Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
ruang bk


__ADS_3

Tatapan alkana terus mengarah ke arah Rania yang terus berjalan menjauh darinya, namun alkana menepiskan rasa sedihnya itu dulu. karena sekarang ini ada yang lebih penting, dia tidak ingin jika nanti dia sudah lulus dan rania masih terus saja di bully oleh temannya.


"duduk kalian berdua! harus pakai cara apa lagi saya memberitahu kalian Agar kalian itu mengerti, hah?" tanya Pak Nando yang sangat kesal sekali.


"saya pilih kamu sebagai ketua OSIS karena saya yakin dengan kamu, tapi kamu malah mematahkan keyakinan saya. sedangkan kamu alkana, jangan mentang-mentang orang tua kamu yang lebih besar kontribusinya di sekolah ini kamu bisa jadi semena-mena. saya akan hubungi orang tua kalian sekarang juga."


Pak Nando langsung mengambil teleponnya dan menghubungi orang tua mereka satu persatu, Kevin merasa cemas dan dia mendekat kepada Pak Nando tersebut.


"Pak Please, jangan panggil orang tua saya. saya bisa menyelesaikannya sendiri."


"tidak! Sudah berapa kali ini terjadi? dan saya tidak akan memberikan toleransi sedikitpun lagi terhadap kalian berdua." hardik Pak Nando.


alkana duduk bersandar di punggung sofa menyaksikan Kevin yang ketakutan dengan Tatapan yang datar, sedangkan dirinya tidak takut sama sekali walaupun dia tahu sekolah akan kedatangan Mamanya ke sini. dan pastinya akan ada ceramah selama tujuh hari tujuh malam untuk dirinya, karena dia merasa Jika dia benar dan tidak bersalah sedikitpun.


Satu jam kemudian, orang tua dari alkana dan juga Kevin telah berkumpul di dalam satu ruangan yang sama. orang tua mereka saling mengenal dan juga teman bisnis, akan tetapi anaknya menjadi musuh bebuyutan.


"alkana kamu berulah lagi? Mama bilang apa sama kamu? mama harus apa lagi alkana, Rania saja tidak cukup untuk kamu berubah, hah?" tanya Silvi dengan nada yang kesal.


"jadi seperti ini Bu, mereka sudah berkali-kali selalu berkelahi dan saya ingin menyampaikan kepada bapak dan ibu selaku orang tua mereka, tingkah mereka itu tidak dapat di benarkan di sekolah ini. dan saya juga belum mengetahui apa permasalahan yang selalu mereka ributkan, Jadi kita di sini sama-sama mendengarkan jawaban dari mereka lalu nanti Kepala Sekolah yang akan memutuskan, mereka berhak di skor atau di keluarkan dari sekolah ini." ujar Pak Nando dengan jelas.


Kevin tentu saja terkejut saat Mendengar hal itu, bagaimana mungkin seorang ketua OSIS di skor atau bahkan di keluarkan dari sekolah. dia sudah pasti akan malu besar, sedangkan alkana santai dan tidak gentar sama sekali jika harus di keluarkan dari sekolah ini.


"Jujur pada Mama, Kalian ada masalah apa Al?" tanya Silvi.


alkana langsung menceritakan semua yang terjadi, tentang Rania yang di hina seperti itu membuat darah Silvi mendidih. dia langsung mendukung alkana dengan penuh, dan membuat Kevin serta Sasha menyesal.


"Pak, saya selalu percaya sama anak saya jika dia tidak akan melakukan kesalahan lebih dulu Walaupun saya tahu yang dia lakukan itu salah besar, jadi saya ingin mengetahui lebih dulu masalah yang terjadi di sini." ujar Silvi.

__ADS_1


"Baik bu, Kevin Kenapa kalian bisa berkelahi seperti tadi? Apa masalahnya?"


"alkana ingin memukul sasha, berkata kasar dan Terus membentaknya. walaupun sasha salah seharusnya dia tidak perlu berkata seperti itu." jelas Kevin menggebu.


"Apa kau tahu kesalahannya?" tanya alkana yang kembali emosi.


"kau tahu sendiri sudah berapa banyak siswa yang selalu dia bully, banyak! kau Kenapa diam saja? dan sekarang sasarannya Rania murid pindahan yang prestasinya jauh lebih tinggi dari pada kau ataupun Sasha! Apa pantas, kakak kelas bersikap seperti itu? kalian terlalu gila hormat!" ujar alkana yang menggebu-gebu.


