Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
hukuman Alex dan kenan


__ADS_3

Sekolah DarmaYudha


Sesampainya di parkiran, alkana langsung menahan Rania yang ingin keluar terlebih dahulu. wajahnya ia dekatkan ke wajah Rania, membuat wanita itu membulatkan matanya dan langsung keluar, lalu menutup pintu mobil tersebut dengan keras.


"huh, untung tidak ada yang melihat. bisa-bisa dituduh mesum di dalam mobil aku, dasar ya punya suami mesum sekali tidak bisa melihat kondisi." gerutu Rania.


alkana kini telah berada di sampingnya, membuat Rani terkejut lalu tersenyum manis ke arahnya. "kenapa cemberut seperti itu?"


"tidak asik!" ketus alkana.


"nanti di rumah ya." bisik Rania dengan manja.


wajah alkana langsung sumringah dan menganggukkan kepalanya antusias.


"lanjutkan yang seperti kemarin, ya!" pinta alkana dengan puppy eyes.


Rania memukul bahu alkana dan langsung berjalan lebih dulu, lelaki itu langsung mengejarnya dan menyeimbangkan langkah mereka.


"iya bilang!" paksa alkana.


"tidak!"


"iya!"


"tidak mau."


"iya!"


"Iya, mas alkana." jawab Rania dengan suara yang sedikit keras, membuat lelaki itu langsung menutup mulut Rania dengan tangannya.


"hei, ayo ke sana! ada yang seru loh." ajak seorang siswi kepada temannya.


"Iya, lucu sekali ya mereka. masa iya tidur di sekolah pakai baju seperti itu, ya sudah ayo ke sana." ajak siswi tersebut.


Rania langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang mereka tunjuk, Rania langsung menepis tangan alkana dan berjinjit karena tidak dapat melihat. alkana langsung mengangkat tubuh istrinya itu membuat Rania membulatkan matanya.


"hei, kak turunkan." pintar Rania.


"ayo ke sana, ada apa sih." ajak Rania dia langsung menarik tangan alkana untuk menuju ke tempat tersebut.


di lapangan basket, terlihat pak Nando berteriak kesal dan memarahi seorang siswa.


"heh, mau jadi apa kalian? tidur di sekolah, apa kalian kira ini penginapan umum? hanya memakai celana polkadot pula!"


"Maaf Pak, kami dikerjai Pak."


"sudah! tidak usah beralasan, kalian semua sedang apa kumpul di sini? masuk ke kelas masing-masing!" teriak Pak Nando kepada seluruh siswa.


Para siswa langsung masuk ke dalam kelas sambil tertawa terbahak-bahak, membuat Rania tidak kesulitan untuk melihat apa yang terjadi di hadapannya kini. saat mengetahui yang di depannya adalah Kenan dan Alex hanya memakai pakaian tidur dan juga celana Boxer saja, membuat Rania menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rania langsung melirik ke arah Alkana yang sedang menahan tawanya ke arah kedua temannya itu.


"ini semua ulah kamu ya, kak?"


Kenan mengalihkan pandangannya ke arah alkana dan melebarkan matanya, "itu dia pelakunya!"


Pak Nando langsung mengalihkan pandangannya ke arah alkana dan juga Rania, alkana menaikkan satu alisnya dan langsung melangkah mendekat dan menarik telinga kedua temannya.


'kalian ini kenapa tidur di sekolah? Jangan membuatku malu ya, sudah Pak hukum saja kalau bisa yang berat sekalian." ujar alkana dengan menyeringai licik.


"kalian ini Membuat malu saja, sudah begitu celana kalian, apa tidak ada yang lain?" tanya Pak Nando.


"tidak ada, Pak." jawab mereka secara bersamaan.


"alkana, panggilkan Kevin kemari." perintah pak Nando.


"loh, kenapa harus saya Pak?"

__ADS_1


"kamu tidak mau? ya sudah, Rania saja yang panggil Kevin."


