
Kenan dan Alex sedang menuju ke rumah Sasha untuk menyelesaikan tugas mereka, jika alkana marah seperti itu maka jika ada perkataan yang dia ucapkan dengan sengaja, alkana akan benar-benar memberikan hukuman berat kepada Kenan dan Alex.
sesampainya mereka berdua di rumah Sasha, kenan dan juga Alex langsung mengetuk pintu berulang kali hingga keluar seorang asisten rumah tangga yang tersenyum genit ke arah mereka berdua. umur yang terlihat sudah tidak muda lagi dan juga rambutnya yang dikepang dua, poni rambutnya sampai menutupi mata membuat kanan dan Alex saling menatap dan mengerjapkan matanya berulang kali.
"Mbak pasti tidak kesilauan kan?" tanya kenan tiba-tiba.
Alex langsung menyikut lengan temannya itu dan tersenyum kaku ke arah asisten tersebut, "Maaf mbak dia suka sembarangan kalau bicara."
"tidak apa-apa kok, kesilauan apa maksudnya?" tanya Tuti.
"Iya itu poninya Mbak penghalang sinar UVA dan UVB kan?" tanya kenan lagi.
Alex hanya mampu menahan tawanya dan tidak ingin ikut campur, sedangkan Tuti si asisten rumah tangga itu hanya tersenyum manis membuat Alex bergidik ngeri.
"kamu ini bisa saja bercandanya, ini poni anti badai tidak akan terbang walaupun tertiup angin kencang." ujar Tuti.
"Jadi kalau terkena badai topan pun tidak akan bergerak juga ya?" tanya alex menimpali.
"tidak, ini akan terbang kalau digombalin sama abang-abang." jawab Tuti dengan tersenyum centil.
"sudah cepetan perasaanku sudah tidak enak ini." bisik Alex.
"Mbak ada sasha tidak?" tanya kenan to the poin.
"Oh mau nyari non sasha toh, kirain mau nyariin Tuti." ujar wanita itu dengan memanyunkan bibirnya.
"bawa sajalah untuk pajangan dirumah." bisik Kenan.
"eh jangan, kasihan ponakanku nangis terus nanti." sahut Alex.
"Ya sudah, kau tanya langsung lagi lah menrinding aku lex."
"Mbak tolong panggilkan Sasha ya, Bilang saja kami teman sekolahnya." pinta Alex.
"Oh ya sudah, kalau begitu jangan kemana-mana ya tetap disini karena tuti akan kembali lagi menemani kalian, emuach." ucap Tuti dengan centil dan mengedipkan sebelah matanya, lalu wanita itu langsung meninggalkan mereka berdua dan melangkahkan kakinya masuk untuk memanggil Sasha.
"Sasha nemu asisten begitu lewat jalur apa sih?" tanya Alex.
"jalur dukun mungkin." jawab kenan.
tidak menunggu lama akhirnya mereka bertemu dengan Sasha dan langsung meminta Gadis itu untuk segera menghapus postingan nya dengan berbagai cara.
.
.
.
Alkana mengerjapkan matanya berulang kali dan langsung bangkit, dia ketiduran terlalu lama dia melirik ke arah jam dinding dan langsung terkejut saat melihat sudah pukul delapan malam dia mengambil ponselnya karena teringat dengan perintahnya yang harus dikerjakan oleh kedua temannya.
dia melihat sosial media Darmayudha tidak ada lagi postingan tersebut membuatnya dapat bernafas dengan lega, dia melangkahkan kakinya Ke kamar untuk menemui Rania.
"Rania." panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Rania.. Aaah ****! dia tidak ada disini."
"Rania aku tidak bisa tanpamu." teriaknya.
alkana langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu dia langsung memakai pakaiannya dan menuju ke dapur karena perutnya terasa lapar.
dia mengingat momen saat mereka di dapur, "aku merindukan mu."
"walaupun kita sering ribut tapi aku suka, dari pada harus sendiri seperti ini."
"Kau pasti bahagia sekarang kan, tidak ada aku yang mengganggu hidupmu."
dia langsung memasak mie instan seperti yang dimasak oleh Rania waktu itu, dia ingin mengingat semua kenangan mereka berdua. tiba-tiba seulas senyuman Indah terbit di wajah alkana, namun tetap saja hatinya masih hancur.
.
.
.
__ADS_1
di desa Rania sedang duduk di pinggir kolam ikan sambil melempari ikan tersebut dengan makanan, raut wajahnya sejak tadi selalu saja murung dan tidak bersemangat, Nilam tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membujuk anaknya itu.
"Rania cerita pada ibu, kamu Ada masalah apa?" tanya bu nilam.
"tidak ada bu, Rania ikut kesini hanya rindu dengan suasananya dan juga rindu dengan teman-teman Rania."
"kamu ada masalah dengan alkana? cerita pada ibu, siapa tahu ibu bisa memberi solusi untukmu."
Rania menatap Nilam dengan tatapan sendu, wanita itu kembali meneteskan air matanya.
