Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
hamil?


__ADS_3

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, kini akhirnya alkana sampai di rumah sakit. lelaki itu langsung berteriak heboh memanggil dokter.


"dokter! tolong dokter!" alkana berlari dengan menggendong Rania.


"loh alkana, istri kamu kenapa?" tanya paman Dion yang juga dokter di rumah sakit itu.


"tidak tahu om, tadi muntah-muntah setelah itu dia pingsan. cepat om periksa Rania!" pekik alkana.


"sabar alkana tenangkan dirimu, istri kamu pasti akan baik-baik saja. ya sudah baringkan Rania di sini, biar om periksa." ujar om Dion yang sudah biasa menghadapi tempramen alkana.


alkana membaringkan tubuh Rania di brankar dengan cepat, Rania segera di bawa masuk ke ruangan. alkana hanya mengikuti dengan terus menggenggam erat jemari Rania. sesampainya di depan ruangan, alkana tidak di perbolehkan masuk.


"alkana kamu tunggu di sini, biar om periksa dah Rania." ujar om Dion.


"tapi om.."


belum sempat alkana melanjutkan kalimatnya, pintu ruangan sudah di tutup, membuat alkana mendengus kesal. lelaki itu segera menghubungi mamanya, untuk memberitahukan keadaan Rania.


"halo." sapa Dino dari seberang telepon.


"ck, kenapa kau yang mengangkat? mana mama?" tanya alkana ketus.


"oh Tante Silvi? ada apa?"


"cepat berikan telpon nya ke mana!" ketus alkana.


"weh santai dong, jangan marah-marah." goda Dino.


"sialan, aku sedang tidak ingin mendengar candaan murahanmu itu!." bentak alkana.


"ck, iya-iya begitu saja marah. Tante alkana telpon!" teriak Dino.


"halo sayang, ada apa?" tanya mama Silvi setelah menerima telepon.


"ma, Rania pingsan. sekarang ada di rumah sakit." ujar alkana.


"loh, kenapa bisa pingsan sayang? kamu apakan?"


"Al tidak tahu ma, mama ke sini ya." pinta alkana.


"iya sayang, mama ke sana sekarang." ujar mama Silvi.


alkana langsung menutup sambungan telpon, dia kembali menunggu Rania yang sedang di periksa.

__ADS_1


"ck, kenapa lama sekali sih?" gerutu alkana.


beberapa menit menunggu akhirnya dokter yang memeriksa Rania keluar, alkana langsung berdiri.


"om, bagaimana keadaan Rania? dia baik-baik saja kan?" tanya alkana.


om Dion bukannya langsung menjawab pertanyaan alkana, malah menatap alkana dengan tajam. membuat alkana mengerutkan keningnya bingung.


"om kenapa bagaimana rania? kenapa malah menatap Al begitu?" tanya alkana.


"Al, bagaimana keadaan menantu mama, sayang?" tanya mama Silvi yang baru saja datang bersama Dino.


"Dion, menantuku baik-baik saja kan?" tanya mama Silvi pada om Dion.


om dion menatap alkana kembali, "kamu mau tahu keadaan Rania?"


"om ini, bagaimana sih? tentu saja alkana mau tahu keadaan istri al, om ini aneh." kesal alkana.


"Dion jawab, bagaimana keadaan menantu ku." desak mama Silvi.


"aww, aku di mana." ujar Rania yang baru saja sadar, wanita cantik itu memegangi kepalanya yang pusing.


alkana buru-buru masuk kemudian di susul mama Silvi, Dino dan dokter Dion.


"mas ini di rumah sakit ya?"


"iya sayang, kamu di rumah sakit." ujar alkana.


"kenapa aku bisa di sini? memangnya aku sakit apa mas?" tanya Rania.


"Rania hamil..." ucapan om Dion sudah terputus oleh pekikan mereka.


"apa!" pekik mereka semua.


"wah, serius om kakak ipar Hamil?" tanya Dino berbinar.


"aku sudah mau punya cucu? kau serius kan Dion?" tanya mama Silvi yang tengah terharu.


