Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
make up


__ADS_3

"kalian, kok bisa ada di sini?" tanya Sherly.


"sedang apa kalian di sini?" sambung Sherly lagi.


"e-eh dedek Sherly, di sini juga ya?" tanya Alex tersenyum kaku.


"jangan bilang, kalian mengikuti aku dan kak Kevin."


"ya tidaklah, kami mau melihat film ini. kami penasaran, soalnya kemarin aku bilang hantunya mirip Alex, eh dia tidak percaya ya sudah aku ajak untuk membuktikannya." jelas kenan.


Alex menatap horor ke arah Kenan, sedangkan Kevin menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali duduk dan meminta Sherly duduk juga.


"sudah, duduk lah." perintah Kevin.


Sherly masih menatap tajam ke arah dua lelaki itu, "awas saja ya kalau kalian mengganggu kencan kami, usahaku sudah mau terlihat hasilnya ini."


"iya-iya dedek Sherly sayang, semoga cepat mendapatkan hati babang Kevin ya. biar jadi yang ke sepuluh." sahut kenan.


"mau jadi yang ke sepuluh kek, dua puluh kek, atau ke seratus sekalipun tidak masalah yang penting kalian jangan mengganggu!" Sherly menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan juga jari tengah, lalu mengarahkannya ke mata Kedua lelaki di hadapannya itu.


sherly langsung duduk kembali dan menonton film itu dengan menggigit jarinya dia sebenarnya ketakutan, akan tetapi Kevin malah memilih untuk menonton film ini. Padahal Sherly ingin nonton film yang romantis.


***


di apartemen, Rania sedang mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. dia terlihat sangat fokus, karena kemungkinan dua hari ke depan adalah hari terakhirnya belajar di sekolah sebelum pergi ke luar negeri.


alkana yang baru saja keluar dari kamar melihat ke arah istrinya yang sedang mengerjakan tugas, dia tersenyum menyeringai dan langsung berjalan menuju ke arah Rania. tangannya langsung mengambil buku yang sedang dikerjakan oleh Rania, "sedang mengerjakan apa?"


"iiiih, kembalikan! pasti tercoret itu bukunya, mas alkana jahil banget sih." Ketus Rania kesal.


"mentang-mentang mau ke luar negeri, suaminya diabaikan dan tidak dipedulikan."


" bukan begitu, kembalikan dulu bukunya " Rania berusaha merebut bukunya kembali, namun alkana lebih tinggi dan Rania tidak bisa menjangkaunya.


Rania menyeringai dan langsung menggigit perut kotak-kotak alkana, sehingga lelaki itu meringis dan menjatuhkan buku milik Rania. wanita itu langsung tersenyum senang dan mengambil bukunya, manik matanya melirik ke belakang melihat Rania kesakitan sambil memegang perutnya membuatnya khawatir.


"mas, mas memang benar sakit ya? aku pelan loh tadi gigitnya." tanya Rania khawatir.


"heii, benar serius sesakit itu?"


"Oh mau mengerjai Rania ya? ya sudah, lakukan saja sesukanya." Rania langsung duduk dan membuka bukunya kembali mengacuhkan alkana.


"Aawww!" teriak alkana.

__ADS_1


"mas, tadi di kamar mandi ada kecoa loh. mau aku ambilkan tidak?" tanya Rania tanpa menoleh.


"ck, tidak romantis sekali." ketus alkana menyudahi aktingnya.


Rania menahan tawanya dan langsung melirik ke arah alkana, manik matanya melebar dan menunjuk ke tembok belakang tubuh alkana.


"kecoa!" teriak rania.


alkana langsung melompat dan duduk di pangkuan Rania, membuat wanita itu mengerjapkan matanya berulang kali. Rania memiringkan kepalanya dan menatap dalam ke arah lelaki yang tidak menatapnya kembali, melainkan mencari kecoa di setiap dinding ruangan namun tidak ditemukannya.


"ck, kamu mengerjai mas ya?" tanya alkana kesal.


"mas mau membuat kaki ku patah, ya?" tanya Rania balik.


alkana melirik ke bawah dan langsung turun saat baru sadar Jika dia duduk di pangkuan istrinya, alkana menyentil kening istrinya itu namun tidak terasa sakit.


"awas ya, kalau kamu mengerjai mas lagi!" sungut alkana masih tetap kesal.


Rania hanya menahan tawanya lalu mengacuhkan lelaki itu dan langsung mengerjakan tugasnya kembali, sedangkan alkana mendorong tubuh Rania hingga wanita itu bersandar di sofa. Lelaki itu langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Rania.


