Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
rahasia Sasha


__ADS_3

"ada apa?" tanya mereka berdua kebingungan.


"Jadi gini, kan nanti aku tuh sedang ada tugas tapi aku tidak mengerti Kak. jadi bisa minta tolong tidak bantuin aku." pinta Sherly dengan memasang wajah imutnya.


"Astagfirullah aku lupa diri kalau melihat kau seperti itu, sekali lagi kau buat seperti itu aku paksa kau ke KUA." ancam Alex.


"Heh, Jadi bagaimana bisa atau tidak?"


"mungkin Kenan bisa, kalau aku ada urusan keluarga hari ini." sahut Alex.


"oh ya? ada urusan keluarga ya, bagus deh." ujar Sherly kesenangan.


"kok kau malah senang sih? sakit ya." Ketus Kenan.


"bukan senang, maksudnya tadi Bagus deh kalau Kak Kenan juga tidak masalah begitu loh." kilah Sherly.


"Sherly Kamu sedang apa?" tanya Rania yang baru saja datang mengejutkan Sherly.


"Astaga! Rania bisa tidak sih, jangan mengejutkan orang seperti itu, hah." sungut Sherly kesal.


"ini Sherly minta bantu kerjain tugas katanya." jawab Alex.


"tugas?" Rania berusaha memikirkan ada tugas apa hari ini, akan tetapi kan hari ini dan sebelumnya juga mereka tidak di berikan tugas apapun oleh guru.


"loh, Kita kan tidak ada tuh-" ucapan Rania terputus saat Sherly membekap mulutnya.


Alkana yang melihat itu langsung menepis tangan Sherly dan mengeluarkan tisu lalu membersihkan bibir Rania, membuat sepasang suami istri itu langsung saling menatap dan tersenyum manis. sedangkan tiga jomblo lainnya hanya menganga dan memasang wajah kesal.


"Ya sudah deh pokoknya nanti aku bantuin, sudah lah aku malas lama-lama Di sini ada nyamuk." ujar Kenan.


lelaki itu langsung meninggalkan parkiran menuju kelasnya, dan di susul oleh Alex.


"aku juga mau ikut lihat nyamuk, bye." Sherly langsung berlari menuju kelas.


"apa sih, mereka yang nyamuk padahal." Timpal Rania.

__ADS_1


"Kak, satu bulan lagi kan kalian banyak ujian kelulusan, Jadi kalau misalnya sudah lulus akan lanjut ke mana?" tanya Rania pada alkana.


"lanjut ke pelaminan sama kamu lah, kita umumkan ke semua orang agar mereka tahu Rania itu punya alkana vano Anggara." ujarnya dengan bangga.


"heh, mana boleh. Rania kan masih kelas sebelas."


"ya sudah, setelah kamu selesai ujian lalu kita langsung liburan ke mana saja punya anak 2 lusin." timpal alkana lagi.


Rania membulatkan matanya dan menepis tangan alkana dengan kasar, dia langsung bergidik ngeri lalu melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki itu sendirian.


"gila kali ya, anak dua lusin? dia kira aku kucing apa, brojol langsung keluar lima." gerutu rania.


"sayang berani sekali kamu meninggalkan aku ya, kembali kemari." teriak alkana.


"Tidak mau! kamu menyeramkan dari penunggu Gedung Kosong." sahut Rania.


"apa kamu bilang?" alkana langsung mengejar Rania dan wanita itu langsung berlari sekuat tenaga.


saat dia berlari, dia langsung menolehkan kepalanya ke arah arah alkana hingga menabrak Kevin yang ada di hadapannya, dan terjatuh. Kevin buru-buru langsung menolong Rania berdiri, dan alkana menepis kasar tangan Kevin lalu mendorong tubuh lelaki itu hingga kini dia yang berada di hadapan Rania.


"sayang kamu tidak apa-apa? apa ada yang sakit?" tanya alkana.


"Makanya jangan lari-lari lagi, sayang."


"kamu yang ngejar tadi."


"Ya sudah maaf ya, ayo aku antar ke kelas kamu." alkana membantu Rania berdiri dan berjalan ke kelas Rania, namun tubuhnya dia sengaja kan menabrak bahu Kevin dengan kasar.


"ck, lihat saja nanti."ujar Kevin kesal.


kini sesampainya mereka di kelas, semua tatapan menatap pasangan itu. sungguh membuat hati semua wanita iri, Mereka ingin di perlakukan seperti itu oleh lelaki, lebih tepatnya jika itu alkana.


