Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
gara-gara mangga


__ADS_3

Tiga lelaki yang berada di dalam kolam renang Langsung Melompat naik, dan memegangi dada mereka karena merasa jantung mereka hampir copot. Rania mendengus kesal dan menatap ke arah air, memastikan sesuatu yang jatuh.


"alkana, Apa itu?" tanya Kenan memeluk lelaki itu.


Alex yang melirik Kenan juga, dan langsung ikut memeluk alkana hingga membuat lelaki itu kesusahan bergerak. Rania mendekat ke arah Mama Silvi dan merangkul lengannya.


"tenang ya sayang." Mama Silvi mengelus pelan tangan Rania dan menatap ke arah suaminya.


"Papa lihat dulu Ada apa itu, yang jatuh tadi Apa." perintah Mama Silvi.


Papa Hendra menganggukan kepalanya dan langsung melangkahkan kakinya mendekati kolam renang, Karena airnya yang masih terus bergelombang membuatnya sulit melihat apa yang berada di dalam.


"huuwaaa, dingin." seseorang lelaki berdiri dan keluar dari kolam renang sambil memegang tubuhnya yang terasa sakit.


"Mang Dudung? Astaga, tadi ngapain di atas sana?" tanya Mama Silvi terkejut.


"Maaf Nyonya, tadi saya mengambil mangga di atas sana untuk di buat jus. di suruh sama mai lop." jelas Mang Nurdin.


"mai lop? maksudnya Bi Nani?" tanya alkana.


"hehe iya Den. saya kepleset jadi kecebur, untung air ya kalau batu apa tidak retak hati saya."


"wah Mang Dudung ini membuat orang jantungan saja, Ngapain coba malam-malam manjat pohon mangga? kan bisa beli saja." Ketus dino yang masih merasa terkejut.


"Mang Dudung lebih baik pacaran saja sana sama si mai lop, sumpah ya mang hampir lepas nyawaku tadi, untung dia tidak ngambek jadi tidak jadi pergi." protes Alex.


"bi Nani, ini bawa pacarnya." teriak Kenan.


Bi nani langsung menghampiri mereka semua dan membulatkan matanya, "astaga ada apa ini? kenapa semua basah kuyup begini, den?"


"Bi itu pacarnya membuat ulah, putuskan saja sudah bi." sahut Alex.


"Eh jangan dong." Timpal Mang dudung.


"kamu ngapain juga? kenapa basah kuyup begitu? kan tadi aku suruh membeli mangga, Kenapa malah ada di sini?" tanya bi nani.


"tadi kamu tidak suruh aku manjat pohon mangga toh?" tanya mang Dudung dengan wajah bodoh.


"ngawur kamu ya, ngapain Aku menyuruhmu memanjat pohon itu, kan pohonnya angker kalau malam."


"hiiii awas ketempelan!" ujar Kenan menakuti.


"kamu jangan begitu dong Beb." ujar Mang Dudung.


"Beb ndasmu itu Beb, sudah sana kamu pergi, menyusahkan saja. Maaf ya Nyonya Mangganya habis, Si dudung bukannya beli mangga malah nyemplung di kolam renang." ujar Bi nani meminta maaf.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa Bi, nanti juga bisa. Itu Si dudung suruh ke tukang urut saja, takutnya ada yang cidera tulangnya." perintah Mama Silvi.


"iya Nyonya, baik." bi Nani langsung menarik telinga dudung untuk masuk sambil mengomel kepada lelaki itu.


"sudah sudah, ganti dulu bajunya Nanti baru kita mulai barbeque-nya. nanti pada sakit loh." perintah Mama Silvi kepada semuanya.


"Ganti bajunya ya sayang, kamu basah juga itu." perintah Mama Silvi kepada menantunya.


"Iya Ma."


Rania menuju ke arah alkana dan menghempaskan Kedua lelaki yang terus memeluk suaminya itu.


"jangan menodai suamiku dengan tubuh kalian itu." ketus nya.


"jauh-jauh sana, Enak saja sembarangan peluk-peluk."


"ah elah mentang-mentang sudah kawin." Timpal Alex.


"nikah!" kenan langsung mengusap kasar wajah Alex.


"sama saja, di KTP juga kawin kan di tulis?" protes Alex.


alkana menggendong tubuh Rania ala koala dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian, Sedangkan yang lainnya masuk ke dalam kamar Dino dan memakai pakaian lelaki itu.


Di kamar, Alkana dan Rania telah berganti pakaian. alkana membantu Rania mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer, Rania menetap ke cermin memperhatikan wajah suaminya yang sangat tampan itu sedang serius mengeringkan rambutnya.


