
Mereka berdua duduk di ruang keluarga sambil menonton tv, akan tetapi lelaki di samping Rania itu malah asik memainkan game di ponselnya.
"Kak Ayo, ajari Rania berenang. kan sudah janji."
"Rania ini sangat panas sekali loh, mau berenang sekarang?" tanya alkana.
"Iya sekarang, besok ada praktek renang setidaknya Rania tahu teknik dasarnya. Kalau aku langsung masuk ke kolam dan tenggelam kan tidak lucu." pinta rania.
"alkana ajarkan istrimu itu renang, dia selama tinggal di desa tidak pernah berenang jadinya tidak tahu caranya bagaimana." Timpal hary.
"Iya Pak tapi sekarang masih panas." jawab alkana.
"tidak apa-apa, Ayo dong kak." ajak Rania.
Pak Hary langsung meninggalkan mereka berdua berjalan keluar apartemen untuk mencari angin segar di tengah teriknya matahari.
Sedangkan di dalam Rania terus membujuk lelaki itu agar mau mengajarkan nya renang.
"kalau kak alkana mau mengajari Rania berenang, besok Rania jauhi kak Kevin deh." ujarnya membujuk.
"urusannya denganku apa? mau kau dekat dengannya atau tidak aku juga tidak peduli." timpal alkana.
Rania memonyongkan bibirnya dan langsung muncul ide di kepalanya, "ya sudah kalau gitu Rania mau keluar saja, mau menemui kak Kevin Sepertinya dia tidak akan keberatan mengajari aku berenang. dan kak Kevin lebih seru, apalagi dia akan baik banget, jadi tidak mungkin mau nolak."
alkana yang mendengar itu langsung membulatkan matanya dan meletakkan ponselnya secara asal, alkana langsung menarik tangan Rania membawanya menuju kolam renang membuat wanita itu tersenyum manis.
'apa dia benar cemburu ya? apa dia mulai mencintai ku?' tanya Rania pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
'seru juga kalau lihat dia cemburu, lucu sekali sih suami orang eh suamiku deng." batinnya menahan tawa.
"kau akan berenang memakai baju itu?" tanya alkana saat melihat Rania memakai celana Levi's pendek dan baju rajut.
"Ya sudah, aku ganti baju dulu." Rania langsung berlari menuju kamarnya untuk mengganti baju renangnya, setelah selesai dia kembali menghampiri alkana yang telah masuk lebih dulu ke kolam renang hanya menggunakan Boxer tanpa atasan.
terlihat perutnya yang kotak-kotak, terlebih lagi lelaki itu berenang sangat pandai dan lihai di penglihatan rania. wanita itu langsung mendekatkan dirinya di kolam renang dan alkana langsung menarik kakinya, sehingga membuat rania melebarkan matanya dan tercebur ke dalam kolam renang namun setelah itu alkana langsung berenang ke dalam menarik pinggang rania dan mendekapnya.
Rania langsung melebarkan matanya, kini mereka saling menatap dan alkana memeluknya membawa tubuh itu untuk naik ke permukaan kembali, rania memegang dadanya yang sesak dan memukul dada bidang alkana.
"kak aku hampir mati tahu!" Ketus Rania.
"kan baru hampir, ya sudah cepat sini biar aku ajarkan."
"tidak mau! nanti aku tenggelam lagi!"
"kan ada aku, mau berenang tidak?" tanya alkana.
Rania langsung melepaskan genggaman nya pada pinggiran kolam dan mencoba berenang mendekati alkana, namun lagi-lagi wanita itu tenggelam dan alkana langsung menarik tangan rania dan melingkarkan tangan istrinya di lehernya.
rania terpaku dan meneguk salivanya dengan susah payah, hatinya benar-benar sedang dipermainkan oleh lelaki yang ada dihadapannya ini. namun dirinya langsung mengalihkan pandangan ke arah lain sehingga membuat alkana menyeringai.
"ya sudah perhatikan aku ya, nanti kau contoh caraku berenang." Ujar alkana.
alkana membawa rania kembali ke tepi kolam, dan dia langsung berenang membuat rania takjub.
"Wah, gila! kalau aku bisa berenang seperti itu pasti tidak malu-maluin besok."
"tapi dia pasti pamer padaku, makanya menunjukan semua kemampuan renangnya. lihat saja kalau aku sudah jadi ahli perenangan." Gumam Rania.
"Woi, kau melamun lagi! Kau tadi memerhatikan aku tidak?" Tanya alkana.
