
"Eh? iya, ya? Kenapa mereka bisa tahu apartemen kita?" tanya alkana membulatkan matanya.
"Jadi, bagaimana ini? aku belum percaya kalau mereka bisa menjaga rahasia." ujar Rania panik.
"gimana ya? Gimana kalau kamu sembunyi di sana." alkana menunjuk kitchen set, masih ada satu ruang kosong yang bisa menjadi tempat persembunyian Rania karena tubuhnya yang mungil.
"Hei, yang serius saja menyuruh istrimu bersembunyi di situ!" ketus Rania kesal.
"Jadi bagaimana?"
"alkana!"
" alkana, kami tahu kau ada di dalam. buka cepat! kalau tidak aku dobrak nih ya." ancam Alex.
"lagi pula mas sih, punya teman aneh semua."
" Sudah, hanya itu pilihannya. kalau di kamar, nanti mereka masuk ke sana bagaimana?sudahlah."
Rania membulatkan matanya saat Kenan mendobrak pintunya, "kurang ajar kau kak Ken, lihat saja besok ya aku akan memberi pelajaran." sungut Rania.
wanita itu langsung berlari masuk ke dalam tempat persembunyian yang disarankan oleh suaminya itu, sedangkan alkana yang telah memastikan istrinya masuk ke tempat itu dia langsung melangkahkan kakinya membuka pintu dan memukul kepala Kenan.
"berisik sekali kau ini! lalu kau tahu dari mana apartemenku, Hah?" tanya alkana kesal.
"Aaargh, sialan!"
"aku masuk duluan." Alex tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam, padahal sebelumnya alkana hanya melihat Kenan saja tidak melihat siapapun lagi.
mereka berdua juga ikut masuk dan langsung duduk di atas sofa dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, alkana menaikkan satu alisnya dan menatap tajam ke arah mereka yang terlihat ngos-ngosan.
"CK, sialan si Sasha dia datang ke cafe tempat tongkrongan kita biasanya, dia membawa si Tuti. mana matanya tidak terlihat lagi." ujar Alex dengan nafas yang Tersenggal.
"tuti itu siapa?" tanya alkana.
"asistennya Sasha."
"pacarmu asistennya, Sasha?" tanya alkana.
"ya tidaklah! yang benar saja aku pacaran dengan si kuda poni itu!" Ketus Alex.
kenan tidak ikut berbicara, dia hanya merebahkan dirinya di atas sofa karena merasa lelah berlarian hingga hampir dua Km. alkana hanya melipat kedua tangannya dan menatap kedua temannya dengan tatapan mengintimidasi.
"dan sekarang masalahnya kenapa kalian bisa tahu apartemenku?" tanya alkana.
"tidak tahu, yang jelas kami membaca pesan dari Tante Silvi tentang apartemen mu ini. sewaktu kau ke toilet, Jadi pas kami ingat ya langsung ke sini saja dong." jelas Alex.
"CK, sialan kalian berdua! bisa tidak jangan membuka privasi orang, hah?!"
"lah kan hanya apartemen kau saja, lagi pula seharusnya kau itu senang kami temani di sini."
"alkana Memangnya ada tamu ya tadi?" tanya Kenan.
"ma-maksud mu?"
"ya ini, ada dua minuman dan juga dua sendal. sendal siapa ini? mana gambar barbie lagi, jangan-jangan tadi ada Rania ya ke sini atau kau sembunyikan dia." tebak kenan menuduh alkana.
"sok tahu kau!" Ketus alkana dengan gugup.
kenan dan Alex menatap dalam-dalam ke arah alkana dan menyipitkan matanya, membuat alkana menyentil jidat mereka berdua dengan kuat hingga membuat mereka meringis kesakitan.
"Rania! aku tahu kau di sini, keluar tidak kau atau aku yang cari sendiri nih ya." ancam Kenan.
"bagaimana kalau kita laporkan saja pada mamanya Rania ya atau tante Silvi." usul Alex.
"****, sialan! lakukan kalau kalian mau nyawa kalian melayang sekarang juga!" ancam alkana.
"aaaaaa."teriak Rania langsung keluar dari persembunyiannya, dan menghentakkan kakinya berulang kali dan bergidik ngeri.
alkana menepuk jidatnya dan langsung melangkahkan kakinya mendekat, "ada apa?"
" ada panjang-panjang di situ, ular deh kayaknya." Rania merinding ketakutan.
__ADS_1
"Rania? kan benar kau ada di sini, ketahuan kan kalian berdua. Hayo loh sedang apa kalian?" tuduh Kenan.
