
"Hamil?" tanya Rania terkejut.
"gila ya kau Al, tokcer sekali lah baru juga beberapa bulan. kalau tidak dengan emaknya, dengan anaknya bisalah ya Al?" tanya Kenan.
"Apa maksudmu? anakku dengan aki-aki sepertimu? tidak akan!" Ketus alkana.
"ya aku begini-begini akan awet muda jangan salah sangka lho. boleh ya Rania." pinta kenan.
Rania Langsung melempar bantal sofa ke arah kenan, "Aku tidak akan ikhlas."
"ah elah, hanya begitu saja." keluh Kenan.
"Ya sudah, bagaimana kalau dengan tante Selvi saja." usul Kenan tertawa keras dan langsung bersembunyi di balik sofa, alkana menatap tajam ke arah kenan dan langsung mendekatinya, dia menoyor kepala kenan.
"punya bapak tiri seperti kau, yang ada kami satu keluarga gila semua."
"sudahlah, kau mau apa ke sini hah?" tanya alkana.
"ini-" ujar Kenan terpotong saat Rania kembali meringis kesakitan, dan Memegang perutnya.
"sayang masih sakit ya?" tanya alkana kembali cemas.
"Ya iyalah, kamu pikir aku pura-pura sakit apa?"
"kita ke rumah sakit saja ya." ajak alkana lembut.
"mau apa? Mau membuktikan kalau aku pura-pura sakit atau tidak? aku belum siap hamil, aku tidak mau periksa."
"ya Tapi kita tetap harus periksa."
"benar itu kata-" ujar Kenan terpotong lagi saat tatapan horor Rania mengarah padanya.
"belikan saja tespek, aku bisa periksa sendiri di rumah. aku mau ke kamar dulu Jangan ganggu aku." Ketus Rania.
"Kenapa dia emosi sekali sih?" tanya Kenan.
alkana mengangkat bahunya, "masih marah Mungkin karena aku berkelahi dengan Kevin."
"ya kau sih, tapi tidak apa-apa deh lagi pula karena ini juga kelakuan Sasha Akhirnya bisa di hentikan. Walaupun dia cantik kalau tingkahnya seperti itu, Aku juga yang jelek begini akan berpikir ulang kalau mau berhubungan dengan dia." jelas kenan.
"tapi Kenapa hanya satu minggu, seharusnya dia itu di keluarkan dari sekolah." Timpal alkana.
alkana langsung bangkit dan berlari ke kamarnya saat Rania berteriak.
"Iya Sayang, kenapa? sakit lagi? kita ke dokter ya."
"mas sakit sekali, biasanya tidak pernah seperti ini." keluh rania.
"Tunggu sebentar ya."
alkana langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya, dia terus berputar-putar di depan pintu kamar membuat Kenan langsung menghampirinya.
"Rania kenapa?"
"Aku tidak tahu, ini mana lagi Om deon tidak di angkat juga." Ketus alkana.
saat panggilannya sudah terjawab, dia langsung mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Dari mana saja sih, Om? Om cepat ke apartemen alkana, istri alkana sedang sakit sampai teriak-teriak begitu!"
__ADS_1
"eh tunggu-tunggu, jangan deh om panggilkan dokter perempuan saja suruh kemari ya, cepat!" lanjut alkana lagi.
"Hei kau dasar si bucin, Ya sudah nanti om suruh dokter Nina ke sana." sahut Om Deon.
alkana mematikan sambungan teleponnya lalu menatap ke arah kenan, "kau tunggu di depan, takutnya dokter itu salah alamat."
"Siap laksanakan, demi Papa mertua." ujar Kenan dengan semangat.
"s**t, sialan! Awas kau berkata seperti itu lagi, aku jahit Bibirmu itu!" ancam alkana.
Kenan terkekeh kecil dan langsung berjalan menuju keluar rumah, sedangkan alkana langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya itu.
"sayang, kamu tahan Sebentar ya. aku sudah Panggil dokter ke sini." ujar alkana.
"ngapain sih Mas, aku cuma sedang datang bulan aku baru tahu barusan." ujar Rania
"apa! Datang Bulan?" tanya alkana lesu.
"jadi, tidak hamil?" tanya alkana lagi.
Rania menggelengkan kepalanya, "Biasanya aku tidak pernah sampai sesakit ini."
kini raut wajah alkana lesu, dan langsung berbaring di atas ranjang dengan melebarkan tangannya.
"jadi Biarkan saja dokter itu periksa kamu, Kenapa perutmu sampai sesakit itu."
"tidak mau! telepon sekarang suruh batalkan ke sininya." perintah Rania.
