Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
mimpi buruk


__ADS_3

"apa?! Rania hamil? wah gila, kecebong kau tokcer juga ya al bisa langsung jadi." ujar Kenan heboh.


"wah, omegat omegat omegat! aku yang masih muda begini akan segera menjadi om. hoah, ini sangat luar binasa!" teriak Alex tak kalah hebohnya.


tempat yang tadinya ramai menjadi hening seketika saat mendengar teriakan kenan dan Alex, kini mereka tengah berada di taman. semua pandangan mengarah pada Alex dan kenan, membuat mereka meminta maaf karena tingkah aneh mereka.


"gila sumpah gila, Al! aku sungguh tidak menyangka, bocil seperti kalian akan segera punya bayi." ujar Alex.


"heh, enak saja kau mengatai aku bocil." ketus Rania kesal.


mereka tengah berlibur ke taman hiburan, perut Rania yang sudah membesar dan sebentar lagi akan melahirkan, membuat alkana mengajak Rania untuk berjalan-jalan agar tidak stres.


kini mereka tengah antri untuk menunggu giliran mereka, keadaan yang ramai membuat mereka berdesak-desakkan. hal itu malah menimbulkan ide cemerlang di otak kenan, pria konyol itu segera menggulung jaketnya kemudian di masukannya ke dalam kaos yang dia kenakan. dan jadilah dia seperti orang hamil tua.


"permisi semua, numpang lewat tolong minggir sebentar. perut saya kebesaran jadi agak susah, nanti kalau tersenggol bisa-bisa bayi saya ngamuk tidak mau keluar. kan saya tidak kuat kalau harus membawanya terus-menerus." ujar Kenan.


Alex yang melihat itu pun segera mengambil peran, dia menuntun kenan berjalan, "permisi orang hamil mau lewat ini, kalian tidak lihat ya di sini ada orang hamil. kalau berdesakan begini terus nanti dia brojol di sini bagaimana? ayo cepat minggir semuanya."


alkana dan Rania merasa malu akan tingkah aneh ke dua temannya itu, "heh, kalian berdua jangan membuat malu ya. awas kalian." geram alkana.


"aaakh mas, perut ku sakit mas. aku sepertinya mau melahirkan!" teriak rania histeris.


.


"aaaaakh!" teriak rania terbangun dari mimpi buruk untuknya itu.


mendengar teriakkan Rania, membuat alkana yang tertidur di samping juga ikut terbangun.


"sayang ada apa? kamu kenapa?" tanya alkana cemas.


"mas aku mimpi buruk mas, hiks." Rania terisak saat mengingat mimpinya tadi.


"kamu mimpi apa sayang? cerita sama mas."

__ADS_1


"aku baru saja bermimpi kalau aku hamil mas, hiks. aku takut." Rania masih terisak pelan.


alkana segera membawa Rania ke dalam dekapan hangatnya, dia mengusap punggung bergetar itu dengan sayang.


"kamu tenang ya, lebih baik kamu tes dengan testpack sekarang." ujar alkana.


Rania mengangguk kemudian turun dari ranjang, dia mengambil testpack di laci meja riasnya yang dia beli tadi saat pulang dari rumah sakit. dia benar-benar sangat takut jika dirinya memang benar tengah hamil, bukannya tidak ingin. hanya saja dirinya belum siap, terlebih lagi umurnya yang masih belasan tahun.


dengan ragu Rania melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia merasa gugup dan juga takut. Rania menarik napas panjang sebelum memasuki kamar mandi, setelah itu barulah dia masuk ke dalam.


setelah selesai, Rania berdiri menatap dirinya di cermin yang ada di kamar mandi. dia menunggu hasilnya dengan perasaan was-was, dia kembali menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar.


"apapun yang terjadi, semoga ini memang yang terbaik untuk kami." gumam Rania menenangkan hatinya.


terdengar pintu kamar mandi di ketuk berulang kali dari luar, ya siapa lagi pelakunya kalau bukan alkana. namun Rania tidak berniat membuka pintunya, dia hanya diam tanpa menyahut. dia menatap kosong pantulan dirinya di cermin, pikirannya menerawang jauh. akankah dia mampu menjadi ibu yang baik jika memang benar dia tengah hamil? dia takut jika dia akan gagal.


beberapa menit Rania hanyut dalam lamunannya, dia kembali teringat akan testpack penentu keberlangsungan kehidupannya kedepannya nanti.


