
Di rumah sakit terdekat, Kenan sedang berada di ruang rawat karena kondisinya yang lumayan parah. Helena menatap datar ke depan pintu itu, dan dia menggenggam foto yang selalu dia bawa ke manapun.
"Kenapa kau menolongku? Kenapa kejadian itu berputar lagi di pikiranku?" gumam helena.
'kau harus selamat kak Kenan, aku tidak mau punya hutang Budi sama kamu.' batin Helena.
alkana merangkul Rania dan mengusap air mata yang menetes di pipinya, "sayang, sudah ya Jangan menangis lagi. Kenan pasti akan baik-baik saja. kamu tahu kan, dia orangnya tidak pernah menyerah begitu saja, dia orang yang semangat."
"tapi dia tertimpa batang kayu besar itu tepat di depan mataku, aku masih syok Mas, aku juga takut kalau dia-"
"ssttt, kita doakan saja yang terbaik untuk Kenan ya." pinta alkana.
Rania menganggukkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Helena melirik ke arah Rania dan alkana dengan Tatapan yang sulit di artikan, saat Rania menyadarinya dia langsung duduk tegak lalu menjauh dari alkana.
"Ini semua karena kau Helena! memang dasar ya, kau itu pembawa sial! seharusnya yang tertimpa itu kau, bukan kak Kenan!" ketus Sherly kepada Helena.
Rania langsung berdiri dan menarik tangan Sherly, "Sherly ini bukan salah siapapun, sudah ya jangan bicara seperti itu lagi, kita berdoa yang terbaik untuk keselamatan Kak Kenan, Semoga tidak ada yang serius."
"tidak Ran, perempuan ini memang tidak punya malu. lihat wajahnya, tidak merasa bersalah sedikitpun, Simpati saja tidak! Kak Kenan di dalam sedang berjuang karena telah menyelamatkan dia." sungut Sherly kembali.
"Memang kau itu sudah tercemari oleh Sasha, otakmu pun juga kosong sama seperti Sasha!"
plak! tamparan keras mendarat di pipi Sherly, membuat semuanya menatap ke arah Sasha yang baru saja datang. wanita itu terlihat sangat emosi dengan perkataan Sherly.
"apa maksudmu membawa-bawa aku, hah?" tanya Sasha.
Alex mendorong tubuh Sasha, "kalian ini apa-apaan sih? apa dengan kalian saling menyalahkan begini, kenan akan cepat sadar? kalian pikir Kenan akan senang melihatnya?Apakah kalian pikir dengan kalian yang bertingkah seperti ini, kenan akan segera sembuh? begitu?! kalian pikir pakai otak! lebih baik kalian semua diam, dan kau Sasha dari pada kau membuat ribut di sini lebih baik kau pergi, aku tidak mau melihat biang rusuh ada di sini!"
"Helena, nanti aku yang menanggung semua biaya pengobatan Kenan, Ayo kau ikut aku." ajak sasha.
Helena menatap Sasha dengan Tatapan datar, lalu kembali melirik ke arah pintu ruang rawat Kenan berada dengan Tatapan yang sendu, namun kakinya tetap melangkah pergi mengikuti sasha.
"kalian, lihat? dia pergi begitu saja, wanita itu memang tidak memiliki rasa tanggung jawab." Ketus Sherly merasa kesal.
"sudah Sherly, kami semua juga sedih dengan kejadian ini. tapi sudah ya jangan membuat keributan lagi, lebih baik kita berdoa saja untuk Kak Kenan Semoga dia baik-baik saja." timpal Rania.
"Kenan, kenan. di mana anakku? kenapa dia bisa terluka?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja datang dengan wajah cemas. pria itu tak lain adalah Papa kenan.
"alkana di mana Kenan? Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
"om ini benar-benar serius peduli, atau hanya akting saja?" tanya Alex dengan menohok.
"tentu saja saya peduli, walau bagaimanapun dia tetap anak saya! pertanyaan macam Apa itu Alex?"
"lalu, kenapa Om tidak pernah mengunjungi dia untuk menanyakan keadaannya?"
pria paruh baya itu hanya bisa menundukkan kepalanya, "saya tidak bisa menjelaskan alasannya kepada kalian."
"apa Kenan baik-baik saja?" tanya pria itu lagi.
"Dia sedang di periksa di dalam ruangan itu." Alex menunjuk ke arah ruangan di mana kenan berada.
pria paruh baya itu langsung melangkahkan kakinya mendekati pintu itu, dia melirik ke dalam ruangan itu melihat Kenan hingga menetes air matanya, semua yang melihatnya merasa aneh kecuali Rania.
"Kenapa dia menangis? apa dia sedang menangis bahagia?" tanya Dino dengan wajah polos.
"heh, namanya orang tua jika melihat anaknya terluka pasti akan sedih. kita tidak bisa memandang hanya dari satu sisi, kita tidak tahu apa yang sebenarnya di rasakan oleh papanya kak Kenan. kita hanya tahu dari sisi buruknya saja." timpal Rania.