"ah berisik! itu bantu dulu cari ularnya!" Ketus Rania.
"aku mah tidak berani, kalau ada alkana, kenapa harus aku?" tanya Kenan ketakutan.
"kak Alex, bantu cepat!"
"Rania, nyawaku hanya satu." tolak Alex.
"CK, dasar! tidak berguna sekali kalian!"
alkana langsung mengambil ular mainan alkana dahulu yang selalu dia buat untuk menakut-nakuti temannya, alkana langsung mencampakannya ke arah kenan dan juga Alex. membuat kedua temannya itu lari pontang-panting ke berbagai arah.
***
"Oke, jadi kenapa kau bisa ada di sini Ran?" tanya Alex.
"Rania! hanya aku yang boleh memanggilnya ran." camkan itu sungut alkana.
"ya elah, al. hanya seperti itu kau cemburu, tidak pernah jatuh cinta sekalinya jatuh cinta posesif ya babang alkana ya." timpal kenan.
"ti-tidak ada kak, hanya ma-main saja. nanti juga pulang kok." jawab Rania gugup.
'pulang? pulang ke mana kamu, Rania? ke akhirat? semoga saja kalian tidak menginap di sini.' batin Rania.
"mau apa kalian kemari? sudah, sana pulang ke rumah kalian atau aku telepon Sasha dan menyuruhnya mengantar si Tuti!" ancam alkana.
"e-eh, ya jangan dong Al. kasihanilah kami berdua." mohon kedua temannya itu.
"Tuti itu siapa?" tanya Rania menatap bingung ke arah ketiga lelaki itu secara bergantian.
"si kuda poni." jawab Alex.
"dia itu penangkal sinar UVA dan UVB." jawab kenan.
"pacar mereka berdua!" jawab alkana yang membuat Alex dan Kenan langsung melemparkan bantal sofa ke arah alkana.
"masih sekolah juga?" tanya Rania lagi.
"hayo loh, kalian suka pada orang yang sama ya? oh ayolah Kak, jangan rusak persahabatan kalian hanya karena wanita. masih ada Sherly dan siswi Darmayudha yang lainnya, masa iya kalian suka pada satu orang."
"tidak ceweknya, tidak cowoknya sama saja mereka ini!" bisik Alex.
"iya, menghadapi satu orang saja kita kewalahan, lah ini malah tambah satu lagi.' sahut Kenan.
"Rania, sudah jam sepuluh ini. kau tidak pulang?" tanya Alex.
"j-jam sepu-luh ya? ah iya, pasti mama mencariku ini, ya sudah kalau begitu pulang dulu ya." pamit Rania dengan wajah lesu.
"rumah-rumah siapa, yang diusir siapa. awas ya kalian berdua, aku tandai." gumam Rania kesal.
"aku dan Alex menginap di sini ya, malas pulang aku." Alex dan Kenan langsung menuju ke kamar milik alkana, membuat Rania dan suaminya itu langsung membulatkan matanya.
terlebih lagi, kamar mereka masih berantakan akibat pergulatan tadi siang. Rania langsung menahan tubuh keduanya, dan alkana masuk lebih dulu dan mengunci kamar. dia merapikan seluruh seisi kamar dan menghembuskan nafasnya lega.
"setelah ini, aku campakkan kalian berdua ke kandang aligator!" umpat alkana kesal.
alkana langsung membuka pintunya dan mempersilahkan mereka masuk.
"Rania, kau menginap di sini saja ya. tidur di kamar sebelah, lagipula sudah malam sekali loh ini. besok aku antarkan pulang sebelum pergi ke sekolah."
" Aku setuju! sudah malam juga loh Rania."
" kalau khawatir, kunci saja rapat-rapat pintunya. soalnya alkana kalau tidur suka berjalan-jalan." timpal Kenan.
"e-eh, bo-boleh ya?" tanya Rania.
alkana langsung menarik tangan Rania untuk masuk ke dalam kamar sebelah, "tidak apa-apa ya di sini dulu, mas akan memberi pelajaran pada mereka." alkana mencium Puncak kepala rania yang terlihat sangat kesal.
"besok mas gadaikan saja teman mas itu, ya sudah, sana aku mau tidur!" Rania mengusir alkana agar keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
alkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"lihatlah dua lelaki tidak tahu diri ini, setelah itu habis kalian aku buat besok ya."
