
"kenapa kalian?" tanya alkana Ketus.
"ini kau alkana?" tanya Kenan memastikan.
"lalu menurutmu siapa?"
"setan jenis apa itu, lex?" tanya kenan.
" perasaan setannya tadi ada di bioskop saja, lalu kenapa sekarang ada di apartemen alkana juga." ujar Alex bergidik ngeri.
alkana langsung melemparkan bantal sofa ke arah mereka berdua, dan langsung mengambil ponselnya untuk berkaca. dan betapa terkejutnya alkana saat melihat wajahnya sudah seperti badut, lalu dia melirik ke arah kanan dan Alex yang terus tertawa terbahak.
"ck, Raniaaaaaa!' teriak alkana.
lelaki itu langsung berlari masuk ke dalam kamar untuk membersihkan wajahnya, sedangkan Kenan dan Alex tidak henti-hentinya tertawa. di dalam kamar mandi alkana langsung membersihkan wajahnya, namun make up itu tidak hilang sempurna.
alkana menggerutu kesal saat masih ada blush on dan juga lipstik di bibirnya, alkana mendengus kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Rania, kamu ya! awas kamu nanti malam, lihat saja aku hukum kamu." gerutu alkana.
***
Rania berjalan dengan santai menuju ke apartemen, tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat nama bapaknya yang membuat panggilan, dia langsung menjawabnya dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo pak." sapa rania duluan.
"Rania, kamu apa kabarnya nak?"
"Alhamdulillah Rania baik, Bapak dan Ibu bagaimana kabarnya?"
"kami baik juga nak, jadi bagaimana hubungan kalian berdua, apa baik-baik saja?"
"baik kok pak, Oh iya Rania mau memberitahu kalau dua hari lagi Rania akan ke luar negeri untuk pertukaran pelajar Selama dua bulan Pak." jelas rania.
"wah serius sayang?"
"iya Pak serius, Rania juga tidak menyangka sekali bisa terpilih. padahal Rania terbilang anak baru di sekolah."
"tapi kamu senang kan?" tanya Pak Hary.
"senang dong Pak, Mas alkana juga sudah mengizinkan Rania."
"ya sudah, nanti kalau bapak kangen sama kamu bapak dan ibu akan menyusul ke sana."
"serius bapak mau menyusul?"
"Iya mungkin beberapa hari saja, ibu kamu nanti pasti rindu sekali." ujar hary getir.
"iya pak, tidak apa-apa. ibu mana pak, Rania mau bicara dengan ibu."
"ibu kamu sedang sibuk, mungkin pergi ke pasar." jelas hary.
terdengar janggal di telinga Rania, akan tetapi dia berusaha mengerti dan mempercayai ucapan bapaknya itu.
"oh ya sudah kalau begitu, ini Rania sedang di luar Pak mau pulang ke apartemen. bapak dan ibu sehat-sehat ya, Rania tutup dulu."
__ADS_1
"iya nak."
Rania langsung menghela nafas kasar dan menatap layar ponsel dengan tatapan yang sulit diartikan, "ada apa ya?"
dia melangkahkan kakinya menuju apartemen, sesampainya di apartemen Rania membuka pintu menggunakan kartu akses dan langsung masuk ke dalam. manik matanya melihat masih ada Kenan dan juga Alex, dia ingin sekali masuk ke dalam kamar dan beristirahat namun tidak mungkin karena masih ada dua lelaki tersebut.
"Rania kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Kenan.
"tidak apa-apa kak." jawab Rania lesu.
Rania langsung duduk di atas sofa dan memejamkan matanya, tangannya yang memegang barang belanjaan pun dia jatuhkan begitu saja.
kenan menyikut pinggang Alex hingga mereka saling menatap, "Rania kenapa?"
"mungkin es krim kesukaannya sudah habis." Jawab Alex asal.
alkana yang baru saja keluar dari kamar langsung menatap rania dengan tatapan kesal, dia berjalan mendekat dan menata perannya yang terlihat lesu.
"sayang, kamu kenapa?" tanya alkana khawatir.
Rania membuka matanya dan tersenyum manis saat melihat wajah suaminya itu, sudah tidak ada make up lagi. Rania langsung memeluk alkana dengan melingkarkan tangannya di leher lelaki itu, entah kenapa perasaannya benar-benar kacau saat ini.
mood-nya terus aja berubah-ubah, alkana membalas pelukan itu dengan erat. sedangkan kedua jomblo yang menyaksikan itu hanya menutup mata mereka dengan kedua tangannya dan mengintip sedikit.
"jangan mengintip, kau belum cukup umur!" ujar kenan.
"kau itu yang belum cukup umur." Ketus Alex.