"sayang." Panggil alkana manja.


"kamu ngantuk mas?"


"ya sudah, tidurlah."


alkana langsung melingkarkan tangannya di pinggang Rania dan memeluknya, "sayang, usap-usap kepalanya." pinta alkana.


Rania tersenyum dan langsung mengusap lembut Puncak kepala alkana, alkana mulai memejamkan matanya agar bisa tidur dengan nyenyak. Rania kembali mengerjakan tugasnya dengan tangan kiri yang dia gunakan untuk mengusap puncak kepala alkana.


"huftt, akhirnya selesai juga." ujar Rania lega.


Rania lirik ke bawah terlihat pemandangan yang sangat indah, Rania teringat akan peralatan make up nya yang dia beli tempo hari. dia ingin mencoba belajar make up, dengan hati-hati dia meletakkan kepala alkana di atas bantal.


Rania langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk mencari alat make up nya, "di mana ya kemarin aku taruh?"


"ck, kenapa tidak ada sih."


Rania membongkar seluruh kamar dan akhirnya dia menemukannya di bawah bantal milik alkana.


"eh, kenapa bisa ada di sini?" Rania mengerutkan keningnya dan langsung berjalan keluar dia meletakkannya di atas meja ruang tamu.


"aku kan belum ahli memakai make up, sayang kalau mencoret muka sendiri." Rania langsung melirik ke arah alkana yang sedang tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Dia memegang pensil alis berwarna hitam dan langsung melukisnya di alis milik alkana, dia terlihat sangat serius sehingga dia sudah memberikan semuanya di wajah alkana dengan sempurna.


"Ah, akhirnya selesai." Rania menepuk tangannya dan tersenyum puas.


lalu dia memperhatikan dengan detail wajah alkana yang baru saja dia poles dengan jemarinya yang lentik, Rania langsung membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"oh astaga, heii kamu siapa?" tanya Rania dengan manik mata yang melebar.


tiba-tiba tawanya pecah seketika, sehingga membuat alkana terbangun. alis yang tebal dan tidak simetris, bahkan dia menggambarnya terlalu besar dan juga blush on berwarna pink terang yang terlalu menor. lalu bulu mata palsu yang dia pasangkan juga terlepas satu dan alkana mengambilnya, lalu menatap bulu mata itu dengan mengerutkan keningnya bingung.


"apa ini? kamu kenapa tertawa keras sekali, sayang? apa ada yang lucu?" tanya alkana polos.


Rania langsung mencoba meredakan tawanya dan merubah raut wajahnya menjadi datar, Rania langsung melingkarkan tangannya di leher alkana, "tidak ada kok, biasalah mood swing."


"ya sudah Rania keluar dulu sebentar ya mas, soalnya tadi ada yang mau Rania beli di supermarket bawah."


"Sendiri? tidak mau mas antar saja?" tanya alkana menawarkan diri.


"ah tidak perlu mas, aku kasihan dengan anak kecil atau lansia yang nantinya kita jumpai." ujar Rania dengan menahan tawanya.


alkana yang tidak mengerti maksud istrinya itu hanya mengangguk sambil mengerutkan keningnya saja.


"ya sudah, bye-bye sayang." Rania langsung keluar dan menutup pintunya kembali, lalu dia melihat ada Kenan dan Alex yang sudah berada di hadapannya.


"Rania, kau di sini? alkana nya mana? kau, Kenapa tertawa seperti itu?" tanya Kenan menaikkan satu alisnya.


"ehem ehem." dehem Rania untuk meredakan tawanya.


"iya kak, biasalah. aku mau ke supermarket bawah dulu ya, kalian mau menitip sesuatu?" tanya Rania.


kenan menganggukan kepalanya, "wine dua botol."


Rania langsung ingin memukul Kenan, namun terhalangi oleh Alex karena Keenan bersembunyi di balik tubuh temannya itu.


"biasa, umur segini memang sedang butuh asupan. sudah, lebih baik kau cepat pergi ke supermarket, nanti supermarket nya keburu pindah ke depan gang."


Rania hanya melengos dan langsung pergi, sedangkan Kenan mengelus dadanya.


"buset, ngeri juga ya."


Setelah itu mereka langsung membuka pintu dan mulai melangkah masuk, mereka terlonjak kaget saat melihat alkana menatap mereka.


"Astagfirullah!" ucap mereka berdua secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2