"aku tidak apa-apa, please batalkan cepat."
alkana langsung meraih ponselnya yang di berikan oleh Rania, dan menghubungi Omnya kembali.
"Apa maksud kamu, Al? dokter Nina sudah pergi ke sana."
"ya sudah, bilang saja tidak jadi. ya sudahlah Om, aku matikan teleponnya ya bye." alkana langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kan aku sudah bilang jangan hubungi dokter, masih saja di hubungi." Ketus rania.
"Kamu kenapa lagi cemberut begitu?" tanya Rania.
"gagal punya dedek bayi, terus tidak bisa gitu-gitu." ujar alkana lemas.
Rania membulatkan matanya dan langsung melemparkan bantal ke arah suaminya itu, karena sempat-sempatnya masih memikirkan hal seperti itu.
"kamu butuh air hangat atau kompres perut kamu?" tanya alkana.
"tidak perlu, perutku sudah lebih baik. aku mau tidur, jangan ganggu!" Ketus Rania.
"istri datang bulan, kenapa seperti ini sekali sih, Ya ampun." keluh alkana.
"jangan berisik, mas."
"Iya sayang, tidak berisik kok."
alkana langsung keluar dari kamar dan menghampiri kenan yang masih menunggu tamu di depan apartemen.
"Woi mana dokter itu? dokter itu naik apa sih sebenarnya? naga terbang? kuda lumping? kelelawar? atau dia di antar spider-man?' tanya Kenan kesal.
alkana tidak menjawab dan duduk di atas tangga, di ikuti oleh Kenan yang menatapnya Bingung.
__ADS_1
"kau kenapa?"
"Merana hidupku."
"bahasa kau merana, Memang kenapa?"
"Rania kesal denganku."
"karena apa?' tanya Kenan.
"karena si bulan datang."
Kenan langsung tertawa keras, "jadi dia tidak hamil? hanya sedang datang bulan saja? sabar-sabarlah kau."
"ya sudahlah, aku tadi niatnya mau minta bantuan Rania untuk tugas Sherly. tapi karena dia sedang mode singa betina aku undur dirilah, semangat berjuang demi masa depan yang cerah."
"kalau dia marah-marah kau jangan ikut marah, kau lembut saja Terus kau cium kepalanya. kau cium pipinya, kau alus-elus tuh giginya juga." ujar Kenan memberi materi untuk Alkana pelajari.
"elus gigi? Untuk apa, sialan?!"
'Biasanya kan kalau marah-marah Terus giginya kering tuh, jadi kalau elus gigi nanti luluh. teori ku tidak akan pernah gagal." Jelas kena menaikkan satu alisnya.
"Aku tidak yakin dengan teori dari mu itu."
"terserah, intinya itu adalah cara yang paling ampuh. kalau tidak percaya, ya coba saja." Timpal kenan dengan raut wajah yang dia paksa serius agar tidak menimbulkan kecurigaan.
kepergian Kenan membuat alkana berpikir keras, dia mengambil ponselnya dan memesan makanan terlebih dahulu untuk mereka berdua makan. setelah itu alkana langsung bangkit dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Dia mengunci pintunya kembali dan berjalan menuju kamarnya, dia melihat Rania masih tertidur dengan memegangi perutnya yang sakit dia tampak cemas dan juga kebingungan.
...------------...
kini Rania dan alkana telah selesai makan dan duduk di depan televisi, Rania sejak tadi hanya diam saja membuat alkana terpikir ide yang di katakan oleh Kenan.
"sayang kemari." alkana membawa kepala Rania untuk bersandar di dadanya, lalu dia mengusap lembut Puncak kepala istrinya itu.
"sayang, masih sakit perutnya?" tanya alkana sembari mengusap pelan perut Rania.
"masih, sedikit."
alkana terus mengusap-usap perut Rania, tampaknya yang di katakan Kenan ada benarnya juga, begitu pikir alkana.
'tapi yang benar saja sih, masa iya tiba-tiba aku mengusap giginya. kan dia tidak sedang sakit gigi.'.
alkana langsung menatap istrinya dengan Intens, membuat Rania ikut menatapnya dengan mengerutkan keningnya.
"kamu Kenapa Mas?"
"sayang, Coba buka mulutnya biar sembuh perutnya. kata si Kenan begitu sih." jelas alkana.
"kak Kenan? Kenapa?" tanya rania.
kini perasaannya sudah tidak enak, tapi Rania tetap membuka mulutnya dan alkana langsung mengusap gigi Rania yang rapi itu. Rania langsung menepis tangan alkana dan menatap tajam ke arah suaminya itu.
"kamu apa-apaan sih Mas?" tanya Rania.
"kata Kenan begitu sayang."
"Ck, awas ya kau Kak Kenan." geram Rania.
__ADS_1