Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
alasan


__ADS_3

Sherly sedang belajar untuk memperbaiki nilainya agar menjadi sempurna, dia tidak ingin kedua orang tuanya tahu jika dia tidak mendapatkan nilai yang sempurna. Gadis itu terlihat sangat lelah, namun dia tidak pernah berhenti untuk melakukan yang terbaik karena banyaknya tuntutan dalam hidupnya, membuatnya banyak menghilangkan masa mudanya hanya dengan belajar.


"aku janji kalau suatu saat nanti aku memiliki anak, aku tidak akan menuntut apapun padanya aku akan mendukung terus apa yang dia inginkan. aku tidak akan mau kalau dia merasakan hal yang sama sepertiku maka dari itu aku juga harus mencari ayah yang tepat untuknya, yang sifatnya tidak seperti papa, yang cocok kira-kira Kak Kevin atau alkana ya?"


"Aishh,sudahlah."


tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia langsung meraih ponsel tersebut dan membukanya.


"notif dari SMA DarmaYudha."


dia langsung membuka sosial media milik sekolahnya, dia membulatkan matanya saat melihat berita yang terpampang disana.


"apa? Jadi mereka berkelahi karena memperebutkan Kak sasha? Argh, hancur sudah harapanku!"


"Kenapa sih si Sasha sasha terus, bahkan Idola ku juga menyukai dia."


"beruntung sekali jadi Sasha!"


dia melihat banyaknya komentar di postingan yang baru saja diunggah beberapa menit yang lalu itu, dia langsung membacanya satu persatu dan langsung kehilangan mood belajarnya untuk saat ini.


[Gina: Wah ternyata karena ini permasalahannya, beruntung sekali si Sasha diperebutkan oleh dua lelaki idaman di sekolah.]


[Alex: hoax ini mah jelas-jelas mereka memperebutkan cimol Mang Ujang depan gang]


[Kenan: Jangan percaya! mereka sebenarnya memperebutkan kekuasaan.]


[Alex: kekuasaan apa? kekuasaan bapakmu?]


[Kenan: kekuasaan siapa yang paling berkuasa membeli cimol Mang Ujang hahaha.]


setelah membaca sedikit komentar yang ada di postingan tersebut, sherly langsung menutupnya Dan teringat akan rania dia merasa jika Rania harus tahu kalau sebenarnya alasan mereka berkelahi karena Sasha terlebih lagi Rania juga menjadi korban saat itu.


"Halo Sherly Ada apa?" Sapa Rania dari seberang telepon.


"Rania cepat sini!" teriak alkana memanggil rania dan itu terdengar oleh Sherly.


"Rania, tunggu dulu! itu bukannya suara kak alkana ya?" tanya Sherly.


"Hah, y-ya bukanlah ngaco kamu ini!" jawab Rania gugup.


"oh bukan yah, aku kira kak alkana. Kamu sudah lihat sosial media darmayudha belum?" tanya Sherly.


"belum, Memangnya ada apa?"


"itu sedang ada berita fenomenal, tentang alasan kak Kevin dan Kak Alkana berkelahi. gila sih pokoknya!" Jawab Sherly heboh.


"Oh ya sudah sih Biarkan saja, lagi pula tidak ada gunanya juga aku tahu alasan mereka berkelahi, Aku tidak kenal dekat juga."


"Ya sudah lah terserah kamu saja, Ya sudah aku mau lanjut belajar dulu, bye." Sherly mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Rania menatap kearah alkana yang sedang makan malam, sedangkan dia langsung masuk kedalam kamar untuk melihat berita yang dimaksud oleh Sherly tadi.


dia membuka ponselnya dan langsung melihat berita tersebut, manik matanya terasa panas saat melihat kenyataan yang terpampang jelas di layar ponselnya itu, hatinya terasa seperti di sayat hingga meninggalkan goresan luka.


"Apa benar itu alasannya? Jadi dia sebenarnya menyukai Sasha? Iya sih, siapa yang tidak menyukainya coba. Sudah cantik Idaman satu sekolah lagi, kalau dibandingkan dengan aku yang tidak ada apa-apanya ya kalah jauh. tapi kenapa sih kalau suka dengan Sasha, kenapa membuatku berharap? alkana sialan!" Umpatnya.


"Awas kamu ya akan aku balas, biarkan saja kamu tidak suka padaku tapi lihat, kamu selalu cemburu kan kalau aku dengan kak Kevin. Aku tidak mau mendengar keinginan kamu lagi alkana, Sialan!" Lanjutnya lagi.


