
Alkana mendekat kembali pada Rania dan membersihkan pinggang istrinya dengan mengibas-ngibaskan baju Rania.
"Apa-apaan ini?" Tanya Rania bingung.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku! Aku sudah memperingatimu sebelumnya, bukan? Jika sampai ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal diam!" Bisik alkana dengan penuh penekanan.
Rania berdecak kesal, "lalu aku harus menuruti perintahmu begitu? Kamu hanya suami di atas kertas dan tidak ada yang spesial dalam hubungan kita."
"Apa kau bilang? Coba katakan sekali lagi!" Perintah alkana.
"Benar kan yang aku katakan? Kalau kamu hanya suami di atas kertas saja!" Bisik Rania.
Alkana mencengkram tangan rania dengan kuat dan membawanya keluar dari ruangan itu, semua orang yang ada di dalam tempat itu menatap ke arah mereka dengan keheranan.
"Ada apa ya dengan mereka? Sepertinya mereka terlihat dekat." Tanya salah seorang siswi.
"Entahlah, aku juga merasa begitu!"
"Apa mereka saling kenal sebelumnya?"
"itu alkana dan rania pergi ke mana? latihannya kan belum selesai." Tanya Bu Lina.
"Tidak tahu, Bu!" Jawab siswi yang ada di ruangan tersebut.
Alkana terus membawa Rania menuju tempat yang benar-benar kosong, mereka menuju rooftop sekolah. Rania terus memberontak meminta alkana agar melepaskan tangannya.
"Lepas kak! Apa-apaan sih? Tidak lucu tahu, lepas tanganku sakit!" Pinta Rania terus memberontak.
Sesampainya di rooftop alkana melepaskan cengkraman nya dan mengunci tubuh Rania ke tembok dengan kedua tangannya, manik matanya menyorot tajam. Terlihat sekali jika alkana saat ini tengah marah.
"Kamu marah kenapa, hah? Singkirkan tanganmu, aku mau pergi. Aku akan ikut saja dengan bapak ke kampung." Ujar Rania.
"Apa? Apa ku kira semudah itu, hah?"
"Iya, kenapa? Aku tidak mau tinggal seatap dengan pria yang mencintai wanita lain." Ujar Rania emosi.
Alkana mengepalkan tangannya, dia ingin memukul Rania hingga Rania menutup wajahnya. Alkana menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, lalu menurunkan tangannya kembali.
__ADS_1
"Apa kau bilang tadi? Bukannya kau yang murahan dengan mau saja didekati oleh lelaki lain sedangkan kau sudah memiliki suami, hah?"
Terdengar sangat menyakitkan, namun Rania melakukan hal itu karena ingin membuat alkana cemburu dan mengakui perasaanya.
"Iya! Kalau aku murahan kenapa? Seharusnya kamu lebih sadar diri, susah becus menjadi suami atau belum? Kamu sendiri saja menyukai wanita lain di saat sudah memiliki istri!" Sungut Rania kesal, kini buliran air mata sudah mengalir di pipinya.
"Apa maksudmu? Suka dengan siapa?"
"Jangan pura-pura bodoh, bahkan satu sekolah tahu kalau kamu menyukai kak Sasha. Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kalian berdua tadi pagi sangat dekat, bahkan kamu tidak pernah menatapku seperti itu!"
"Kau tahu dari mana kalau aku menyukai Sasha?" Tanya alkana.
"Tahu dari mana? Jelas-jelas beritanya sudah menyebar kalau kamu dan kak Kevin berkelahi karena memperebutkan Sasha, dan sekarang mau menyangkal lagi?"
"Ku dengar dari siapa berita seperti itu? Beritanya ada dimana?"
"Di sosial media darmayudha."
"****, sialan!" Alkana langsung mengambil ponselnya dan mengecek apa yang terjadi sebenarnya.
