Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
eps 29 kecoa!


__ADS_3

Sementara di belakang sekolah, alkana dan kevin tidak mampu bangkit sehingga mereka harus menjerit dan meminta tolong agar ada seseorang yang membantu mereka. manik mata kevin langsung melirik tajam kearah alkana.


"ini semua karena kau! kenapa kau dekat-dekat begitu sih, kan jadi jatuh ke sini. bau sekali! argh sialan!" kevin langsung berdiri dengan susah payah, lalu memegang apapun yang bisa menjadi tempat dia untuk keluar dari lubang itu.


"enak sekali kau menyalahkan aku, tidak mati saja sudah syukur kau!" Geram alkana.


kevin langsung menghentikan kegiatannya, dan menatap kearah alkana dengan tatapan yang sulit diartikan. "bagaimana keadaan Rania?"


"untuk apa kau menanyakan dia? jelas-jelas kau yang sudah membuat dia pingsan, wanita kau tonjok sekuat itu. dia masih hidup saja bersyukur kau, aku kasus kan masalah ini baru tahu kau!"


"kok malah jadi kau yang sewot."


"woi.. siapapun yang ada di atas, tolong!"teriak kevin.


"kalian sedang apa berduaan di dalam lubang? jangan bilang kalian sedang itu ya?" tanya kenan yang baru saja datang.


"sialan kau! seandainya aku menyukai lelaki juga aku tidak akan suka pada si pinguin ini!" ketus kevin.


"sudah cepat tarik aku ke atas!" Alkana langsung mengulurkan tangannya agar kenan dan alex langsung menariknya.


"iya-iya." kenan langsung menarik tangan alkana, dibantu oleh alex hingga alkana terangkat.


"woi bantu aku juga!" teriak kevin.


"apa? aku tidak dengar!" Ujar alkana.


Alkana langsung menepuk-nepuk bajunya agar tidak terlalu kotor.


lalu dia membukanya dan hanya menyisakan kaos hitam saja, alkana memandang kearah kenan dan alex dengan tajam.


"siapa yang tadi mengejutkan kami?" tanya alkana dengan dingin.


"S-siapa? Y-ya kami kan baru saja datang, iya kan kenan? mana kami tahu siapa yang mengejutkan kalian." jawab alex kaku.


"ah masa sih?" Tanya Kenan dengan melirik kearah alex.


"Shitt, sialan kau! kau tidak bisa diajak kerjasama hah?" Bisik Alex geram dengan Kenan.


"tidak! aku lebih memilih alkana."


"Alkana aku tahu, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu." ujar kenan.


"apa?"


"Tapi hitung dulu dari satu sampai tiga, cepat!" perintah kenan.


Dan dengan polos nya, alkana mengikuti perintah dari kanan dengan wajah yang datar, "satu.. dua.. tiga.."


Kenan langsung mendorong tubuh alex jatuh ke dalam lubang itu juga bersama dengan kevin, membuat alkana membulat kan matanya dan menatap kenan tidak mengerti.


"dia yang mengejutkan kalian!" Jawab kenan dengan tertawa terbahak-bahak.


kenan tertawa sampai memegang perutnya dan masih saja terus tertawa, sedangkan alex mengumpat dan mengutuk kenan berulang kali, kini dirinya yang terjebak bersama kevin di dalam lubang itu.


Alkana mengulum senyum tipis, "oh jadi kau, biang kerok nya, iya? ya sudah kolaborasi saja kalian berdua di dalam lubang itu."


"alkana, ah kau tidak seru! kan aku juga sudah menolongmu tadi, ayolah tolong aku, keluarkan aku dari sini. tolong!" teriak alex.


alkana langsung menyeringai dan meninggalkan mereka bertiga, sedangkan kenan hanya menatap mereka dari atas lalu mengambil ponselnya untuk merekam wajah alex dan kevin.


"Shiiitt, sialan! berani kau merekam, habis kau aku buat." ancam kevin.


"kevin, kapan lagi coba kau seperti ini? Si adalah idaman satu sekolah sedang bermain dengan bahagianya, hahaha!" ujarnya dengan tertawa.


"kenan awas ya kau! habis kau aku buat!" ancam alex.


"bodo amat! aku punya bekingan yang sangat kuat." jawab kenan.