"sayang, ngomongnya kok seperti itu?" tanya Nilam yang melewati kamar Rania.


"eh Ibu, tidak kok Bu bercanda saja tadi. ibu mau ke mana?" tanya Rania mendekat.

__ADS_1


"Ibu mau keluar sebentar ke supermarket sebelah, soalnya mau beli untuk persediaan kalian. besok Ibu dan bapak mau pulang."


"loh Ibu bilang seminggu, Kenapa besok sudah mau pulang?"


"Bapak ada urusan di sana Sayang."


"Ya sudah deh bu, tapi tidak perlu belanja untuk keperluan Rania dan mas alkana. nanti Rania saja yang membeli sendiri dengan mas alkana, Ibu istirahat saja ya." Rania mendorong ibunya agar masuk ke kamar kembali.


"Eh loh, tapi kan kamu tidak pandai belanja sendiri nak."


"pandai dong bu, masa iya Ibu meragukan anaknya sendiri, ya sudah Ibu tidur saja ya bye." Rania langsung menutup pintunya kembali.


hatinya kembali terasa sakit dan juga merasa kesal, dia langsung masuk ke kamarnya dan tidur dia tidak ingin melihat lelaki yang menjengkelkan itu.


"enak saja dia mempermainkan perasaanku! Apa dia kira aku ini mainan? kalau memang tidak suka ya ceraikan saja atau setidaknya jangan memberiku harapan. kan kamu sendiri yang repot kalau seperti ini."


"Oke Rania sabar ya, yuk bisa yuk." ujarnya menyemangati dirinya sendiri.


pintu kamar terdengar dibuka dan alkana langsung menguncinya kembali, lalu dia berjalan mendekat kearah Rania dia menatap tubuh istrinya yang sedang tertidur tersebut.


"Rania, aku tidur di sini ya. Aku takut ada kecoa lagi!" ujar alkana.


"Rania."


"Rania aku yakin kau belum tidur."


"Terserah! mau tidur di atap juga bukan urusanku." Ketus Rania.


"Buset, ketus amat neng."


alkana langsung menarik selimut dan berbaring membelakangi Rania, kini tubuh mereka saling bertolak belakang dan rania menghembuskan nafasnya kasar karena alkana tidak peka juga dengan dirinya.


di sekolah Rania berjalan di koridor sekolah dengan memegang tali tasnya, dia melangkah tanpa bersemangat seperti biasanya. dia mendengar suara sumbang dari para siswa yang membicarakan tentang Sasha dan juga alkana.


"Iya sih pantas saja aku kemarin melihat sasha dan alkana di depan ruangan BK, mereka nampak akrab dan ngobrol seperti itu, apa mungkin ya mereka menjalin hubungan?"


"tidak tahu juga sih, tapi bisa jadi Kevin kan mantannya Sasha dan alkana musuhnya. terus dia tidak terima, jadi mereka berkelahi. tapi kasihan ya anak baru itu wajahnya kena tonjok kak Kevin."


Rania yang mendengarnya menghirup nafas nya dan membuangnya secara perlahan dia kembali melangkahkan kakinya menuju ke kelas, dia terlalu muak dengan ocehan para siswa yang selalu membicarakan hubungan alkana dan Sasha.


Rania membulatkan matanya saat melihat alkana dan sasha sedang berjalan beriringan berdua dan saling mengobrol, alkana biasanya terlihat sangat cuek dan juga dingin tetapi kini lelaki itu lebih hangat dan banyak berbicara.


hati kecil Rania kembali terasa seperti di sayat, bahkan alkana melewatinya begitu saja tanpa menoleh ke arah dirinya. dia langsung duduk di kursi yang ada di sekitar koridor dan meratapi nasibnya.


"tahan Rania, jangan sampai menangis. lagipula kalian memang sudah sepakat berpura-pura tidak mengenal saat di sekolah, tapi apa benar mereka memiliki hubungan spesial?"


"Rania!" Panggil Kevin.


"eh kak Kevin, ada apa ya?"


"mau ikut partisipasi di acara pentas seni yang akan diselenggarakan sekolah kita tidak?"


"Kakak nawarin Rania?"


" Iya, mau tidak?"


" Rania jadi apa?" tanya Rania.


"jadi apa saja, kamu maunya ikut di mana. sebenarnya kami kekurangan satu orang untuk menjadi Cinderella nya, kamu mau?"


"Cinderella ya? pangerannya siapa?" Tanya Rania penasaran.