"Bu aku tidak akan kembali ke kota Kalau tidak mas alkana sendiri yang menjemput Rania untuk kembali."
"Jadi benar Kalian sedang ada masalah?"
"Bu, apa boleh Rania pindah sekolah disini lagi?"
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu? selesaikan dulu masalah kamu dengan alkana ya, bagaimanapun dia itu suami kamu sekarang." perintah nilam.
"tidak bu, kalau misalnya mas alkana tidak menjemput Rania kesini, Rania tidak akan kembali lagi ke sana." ujar Rania dengan keputusan finalnya.
.
.
.
"Rania aku tidak bisa tidur karena tidak ada kau." ujar alkana gusar.
lelaki itu terlihat sangat tidak nyaman, alkana kembali bangkit dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi mamanya, "halo Ma."
"alkana minta alamat rumah Rania yang di Desa." Pinta alkana.
"untuk apa nak? kamu Kenapa bertanya sama mama? kan ada Rania di sana, tanya saja langsung."
"Rania kabur ma, dia mungkin ikut bapak kembali ke desa." sahut alkana dengan getir.
"Loh, kok bisa? kamu apakan Rania, alkana? Bukankah mama sudah bilang jaga istri kamu baik-baik, kalau sampai terjadi apa-apa pada rania mama tidak akan bisa memaafkan kamu ya!" sungut Silvi kesal.
"Iya, makanya kasih tahu alkana alamat rania sekarang. Alkana mau menyusul Rania, ma!"
"Iya ma, makasih ya ma."
Sambungan telepon terputus, mamanya juga telah mengirimkan alamat rania. Dia langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya, dia bergegas keluar untuk segera pergi ke desa Rania malam ini juga.
malam ini mobil melaju kencang menuju perjalanan ke desa, lelaki itu merasa harus segera bertemu kembali dengan Rania sebelum semuanya terlambat. pikirannya tidak bisa tenang sama sekali, karena wanita itu selalu saja memenuhi pikirannya.
"Kenapa lama sekali sih sampainya." Keluh alkana.
perjalanan dari kota menuju rumah Rania menempuh waktu sekitar empat jam lamanya, dia merasa waktu berjalan sangat lambat sekali. Dia melirik pada jam tangannya sudah pukul sepuluh malam membuatnya menghembuskan nafasnya kasar.
Dia melewati jalanan yang sangat sepi dan juga gelap, tidak ada kendaraan lain yang berlalu lalang di jalan itu, membuat alkana ketar-ketir.
"CK, kenapa jalannya horor begini sih." Gerutu alkana.
"Mana tidak ada satu kendaraan pun yang lewat lagi, apa benar ini jalannya atau aku kesasar?" Tanyanya bingung.
Didepan ada sebuah karung yang melayang berwarna putih, membuat alkana membulatkan matanya terkejut, "astagfirullah, apa itu ya tuhan!"
"Aaargh, Rania kau harus baik padaku setelah ini. Perjuanganku sungguh sangat besar, sampai ada mbak Kunti lagi. Ah sialan!"
Dia terus melafalkan doa dalam hatinya, agar semuanya berjalan dengan lancar dan selamat sampai tujuan. Dia tidak ingin mati sia-sia ditempat ini, manik matanya melihat ada sebuah desa dengan banyaknya penerangan di sekitarnya membuat alkana menghembuskan nafas lega.
"Akhirnya sampai juga, rumah Rania yang mana ya? Rumah kepala desa kan? Untung saja masih banyak orang." Alkana langsung keluar dari dalam mobil menghampiri bapak-bapak yang sedang ronda.
"Maaf pak, saya boleh numpang tanya? Rumahnya pak Hary di mana ya?" Tanya alkana.
"Pak Hary kepala desa? Ada apa nak malam-malam begini mencari ke rumahnya? Ini sudah hampir jam satu malam loh."
"Saya saudaranya dari kota pak, tadi saya sempat nyasar makanya kemalaman sampai sini. Nomor mereka juga tidak ada yang bisa di hubungi." Jelas alkana berbohong agar tidak ada yang mencurigainya.
"Oalah begitu, rumahnya lurus saja nanti ada persimpangan belok kanan. rumahnya yang paling besar diantara rumah disana, yang ada pagarnya." Jawab salah satu bapak-bapak tersebut.
"Oke pak, terima kasih ya." Alkana langsung masuk kembali ke dalam mobilnya dan menuju rumah Rania.
__ADS_1
Dia menatap sekitar rumah yang paling besar di sana, "apa ini rumahnya ya? Kan yang ada pagarnya katanya tadi kan?"
Alkana langsung turun dan membuka pagar yang ternyata tidak di kunci, dia langsung berjalan masuk ke dalam hingga tepat berada di depan pintu utama rumah Rania. Tangannya mulai mengetuk pintu berulang kali.
"Benar ini bukan, ya? Kalau bukan bisa-bisa aku habis di keroyok warga." Gumamnya.