"haha, om dokter pasti sedang bercanda. kan tidak lucu, kalau rania sekolah membawa balon. haha om ini kalau bercanda lucu juga ya." timpal Rania dengan tertawa kecil.


om Dion kebingungan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "bagaimana aku mau menjelaskannya ya? kalian sudah seperti hantu yang suka meneror."


sontak saja ucapan om Dion itu langsung di hadiahi tatapan tajam dari semua orang.

__ADS_1


"oke begini, jadi Rania memiliki tanda-tanda kehamilan. dan saya menduga Rania ini sedang hamil, tapi untuk memastikan kejelasannya bisa cek langsung ke dokter kandungan." jelas om Dion.


"Aaa serius ini? wah aku punya cucu." girang mama Silvi heboh, dia langsung menghampiri Rania dan mendorong alkana hingga lelaki itu tersungkur ke samping ranjang.


"ck, mama." rengek alkana berdiri sambil memegangi lengannya yang nyeri akibat kepentok meja.


"ma, om dokter itu bohong kan? Rania belum siap hamil ma." adu Rania dengan manik mata yang berkaca-kaca.


"sayang, kamu tenang ya, kan ada mama. nanti mama antar kamu ke dokter kandungan untuk memastikannya ya." ujar mama Silvi dengan memeluk Rania.


"tidak mau, Rania mau cek pakai testpack saja. Rania takut ma." ujar Rania menolak.


"iya sayang, pakai testpack dulu tidak apa-apa. tapi setelah itu tetap harus ke dokter kandungan, kita harus konsultasi mengingat Umur kamu yang masih jalan delapan belas tahun." jelas Mama Silvi.


Rania langsung menoleh ke arah alkana, dengan mata tajam.


"ini semua salah kamu mas." tuduh rania.


"sayang kamu tenang dulu, ini kan masih dugaan om Dion. dia itu dokter bedah, dia tidak tahu apa-apa." ujar alkana menenangkan.


"ya kenapa kamu bawa aku ke dokter bedah? kamu mau bedah isi perut aku? begitu?" tanya Rania kesal.


"bu-bukan sayang, tadi mas panik jadi mas bingung. lagi pula tadi yang muncul om Dion, ya sudah minta tolong om saja." sanggah alkana dengan melirik tajam ke arah om Dion.


om Dion dan mama Silvi hanya terkekeh geli melihat pertengkaran kecil keduanya, sedangkan Dino anak nakal itu malah mendekat karena kepo akan sampai mana perdebatan mereka itu.


"Rania, suami kamu itu memang sangat aneh. kalau sakit pasti menghubungi om, bukannya menghubungi dokter umum. untung saja om tidak membedah kepalanya yang keras itu." ejek om Dion pada alkana.


"Dion, dokter kandungan ada kan?" tanya mama Silvi.


"ada, tapi sepertinya hari ini jadwalnya padat, kali mau menunggu ya tidak apa-apa." ujar om Dion.


"aku tidak bisa membayangkan, kalau nanti anak alkana sudah lahir. akan serepot apa alkana mengurus anaknya, bisa-bisa celana pindah ke kepalanya, haha." sambung om Dion terkekeh.


"ck, itu hal mudah om. tentu saja Al pasti tahu." sahut alkana.


"mas ayo kita pulang, Rania sudah lebih baik." ajak rania.


"sayang kamu jaga diri baik-baik ya. em, kalau tidak begini saja, kalian tinggal di rumah mama saja. biar mama bisa bantu jagain Rania, soalnya mama tidak percaya sama alkana." ujar mama Silvi.


"mama jangan meremehkan Al, gini-gini Al itu suami yang bertanggung jawab loh ma." protes alkana.


"ma, kita berdua tinggal di apartemen saja. lagi pula kan belum tentu Rania hamil." ujar Rania.

__ADS_1


"ya sudah kalau begitu, mama antar kalian ke apartemen, yuk kita berangkat." ajak Mama Silvi.


__ADS_2