
"Ada apa dengan aku dan kak alkana?" tanya Rania kebingungan.
"kau ada hubungan spesial ya dengan kakak alkana?"
"ya tidaklah, apa sih kau ini tidak jelas." Rania langsung mengalihkan pandangannya, namun Sherly memegang kedua pipi Rania dan mengarahkannya kembali ke agar menatap dirinya.
"aww, sakit!" Lirih rania.
"eh iya lupa aku, maaf yah. aku kok jadi tolol gini masih sakit ya?" tanya sherly.
"ya sakit lah, kamu nggak lihat sekuat itu kak kevin memukulku? Aku tidak mati saja sudah bersyukur."
"kira-kira apa masalah dua orang itu ya?" tanya Sherly.
"eh tunggu dulu, aku tadi bertanya loh ran, kenapa tidak dijawab?" tanya Sherly lagi.
"kau tanya apa? aku kan membantu memisahkan mereka. aku tidak bisa melihat orang berkelahi seperti itu, ya Aku tidak tahu kalau wajahku yang akan terkena pukulan." jelas Rania.
"tapi di lapangan aku jelas melihat kalau kau sengaja melindungi kak alkana, Apa mataku mulai rabun ya?" tanya Sherly.
"mungkin saja!"
"Ah iya, waktu di UKS tadi kak alkana itu menggenggam tanganmu, seperti ini!" Sherly langsung memegang tangan rania seperti yang alkana lakukan saat di UKS.
"kau mungkin salah melihat, mungkin saja karena dia panik atau merasa bersalah kan. lagi pula aku hanya membantu dia, makanya pukulan kak Kevin mengenai ku." jelas Rania.
"ya bisa jadi juga sih, masuk akal! tapi sumpah ya oh sweet sekali Kak alkana."
"tapi lukamu bagaimana? masih sakit? nanti kita datangi kak Kevin untuk minta pertanggung jawaban!" lanjut Sherly.
"tidak perlulah, untuk apa? aku juga sudah lebih baik, sudah diobati juga Paling sebentar lagi juga sembuh." tolak rania.
"tapi dia harus bertanggungjawab Rania, sekalian kita manfaatkan untuk cuci-cuci mata, hehe." ujar Sherly dengan menaik turunkan alisnya.
"terserah kau sajalah!"
di tempat lain tepatnya di UKS, alkana sedang berbicara empat mata dengan dokter tersebut yang bernama dokter Angga. Dokter angga menatap tajam ke arah alkana untuk meminta penjelasan dari ucapannya barusan.
"Benar rania itu istrimu?" tanya dokter Angga.
"Hmm." Dehem alkana.
"Astaga kau Apakan dia alkana? kau menghamili anak yang masih sekolah?" Tanya Dokter tersebut dengan serius.
"gila ya kau, aku kira kau tidak berminat dengan wanita tapi ternyata lebih berbahaya dari Kevin."
"mau aku suruh Papa untuk mencampakkan kau ke pelosok Desa!?" ancam alkana.
"Jangan dong! ancaman kau selalu saja itu, lalu kenapa kalian bisa menikah di usia kalian yang masih belasan hah? Kalian juga masih sekolah!"
"Karena perjanjian orang tua yang tidak jelas itulah." jawab alkana.
"perjanjian apa? perjanjian dengan mahluk gaib?'
alkana langsung melirik tajam kearah Angga dan membuat lelaki itu menutup mulut dan mengalihkan pandangannya, lalu alkana kembali menatap lurus ke depan.
"Papaku dan bapaknya Raina itu sahabat, dan membuat perjanjian kalau akan menikahkan anak mereka, ya sudah jadinya dinikahkan! Tunggu aku lulus sekolah kek setidaknya, ini malah dinikahkan begitu saja.
__ADS_1
"tapi kan Rania cantik sekali, aturan waktu itu kalau kau tidak mau, Katakan padaku saja. nanti aku pakai masker untuk menggantikanmu."
"bicara denganmu tidak ada habisnya, Ya sudah aku mau ke ruangan Pak Nando sekarang." alkana langsung berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruangan pak Nando si guru BK.
Tetapi saat baru beberapa langkah dia menghentikan langkahnya.
"simpan rahasia itu! Jika ada yang tahu selain kau, habis kau aku buat! kau tahu kan siapa aku?" Ancam alkana, lelaki itu langsung melangkahkan kakinya keluar. sedangkan Angga hanya menganggukkan kepalanya dan menggerutu kesal, lalu langsung berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya sambil menirukan gaya alkana.
"Hibis kiw Iki biit! Haish."
"dasar alkana, itu terus ancaman kau. tapi ngeri juga kalau aku ditugaskan di pelosok desa yang sulit jaringan, Kapan aku mau dapat jodohnya." Gerutunya.
di luar alkana langsung memasukkan tangannya ke saku celana dan berjalan menuju ruangan Pak Nando si guru BK, dia menatap lurus ke depan dan saat telah sampai di depan ruangan guru tersebut alkana langsung mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..
"masuk!" jawab Pak Nando dari dalam.
Alkana membuka pintu dan langsung melangkah kakinya mendekat, di ruangan ini terdapat Kevin yang sedang menatapnya dengan tajam namun alkana mengacuhkannya dan langsung duduk begitu saja.
"Ada apa Pak? langsung ke intinya saja!" ujar alkana.
Pak Nando menggelengkan kepalanya dan menatap mereka dengan Tatapan yang sulit diartikan, "Kenapa kalian berkelahi?"
