Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
duren hot!


__ADS_3

"kak Kevin, turunkan aku di gang depan itu ya. Kaka juga sedang ada urusan kan?" ujar Helena.


tanpa membantah, kevin menghentikan motornya tepat di depan gang yang di maksud helena tadi. setelah itu Helena turun dari atas motor, Kevin menatap Helena lekat.


"ada apa kak?" tanya Helena.


"kau tadi bilang, kau itu Stefani kan?"


Helena melotot mendengarnya, "kau mendengarnya kak?"


"tentu saja aku mendengarnya, aku tidak tuli seperti kenan." jelas Kevin.


"iya kak aku Stefani, itu nama panggilanku saat kecil. aku dan kak Kenan teman masa kecil, tapi sepertinya dia tidak mengingatnya. pokoknya ceritanya panjang, yang jelas kak Kevin jangan mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk kak Kenan." ujar Helena.


"jadi kau dan Kenan teman masa kecil?" tanya Kevin.


Helena menganggukkan kepalanya, "Hem, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya kak." pamit Helena seraya mulai berjalan memasuki gang itu.


Kevin melirik jam di tangannya, dia teringat akan janji temunya bersama Sherly. dan dia sudah terlambat setengah jam lebih. Kevin langsung bergegas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menuju ke taman tempat mereka janjian tadi.


sesampainya dia di sana, dia langsung mencari keberadaan sherly. namun dia tidak menemukan Sherly, dia memutar pandangannya ke sekeliling taman dan memang tidak ada Sherly di sekitar sana.


"Sherly, Sherly! kemana dia?" Kevin menyugar rambutnya kasar.


Kevin merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel. dia berniat menghubungi Sherly, di panggilan pertama tidak di jawab. lelaki itu tetap tidak putus asa, dia menghubungi Sherly lagi, namun tetap saja panggilannya tidak mendapati jawaban. akhirnya lelaki itu memutuskan pergi dari taman itu.


setelah kepergian Kevin, muncul lah seorang wanita dari balik pohon yang lumayan besar. ya, wanita itu adalah Sherly. tadi saat Sherly menyadari kedatangan Kevin, dia langsung buru-buru sembunyi. sebenarnya tidak ada keperluan yang penting, Sherly menggunakan alasan meminta bantuan, hanya karena ingin memastikan respon kevin. Kevin akan langsung datang menemuinya atau tidak, dan ternyata ekpektasinya terlalu jauh.


"dia datang terlambat, bahkan sangat terlambat. apa ini artinya sudah waktunya aku untuk mundur?" gumam Sherly.


Sherly menghembuskan napas kasar, jika memang ini yang terbaik maka Sherly akan mundur saat ini juga. dia kemudian melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


...****...


di apartemen, Rania sedang asik menikmati makanan yang tadi di pesannya. dia duduk di karpet berbulu di ruang keluarga, sambil menonton drama Korea kesukaannya, alkana yang melihat itu pun hanya tersenyum.


"sayang minta dong." pinta alkana.


"kamu mau mas?" Rania berniat mengambil makanan di atas meja, tetapi alkana justru langsung melahap sisa makanan yang ada di tangan Rania.


"mas, itu bekas gigitan Rania loh." ujar Rania terkejut.


"lebih enak yang bekas kamu dari pada yang baru, sayang." sahut alkana.


"kamu tidak jijik, memangnya?" tanya Rania.

__ADS_1


"jijik kenapa? biasanya malah, mas makan bibir kamu kan." ujar alkana dengan menaik turunkan sebelah alisnya.


plak!


Rania langsung menggeplak lengan alkana, "bisa tidak sih, tidak usah mesum?"


"tidak bisa! kalau sama kamu, mas bawaanya mau makan kamu terus." ujar alkana santai.


setelah selesai dengan acara makannya, Rania ikut membaringkan tubuhnya tepat di atas tubuh alkana. alkana langsung memeluknya, dan mengecup bibir istrinya singkat.


"kenapa sayang, hm?"


Rania menggelengkan kepalanya, kemudian dia bangkit dari tubuh alkana dan duduk. alkana berdiri untuk mematikan lampu, agar suasana menonton lebih epik.


dia meraih remote tv kemudian mengganti drama Korea itu dengan film hantu, Rania langsung melotot saat melihatnya.


"mas, kenapa di ganti film horor sih? seram tahu." ketus Rania.


"ini itu seru loh sayang, kalau kamu takut kamu peluk mas saja." ujar alkana.


