Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
duka


__ADS_3

"mas, kalau kita sudah punya anak nanti pasti anak kita akan mirip sama kamu. dari hidung, mata, bibir dan juga ketampanan kamu pasti menurun ke anak kita, tapi aku tidak ingin kalau sifatmu menurun ke anak kita." ujar Rania.


"memangnya kenapa?" tanya alkana mengerutkan keningnya.


"kamu itu sombong, tentu saja aku tidak mau anak kita memiliki sifat yang sombong seperti kamu."


"itu namanya kenyataan sayang, suami mu yang tampan ini memang sangat kaya." sombong alkana lagi.


Rania menanggapinya hanya dengan memutar kedua bola matanya malas, tidak hilang juga rupanya sifat sombong suaminya itu.


"sayang, kalau nanti anak kita perempuan. biar mas yang kasih nama ya, mas akan kasih nama munaroh, uh pasti dia akan sangat menggemaskan seperti kamu." ujar alkana yang gemas sendiri membayangkan, dia akan memiliki anak perempuan.


"tidak akan, nama apa itu kuno sekali. pokoknya nanti kalau kita sudah memiliki anak, mau itu perempuan atau laki-laki, aku yang akan beri nama." sanggah Rania tidak terima.


*) buat yang namanya Munaroh, maaf yah tidak bermaksud apa-apa kok hanya untuk hiburan saja☺️🙏


"loh kenapa? namanya tidak kuno kok sayang, tapi antik. nanti panggilannya roh, bagaimana keren kan? dia pasti akan secantik kamu nanti." sahut alkana dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Rania langsung melotot saat mendengarnya, "apa kamu bilang, mas? roh? kamu kira anak kita itu mahluk halus, kamu yang benar saja dong mas kalo memberi nama."


"pokoknya, aku yang akan memberi nama anak kita nanti. tidak akan Rania ijinkan mas memberi nama yang tidak jelas seperti itu." sambung Rania dengan wajah kesal.


"e-eh, hehe." alkana menggaruk tengkuknya sembari meringis, dia agak ngeri melihat Rania yang melotot padanya.


saat mereka berdua sedang asik berdebat, tiba-tiba suara dering ponsel alkana mengalihkan perhatian keduanya. Rania yang memang lebih dekat dengan meja, melirik ke arah ponsel suaminya itu, untuk melihat siapa yang menelpon, dan ternyata tertulis nama bapak di sana.


"mas, ini bapak kok teleponnya ke kamu, bukan ke aku? tumben." tanya Rania mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Rania pun merasa ada yang aneh, pasalnya bapaknya itu biasanya akan menghubungi dirinya, baru setelah itu berbicara dengan alkana.


saat alkana akan mengambil ponselnya, rania dengan cepat menyambar ponsel suaminya itu, dia penasaran dengan apa yang akan bapaknya katakan. Rania menekan tombol hijau terlebih dahulu, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga.


"halo, alkana. ibu sudah pergi untuk selamanya, kalian segera ke sini ya. kamu katakan pada Rania pelan-pelan ya, jangan sampai dia tahu yang sebenarnya." ujar pak Hary dari seberang telepon dan dengan suara bergetar menahan tangis.


seketika air mata Rania langsung lolos begitu saja, "ma-maksud bapak? tidak ini tidak mungkin!"


Rania menangis sejadi-jadinya, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"sa-sayang ada apa?" tanya alkana was-was, dia berharap semoga tidak terjadi hal buruk.


Rania langsung bangkit berdiri dari pangkuan alkana, alkana pun juga ikut berdiri. dia menatap lekat manik mata Rania yang di banjiri air mata, sedangkan Rania menatap alkana dengan tajam.


"mas jelaskan padaku, mas tahu tentang ini? ibu sakit, dan mas menyembunyikan itu dariku? kenapa mas, kenapa?" pekik Rania dengan tangis semakin keras.