"Al, itu foto nikah orang tua kamu kau ya?" tanya Kenan.
alkana langsung melirik ke arah foto itu, lalu berlari mengambilnya dan meletakkannya di belakang tubuhnya, "iya! kalian cepat tidurlah kalau tidak mau aku usir sekarang juga!"
"Iya babang alkana yang tampan dan pemberani."
***
Di atas ranjang ukuran King size itu, mereka tidur dengan posisi alkana di ujung sebelah kanan. hanya lelaki itu yang belum bisa memejamkan matanya, sedangkan Alex dan Kenan sudah mendengkur sejak tadi.
"bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini?"
Alkana langsung bangkit, dan tangannya mengepal ingin menonjok kedua wajah temannya itu. lalu dia menurunkan tangannya dan memastikan jika keduanya telah tertidur dengan nyenyak.
" akhirnya, kalian tidur juga! kalau bisa bangunnya satu tahun lagi." Ketus alkana.
lelaki itu bangkit dari atas ranjang dan melangkahkan kakinya menuju keluar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat namanya disebut oleh Alex.
"Al, ini ada coklat pemberian adik kelas." ujar Alex mengigau.
alkana menghembuskan nafas lega dan berjalan menuju ke kamar Rania, lalu menguncinya. dia melihat punggung wanita itu dan mengulum senyum.
"rania, Kamu sudah tidur?" tanya alkana berbisik.
karena tidak mendengar jawaban apapun, akhirnya alkana langsung ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Rania dan memeluknya dengan erat. kini rasa kantuk itu baru menghampiri dirinya, dan dia langsung memejamkan matanya.
Rania sebenarnya belum tertidur, dia langsung membalikkan posisi tubuhnya dan menatap wajah suaminya yang sedang tertidur, dia mengusap lembut wajah tampan lelaki itu dengan tatapan yang dalam.
"ternyata kamu tidak bisa tidur juga ya kalau tidak ada aku mas, untunglah kamu datang. kalau tidak mungkin besok lingkaran hitam di mataku pasti besar, sudah seperti Panda." lirih Rania.
Rania langsung mencium kening alkana, dan mulai memejamkan matanya. kini mereka tertidur dengan sangat nyenyak hingga pagi menjelang.
Rania mulai mengerjapkan matanya dan melirik ke sekeliling kamar, namun alkana sudah tidak ada di sampingnya. dia langsung bangkit dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, manik matanya melihat suaminya yang baru saja masuk ke dalam apartemen dengan senyuman yang mengembang, membuat Rania mengerutkan keningnya dan langsung menghampirinya.
"kamu dari mana mas?" tanya Rania.
"tidak dari mana-mana, hanya mencari angin segar saja. ayo kita mandi bersama." alkana langsung mengangkat tubuh rania ala koala dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"aaaa, tidak mau! turunkan mas." berontak Rania. namun tetap saja, alkana tidak ingin melepaskannya.
manik mata Rania melihat ke penjuru kamar mereka, ternyata sudah tidak ada kedua teman alkana.
"dua curut itu ke mana, mas?" tanya rania.
"sudah pulang."
Rania hanya menganggukkan kepalanya dan alkana langsung meletakkan Rania di dalam bath up, dia ingin membukakan baju tidur milik Rania akan tetapi langsung dihentikan oleh istrinya itu.
" jangan! Rania bisa sendiri, ingat ya kita mau ke sekolah, jadi jangan macam-macam!" sungut Rania.
"tapi benar kan mas, tidak secepat itu akan tumbuh balonnya?" keluh Rania.
"tentu tidak sayang, nanti kalau misalnya kamu sudah siap, kita buat agar ada isinya." ujar alkana menaikkan satu alisnya.
wajah Rania sudah seperti kepiting rebus, Rania langsung menutup wajahnya karena merasa malu dan mendorong tubuh alkana yang ingin masuk ke dalam bath up juga.
"Mas mandi pakai shower saja, disana. ini tidak muat!" Rania langsung memenuhi seisi bath up, membuat alkana memanyunkan bibirnya.
"susah memang, kalau punya istri yang tegaan." keluh alkana.
lelaki itu dengan lesu berjalan menuju ke arah shower, sedangkan Rania langsung mandi tanpa mempedulikan suaminya itu. cuaca hari ini benar-benar terasa dingin sekali sehingga mereka memilih menggunakan air hangat untuk membersihkan tubuh mereka.
.
.
haiii teman-teman aku up 2 eps lagi nih
__ADS_1
bantu support ya. like, komen dan votenya Noona tunggu.
makasiiih😍