Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
kembali ke kota


__ADS_3

pintu kamar terbuka begitu saja, karena dikunci oleh alkana tadi malam. Nilam langsung membulatkan matanya lalu tersenyum, wanita paruh baya itu memundurkan langkahnya kemudian berlalu meninggalkan kamar putrinya itu. sedangkan alkana dan Rania melepas ciuman mereka dan langsung menjauh.


"Pintunya tidak Mas kunci?" tanya Rania.


Alkana menggelengkan kepalanya polos dan melirik kembali ke arah pintu, lalu langsung beranjak dan menguncinya membuat Rania membulatkan matanya menatap alkana dengan kebingungan.


"Loh kenapa kok dikunci?" tanya Rania.


"agar tidak ada yang melihat!" jawab alkana dengan menaikkan satu alisnya menggoda Rania.


Rania Langsung melempar bantal ke arah alkana dan kabur menjauh dari lelaki itu, dia ingin melompat dari jendela namun langsung ditarik oleh alkana kembali ke atas ranjang. Rania tertawa kecil dan melepaskan jemari alkana yang berada di pinggangnya.


"lepas mas."


"Coba panggil lagi." pinta alkana.


"tidak mau! lepaskan kak."


"Oh kakak lagi?" alkana langsung menggelitik tubuh Rania, hingga membuat Rania tertawa. rania bergerak dan menendang alkana hingga terjatuh ke bawah.


"Ops.. bukan aku!" Rania mengangkat tangannya.


alkana menatap ke arah Rania dengan Tatapan yang datar, dan tidak ingin beranjak dari tempatnya. Rania hanya tertawa keras dan menjulurkan lidahnya lalu langsung berlari keluar kamar untuk menghindari alkana.


"rania!" teriak alkana.


"bodo amat! wleee." sahut Rania.


alkana langsung bangkit dan mengejarnya kini mereka berada di pekarangan depan rumah sambil bermain dan ada tetangga Rania yang lewat, melihat mereka berdua dengan Tatapan yang sulit diartikan.


"Eh Rania Kamu kapan pulangnya?" tanya wanita paruh baya.


"eh bu Fitri? kemarin baru sampai rumah bu." jawab Rania tersenyum.


"itu siapa Rania? kok tampan sekali, sepupu kamu ya?" tanya Bu Fitri.


"ah i-iya bu." jawab Rania gugup.


"jodohkan dong sama Sisil, Dia jomblo loh. Kapan lagi kan Ibu punya menantu tampan seperti artis." ujar wanita paruh baya itu dengan tertawa kecil.


alkana hanya menatap datar ke arah Bu Fitri, dan menaikkan satu alisnya.


"tidak Bu, aku tidak mau!" ucap alkana langsung to the point tanpa menyaring perkataannya terlebih dahulu.


Rania langsung membulatkan matanya dan menyikut pinggang alkana, sedangkan wanita paruh baya di hadapan mereka malah tertawa terbahak-bahak membuat keduanya kebingungan.


"Ah, Siapa nama kamu anak tampan?" tanya Bu Fitri.


"alkana!" jawab lelaki itu.


"kamu suka sekali bercanda ya, anak Ibu cantik loh tidak kalah cantik dari Rania. banyak yang antri, tapi Ibu tidak suka." jelas Ibu Fitri.


"Eh ini mobil siapa? mobil kamu ya?" tanya Bu fitri.


"bukan! itu mobil tukang ayam di depan, saya hanya pinjam." jawab alkana datar.


"Oh begitu ya, tampan-tampan tidak bermodal. tapi tidak apa-apa yang penting tampan, jangan lupa main ke rumah Ibu loh ya, nanti Ibu kenalkan dengan Sisil."


"eh haha, iya bu." jawab Rania tertawa kaku.


setelah kepergian Ibu Fitri Rania langsung melirik ke arah alkana dan tertawa keras, membuat lelaki itu semakin merasa kesal. Rania Memegang perutnya yang terasa keram karena terlalu banyak tertawa.

__ADS_1


"mau aku ajak kamu ke rumah bu Fitri, Mas?" tanya Rania masih saja dengan tertawa.


"tidak!"


"Cantik loh anaknya, benar yang dibilang ibu Fitri tadi." ujar rania.


"tapi lebih cantik istri mas lagi." jawab alkana.


Rania mematung dan menatap dalam ke arah alkana, " apa tidak apa-apa kita tidak masuk ke sekolah mas?"


"Mas sudah izin." jawab alkana.


rania tiba-tiba tertawa membuat alkana menatapnya tajam.


"kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya alkana bingung.


"lucu ya, tiba-tiba panggilannya beda jadi Mas alkana terus aku kamu lagi."


"Tentu saja! dan sekarang kamu sudah resmi menjadi milik Mas seutuhnya, kalau Mas lihat kamu dekat-dekat Kevin lagi mas hajar dia sampai babak belur."


"Iiih, dasar preman!"


"tentu saja mas adalah preman vano Anggara." jawab lelaki itu.


"issh apa sih, tidak jelas!" teriak Rania.


"Ayo kita pulang ke apartemen lagi." ajak Alkana.


"Aku mau menemui temanku yang di sini dulu ya, Mas mau ikut?" tanya Rania.


alkana menganggukkan kepalanya, "boleh."


setelah selesai bersiap, mereka Langsung berjalan menuju ke jembatan tempat Rania dan teman-temannya biasa berkumpul.


"banyak sekali sih peraturannya." keluh alkana.


"Rania." Panggil Nisa teman rania.


"Nisa kalian semua sudah dari tadi di sini?" tanya Rania.


