
"eh bapak, iya ada apa ya pak?" tanya Kenan.
"bapak nitip roti ya, ini uangnya." hary memberikan uang kepada kenan dengan tersenyum.
Kenan langsung tertawa kecil dan mengembalikan uang tersebut, "iya nanti saya belikan, di tunggu ya pak."
"tapi ini uangnya, nak."
"tidak usah pak." Kenan tersenyum dan langsung menundukkan kepalanya, lalu melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah sakit.
.
.
keesokan harinya Kenan dan Alex merasa sangat haus dan lapar setelah pertandingan, kini mereka duduk di barisan Para penonton.
"kau haus ken?" tanya Alex.
"iya aku haus, haus kekayaan." jawab Kenan dengan wajah polosnya.
Alex langsung menoyor kepala Kenan dengan kasar, "CK, dasar kutil tenggoret."
"ya sudah, ayo kita pulang saja makan di luar. aku baru dapat rekomendasi tempat makan yang hot." ujar Alex berbinar.
"apanya yang hot?" tanya Kenan semakin berbinar.
"otakmu itu yang hot, sudahlah ayo aku sudah lapar." Alex langsung berjalan lebih dulu ke arah parkiran.
"aku suntuk tidak ada alkana, kapan dia kembali?"
"katanya besok. dia hanya di sana selama dua hari saja, lalu kembali ke sini sehari ke sana lagi dua hari ke sini lagi sehari lalu di sana selamanya." cerocos Alex.
"ck, omonganmu tidak ada yang beres."
"berisik kau, sudah ayo cepat." ketus Alex.
"heh, kau yang berisik! ngomong saja tidak jelas."
mereka langsung melajukan motornya menuju ke tempat makan yang ada di dekat sekolah, sesampainya di tempat tersebut terlihat ramai sekali namun tidak sampai antre.
"buset, ramai sekali! jual makanan apa memang?" tanya Kenan penasaran.
"tidak tahu juga, yang penting bukan makanan basi." jawab Alex asal ceplos.
mereka langsung saja masuk ke dalam dan memesan makanan, "pak mau pesan makanan yang paling best seller di sini."
"yang jelas kau kalau mau pesan, semua di sini best seller!" ketus penjualnya.
Kenan langsung membulatkan matanya menatap pria botak licin itu, dan juga perutnya yang buncit.
"ya kami mau pesan makanan yang paling best seller di sini, kalau semua best seller ya sudah pesan semua."
penjual tersebut melirik ke arah kenan dan Alex secara bergantian, "tidak boleh hutang ya!"
"astaga bapak, saya sumpal juga tuh mulut." Ketus Kenan kesal.
datanglah seorang kurir makanan untuk memesan makanan, "Pak pesan lima porsi!"
Kenan dan Alex langsung terlonjak kaget, karena suara lelaki itu kencang sekali dan juga membentak.
"kita masuk ke dunia belahan mana ini, Lex?"
__ADS_1
"entahlah, aku asing dengan tempat ini."
"baik mas, ditunggu sebentar ya." jawab penjualnya dengan tersenyum ramah.
"lah sama kita nyolot, sama bapak itu malah lembut." ketus Alex.
"memang harus begitu mas, kalau kita pesan dibentak-bentak sama dia jadi kita saja yang bentak-bentak mereka duluan." ujar kurir tersebut tersenyum.
"anjir unik juga penjualnya, seperti kepalanya itu." ujar Kenan.
datang lagi seorang pengunjung dan memesan makanan, "mas dua porsi."
"yakin dua porsi? sudah kurus makannya sedikit pula." ketus penjualnya.
"wah, anjir! ternyata yang dibilang hot itu mulut penjualnya." ujar Alex.
"woi kami pesan dua porsi sekarang juga!" teriak Kenan penuh emosi.
"baik mas ditunggu ya." sahut penjualnya ramah.
Kenan dan Alex saling pandang dan menggelengkan kepalanya, mereka langsung duduk di kursi dengan mengerutkan keningnya.
"eh anjir, lihat itu slogan resto ini." Kenan menunjuk slogan yang terpampang jelas di hadapan mereka.
"anda emosi kami segan, anda segan kami emosi." baca Alex dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.
"aku rasa penjualnya itu stres, tapi kenapa ramai sekali ya ini warung?"
"aku rasa kalau sedang emosi cocok ke tempat ini, maki-maki saja penjualnya." ujar Alex.
"mas boleh minta tolong tidak?" tanya seorang laki-laki bertubuh kurus dan juga terlihat lesu.
