah memilih penggunaan kata untuk alkana. Mereka langsung sarapan lalu langsung bergegas berangkat ke sekolah.


"Kak alkana." Panggil Rania dengan nada manis saat telah sampai di tempat biasa Rania turun.


Alkana yang mendengarnya pun mengerutkan keningnya, terlebih lagi Rania mendekatkan wajahnya ke arahnya, membuat dia langsung mendorong kening Rania dengan jarinya agar wanita itu menjauh.


"Apa!"


"Emmm, ajarin aku renang dong!" Pinta Rania.


"Tidak!"


"Memangnya ada apa tiba-tiba ingin belajar renang?" Tanya alkana.


"Besok pelajaran olahraganya praktek renang, Rania kan tidak bisa berenang sama sekali, malu kalau sampai di ketawain satu kelas."


"Kau kan memang malu-maluin!"


"Alkana ih, pelit banget sih!"


"Heh, kau memanggilku apa tadi?" Tanya alkana.


"Alkana, kenapa?"


Alkana langsung mencomot bibir Rania, "coba katakan lagi!"


"Makanya ajarin dong kak, nanti Rania traktir deh."


"Pakai apa?" Tanya alkana.


Rania langsung mengeluarkan black cardnya, "tentu saja pakai ini, hehe."


Alkana langsung menyipitkan matanya dan langsung menghela nafas kasar "ya sudah, lihat nanti kalau aku tidak sibuk."


"Memangnya kakak sibuk apa?"

__ADS_1


"Ada lah, kepo amat kayak emak-emak!"


"Haish ya sudahlah, kak alkana kok wangi sekali sih, emm wanginya enak banget aku suka. Pakai parfum apa kak?" Tanya Rania.


Alkana hanya menatap Rania datar, "kau ingin apa lagi, hah?"


"Hehe, mau uang jajan kak." Jawab Rania cengengesan.


"Kan uang sudah ada disitu semua!"


"Kak, di kantin mana bisa pakai ini, jangan coba-coba ngerjain aku ya."


"Akhirnya sudah berguna juga otakmu itu, ya sudah ini." Alkana memberikan uang berwarna merah sebanyak sepuluh lembar.


"Cukup tidak?" Tanya alkana.


"Memang benar ya kata orang, laki-laki akan semakin tampan kalau sedang memberi uang!"


Alkana langsung menyentil jidat Rania, "turun kau, aku mau masuk!"


"Iih sabar dong kak, calon pacar Rania belum kelihatan!"


"Calon pacar?" Tanya alkana sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, kak Kevin!" Jawab Rania melirik ke arah alkana dan menahan tawanya.


"Shiiitt!" Umpat alkana. Dia akngsung melakukan mobilnya dan memasuki area kampus.


"Eh, loh loh kok jalan kak? Kan aku belum turun"


"Salahmu sendiri kenapa lama sekali keluarnya! Aku turun lebih dulu, kau terserah tunggu saja sampai jam pelajaran mulai baru kau bisa keluar!" Sungut alkana berapi-api.


Lelaki itu langsung turun dan meninggalkan Rania yang masih di dalam mobil, Rania mengumpat kesal. Bagaimana dia akan keluar jika di sekitar parkiran banyak siswa dan juga banyak yang menatap ke arah mobil alkana, membuat Rania semakin menepuk jidatnya.


"Punya suami tapi tidak berguna, jadi aku harus bagaimana ini? Mana pak Alvaro lagi yang amsuk di jam pertama, bisa habis aku kalau sampai terlambat!"


Dia melihat mobil Sherly terparkir di samping mobil alkana, membuat Rania langsung menundukkan kepalanya agar Sherly tidak melihat dirinya yang berada di dalam mobil alkana.


"Ibu, tolong Rania! Mampus aku kalau sampai terlambat, mana si Sherly sudah masuk lagi. Apa aku pura-pura keluar dari dalam mobil Sherly saja ya?"


Rania membuka pintu mobil dengan sangat pelan, dan saat dirinya akan berdiri di samping mobil sherly dia melihat Alex, dia langsung gelagapan lalu merayap berpura-pura mencari barang miliknya yang jatuh.


"Loh itu bukannya Rania ya?" Gumam Alex.


Lelaki itu langsung menghampiri Rania "Rania, kau sedang apa?"


"Cari ponsel aku kak."


"Bukannya ponsel kau genggam?"


"Eh, hehe iya! Maksudnya anting aku jatuh disekitar sini, duuh dimana ya?" Rania melirik ke arah Alex dan tanpa di duga Alex ikut berjongkok dan membantu Rania mencarinya.


"Kak sepertinya aku sudah terlambat, bantu Carikan ya, nanti kalau sudah ketemu kasih ke Rania ya, nanti aku kasih nomornya Sherly." Ujar Rania menjanjikan.


"Oke, aman deh." Alex langsung melanjutkan pencariannya untuk segera menemukan anting rania yang jatuh.

__ADS_1


Rania langsung berlari dan melirik kearah Alex, "maaf ya kak, aku tidak sengaja!"


Dia langsung masuk ke dalam kelas dan hampir saja dirinya terlambat, tidak berapa lama akhirnya jam pelajaran pertama di mulai dan pak Alvaro langsung menjelaskan semua materi pelajaran hari ini dengan detail, Rania sangat menyukai cara pak Alvaro menjelaskan walaupun terkenal sebagai guru killer.


__ADS_2