"banget, pokoknya kamu yang paling tampan." sahut Rania.


"Ya sudah beli saja, sayang." ujar alkana.


"hah, Kamu sudah tahu? kan aku belum ada bilang, Mas." tanya orangnya berbinar.


"iya sayang, beli saja semua yang kamu mau. kan kartunya sama kamu, Kalau belum habis jangan pulang dulu, harus kamu habiskan." perintah alkana.


memang Black card milik alkana ada pada Rania, tapi terakhir dia menggunakannya untuk membalas dendam pada lelaki itu. saat telah resmi menjadi suami istri yang sesungguhnya, Rania tak lagi membuat miskin suaminya itu hingga Black card itu selalu dia simpan dan tidak dia gunakan.


"kamu tidak Takut Jatuh Miskin, Mas?" tanya Rania.


"kalau aku miskin kan hartaku tetap ada, yaitu kamu."


"iih, Sok romantis."


"mau mas antar?" tanya alkana.


"mau, tapi besok ya pulang sekolah."

__ADS_1


Alkana menganggukkan kepalanya, setelah rambut Rania kering rania langsung membalikkan tubuhnya dan berdiri di atas kursi dan memeluk alkana dengan melingkarkan kakinya di pinggang lelaki itu. alkana langsung menahan tubuh rania menggunakan tangannya.


Rania mengecup bibir alkana sekilas dan tersenyum manis, "Makasih ya sayang, tapi aku rindu dengan bapak dan ibu. sepertinya besok belinya di tunda dulu, kita ke desa saja yuk." ajak rania dengan wajah yang terlihat sangat manis.


alkana terdiam sejenak, kondisi mertuanya saat ini belum pulih bahkan semakin parah. dia bingung harus menjelaskan dari mana kepada Rania, dia tidak ingin melihat senyum indah itu lenyap dari wajah wanitanya.


"mas, kamu Kenapa diam sih?" tanya Rania.


"ya sudah, besok kita bahas lagi ya Sayang. sekarang kita gabung dengan yang lainnya dulu pasti sudah di tunggu, Oke."


"turunkan dulu tapi." pintar rania.


Alkana langsung menurunkan Rania dengan hati-hati dan mengecup kening istrinya, "cantik sekali sih istriku ini."


Rania tidak mampu menahan senyumnya, hanya dengan kalimat seperti itu saja mampu membuatnya salah tingkah dan kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Sudah ih, ayo kita ke bawah." Rania menarik tangan alkana dan mereka berjalan menuju halaman belakang.


"pengantin baru kita baru datang, ngapain saja bro lama banget?" tanya Alex menaik satu alisnya.


"orang jomblo di larang kepo, karena bisa membuat kalian minta nikah sekarang juga. aku kasihan dengan orang tuamu karena tertekan dengan keinginanmu itu." ledek alkana.


"memangnya tertekan Kenapa?" tanya Dino polos.


"Ya tentu saja tertekan, dia minta nikah tapi tidak punya calon." timpal rania.


"sialan, kawan laknat." umpat Alex.


Kenan merangkul pundak Alex, "tenang saja nanti kita ke rumah sasha, pasti Tuti belum ada yang melamar."


Alex langsung menepis tangan kenan dan menarik kasar kipas dari genggaman kenan.


"Lebih baik aku jomblo saja."


...***...


Helena berjalan dengan sedikit gemetaran, dia juga takut jika di bawa-bawa pada kasus Sasha. dia terus berjalan menunduk, dia tidak menyesali perbuatannya Tetapi dia juga tidak mau jika harus di skors yang bisa membuatnya di usir dari rumah keluarganya.


Helena menghentikan langkahnya, lalu mengambil sebuah foto di dalam tasnya dan menatapnya dengan senyuman yang manis, kini rasa khawatir Itu mulai memudar.


kenan yang berjalan tidak jauh dari Helena langsung berlari berniat merebut foto itu, namun Helena dengan cepat mengarahkan kakinya ke arah samping hingga membuat Kenan terjatuh.


"aaaw, Pinggangku sakit sialan." umpat kenan.


"Makanya jangan usil ya Kak." ketus Helena.

__ADS_1


Alex dan yang lainnya yang berjalan di belakang mereka, Langsung menertawakan Kenan. saat Helena mau mengambil foto yang terjatuh itu, tangan kenan buru-buru mengambilnya lebih dulu. lelaki itu menatap Inten foto tersebut dan membulatkan. matanya.


__ADS_2