"Keluarkan aku sialan!" teriak alex.


"iya iya sabar kenapa sih." kenan langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan menarik tangan Alex hingga lelaki itu terangkat, setelah itu mereka secara bersama-sama menarik tubuh Kevin.


.


.


.


jam pelajaran telah selesai, semua siswa keluar dari dalam kelas begitupun dengan alkana yang sudah berjalan menyusuri koridor sekolah menuju parkiran.


tubuhnya terasa sangat sakit-sakit, sekarang ini dia ingin segera pulang untuk beristirahat. dia melirik ke belakang untuk melihat rania dia tidak ingin wanita itu pulang menggunakan taksi dia menunggu cukup lama hingga sekolah terlihat sudah kosong dan tidak ada siapapun.


"CK, kemana sih anak itu? ditunggu malah tidak kelihatan."


"Jangan salahkan aku lagi kalau kau aku tinggal!" Gerutu alkana meninggalkan tempat itu dan memasuki parkiran.

__ADS_1


dia membuka pintu mobilnya, setelah memastikan tidak ada rania terlihat di pandangannya dia langsung duduk di kursi kemudi dan meletakkan tas nya dikursi belakang namun dia melihat rania ternyata ada disana.


"sialan kau! kenapa kau tiba-tiba ada di sini huh? Untung aku tidak jantungan." Ucap alkana dengan nada kesal.


"lah, aku sudah menunggu kakak sejak tadi di sini. kenapa lama sekali?"


"Hei bodoh! Aku menunggumu di sana, tapi rupanya kau sudah enak-enakan disini." Sungut alkana.


Rania langsung melengos dan menatap lurus ke depan, wanita itu tidak ingin berdebat untuk saat ini karena merasa nyeri di bagian pipinya. Kini alkana langsung melajukan mobilnya menuju apartemen mereka.


sesampainya di apartemen mereka langsung masuk ke dalam dan melirik terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada ibu dan bapak rania yang berada di ruang keluarga, agar mereka selamat masuk ke dalam kamar.


"aman kak!"


"Ya sudah, cepat masuk!" perintah alkana.


kini rania dan alkana berjalan dengan mengendap-endap agar tidak terdengar suara, saat alkana menginjak sesuatu sehingga menghasilkan suara membuat rania melirik tajam ke arah belakang.


"Shuuuutt." sungut rania.


"oke oke!" jawab alkana tanpa bersuara.


saat mereka telah sampai di depan kamar dan hendak membuka pintu, keluar ibu dan bapaknya dari dalam kamar, rani dan alkana langsung menatap mereka dan tersenyum gugup.


"Alkana, rania! kenapa kalian berjalan seperti itu nak?" tanya bu nilam.


"eh hehe ibu, tidak apa-apa sedang latihan saja karena mau ada pentas seni di sekolah." jawab rania.


"iya bu." Timpal alkana dengan wajah bodoh.


"ya sudah kalau begitu, kenapa itu bibirnya ditutupi begitu?" tanya Bu Nilam saat melihat Rania dan alkana berusaha menutupi luka mereka, agar tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka harus menjawab.


"tidak apa-apa kok bu, kalau begitu rania dan mas alkana masuk dulu ya. mau mandi dulu!" Ujar Rania.


"Ya sudah kalau begitu, kalian mandilah dulu."


"baik bu, dadaaah Bu dadaah pak." Rania melambaikan tangannya lalu langsung menarik tangan alkana masuk ke dalam kamar mereka dan mengunci pintunya.


"hampir saja ketahuan!" Ujar Rania.


alkana melirik kearah luka Rania, "masih sakit?"


"hah? Oh tidak kok!" Jawabnya.


alkana langsung menekan yang luka di sudut bibir rania yang lebam hingga ke pipi, membuat Rania langsung menepis tangan alkana dan menatapnya tajam.


"katamu tidak sakit lagi."


"Heh, ya jangan di tekan juga." Kesal Rania.


rania langsung berjalan menuju kamar mandi setelah meletakkan tasnya, alkana menarik tangan rania dan menyuruhnya duduk di atas sofa lalu dia langsung masuk ke walk in closed untuk mengambil obat.