"iya, Eh kamu bawa siapa itu?" tanya Nisa.


"suam-." belum sempat alkana menyelesaikan ucapannya, Rania langsung menginjak kaki lelaki itu dengan kuat membuat alkana membulatkan matanya dan meringis kesakitan.


"aargh, sial! sakit sekali." batin alkana.


"s-sepupu aku, dia Bosan di rumah. mungkin nanti sore Kami mau kembali lagi ke kota." ujar Rania.


"Oh sepupu kamu yang ada di kota ya. ya ampun tidak nyangka loh aku, Kamu punya sepupu setampan ini, Kenalin dong." ujar salah satu dari mereka.


"tidak! dia sudah punya pacar." Ketus Rania dengan wajah yang sangar.


alkana mengulum senyumnya dan langsung berjalan menuju Sungai, meninggalkan Rania dan temannya yang sedang berbicara. dia tidak pernah melihat suasana yang indah ini di Kota bahkan udara di sini belum tercemar sama sekali, masih terlihat asri dan juga menyejukkan hanya saja warganya yang terlihat aneh bagi alkana.


.


.


.


Saat ini mereka sudah berada di kota kembali, lebih tepatnya di apartemen mereka dan akan berangkat ke sekolah. alkana menatap istrinya dengan Tatapan yang dalam membuat Rania bergidik ngeri.

__ADS_1


"Mas, jangan menatapku seperti itu ih! seram tahu." ketus rania mendorong wajah alkana.


'Kapan?" tanya alkana.


"kapan? kapan apanya?" tanya Rania kebingungan.


"ya, yang biasa dilakukan suami istri." tanya alkana frontal, Rania meneguk salivanya dalam-dalam.


"i-itu besok-besok ya."


"tidak! nanti malam." pinta alkana dengan kekeh.


"Iiih, besok!"


"nanti malam, Rania Dwi Eliza!"


"Ya sudah, Iya iya." jawab Rania.


alkana mengulum senyumnya dan mencium kening dan bibir Rania, lalu menggenggam jemari istrinya itu. kini mereka berjalan menuju parkiran Rania menatap tangannya yang saat ini tidak pernah lepas dari genggaman suaminya itu, tanpa sadar seolah senyuman hadir di wajah manisnya.


sepanjang perjalanan, mereka menceritakan hal yang tidak masuk akal. pasangan suami istri tidak jelas itu selalu saja ada candaan yang mengocok perut hingga sampailah mereka di tempat biasa alkana menurunkannya, Rania sudah bersiap-siap akan turun tetapi lelaki itu terus melajukan mobilnya hingga memasuki gerbang.


"Kak! kenapa sampai masuk?" tanya Rania kebingungan.


"panggil kakak lagi aku sentil jidat kamu, tahu." ancam alkana.


"loh kan kita sudah di sekolah, ya jadi panggilnya Kakak lah, masa iya panggilnya Mas. Jadi kalau ada Kak Kenan dan Kak Alex, Rania harus panggil kamu gini Mamas alkana pangeranku Ayo kita latihan drama. gitu ya?" tanya Rania dengan memperagakan cara wanita centil.


"bisa-bisa satu sekolah geger hanya karena itu, lalu aku di introgasi sama Sasha dari Senin sampai ketemu Senin lagi." lanjutnya.


"ya tidaklah, kan kita masih di dalam mobil. cerewet sekali kamu ini, mau aku makan lagi bibirnya?" ancam alkana.


"CK, dasar mesum!"


alkana langsung keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk ke Rania, membuat wanita itu membulatkan kedua bola matanya.


"apa yang kakak lakukan?"


"sudah, ayo cepat."


Rania langsung keluar dan alkana menutup pintunya kembali, lelaki itu menggenggam tangan Rania dan berjalan menuju ke kelas membuat Rania membulatkan matanya dan berusaha menepis terus-menerus tangan alkana. wanita itu kini sudah menjadi tatapan liar para siswa-siswi DarmaYudha sedangkan alkana merasa bodo amat.


"Kak lepas! Apa yang kamu lakukan?" Wajah Rania benar-benar sangat panik saat ini.


Namun alkana menatapnya dengan senyuman yang manis dan lembut, lalu melepas genggaman tangannya dan merangkul pundak Rania, jantung wanita itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini. dia ingin segera menghilang ke belahan bumi yang lain, daripada harus menanggung masalah pada hari ini.


"mas lepaskan, Jangan bilang Mas mau mengumumkan pernikahan kita? Jangan berpikiran sempit seperti itu ya mas." bisik Rania dengan wajah yang panik.


"muka kamu kenapa merah sekali sih? tersipu ya?" tanya alkana dengan tertawa kecil.


Alex dan Kenan yang melihat pemandangan pagi yang mengejutkan itu, langsung berlari menghampiri mereka berdua dengan tergopoh-gopoh. Alex menatap tangan alkana yang merangkul Rania dengan menyelidik,


"Kalian ada hubungan?" tanya Alex.


"tidak! tidak tahu ini, kak alkana Entah kenapa. Tolong dong Kak Alex bawa temannya ini ke UKS untuk diobati." pinta Rania.


"alkana aku tahu kau tampannya melebihi aku, tapi jangan Crush aku juga dong yang di embat! Ah memang tidak setia kawan kau ini."


"Rania, patah hati abang Dek." ujar Kenan bersedih.


Alex mendorong tubuh Kenan hingga lelaki itu langsung terjatuh, "aku setuju, tapi Rania jodohkan aku dengan Sherly ya."

__ADS_1


"cih, Alex sialan ya kau!"


"woi, bantuin aku!" teriak Keenan.


__ADS_2