"lihat kok, ya sudah kakak berenang saja terus sampai nanti malam, entah kapan mau mengajari aku." Sungut Rania kesal.
"Ya sudah, cepat berenang seperti aku tadi." Perintah alkana.
"Hah? Hanya seperti itu?" Tanya Rania terkejut.
"Ya iya, nanti aku akan disampingmu!"
"CK, tidak berguna sekali!" Sungut Rania.
Rania melepas pegangan tangannya dan mulai berenang menuju arah alkana, namun tetap saja terasa sulit melakukannya hingga dia kembali tenggelam dan tangannya dia lambaikan keatas meminta pertolongan.
Alkana tertawa puas dan langsung menangkap tubuh Rania kembali dan memintanya agar mengayunkan tangannya, setelah melakukan itu Rania menghentikannya.
"Kenapa berhenti?" Tanya alkana.
"Aku capek kak!" Gerutu Rania.
"Sudah cepat ulangi lagi, katanya ingin bisa berenang! Kalau kau sedikit-sedikit capek bagaimana mau bisa?"
Rania berdecak kesal dan kembali berenang untuk menuruti perintah alkana, dia terus berusaha hingga bisa walaupun tidak terlalu lama. Dia belum bisa mengatur nafasnya dengan baik, alkana hanya memantau dan membiarkannya berenang sendirian.
"Huwaaaaaa. Akhirnya aku bisa berenang juga!" Teriak Rania heboh.
Alkana merasa haus sehingga dia langsung beranjak dari kolam renang, "aku haus, aku akan mengambil air minum dulu!"
__ADS_1
Rania tidak mempedulikan alkana, dia masih terus berenang walaupun sering berhenti untuk mengatur nafasnya. Dia tersenyum senang dan kembali berenang.
'eh.. loh kenapa dengan kakiku ini?' batin Rania.
"Aargh."
Wanita itu merasa kebas di bagian kakinya sehingga membuatnya tidak bisa berenang lagi, terlebih sekarang dirinya berada ditengah-tengah kolam. "K-kak!"
"K-kak." Teriaknya dengan suara tertahan hingga tidak dapat mengeluarkan dengan keras.
Rania langsung melambaikan tangannya ke atas agar alkana segera datang dan mengetahui jika dirinya akan tenggelam. Rania tidak bisa menahan nafasnya lagi, penglihatannya mulai kabur dan kesadarannya pun menghilang.
di dalam, alkana masih mengambil minuman untuk mereka berdua setelah dia meminumnya hingga habis dia langsung berjalan kembali menuju kolam renang membawa minuman untuk istrinya, manik matanya tidak menemukan rania di pinggiran kolam ataupun di sekitar tempat itu. alkana langsung membulatkan matanya dan melempar minuman itu secara asal saat melihat Rania tenggelam.
dia langsung menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang dan mengapai tubuh rania yang sudah pingsan dan langsung mengangkat tubuh itu untuk kembali ke atas permukaan.
dia membaringkan tubuh Rania di lantai dan menepuk pelan pipinya.
"argh, rania."
dia langsung menekan dada rania agar air yang tertelan oleh Rania dapat keluar, namun cara itu tidak berhasil sehingga dia harus memberi nafas buatan untuk rania. dia mendekatkan bibirnya ke wajah istrinya itu dan memegang wajah rania.
"aku bukan mau mengambil kesempatan, ini yang harus aku lakukan, kau dengar baik baik." ujar alkana.
dia langsung memberi nafas buatan tersebut hingga rania terbatuk dan mengeluarkan air yang tertelan, rania langsung menatap kearah alkana dengan tatapan yang sulit diartikan, lelaki itu mengangkat tubuh Rania agar wanita itu duduk.
"kak, aku belum mati kan?" tanya rania menangis.
alkana merasa bersalah sehingga dia langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"maafkan aku yang tidak bisa menjagamu!" "jadi benar, aku belum mati? hah, syukurlah."
arkana langsung melepaskan pelukannya dan menatap manik mata wanita itu, "belajar renangnya sudah dulu ya, ayo kita ke kamar istirahat! kali ini kamu harus menurut kata-kata suamimu ini dan aku tidak mau mendengar bantahan sama sekali!"
alkana langsung mengangkat tubuh rania ala koala, tanpa menunggu jawaban dari wanita itu. karena rania memang merasa lelah dan dia tidak ingin membantah atau berdebat kembali, dia masih syok karena kejadian tadi yang membuatnya hampir saja tewas, jika tidak diselamatkan oleh arkana tepat waktu.
sesampainya di kamar, alkana langsung memasuki kamar mandi. alkana meletakkan tubuh rania di dalam bathtub sehingga membuat wanita itu membulatkan matanya.