"kemari, biar aku obati dulu agar tidak terlalu lebam begitu dan juga ini bisa membuat lukanya cepat sembuh." ujar alkana.


"tidak perlu! aku bisa sendiri kak."


"bisa tidak, tidak usah membantah terus? kalau kau tidak sok jadi pahlawan kau tidak akan terluka seperti ini" ketus alkana.


"ya aku tidak suka melihat kak alkana berkelahi seperti itu, kalau kakak terluka lebih parah dari ini bagaimana?" tanya rania lebih tegas.


"kenapa kau memikirkanku?"


"ya, ya karena kakak suamiku lah!" jawab rania dengan menunduk.


alkana mengulum senyum dibibirnya dan mengangkat wajah rania agar menatapnya.


"aku tidak akan terluka seperti yang kau bayangkan, jadi berhentilah bersikap seperti itu."


"aku akan berhenti, kalau kakak juga tidak berkelahi lagi."


"CK, membantah saja terus!"


"kecoa!" teriak rania saat ada kecoa yang mendekati mereka.


alkana yang mendengarnya pun langsung membelalakkan mata dan melirik ke belakang, ternyata yang dikatakan oleh rania benar adanya jika ada kecoa besar sedang mengarah ke mereka. Lelaki itu langsung berdiri menarik tubuh rania untuk dipeluk, sedangkan Rania mematung dan menatap wajah alkana yang sedang ketakutan dan mengusir kecoa menggunakan kakinya.


"Huuuus, pergi kau!" teriak alkana.


rania menahan tawanya agar tidak menyembur dan mengulangi kata-kata lelaki itu, "huuuus, pergi kau!"


arkana melirik kearah rania dengan kesal, dan mendorong tubuhnya hingga rania terjatuh ke bawah. rania membulatkan matanya dan langsung menjerit dan naik atas ranjang


"Arrrgh, sialan kamu kak!" Umpat Rania.


"siapa suruh kau meledekku, padahal kau juga takut! Lalu kemarin yang ada di kamar mandi waktu itu kecoa mainan?" tanya alkana dengan membulatkan matanya.

__ADS_1


"iya, hahaha." jawab Rania dengan tertawa lebar.


"badan saja besar, nonjok orang nomor satu tapi dengan kecoa saja takut!" Rania memperagakan saat alkana berkelahi di sekolah tadi.


"ini kasusnya berbeda! lebih baik aku bertemu sepuluh orang seperti kevin daripada satu kecoa." ujar alkana kesal.


saat mereka sedang berdebat kecoa itu tiba-tiba terbang membuat mereka berdua menjerit keras, sehingga membuat nilam dan hari langsung menghampiri kamar mereka dan mendobrak dengan kuat pintu tersebut hingga terbuka. kedua orang tua Rania tercengang saat melihat anak dan menantunya menjerit tanpa ada yang terjadi.


"Rania ada apa? kenapa berteriak seperti itu?" tanya pak Hary.


"pak... I-itu kecoa nya terbang!" teriak Rania.


"alkana, kamu juga takut dengan kecoa?" tanya pak hary membulat kan matanya.


"Hah? Eh, haha t-tidak pak! terkejut saja tadi karena rania teriak jadi reflek." jawab alkana berusaha mempertahankan harga dirinya dihadapan sang mertua.


"ya sudah, sini bantu bapak untuk menangkap kecoa itu." Ajak pak Hary.


rania langsung membulatkan matanya dan menahan tawa, "makanya jangan mempertahankan harga diri, itu sana disuruh menangkap kecoa." rania berucap lirih dan langsung mengambil selimut untuk membungkus dirinya.


"A-apa? Me-menangkap kecoa?" tanya alkana pucat Pasi.


"ya iya nangkap kecoa, jadi mau Menangkap apa? Masa menangkap laron, sudah ayo Ambil sapu itu Bu biar kecoanya tidak terbang terbang lagi." perintah hary.


"Alkana kemari, Kenapa kamu berdiri di situ terus." perintah hary.


"T-tapi pak, argh sudahlah." alkana langsung berjalan mendekat dan menatap kecoa yang terus bertebangan dengan meneguk saliva nya susah payah.