"Rania itu pakai pelet jenis apa sih ya? ampuh sekali." ujar salah seorang siswi di kelas itu.


alkana yang mendengarnya langsung menatap tajam ke semua siswi, "asal Rania yang memakai pelet itu, aku akan terima. asal tidak kalian semua."

__ADS_1


Ucapan itu sangat menohok, membuat para siswi langsung terdiam. sedangkan Sherly turut menertawakan kesedihan dan rasa malu yang tiada dua untuk teman sekelasnya, yang selalu mencari masalah dengan rania.


"rasain kalian, makanya punya mulut itu di sumpal. nah kan kena ucapan mautnya Kak alkana." ledek Sherly.


namun Sherly langsung terdiam saat dirinya di Tatap tajam oleh alkana, sedangkan Rania tersenyum lebar lalu meminta alkana untuk segera keluar dari kelasnya.


"sudah ke sana, kamu masuk ke kelas kamu." perintah Rania.


alkana langsung mengusap lembut kepala Rania dan tersenyum manis ke arah wanitanya itu, membuat yang panas semakin kepanasan yang iri semakin seperti kerasukan bulldog.


setelah kepergian alkana, Helena langsung tertawa mengejek.


"jadi bonekanya saja bangga, kau itu mirip sama mantannya makanya dia mau denganmu.x


Rania langsung Menoreh ke arah Helena, "mantan? Setahuku alkana tidak mempunyai mantan sama sekali."


"kau tahu mantan dia seberapa banyak? kau masih anak kencur di sekolah ini, orang sepertimu itu sudah korban yang ke berapa ya? Oh mungkin yang ke 10 ribu kalinya. Selamat menikmati seperti korban lainnya." ujar Helena dengan menyeringai.


braaak.


pintu di banting keras oleh Sasha, dia langsung menghampiri Rania dengan Tatapan yang menunjukkan kemarahan. Rania tidak gentar, dia hanya menaikkan satu alisnya dan menonton apa kejadian selanjutnya yang akan terjadi. Kini dia tidak takut apapun lagi, selagi ada alkana di sampingnya.


"wanita murahan Kau! kenapa menginap di bukit berduaan dengan alkana demi bisa dengan alkana, kau mau jadi pelacur?" tanya Sasha menggebu-gebu.


"Sudah berapa laki-laki yang memakai mu? atau jangan-jangan bukan hanya alkana saja, rendahan sekali selera alkana semenjak kenal denganmu. aku sudah berulang kali memberimu peringatan ya, tapi kau semakin melunjak, asal kalian semua tahu ya wanita ini pelacur murahan. demi bisa terkenal di darmayuda."teriak Sasha.


"bukan hanya alkana, Kenan dan Alex juga." Timpal Helena.


"mau berkilah apalagi kau? bahkan Helena melihat sendiri."


hati Rania serasa di remas kuat mendengar kata pelacur yang di lontarkan untuk dirinya, dia menarik nafas panjang lalu menatap ke arah Helena dan juga Sasha dengan tatapan santainya.


"dengan kalian berbicara seperti itu saja sudah menunjukkan kualitas dari diri kalian sendiri, aku tidak perlu memberi klarifikasi apapun karena aku tidak pernah merasa seperti yang kalian katakan." ujar Rania dengan santai.


Rania melangkahkan kakinya maju ke depan dan berbisik ke telinga Sasha, "aku tahu rahasia mu, tapi aku lebih memilih diam. kalau kau tidak menarik ucapanmu itu, siap-siap saja Queen Darma Yudha reputasinya akan hancur lebur lalu di keluarkan dari sekolah, dan akan di cap buruk oleh masyarakat dan hanya bisa menangis di pojokan kamar. apa itu yang kau mau?"

__ADS_1


'**** sialan, tahu apa dia tentang rahasiaku yang aku tutupi, ah itu hanya gertakan saja pasti. kau tidak boleh gentar dengan ancamannya, Sasha.' batin Sasha.


"Kenapa tidak mau mengklarifikasi? karena kau takut kalau yang aku katakan itu kebenarannya, aku tidak punya rahasia apapun yang bisa kau jadikan gertakan, sialan!" emosi Sasha meluap dan ingin menarik rambut Rania, akan tetapi langsung di tepis kasar oleh Sherly.


__ADS_2