Dia kembali mengetuk pintu namun tidak ada yang keluar, alkana menghembuskan nafasnya kasar dan membalikkan tubuhnya berniat kembali ke mobil.
"Alkana?" Panggil seseorang yang baru saja membukakan pintu.
Alkana membalikkan tubuhnya kembali dan tersenyum, "bu." Alkana mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
"Bu, Rania ada disini kan?" Tanya alkana dengan raut wajah yang terlihat menyesal.
"Ada, tapi dia sudah tidur. Kalau ingin menyelesaikan masalah kalian, besok saja. Kamu lebih baik istirahat, masuk ke kamar Rania dulu." Perintah bu Nilam.
"Baik bu, alkana minta maaf ya bu."
Nilam tersenyum dan menyuruh alkana untuk segera masuk dan menutup pintunya kembali, Nilam membawa alkana menuju ke kamar Rania. Sesampainya di depan kamar tersebut, Nilam menatap alkana seperti memberi isyarat agar menantunya itu masuk ke dalam.
"Makasih ya, bu." Alkana membuka pintu kamar yang terlihat sangat gelap.
"Dia benar-benar sudah tidur ya?" Alkana duduk di pinggir ranjang menatap punggung Rania yang membelakangi posisinya duduk.
Lelaki itu sangat lelah dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Rania dan memeluk tubuh istrinya itu. Tanpa butuh waktu lama, akhirnya alkana tertidur pulas sekali, tidak seperti saat berada di apartemen sendirian.
Rania membalikkan badannya dan memeluk alkana yang dia kira adalah banyak guling, hingga lagi menjelang, Rania mulai mengerjapkan matanya dan melihat ada alkana di hadapannya.
"Kenapa sih, sudah di desa juga masih terbayang kamu terus? Argh, ada apa sih denganku?" Lirih Rania.
"Rania." Panggil alkana.
Rania langsung membulatkan matanya dan mendorong alkana hingga lelaki itu terjatuh ke lantai, Rania menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melirik ke arah bawah, terlihat alkana sedang meringis kesakitan.
"Aaargh, Rania kenapa mendorongku?" Tanya alkana sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
"Kak alkana? Ini benar kamu?" Tanya Rania yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tentu saja aku, kau kira siapa?"
"Oh, emm mau apa kakak kesini?" Tanya Rania cuek.
Alkana bangkit dan naik ke ranjang kembali menatap Rania yang mengacuhkannya, dia menatap Rania dengan dalam. Alkana menarik baju Rania untuk menghadap ke arahnya.
"Kenapa, kak?"
"Kakak mau apa kesini? Mau menghina Rania lagi? Seharusnya kakak senang kan kalau Rania tidak disana lagi, kakak bisa puas menghabiskan waktu berdua dengan Sasha." Tanya Rania getir.
Perasaan Rania kembali terluka saat melihat alkana ada dihadapannya, namun di sisi lain dia juga merasa bahagia karena suaminya itu menjemputnya ke desa saat malam hari.
Alkana tidak menjawab pertanyaan Rania, namun dia langsung menarik tengkuk Rania dan mencium bibir gadis itu. Rania membulatkan matanya dan berusaha memberontak namun alkana semakin menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka. Air mata Rania lolos begitu saja, dia merasa bahagia dan juga sedih di waktu yang bersamaan.
Setelah keadaan lebih baik, alkana melepaskan ciumannya, dan menatap manik mata Rania dengan lembut. "Bisa panggilnya jangan kakak saat kita sedang berdua?"
"J-jadi panggil apa?"
"Mas alkana." Jawab alkana dengan tersenyum lembut.
"Tidak mau, lagi pula kakaj tidak mencintaiku!"
"Rania, apa aku harus mengungkapkan semuanya dengan kata-kata? apa kau tidak bisa merasakannya?"
Rania menggelengkan kepalanya, "tidak!"
Alkana cukup kaku untuk mengungkapkan perasannya saat ini, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap manik mata Rania dengan gugup, "Rania aku mencintaimu! Bisakah kita ulang semuanya dari awal lagi? Kita lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita."
"Kak Sasha?"
"Aku tidak pernah mencintai ataupun menyukainya, kemarin aku berjalan berdua dengan dia karena aku memanfaatkannya agar mau mengundurkan diriku dari drama pentas seni itu. Dan karena sekarang kamu yang menjadi cinderella nya maka aku akan siap menjadi pangerannya, kamu kira aku mah jika istriku di sentuh lelaki lain?"
Rania mengembangkan senyumannya, entah itu fakta atau bukan yang dikatakan oleh lelaki itu tetapi dia benar-benar bahagia saat ini. Rania kembali menatap ke arah alkana dengan tatapan tajam.
"apa kakak serius?" tanya Rania.
__ADS_1
alkana kembali menarik tengkuk leher Rania dan mencium bibir istrinya itu dengan sangat lembut, Rania mampu merasakan hal yang berbeda dari ciuman kali ini Bahkan dia membalas ciuman suaminya itu.