"Ya Tuhan lindungi aku dari marabahaya ini." batin lelaki itu.


alkana langsung menerima sapu yang diberikan oleh bu Nilam, lelaki itu memegang sapu dengan gemetar. Rania yang mengintip nya hanya menahan tawa nya dia belum berniat membantu untuk saat ini.


"alkana pukul!" perintah hary.


alkana menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara kasar, dia meneguk salivanya dengan kesusahan lalu menatap kecoa yang terus berterbangan. dia mengarahkan sapu itu ke atas seperti orang kesurupan dengan mata yang terpejam yang membuat Nilam dan hary menatap heran kearah alkana sedangkan Rania hanya tertawa di dalam perlindungan selimutnya.


saat alkana membuka matanya, dia langsung disuguhkan oleh pemandangan kecoa yang terbang mengarah ke dirinya, membuat lelaki itu langsung membulatkan matanya dan melempar Sapu itu asal begitu saja.


"Aaaargh, sialan!" alkana berlari kearah Rania dan ikut berlindung di dalam selimut yang sama.


Pak Hary dan Bu Nilam kebingungan, namun wanita paruh baya itu langsung tertawa kecil dan menatap kearah suaminya. "Pak, sudah bapak saja yang bereskan, sepertinya alkana takut dengan kecoa." Ucap Bu Nilam.


"punya menantu macho tapi takut dengan kecoa." ledek pak hary dengan mengeraskan suaranya.


"karena kau ini!" Ketus alkana.


"loh kok jadi aku?"


"lihat kan aku jadi diledek sama bapak!" Ujar alkana memanyunkan bibirnya.


"kan yang dikatakan oleh bapak memang benar adanya, ya Kakak sih Masa Iya takut dengan kecoa."


"kau juga takut kan?"


"Ya sebenarnya biasa saja sih, tapi kalau dia terbang aku mah langsung ketar ketir badan juga langsung Tremor." jawab Rania.


"sudah-sudah, kecoanya sudah bapak buang." ujar hary.


Rania dan alkana langsung keluar dari dalam selimut dan mereka saling menatap, lalu pandangan Alkana mengarah pada mertuanya dan dia tersenyum bodoh.


"Ya sudah, lupakan soal kecoa. Ayo kita makan!" Ajak pak Hary.


"tunggu? sejak tadi kalian berdua belum bersih-bersih juga? ya sudah segeralah mandi, setelah itu keluar kita makan bersama." ujar Ibu nilam.


"siap laksanakan, ibu bapak semua yang ada disini." ujarnya sambil bernada.


alkana langsung menyentil jidat Rania dan masuk ke kamar mandi lebih dulu, namun Rania langsung mengejarnya dan menahan pintunya mereka saling menatap dan tidak ada yang mau mengalah.


"Baiklah kalau begitu ayo kita mandi bersama!" alkana langsung menarik tangan Rania hingga mereka berada di dalam kamar mandi.


Rania linglung seperti orang bodoh dan menatap alkana dengan bergidik ngeri, "iiiih, ya sudah Rania antrian kedua saja!" wanita itu langsung membuka pintunya dan keluar, lalu menutupnya kembali.


alkana mengulum senyum Dan langsung mengguyur tubuhnya dibawah shower, sudah lima belas menit lamanya Rania menunggu namun lelaki itu belum juga keluar membuat Rania menghembuskan nafasnya kasar dan berjalan mendekat ke kamar mandi.


Rania mengetuk pintunya, "kak kenapa lama sekali? Rania sudah lapar."


"Kalau lapar ya makan bukan mandi." Sahut alkana dari dalam.


"ya Mandi dulu baru makan." Rania menendang pintunya dan kembali berjalan-jalan di dalam kamar.


saat melihat alkana keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk saja yang dililit di pinggang, rambut yang masih basah, membuat ketampanan dan kegagahan suaminya itu semakin sempurna di matanya. dia bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya untuk melewatkan ciptaan tuhan yang indah itu.


alkana mendekat dan menyeringai, "terpesona ya?" bisik alkana.


Rania dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya dan menatap alkana, "tidak!"

__ADS_1


Rania lalu masuk kedalam kamar mandi dan menutupnya dengan kuat, dia memegang dadanya yang berdetak kencang wanita itu langsung menarik nafas dalam-dalam dan langsung membersihkan tubuhnya.


__ADS_2