"modus kamu mas." sahut Rania.


baru saja Rania menyelesaikan kalimatnya, suara film itu tiba-tiba mengagetkannya, hingga reflek dia langsung memeluk suaminya. alkana memang memutarnya dengan volume yang keras, tentu saja Rania terkejut.


alkana menunduk menghujani puncak kepala istrinya itu dengan ciuman, "uuh, gemasnya sayang aku."


Rania yang berada di pelukan alkana hanya menggelengkan kepala, sembari bergumam tidak jelas.


"apa sayang? mas tidak dengar, coba lihat sini." pinta alkana.


Rania kembali menggumamkan kata tidak jelas, alkana pun gemas di buatnya.


"lihat mas saja, kalau kamu takut sama hantunya." ujar alkana.


Rania pun mengangkat pandangannya, dan langsung saja di sambut oleh kecupan dari suaminya di bibirnya.


"iih, mas." rengek Rania.


"apa sayangku, bicara yang jelas." gemas alkana.


"tidak usah di ganti, aku penasaran sama hantunya." jelas Rania.


"loh, tadi katanya takut. kok sekarang malah mau menonton?" tanya alkana.


"karena lebih seram wajah kamu." sahut Rania santai.

__ADS_1


alkana langsung cemberut saat mendengarnya, "apa kamu bilang tadi? aku serem?"


"hah? hehe, memangnya tadi aku bilang begitu ya?" Rania menyengir polos.


alkana yang kesal pun langsung melepaskan pelukannya dan akan beranjak dari duduknya, tapi Rania langsung kembali memeluknya dengan sangat erat.


Rania mendongakkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya, dia menyatukan kening mereka. alkana yang tak tahan pun, langsung mencium bibir Rania yang menggoda itu. di dudukannya Rania di atas pangkuan alkana, tangannya merengkuh posesif pinggang istrinya itu.


mereka menikmati ciuman itu dengan di iringi musik horor film dari televisi, tapi mereka tak mempedulikannya. hingga sesaat mereka melepaskan pagutannya saat sudah mulai kehabisan oksigen.


"sayang, apa kamu sudah siap mengandung buah hati kita?" tanya alkana tiba-tiba.


"tidak mau! aku masih ingin sekolah mas. lagi pula mau di kasih makan apa anak kita nanti mas?"


"sayang, mas ini kaya. tentu saja anak kita akan makan apa saja yang dia inginkan. harta mas juga tidak akan habis hanya karena memberi makan anak kita." ujar alkana.


"jangankan hanya anak kita, bahkan sampai tujuh turunan kita nanti juga tidak akan habis. atau tujuh tanjakan, bahkan mau tujuh belokan panjang pun juga tidak akan habis." sombong alkana.


"ya kasihan dong mas." ketus Rania.


"apa sayang?" tanya alkana mengerutkan keningnya.


"kasihan yang jadi keturunan ke delapan, hartanya sudah habis. dia miskin song." ujar Rania polos.


"ck, kau ini kenapa tidak bisa di ajak romantis sih?" kesal alkana.


"iya-iya, tapi jangan sekarang ya mas. aku belum siap, lagi pula kita belum lulus sekolah." pinta Rania.


"iya sayang, tidak sekarang kok. mas juga hanya bertanya. mas juga tahu kamu belum siap membawa balon yang semakin lama akan semakin besar." ujar alkana.


"ya kan juga hamil mas." sanggah Rania.


"sayang, kalau kamu nanti sudah jadi ibu-ibu pasti saat sore hari akan bergosip di depan gang dengan ibu-ibu lain." ujar alkana.


"Rania tidak begitu kok." bantah Rania.


"ya sekarang saja tidak begitu, kan mas bilang nanti pas sudah jadi ibu-ibu." ujar alkana.


"nanti pasti gini sayang, eh jeng tau nggak tetangga sebelah rumah aku itu duren loh. hot banget loh jeng." praktek alkana dengan gaya ibu-ibu rumpi.


Rania langsung tertawa ngakak melihat tingkah suaminya, "haha, oh jadi maksud kamu. kamu mau kita punya tetangga duren hot, terus nanti aku kepincut deh?"


"eh, tentu saja tidak! awas saja kalau kamu berani berpaling dari mas ya." ancam alkana yang merasa kesal sendiri.


apa-apaan Rania ini, kenapa dia mengatakan hal seperti itu, seperti berniat berpaling darinya saja. membuat alkana dongkol sendiri di buatnya.

__ADS_1


"ya kamu sih, ucapan itu kan doa mas, lain kali jangan bicara seperti itu lagi. dan lagi pula aku mana ada seperti itu." sahut rania.


__ADS_2