"Tidak ada pak! hanya ingin saja."Jawab alkana santai.
sedangkan Kevin langsung melirik tajam ke arah alkana.
"tidak Pak, permasalahannya ada padanya! dia yang memulai lebih dulu perkelahian ini."
"kalian harus mengecat tembok belakang sekolah, dan harus saling bekerjasama jika ingin cepat selesai!" perintah Pak Nando.
"yang benar saja Pak! mau kapan selesainya kalau hanya berdua?" protes Kevin.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi Pak!" alkana langsung berjalan keluar menuju ke belakang sekolah.
namun langkahnya dihentikan oleh Sasha, "alkana aku dengar-dengar kalian berkelahi lagi ya? kalian kenapa tidak akur sih?"
"sakit ya lukanya, mau aku obatin?" tawar Sasha.
"tidak!"
" tapi nanti bisa semakin bengkak loh itu, aku obati dulu ya." Pinta Sasha lagi.
"Aku bilang tidak ya tidak!" alkanna menekankan suaranya, dan langsung meninggalkan saja sendiri menuju ke belakang sekolah.
Kevin juga keluar dari dalam ruang BK melihat sasha yang sedang menatapnya kearah alkana, yang sedang berjalan itu.
"Sedang apa kau di sini?"
Sasha langsung melirik ke arah Kevin, "Kalian sedang berkelahi karena apa sih? kenapa sampai segitunya?"
"bukan urusanmu!" Kevin langsung meninggalkan sasha hingga wanita itu berdecak kesal.
"Sasha, Sedang apa kau berdiri disitu aku mencarimu sejak tadi?" kejar temannya.
"buat berita kalau mereka berkelahi karena memperebutkan aku! kau tahu kan apa yang harus aku kerjakan sekarang?" tanya sasha.
__ADS_1
temannya itu langsung menarik tangan Sasha untuk kembali masuk kedalam kelas, "ya sudah, kita masuk ke kelas dulu."
di tempat lain tepatnya di belakang sekolah, Kevin dan alkana langsung mengecat tembok sekolah itu.
Padahal dia tidak pernah dan tidak ingin melakukannya, namun guru BK tersebut akan semakin marah dan menambah hukuman mereka jika tidak langsung dikerjakan.
"kau di sana! Kenapa dekat-dekat?" tanya Kevin Ketus.
"Ya terserah ku! mau aku di atas kepalamu juga bukan urusanmu!"
"sialan kau!" Umpat Kevin.
"alkana menyingkir tidak kau!" Ketus Kevin saat lelaki itu terus mendekati tubuhnya, hingga Kevin ingin terjatuh dari tempat Mereka berdiri karena sebelah Kevin ada lubang besar.
"Apa sih berisik sekali, kerjakan saja!" sungut alkana.
"Woi sedang apa kalian?" tanya Alex dengan berteriak, membuat Kevin dan alkana terkejut dan terjatuh bersama ke dalam lubang besar itu.
"bukan salahku!" Alex langsung memundurkan langkahnya, dan berlari terbirit-birit untuk menjauh dari mereka berdua.
"mampus aku, bisa-bisa dijadikan perkedel aku oleh mereka berdua, huh."
alex terus berlari menuju kelasnya, dia tidak ingin mencari masalah dengan mereka karena dia masih menyayangi nyawanya.
"walau sedikit tidak berguna, tapi setidaknya aku masih bisa hidup damai." Ucapnya lagi.
lelaki itu langsung terduduk lemas dengan nafas yang ngos-ngosan, dirinya berusaha mengatur nafasnya yang tidak teratur. kenan meliriknya dengan raut wajah yang kebingungan, namun dia enggan untuk bertanya, sehingga dia lebih memilih untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru.
suara deru nafas alex sangat mengganggu di telinga kenan, sehingga membuatnya tidak mampu menahan rasa sabarnya lagi.
"kau diamlah aku tidak fokus jadinya!"
"heh, banyak sekali gayamu mengerjakan tugas! biasanya terima bersih dari alkana juga." Ledek alex.
"setidaknya hari ini aku mau menjadi murid yang baik, dari pada kau ke toilet apaan hampir setengah jam! untung pak Alvaro sedang keluar kalau tidak tidak habis kau dibuatnya!" jelas kenan.
"kau kenapa ngos-ngosan seperti itu? seperti dikejar hantu penunggu toilet saja." tanya Kenan.
"dikejar nenek moyang kau!" jawab alex masih dengan nafas yang tersenggal-senggal.
kenan langsung menggeplak kepala alex karena kesal, lelaki itu berusaha kembali fokus namun alex membuyarkan fokusnya. dia langsung melirik tajam kearah alex, lalu langsung berganti ekspresi menjadi sedih dan pura-pura menangis.
"Ah, ****! sialan kau lex! sudah otakku susah untuk berfungsi, sekali berfungsi kau kacau terus!" Umpat kenan dengan kesal.
"aku tadi ke belakang sekolah karena mendengar kalau mereka dihukum disuruh mengecat, jadi aku langsung cus kesana. pas aku tanya mereka berdua malah nyemplung ke lubang."
"lubang? lubang sampah itu?" tanya kenan.
"iya, maka dari itu aku langsung kabur ke sini. Soalnya nyawaku masih sangat berharga."
"untuk apa?"
"untuk mencintai dedek Rania dan bebeb sherly." Jawab alex santai.
kenan yang mendengar ucapan alex langsung tertawa terbahak-bahak.
"sepertinya kau mencintai mereka, kau tidak sadar bentukan!" Kenan langsung menatap ke papan tulis kembali, untuk melihat soal selanjutnya.
__ADS_1