"Kenapa? Mau memaki aku apa lagi? ******? Iya? Asal kamu tahu, aku cemburu, aku mencintaimu! Walaupun aku tahu kalau aku hanya mainanmu yang tidak akan pernah kamu balas perasaannya, maka dari itu aku selalu memintamu menceraikanku! Aku sulit menjaga hatiku untuk tidak memiliki perasaan lebih pada lelaki yang tidak punya perasaan sepertimu!" Teriak Rania.
Rania terus menangis, hatinya benar-benar kacau saat ini. Bahkan lelaki dihadapannya ini hanya terdiam terpaku mendengar ucapan rania. Rania mengusap air matanya kasar dan menatap nanar ke arah alkana, tatapannya menyiratkan luka yang mendalam.
Alkana benar-benar tidak menyangka dengan ucapan rania yang bagus saja dilontarkan, rania langsung mendorong tubuh alkana dan berlalu turun ke bawah. Alkana masih terus mematung ditempatnya, setelah sadar dia langsung ikut berlari menyusul Rania.
"Rania... Rania." Teriak alkana.
Dia kehilangan jejak istrinya, dia mengusap kasar wajahnya dan langsung berlari menuju gerbang untuk mencari keberadaan Rania. "CK, Rania kau kemana?"
"Raniaaaa." Teriaknya lagi.
Alkana langsung berlari menuju mobilnya untuk segera mencari rania, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat pelan sembari melihat di sekitar pinggir jalan.
"Kau harus pulang, Rania! Kita harus membicarakan ini semua, Aku juga sangat mencintaimu!" Lirih alkana dengan meneteskan air mata, dan dia langsung mengusapnya.
Alkana tidak menemukan Rania di sepanjang jalan, dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena mengingat ucapan rania jika dia ingin ikut orangtuanya kembali pulang ke desa.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, Rania! Aku mohon." Lirih alkana.
"Tunggu aku, kita bicarakan semuanya."
Sesampainya di apartemen, alkana langsung memarkirkan mobilnya dan menuju atas. Membuka pintu dengan kartu akses lalu langsung masuk kedalam untuk mencari keberadaan istrinya.
"Rania." Panggil alkana.
"Raniaaaa."
Tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya dia langsung menuju ke atas dan memasuki kamarnya. Kosong! Bahkan barang-barang milik Rania tidak ada sama sekali, dia berlari menuju walk in closet untuk mengecek pakaian istrinya.
"CK, tidak ada juga. Apa benar dia ikut pulang ke desa?"
"Rania, kenapa kau melakukan ini padaku?"
Alkana duduk di sofa, lalu menyugar kasar rambutnya. Dia merasa frustasi saat ini, kehilangan Rania benar-benar membuatnya seperti hilang akal. Bahkan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungkan Kenan, "halo, kenan!"
"Ada apa bro?"
"Ajak Alex menemui Sasha, suruh di mengapus postingan itu! Kalian pasti sudah tahu kan? Kenapa salah satu diantara kalian tidak ada yang mengatakan ini padaku?"
"Hehe, sorry bro! Begini loh, kami mengira kalian memang benar-benar menjalin hubungan jadi aku dan Alex tidak mau ikut campur."
"Kalian tahu aku bagaimana selama ini, bukan? Tidak berguna kalian hidup, mati saja sudah! Jika dalam satu jam postingan itu belum terhapus juga, aku sendiri yang akan turun tangan. Dan kalian akan tahu apa yang akan kalian dapatkan." Ancam alkana.
"Ah, alkana kau kok seperti it-"
Alkana langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, karena tidak ingin mendengar ocehan Kenan yang tidak penting itu. Dia langsung menghubungi nomor Rania kembali, berharap istrinya itu mau menjawab panggilan teleponnya.
"Rania, angkat dong! Please."
"Rania, kau dimana?"
Alkana langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang dan memejamkan matanya hingga tertidur, hatinya sedang berantakan saat ini. Dia perlu waktu istirahat agar bisa menyusun hatinya kembali dan mencari cara untuk bertemu dengan istrinya kembali.
__ADS_1