"mau Pak! iya saya yang akan panggilkan." jawab alkana spontan.


alkana langsung melangkahkan kakinya dan menarik tangan Rania untuk segera meninggalkan lapangan tersebut, Rania menepis tangan alkana dan menatapnya dengan tajam.


"Kak, kenapa mereka bisa ada di sini?"


"ya habisnya, siapa suruh mereka mengganggu kita. biarkan saja mereka menjalankan karmanya ." jawab alkana dengan tersenyum manis.


"memang Karma itu berasal dari kakak, apa? tidak perlu segitunya juga kan, kasihan mereka!" Ketus Rania.


"ssssstt, diamlah. ini demi kelancaran setiap malam." alkana meletakkan jari telunjuknya di bibir rania dengan tersenyum kecil, Rania langsung membulatkan matanya dan berlari meninggalkan alkana. " CK, ya ampun apa benar itu suamiku?"


" Rania cepat Sini!" teriak Sherly.


Rania langsung menghampiri Sherly yang berdiri di depan kelas, "ada apa sher?"


"gilaaaaa! kita masuk dalam daftar pertukaran pelajar ke luar negeri." ujar Sherly terlihat histeris.


Rania langsung membulatkan matanya dan melihat list nama yang tertera ternyata benar ada namanya tertulis indah di Barisan Para siswa-siswi yang beruntung, Rania langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


"serius aku terpilih?" tanya Rania yang masih tidak percaya.


"Iya, tapi hanya ada dua saja yang akan dipilih nantinya. kita harus kumpul di ruang bu Rani nanti, setelah jam pulang ." jelas Sherly.


"tidak usah senang dulu! orang sepertimu mana mungkin terpilih, jangan hidup di dunia halusinasi terus makanya!" sinis Helena.


"siapa namamu? Helena ya?" tanya Rania dia langsung membalikkan badannya dan mencari nama Helena di barisan nama yang masuk seleksi.


"kau, tidak ada ya?" tanya Rania pura-pura terkejut.


"cih, sialan!" Helena langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kelas terlebih dahulu, sedangkan Sherly dan Rania tertawa puas.


"bagus, aku suka kamu yang seperti ini. jangan mau ditindas, oleh si dukun hitam putih itu!"


"ih, kata kak Alex dan kak Kenan dia itu dukun Ilmu Hitam Putih. Aku tidak tahu sih benar atau tidak, tapi dia memang cocok kalau jadi dukun." ujar Sherly.


"oh sumpah ya sher, Astaga! aku masih tidak menyangka, bisa masuk list walaupun belum final yang terpilih, tapi aku tetap senang."


"Iya, semoga kita berdua bisa lolos. ya walaupun harus meninggalkan ayang Kevin, setidaknya di sana aku bisa mendapat yang lebih dari dia." ujar Sherly dengan berbinar.


Rania langsung memasang wajah datarnya lalu meninggalkan Sherly, di mana saja yang di bahas gadis itu selalu saja lelaki. Sherly langsung memutar tubuhnya dan ikut berjalan masuk sambil membayangkan bertemu dengan bule yang mirip Justin Bieber.


**


**


"ah, sialan! gara-gara kau yang mengajakku menginap di apartemen alkana, kita terkena sial. mau di taruh di mana mukaku, hah?" tanya Kenan kesal.


"sumbangkan saja." Jawab Alex santai sambil mencabut rerumputan lalu menyapunya hingga bersih.


Kini mereka telah berganti pakaian tidur dan boxer polkadotnya dengan pakaian sekolah yang diberikan oleh Kevin, dan mereka mendapatkan hukuman membersihkan seluruh halaman sekolah, menggantikan tugas tukang kebun.


"otak kau kemari kan, biar aku sumbangkan!" ketus Kenan.


"lebih baik jual saja alkana, nanti uangnya kita bagi dua." usul Alex.


"serius?"


"awww." ringis kedua orang itu.


alkana yang baru saja datang mendengar percakapan mereka dan langsung menoyor kepala mereka, kini Kenan dan juga Alex menatap ke arah alkana dengan tersenyum bodoh.