"Pak Jika Bapak ingin menyelesaikan semuanya Panggil Sasha kemari." pinta alkana.


"benar saya setuju dengan alkana kali ini, bukan karena dia anak saya tapi kali ini dia bijak, saya juga terkejut." Timpal silvi.


"bukan hanya Sasha saja, tapi Rania juga.x Timpal Kevin.


"harus di buktikan Apa benar sasha membully Rania hari ini." lanjut Kevin.


"benar atau tidaknya kau sudah pernah melihat sendiri, dia pernah membawa Rania ke roof top kan, sialan!" tanya alkana.


...*****...


Di dalam ruangan sudah terdapat Rania, Sasha dan juga lainnya. Sasha menundukkan pandangannya, dia merasa ketakutan dan juga tubuhnya yang gemetar terlebih lagi Dia mendapat tatapan tajam Dari mamanya alkana.


Silvi mengusap lembut Puncak kepala Rania menantunya, dia tahu betul rasanya di kucilkan oleh orang-orang seperti Sasha, Sebab Dia juga pernah mengalami masa sulitnya yang seperti itu.


"ma, kenapa Rania juga di panggil ke sini dan apa Masalah Kak alkana separah itu ya, sampai Mama di panggil ke sini?" bisik Rania pada mertuanya.


"tidak apa-apa sayang, kamu jujur saja Jika di tanya oleh guru kamu ya. jangan takut, Mama ada di sini bersama kamu ya." ujar Silvi menatap lembut menantunya itu.

__ADS_1


Kevin menatap Rania yang sangat dekat sekali dengan mamanya alkana, membuat hatinya semakin merasa sesak dan juga kesal.


'Sedekat itukah mereka?'


sasha juga ikut membulatkan matanya saat melihat Mama alkana sangat menyayangi Rania, 'hah, ilmu apa yang di pakai wanita itu hingga semua orang tunduk padanya?'


"Rania, Sasha kalian tahu kenapa kalian di panggil Masuk ke sini?" tanya Pak Nando.


"ya tidaklah, orang Bapak saja belum kasih tahu." sahut Sasha Ketus.


"sasha jaga bicara kamu." tegur Bu Rani.


"Sasha, apa benar kamu selalu melakukan tindak bullying pada adik kelas?" tanya Pak Nando.


"ya tidaklah pak, bapak lihat apa tampang saya seperti preman?" tanya sasha berbohong.


"Rania, Apa benar tadi sasha melakukan tindakan seperti itu padamu?" tanya Pak Nando.


Rania menatap Silvi dengan Tatapan yang sulit di artikan, namun Silvi menganggukkan kepalanya meminta Rania untuk berkata sejujurnya dan menjelaskan semuanya yang terjadi. sedangkan di sisi lain, sasha meremas jemarinya karena merasa gugup dan khawatir jika Rania berkata jujur di hadapan banyak orang. maka reputasinya selama ini bisa hancur begitu saja, dan lebih parahnya dia akan di keluarkan dari sekolah.


Rania menarik nafas panjang dan menatap lurus ke depan.


"benar Pak, dia telah berulang kali melakukan itu pada saya. dia pagi ini menyebarkan rumor buruk di depan semua teman satu kelas saya, Dia bahkan pernah membawa saya ke Rooftop dan di bully habis-habisan oleh Sasha dan temannya. dia melakukan tindak yang bisa di bilang kriminal, jika bukan kak Kevin dan Kak alkana yang datang menolong saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." jelas Rania pada Pak Nando.


Kevin membulatkan matanya, begitupun juga dengan Sasha. sedangkan Pak Nando menggelengkan kepalanya, menatap kepada Sasha.


"bapak tidak bisa membenarkan sifat kamu ini, hari ini juga orang tua kamu harus tahu semuanya." ujar Pak Nando tegas.

__ADS_1


"tapi Pak." Timpal sasha memelas.


Alkana terus menetap ke arah Rania dengan tersenyum manis, sedangkan yang di tatap hanya mengacuhkannya. tangan alkana melewati mamanya dan memegang tangan rania, Silvi yang melihatnya langsung memukul tangan alkana.


__ADS_2