__ADS_1


"alkana, kalau tidak aku." jawab Kevin tersenyum manis.


'kalau dengan kak Kevin pasti bisa membuat alkana si payah itu cemburu' batin Rania.


"boleh deh kak, tapi aku mau kalau kakak yang jadi pangerannya. Kalau tidak, aku tidak jadi ikut."


"boleh tapi kamu juga ikut ngedance ya, bisa kan?"


"Hah? ngedance?" tanya Rania terkejut, selama ini dirinya tidak pernah belajar nge-dance dia hanya melihat saja dari ponselnya.


"Iya please."


"Baiklah."


"oke terimakasih Rania, kalau begitu aku ke tempat lain dulu ya."


"Eh, tunggu. minta nomor ponsel kamu." Kevin langsung memberikan ponselnya kepada Rania.


Rania langsung mengetikkan nomor ponsel miliknya, setelahnga ia mengembalikan ponselnya kembali pada pemiliknya. "ini."


sepulang sekolah kini Rania tidak memberikan kabar kepada alkana, dia tidak ingin peduli lagi dengan lelaki itu, dia bergumam saat melihat alkana terlihat sedang menunggunya.


"Siapa suruh kamu membuat hatiku terluka."


"mau kamu cemburu atau Bagaimanapun aku tidak akan peduli!"


"kak Kevin." Panggil Rania, membuat alkana yang tidak jauh dari dirinya langsung menoleh ke arah mereka berdua. Rania langsung menggandeng lengan Kevin, dan kini mereka tertawa sambil memasuki ruang latihan mereka.


alkana langsung melebarkan matanya dan mengejar mereka berdua memasuki ruangan itu.


"apalagi yang dilakukan anak itu? Argh, awas saja kau berani macam-macam ya!"


"Ini kan tempat latihan untuk pentas seni nanti, Rania mau apa masuk ke sini? jangan bilang dia ikut drama itu dan berdua dengan Kevin, berani sekali kau Rania."


alkana langsung memasuki ruangan tersebut dan banyak sekali siswa-siswi yang sedang berlatih di dalam ruangan ini, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kevin dan juga Rania.


Kini dia melihat jika Rania dan juga Kevin sedang menari dengan tangan Kevin yang melingkar di pinggang Rania, manik matanya menyala merah dan mendekati mereka berdua.


"berani sekali kau Kevin menyentuh tubuh istriku!" gumam alkana dengan nafas yang sudah memburu.


Rania yang merasa tidak nyaman dengan posisi seperti itu langsung melepaskan pegangan tangan Kevin dari pinggangnya, memundurkan langkah dan tersenyum ke arah Kevin yang menatapnya dengan bingung.


Alkana menatap kearah kevin dan juga guru kesenian yang mengkoordinasi acara itu, " Bu, bukankah yang menjadi pangerannya saya yang dipilih lebih dulu? Sekarang saya bersedia menjadi pangerannya, Bu." Ujar alkana.


kevin menatap kesal ke arah alkana, karena dia sebenarnya menginginkan posisi ini karena lawan mainnya adalah Rania. Namun karena di ketua OSIS yang mengharuskannya banyak mengerjakan hal lainnya, dan juga di hanyalah pengganti alkana karena lelaki itu tidak minat sebelumnya.


"Kamu serius? Kalau begitu kamu boleh bergabung sekarang untuk segera memulai latihannya." Perintah bu Lina.


Alkana menyeringai dan menarik tangan Kevin keluar dari ruangan tersebut, Rania membulatkan matanya. Dia ingin sekali mengejar mereka berdua dan memastikan tidak terjadi keributan seperti sebelumnya, namun bu lina memanggilnya untuk menghafalkan dialog bagiannya.


Diluar, alkana mendorong tubuh Kevin. "Jangan pernah sentuh Rania atau bahkan mendekati dia lagi!"


"Apa hubungannya dengan kau? Kau tidak memiliki hak!"


"Aku dan Rania memiliki sesuatu yang tidak ada diantara kalian, paham kau?" Kecam alkana.


Kevin memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh alkana, diapun langsung mendekatinya, menatap tajam Manik mata yang ada di hadapannya.


"Apa maksudmu?"


"Kau belum mengerti saat ini, suatu saat kau akan tahu! Jadi, selagi aku masih mempunyai stok kesabaran jangan terus mengujiku, kau akan tahu akibatnya nanti!" Ancam alkana.

__ADS_1


Alkana langsung meninggalkannya, membuat Kevin berdecih kesal dan mengumpati alkana.


__ADS_2