"apa aku ini tidak penting untukmu? karena pernikahan kita atas dasar perjodohan jadi kau tega melakukan ini padaku? aku bahkan tidak bisa melihat senyum ibu untuk yang terakhir kalinya, ibu sudah pergi meninggalkan ku untuk selamanya. aku benci kamu mas!" teriak rania histeris.


alkana langsung menarik Rania ke pelukannya, meski Rania berontak alkana tetap memeluknya, "sayang, dengarkan penjelasan mas."


Rania langsung menginjak kaki alkana, hingga lelaki itu melepaskan pelukannya. Rania langsung berlari menuju pintu apartemen, dia akan pergi ke desa saat ini juga. namun saat dia membuka pintu, terlihat Dino dan mama Silvi berdiri di depan pintu hendak masuk.


terlihat ibu mertuanya memandangnya dengan khawatir, mama Silvi langsung membawa Rania ke dalam dekapannya.


"sayang, kamu yang kuat ya." ujar mama Silvi menenangkan.


"Rania, mas minta maaf. mas bisa jelaskan semuanya sayang." mohon alkana.

__ADS_1


"ma, antarkan Rania ke desa ya. Rania ingin melihat ibu untuk yang terakhir kalinya." pinta Rania tanpa mempedulikan alkana, karena yang ada dalam pikiran Rania adalah, sekarang ini dia harus segera ke desa dan memeluk ibunya untuk yang terakhir kalinya.


Mama Silvi memberi kode pada alkana agar tenang dulu, karena menjelaskan apapun pada Rania di saat kondisi seperti ini tidak akan ada gunanya. Rania tidak akan mau mendengarkan, karena dirinya tengah di kendalikan oleh emosinya.


alkana pun hanya bisa menghela napas berat.


mereka pun berjalan keluar apartemen menuju ke mobil, Rania dan mama Silvi satu mobil dengan sopir yang mengendarai. sementara alkana di mengikuti dari belakang bersama Dino menggunakan mobilnya sendiri.


"kak, kau yang sabar ya. aku yakin kakak ipar pasti akan mengerti setelah mendengar penjelasan darimu nanti. dia sekarang hanya sedang sedih dan syok saja." ujar Dino.


"aku bingung Dino." gusar alkana.


"kakak ipar saat ini hanya sedang butuh waktu, karena bagaimana pun ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya. nanti setelah perasaannya mulai tenang, kau bisa menjelaskan semuanya." jelas Dino.


"posisiku di sini serba salah Dino, aku mengecewakan istriku. tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa mengingkari janji pada bapak. aku di sini merasa seperti suami yang jahat, aku belum bisa jadi suami yang baik untuknya." tanpa sadar alkana meneteskan air matanya.


karena pada dasarnya sekuat apapun seorang lelaki, tapi jika sudah di hadapkan dengan orang yang sangat berarti untuknya, dia pasti akan bisa rapuh juga.


"sayang maafkan aku." lirih alkana.


alkana benar-benar merasa marah pada dirinya sendiri, dia sangat serba salah. dia sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Rania, bukan hanya gagal dia merasa tidak pantas di sebut suami, karena dia telah melukai perasaan orang yang begitu di cintainya. mungkin jika yang sekarang berada di posisi Rania adalah dirinya, dia juga akan sangat marah besar. bahkan mungkin dia bisa menghabisi orang saat itu juga.


'jika seandainya waktu bisa di ulang maka aku-'


"Aaargh!" teriak alkana tiba-tiba, Dino yang ada di sampingnya pun terlonjak kaget di buatnya.


ya, nasi sudah menjadi bubur, dia telah benar-benar membuat luka yang begitu dalam di hati istrinya. dia akan mencoba memperbaiki semua saat Rania sudah merasa tenang nanti.

__ADS_1


'sayang, semoga kamu mau mendengarkan penjelasan ku nanti.'


__ADS_2