"aku menyesal, membawakan kalian minuman ini." ujar alkana hendak membuang botol minuman tersebut.

__ADS_1


"eh, jangan dong." Kenan langsung merebutnya dan meminumnya hingga tandas, begitupun dengan Alex.


"Alkana, kau kenapa mengerjai kami?" tanya Kenan ketus.


"salah kalian berisik! asik ngelindur, sudah begitu mendengkur lagi. kalau kalian menginap di apartemenku lagi, siap-siap saja sewaktu bangun kalian sudah pindah ke alam lain!" ancam alkana.


"jahat sekali, kau ini!" Ketus Alex.


alkana tidak mempedulikan ucapan mereka, dia langsung berbaring di kursi taman tersebut. sedangkan Alex dan Kenan terus berdecak kesal dan juga mengumpat tentang alkana dalam hatinya.


"Kak alkana!" teriak Rania membuat lelaki itu terkejut dan terjatuh dari atas kursi.


"ternyata karma dibalas dengan instan." gumam Alex dengan tertawa tertahan.


"eh eh, ya ampun kak alkana Kenapa tidur di situ?" tanya Rania.


"tidur? tidur kamu bilang? kamu tidak lihat pinggangku sakit?" sungut alkana memegang pinggangnya yang sakit.


"debat lah terus kalian, aku dukung kau Rania." gumam Keenan.


"mampus! rasakan karmamu." umpat alex.


"woi bantuin!" teriak alkana kepada Alex dan juga Kenan.


Alex dan Kenan menahan tawanya dan mengancungkan jempol ke arah Rania, lalu mereka Langsung membantu alkana untuk bangkit. Rania langsung ikut membantu alkana untuk duduk di atas kursi.


"kakak jatuh ya?" tanya Rania panik.


"kamu kira, aku sedang apa sayang? kayang di situ, begitu?" tanya alkana balik.


"Rania, bantu kami dong." pinta Alex.


"tidak mau! kami mau berpacaran di sini." sahut Rania.


Rania langsung bersandar pada bahu alkana dan mereka saling menatap dengan tersenyum manis, membuat kedua Jomblo itu berteriak kesal dan melanjutkan pekerjaannya.


"cih, dasar! bucin saja terus, aku doakan besok aku bucin juga." ucap Alex.


"entah, tahu-tahu besok sudah putus." timpal Kenan menyindir.


"nyindir kok di depan, di belakang dong!" teriak Rania.


"salah, syang." sahut alkana.


"jadi gimana?"


"iri kok nyindir, iri ya di saingi dong!" teriak alkana.


"anjay, badas banget kau! itu kan, yang kau harapkan keluar dari mulut kami!" Ketus Kenan dengan suara yang semakin merendah.


"Oh iya, Rania ke sini hanya mau mengatakan, kalau Rania terpilih di pertukaran pelajar ke luar negeri." jelas Rania dengan berbinar.


ketiga lelaki itu langsung membulatkan matanya, dan kenan tanpa sadar bertepuk tangan dengan raut wajah yang masih terkejut.


"hebat kau Rania, anak baru bisa langsung jadi siswa yang dipilih untuk pertukaran pelajar." ujar Kenan.


"iya dong! mau titip apa? seblak? tidak ada di sana." ujar Rania.


"siapa yang memasukkan namamu ke list itu? dan siapa yang memilih kamu? kenapa tidak mengatakannya padaku dulu?" tanya alkana kesal karena tidak terima istrinya pergi jauh dari dirinya.


Alkana langsung bangkit dan Rania menahan tangannya, "mau ke mana kak?"


"menemui pak Nando, mau protes tentang kamu!" ujar alkana kesal.


"cih, dasar si bucin akut!" teriak Alex.

__ADS_1


Rania langsung mengejar lelaki itu dan berusaha menahannya agar tidak membuat keributan lagi, namun alkana sangat sulit dibujuk dan terus melangkahkan kakinya menuju ke kantor para guru.


__ADS_2