"eh iya mas, ada apa ya?" tanya Kenan.
Kenan menggaruk kepala belakangnya dan langsung mengangkat tangannya, "woi Pak satu porsi lagi, untuk mas ini sekarang, cepat."
"oke-oke, baik mas."
"terima kasih ya mas." lelaki itu langsung duduk lagi di kursinya.
"tutorial menyusahkan diri sendiri seperti dia itu, sudah tahu tidak bisa dibentak malah datang ke tempat seperti ini." ketus Alex.
"Pak makanan kami, mana?" tanya Alex santai.
"sabar, tanganku hanya dua. bukan untuk meladeni kalian saja." ketus penjualnya.
Alex langsung menggebrak meja dengan kesal, "tahan aku, tahan aku."
"ogah." sahut Kenan.
"ck, sialan kau!" Alex kembali duduk dan tidak jadi melabrak penjualnya.
.
.
Di negara y, Rania dan Sherly sudah berada di sekolah dan sangat asing sekali bagi mereka berdua, Sherly langsung menyenggol bahu Rania dengan kencang.
"tampan-tampan sekali gila, betah aku di sini tidak balik ke Darmayudha lagi." bisik Sherly.
"heh, dasar kau ini!" ketus Rania.
__ADS_1
Rania melirik ke arah alkana yang mengantarnya tadi sampai di depan gerbang, "kenapa dia tidak langsung pulang?"
Rania tersenyum dan langsung membalikkan tubuhnya untuk menuju ke kantor guru, mereka menggunakan bahasa di negara itu Rania dan Sherly telah mempelajarinya sedikit demi sedikit.
"ayo masuk, biar dikenalkan dengan yang lain." ujar guru itu.
Sherly dan Rania langsung masuk dan melemparkan senyum manis mereka.
"hai semua, perkenalkan aku Rania berasal dari Indonesia." ujar Rania memperkenalkan dirinya, begitupun dengan Sherly mereka merasa sedikit kurang nyaman karena belum berinteraksi dengan orang di negara ini.
.
.
Rania dan alkana duduk di ruang keluarga untuk bersantai, Rania melirik ke arah alkana dengan tatapan dalam.
"mas, sepertinya aku rindu deh sama mama."
"mama? mau di telepon?"
"video call saja. eh tunggu-tunggu, bau apa ini?" tanya Rania mengendus aroma aneh.
"bau? tidak ada bau apa-apa."
"bau gosong! kamu ada masak apa?" tanya Rania panik.
alkana langsung membulatkan matanya, "masak air."
Rania Langsung melempar bantal ke arah alkana, hingga lelaki itu langsung berlari ke dapur dan mematikan kompornya membuat alkana mengusap dadanya karena merasa panik.
"kamu itu bagaimana sih mas, masak air saja bisa gosong! masak air untuk apa sih?" tanya Rania kesal.
"tadi rencananya untuk mandi, karena kran air panasnya mati." jawab alkana polos.
"kenapa tidak bilang saja pada Rania."
"ya kan, mas mau coba jadi suami yang pengertian."
"pengertian apa? kamu merusakkan barang itu namanya!"
"ya Jadi bagaimana dong?" tanya alkana.
rania langsung mengambil panci yang gosong itu lalu menyiramnya dengan air hingga tidak terasa panas lagi, lalu bekas gosongnya langsung Rania letakkan di tangannya dan diarahkan ke wajah alkana hingga wajah lelaki itu hitam pekat. seketika tawa rania pecah dan alkana dengan polosnya menerima saja yang Rania lakukan.
"makin tampan sekali suamiku."
"Raniaaa!" teriak alkana, dia langsung melihat wajahnya di kaca membuatnya terkejut.
"Raniaaaa." alkana langsung mengejar istrinya yang berlari masuk ke dalam kamar.
"ampun!" Rania meminta ampun Sambil tertawa, yang membuat perutnya terasa keram.
ponsel alkana berbunyi dia langsung menjawabnya, "halo ma."
"alkana dia datang dan sekarang dia ingin sekolah di DarmaYudha juga." jelas Silvi membuat alkana mengerutkan keningnya bingung.
Rania langsung membuka pintunya dan mendekat ke arah alkana saat mendengar nama mertuanya itu menelpon, alkana menyeringai dan mengarahkan tangannya yang hitam ke wajah Rania juga.
"dia siapa?" tanya alkana.
"..."
__ADS_1
"apa?! Kenapa mama izinkan?" tanya alkana terkejut saat mendengar perkataan mamanya.