"kak, jangan bilang mau mandi bersama?" tanya rania panik.
"memangnya kenapa?" tanya alkana.
"apa? kenapa kakak bilang?" pekik Rania mendelik.
"tidak mau! kakak keluar saja."
"aku sudah bilang tidak mau mendengar bantahan apapun."
"ya kakak mau apa menunggu aku disini?" tanya rania.
"aku tidak mau melihatmu tenggelam lagi di dalam bathtub, cepat sebelum aku berbalik badan." Ancam alkana.
"Ya sudah, tutup kepala kakak pakai kain." Perintah Rania.
"CK, padahal aku suaminya." Alkana langsung mengikat kain dikepalanya untuk menutupi matanya.
Setelah menurut Rania aman, dia langsung mandi dengan terburu-buru karena takut jika alkana berubah pikiran dan membalikkan badannya, "awas saja kalau kakak ngintip ya!"
Tidak butuh waktu lama akhirnya Rania telah selesai dan melilitkan handuk ditubuhnya, "sudah!"
Alkana langsung melepas kain dikepalanya dan membalikkan badan menatap ke arah Rania yang hanya memakai handuk saja, tentu saja imannya diuji oleh itu. Namun, dia langsung menghelmgkan kepalanya dan menatap manik mata yanga ada dihadapannya.
"Ya sudah, ayo." Alkana hendak mengangkat kembali tubuh Rania namun wanita itu menolaknya.
"Tidak, kakak mandi saja kan itu baju kakak basah! Nanti Rania basah lagi." Tolak rania.
"Ya sudah, hati-hati awas terpeleset!" Ujar alkana penuh perhatian.
Rania langsung berjalan dan tersenyum manis, dia tidak mampu menahan senyumnya itu agar tidak terbit di wajahnya namun tetap tidak bisa. Dia masuk ke walk in closet dan memakai pakaiannya, kepalanya terasa berdenyut sehingga dia langsung menuju ranjang untuk berbaring.
Dia puluh menit kemudian, alkana telah selesai mandi dan melirik ke arah Rania yang sudah tertidur, dia mengulum senyum dan langsung memasuki walk in closet.
Setelah selesai alkana langsung berjalan menghampiri ranjang dan memegang dahi Rania, untuk memastikan wanita itu demam atau tidak. "Tidak dam kok."
"Ah, capek juga." Alkana langsung berbaring disamping Rania dan memejamkan matanya.
Saat hampir tertidur, tangan Rania memeluk tubuhnya begitupun kakinya yang naik ke atas paha alkana. Membuat alkana kembali meneguk salivanya susah payah, dia menatap Rania dengan pandangan yang sulit diartikan.
Karena tidak ingin terjadi apapun, alkana menurunkan kaki Rania secara perlahan, namun kakinya kembali naik lagi.
"CK, argh! Aku akan sulit tertidur kalau begini, lalu bagaimana dengan nasibku dan juga adikku?" Keluhnya.
Alkana melirik kearah Rania yang tertidur dengan pulas, dia menghela nafasnya lalu berusaha memejamkan matanya agar dia bisa tidur dengan nyenyak. Namun karena dia tetap tidak bisa tertidur dia kembali menolehkan kepalanya kearah Rania dan langsung menindih tubuh istrinya, akan tetapi dia masih menahan nya dengan siku tangannya.
Rania yang terkejut langsung mengerjapkan matanya berulang kali, dan melihat alkana berada di atas tubuhnya lalu tersenyum dan kembali tertidur sedangkan alkana menyeringai mengerikan.
__ADS_1
Rania kembali membuka matanya untuk memastikan apakah dia masih melihat bayangan alkana atau hanya sekedar mimpi, namun benar saja lelaki itu masih berada di atas tubuhnya dengan Seringai, membuat Rania langsung membulatkan matanya dan menatap alkana dengan tatapan ketakutan.
"Hei, sedang apa Kakak di situ?" tanya Rania panik.
"sedang apa? menurutmu aku sedang apa?" tanya alkana menyeringai.
Rania memastikan jika Ini bukan mimpi dengan mencubit lengan alkana dan menampar pipi lelaki itu hingga membuat alkana meringis dan memegang pipinya.
"Kenapa menamparku?" protes alkana.
"ingin memastikan kalau ini mimpi atau bukan." jawab Rania santai.