"Tapi aku tahu sekali bagaimana Papanya Keenan itu Rania, dia bahkan tidak pernah peduli pada kenan sedari Kenan kecil." jelas Alex.
"ya kan kita tidak tahu hati manusia kak, mungkin saja dia sudah menyesali perbuatannya." sahut Rania lagi.
Hingga beberapa saat kemudian, papa kenan telah kembali pergi begitu saja tanpa Meninggalkan pesan apapun yang di titipkan, membuat Alex menatap kesal pria paruh baya itu.
"lihat, bahkan dia tidak menemui Kenan lebih dulu."
"keluarga dari pasien?" Tanya Dokter.
"saya Dok, saya saudaranya. Kenan baik-baik saja kan dok?" tanya Alex.
"pasien masih belum sadarkan diri karena ada sedikit benturan di kepalanya, Mari kita tunggu sebentar lagi."
"tapi dia tidak akan amnesia kan, dok?" tanya Alex dengan wajah serius.
dokter tersebut menjelaskan semuanya secara detail kepada Alex, membuat lelaki itu mengusap kasar rambutnya dan langsung masuk ke dalam ruangan kenan, di susul oleh yang lainnya. mereka tidak boleh menciptakan keributan di ruang rawat Kenan.
"kenan kau harus segera sadar." lirih Alex merasa sedih.
beberapa menit kemudian, kenan membuka matanya. namun dia seperti kebingungan dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan Tatapan yang aneh. lalu dia mencoba duduk sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut, Alex langsung membantu Kenan untuk tetap berbaring, akan tetapi tangan Alex langsung di tepis kasar oleh sang empunya.
"Siapa Kalian? di mana Mamaku?" tanya Kenan sembari memegangi kepalanya.
__ADS_1
semua orang yang ada di ruangan itu merasa Terpukul melihat keadaan kenan, Alex menatap Kenan dengan Tatapan yang begitu dalam.
"ini aku Alex, temanmu."
"Alex siapa? Aku tidak kenal sama kalian, lebih baik kalian pergi!" teriak Kenan.
"mama! Mama di mana? jauhkan dia dari Papaku." pinta Kenan dengan wajah memohon.
dokter datang dan langsung menenangkan kenan, "kamu harus istirahat ya, Mama kamu ada kok."
"aku tidak akan nyaman Istirahat kalau ada orang asing di sini! Stefani di mana? dia selamat, kan?" tanya Kenan.
"siapa Stefani?" tanya alkana.
"Dia temanku, aku menolongnya saat dia akan tertimpa pohon." jelas kenan.
Alex, alkana, Rania dan Sherly mereka berempat saling menatap bergantian.
"maksud dia apa? siapa itu Stefani? Apa maksudnya Helena?" tanya Rania lagi.
dokter memberikan suntikan obat penenang agar kenan kembali istirahat, "biarkan dia istirahat dulu. mamanya ke mana?"
"mamanya sudah meninggal 1 bulan yang lalu dok." jawab Alex Getir.
"jadi maksud dia Stefani itu, adalah kamu?" tanya dokter itu kepada Rania.
Rania menggelengkan kepalanya, "bukan saya dok."
"kami tidak tahu siapa itu Stefani, dan Kami berteman dengan Kenan semenjak kami sekolah dasar. jelas Alex.
"berarti dia hanya mengingat kejadian sewaktu dia masih berusia lima tahun. biarkan dia istirahat dulu, nanti dia akan kembali pulih dan kalian doakan saja agar ingatannya cepat kembali sepenuhnya" ujar dokter itu.
dokter itu langsung Permisi meninggalkan tempat ruangan kenan, sedangkan keempat orang itu kini duduk dengan Tatapan yang menatap ke arah Kenan. Sherly meneteskan air matanya, walaupun mereka sering berkelahi tapi Sherly sudah menganggap Kenan seperti Kakaknya sendiri.
"aku akan pindah sekolah Jika Kak Kenan tidak mengingat aku lagi." ujar Sherly, membuat semuanya langsung menatap dia.
"Aku sudah menganggap kak kenan itu seperti kakakku, Walaupun dia aneh tapi dia baik, kalian semua juga baik. kak Kenan selalu menolongku, apapun yang dia lakukan itu hanya untuk menutupi lukanya. aku juga menganggap kalian sudah seperti saudaraku sendiri, tapi kalau salah satu dari kalian ada yang ingin menjauh dariku, Lebih baik aku duluan yang menjauh dari kalian semua." jelas Sherly dengan wajah serius bercampur sedih.
"kau bicara apa Sherly? Kak Kenan pasti akan baik-baik saja, aku mohon jangan seperti ini, kita semua juga sedih." Timpal Rania.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan Tatapan yang serius. lalu melirik ke arah kenan, air matanya menetes begitu saja, membuat Semuanya berdiri dan menatap ke arah wanita itu.
__ADS_1