"kita pulang saja yuk, aku capek jadi obat nyamuk terus." ajak Kenan.
"peluk saja, harapan kosong mu itu." ketus Kenan dengan menekankan nada bicaranya.
mereka berdua langsung mengendap-endap untuk keluar dari apartemen itu, niat hati mereka ke sini karena ingin memberitahukan jika besok ada pertandingan basket dengan sekolah lain.
"nanti kau telepon saja." ujar kenan.
"malas, kau saja."
"tidak mau! kau saja."
"heh apa-apaan kau ini." ketus Alex.
"Elvan meminta kau yang memberitahunya, sekarang ketua basket bukan Kevin lagi tapi Elvan, jadi perintahnya itu mutlak harus kau lakukan."
***
Hingga malam hari, suasana hati Rania masih belum menentu. saat ini sudah pukul delapan malam dan rania telah duduk di meja makan, memperhatikan suaminya yang memasak untuk dirinya.
"yakin, kamu bisa mas?" tanya Rania.
"kamu meragukan aku? tidak ada yang tidak bisa aku lakukan." ujar alkana membanggakan dirinya.
"Oke, sudah selesai." alkana menghidangkan seluruh makanan yang dia buat di atas meja.
Rania membulatkan matanya tidak percaya saat melihat masakan itu, "kelihatannya enak semua."
__ADS_1
"tentu saja! siapa dulu yang memasak? Alkana Vano Anggara." ujarnya bangga.
Rania langsung mengambil nasi untuk alkana dan untuk dirinya juga, dia Meletakkan makanan itu di atas piringnya dan juga piring suaminya. Rania tersenyum lebar dan langsung melahapnya.
"bagaimana? enakan?" tanya alkana dengan wajah berbinar.
Rania mengunyah dengan pelan dan terlihat sekali Jika raut wajahnya sangat tertekan, "woah enak sekali, ternyata bener ya kamu itu multimedia."
"multitalenta!" Ketus alkana mengoreksi Rania.
"ah iya itu, ya sudah cepat coba masakan kamu, ini enak sekali tahu." Rania menyuapkan makanannya ke mulut alkana.
baru saja mulai mengunyah, alkana langsung memuntahkan makanannya dan meminum air putih hingga tandas satu gelas.
"apa ini? masakan siapa?"
"masakan siapa kamu bilang? ya masakan kamu lah."
"tidak! mas masaknya tidak asin seperti ini." protes alkana.
"lalu, siapa yang memasaknya?"
"kamu curang kan, kamu diam-diam memasukkan garam ke masakan ini." tuduh alkana tidak terima.
"masih tidak mau mengaku, juga?" tanya Rania.
alkana langsung tersenyum bodoh, "perut kamu tidak sakit kan sayang?"
"untuk sekarang masih aman, tidak tahu ke depannya bagaimana!" ujar Rania.
"ya sudah kalau begitu kita delivery saja ya." usul alkana.
"terserah mas saja." Rania langsung bangkit dan duduk di sofa begitupun dengan alkana yang mengekorinya.
***
"hei, ini sudah larut malam. kenapa belum tidur?" tanya alkana.
Rania menatap manik mata suaminya itu dan langsung memeluknya dengan erat, alkana mendorong tubuh Rania dan langsung menindihnya. wajah mereka sangat dekat sehingga membuat Rania kesusahan bernafas, alkana langsung mencium bibir Rania dengan sangat lembut.
wanita itu masih terpaku dengan kelembutan dan kehangatan yang akan diberikan oleh alkana. sedikit demi sedikit perasaannya mulai membaik, alkana yang sudah tidak dapat menahan hasratnya lagi kini langsung menuntaskannya.
***
Di sekolah DarmaYudha, ada pertandingan basket dan alkana, kenan dan Alex sudah berada di lapangan. sedangkan Rania dan Sherly memberikan mereka semangat dengan duduk di barisan Para penonton, Sherly melihat Kevin juga sudah bergabung di lapangan dia langsung berdiri.
"hei, kak Kevin semangat." Sherly melambaikan tangannya, Kevin tersenyum ramah dan kembali berjalan. sherly langsung mengangkat tangannya dan membentuk gambar hati, Alex dan Kenan yang melihatnya langsung membalas Sherly dengan membuat gambar hati juga.
"i love you, dedek Sherly." teriak Alex.
"ck, bukan kalian ya!" ketus Sherly.
Rania langsung duduk dengan tangannya berada di atas paha, ada seorang gadis yang sejak tadi menatap rania. sehingga dia memilih menghampiri Rania dan menyapanya.
"Rania."
__ADS_1
rania dan Sherly langsung menolehkan pandangannya, akan tetapi Rania langsung melebarkan matanya saat melihat gadis itu kini berada tepat di hadapannya.