"seharusnya kau mencubit dirimu sendiri, tampar dirimu sendiri. agar tahu kalau ini mimpi atau tidak, bukan malah sebaliknya."
"Iya juga sih, tapi kakak sakit tidak?"
"ya sakit lah!"
"Aaaaaa, kak alkana sedang apa?" tanya Rania kembali panik.
alkana langsung menyentil jidat Rania, "telat kagetnya."
"Argh, minggir ih. mau mesum ya?" tuduh Rania.
"Memangnya kenapa? Bukannya kau adalah istriku?"
"Kak, jangan macam-macam ya. Rania masih mau sekolah, tidak mau membawa balon ke sekolah nanti." ujar rania memohon.
"balon?" Tanya alkana bingung.
"Iya, nanti kalau gitu-gitu kan pastinya hamil, Rania belum siap."
"menggemaskan sekali sih." gumam alkana menahan senyumnya.
"Kak minggir ih, atau Rania teriak nih." ancam Rania.
"Teriak saja kalau berani." alkana langsung mendekatkan kepalanya membuat Rania menutup mata dan hanya bisa pasrah, menurutnya jika pun dia berteriak sudah pasti orang tuanya berpikir jika mereka sedang membuat cucu untuk mereka.
saat bibir mereka hampir menyatu alkana langsung menciumnya sekilas, dan kembali berbaring disamping Rania membuat wanita itu membuka matanya menolehkan kepala menatap kearah suaminya dengan kebingungan.
"Jangan pernah melakukan itu lagi jika sedang tidur, kakimu jangan sampai mengenai adikku kalau tidak ingin terkena hukuman lebih dari tadi." Peringat alkana.
Rania langsung menarik baju alkana dan mencium bibirnya kembali, membuat alkana membulatkan matanya, saat Rania ingin melepaskannya alkana menahan tengkuk leher rania dan memperdalam ciuman mereka.
Rania langsung mendorong tubuh Alkana dan membelakangi lelaki itu, karena merasa bersikap sangat agresif. 'bodohnya, kenapa kau mencium dia duluan tadi? jual mahal dulu harusnya!' batin Rania.
Alkana langsung mendekat dan meletakkan kepalanya di bahu Rania, "Kenapa balik badan, tidak mau lebih? kalau mau membuat perutmu ada balonnya aku bisa kok, mau Sekarang atau nanti malam?" lelaki itu tidak berhenti menggoda Rania.
"Ish apa sih Kak!"
"Rania, sini tatap aku."
"tidak!"
"ingin membantah lagi, hm?" tanya alkana.
Rania mendengus kesal dan menatap ke arah alkana, namun dia tidak berani menatap manik mata indah lelaki di hadapannya dia lebih memilih menatap ke bawah karena merasa malu.
"Rania, jangan pernah mendekati Kevin lagi. jangan pernah mau dibonceng atau apapun lagi yang berurusan dengan lelaki itu." Pinta alkana.
"Memangnya kenapa? alasannya apa?" tanya Rania.
"karena aku tidak suka milikku didekati oleh Kevin!"
"yakin, hanya karena itu? tidak ada alasan lainnya?" tanya Rania.
Rania ingin sekali Jika saat ini lelaki itu mengakui jika alkana menyukai dirinya, namun lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya tidak memiliki alasan lain membuat harapan Rania runtuh seketika. wanita itu tanpa sadar telah memiliki rasa suka di dalam hatinya, entah karena selalu bersama atau karena perhatian kecil walaupun lelaki itu menunjukkan nya dengan caranya sendiri yang Bahkan Rania baru memahaminya tetap saja bagi Rania itu berharga.
"jadi kakak tidak ada perasaan suka atau cinta padaku, begitu?" tanya Rania to the poin.
alkana langsung menyentil kening Rania, "halu ya kau, sudah ayo bangun jangan bermimpi lagi."
Rania menatap alkana dengan Tatapan yang sulit diartikan, dia menghembuskan nafasnya kasar dan mendorong tubuh alkana hingga lelaki itu terjatuh di lantai.
'rasain makanya jangan membuat orang berharap lebih.' batin Rania.
'kau yang menjebak alkana agar dia risih dan menceraikanmu, dan sekarang lihatlah kau sendiri yang terjebak dengan perasaan itu.' batin Rania lagi.
Rania langsung mengikat rambutnya dan meninggalkan alkana begitu saja, membuat lelaki itu meringis dan mengumpat Rania terus-menerus.
"Rania apa-apaan sih kau?" teriak alkana.
"Tidak berguna sekali jadi istri!"
"bantuin woi!"
__ADS_1