Rania menutup mulutnya dengan ke dua tangannya, hasilnya adalah positif. entah dia ingin menangis atau bahagia sekarang, perasaanya begitu tidak menentu saat ini. terdengar kembali pintu di ketuk dari luar, Rania segera membuka pintu itu.


Rania tidak menjawab, melainkan hanya memberikan testpack itu pada alkana, alkana mengernyitkan keningnya bingung, dia tidak paham maksud hasil yang tertera di testpack itu.


"ini maksudnya bagaimana sayang? mas tidak mengerti." tanya alkana bingung.


"positif." jawab Rania singkat.


"positif hamil? ini serius sayang?" tanya alkana lagi dengan wajah yang berbinar-binar.


alkana hendak memeluk Rania saking senangnya, namun istrinya itu malah mendorongnya menjauh.


"kamu kenapa terlihat begitu senang sekali mas?" tanya Rania datar.


alkana langsung tersadar, jika istrinya itu belum siap untuk hamil. dia segera menghampiri istrinya kemudian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"sayang, kamu tidak senang ya, jika buah hati kita hadir secepat ini?" tanya alkana.


"mas aku bukannya tidak senang, hanya saja waktunya yang tidak tepat. kamu tahu sendiri, aku masih sekolah, aku masih terlalu muda untuk mengandung mas."


"sayang, kan sebentar lagi ujian kenaikan kelas, hanya tinggal beberapa bulan saja. nanti setelah itu kamu bisa homeschooling." bujuk alkana.


"tapi aku belum siap mas, kamu itu ngerti tidak sih? kamu memang tidak akan mengerti karena bukan kamu yang menjalaninya, kamu pasti sengaja kan mas melakukan ini. waktu itu kamu bilang akan aman-aman saja, tapi nyatanya apa? aku hamil juga kan?"


Rania terisak membayangkan akan seperti apa jadinya jalan hidupnya setelah ini, pasti dia tidak akan bisa bebas seperti sebelumnya. belum lagi jika dia sudah memiliki anak, sudah pasti waktunya akan terkuras untuk mengurus anaknya. dia masih terlalu takut untuk membayangkan bagaimana sakitnya melahirkan nanti, dia juga takut akan menjadi orang tua yang gagal untuk anaknya nanti.


alkana memegang bahu Rania agar menghadapnya, namun Rania malah membuang pandangannya, dia tidak ingin bersitatap dengan suaminya itu.


"sayang, mas minta maaf, ini semua salah mas. tapi kamu jangan seperti ini, ini adalah anugerah yang tuhan titipkan untuk kita. kita pasti bisa menjaganya bersama-sama." ujar alkana yang tidak mendapat tanggapan dari Rania.


"ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya, jangan terlalu stres."


alkana membantu Rania membaringkan dirinya di ranjang, kemudian lelaki itu menyelimuti tubuh Rania sebatas dada. dia juga ikut berbaring di samping Rania, dan memeluknya.


beberapa menit kemudian, setelah memastikan Rania sudah tidur. alkana melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya, dia bingung harus melakukan apa. semua sudah terjadi, dirinya selalu melupakan pengaman saat melakukannya dengan rania.


alkana bingung sekaligus merasa bersalah, jujur saja dia merasa senang saat mendengar kabar Rania tengah hamil dan dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. tapi dia juga merasa sedih, Rania belum bisa menerima tentang kehamilan itu. semua ini terjadi juga kan bukan atas dasar kehendaknya.


sementara di dalam kamar, Rania ternyata belum tidur. dia duduk di tepi ranjang, menatap pintu balkon yang sedikit terbuka.


'apa aku sudah keterlaluan ya? mas alkana pasti kecewa sama aku. ya tuhan, kenapa ini harus terjadi sekarang? apa ini memang jalan yang harus aku lalui? aku takut, ibu bantu rania. Rania belum siap dengan ini semua.' batin Rania.


kemudian Rania bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju balkon untuk menghampiri suaminya itu. di lihatnya alkana tengah berdiri di dekat pagar balkon, dengan tatapan kosong. ranai langsung mendekat ke arah alkana, pria itu sadar ada orang yang mendekatinya langsung menolehkan pandangannya.


"loh sayang, kamu tidak jadi tidur?" tanya alkana mendekat ke arah Rania.


"mas, kamu pasti kecewa kan sama aku."


"kecewa kenapa sayang?" tanya alkana bingung, alkana memegang bahu Rania dengan ke dua tangannya agar mereka saling menatap.

__ADS_1


"tentang kehamilan ini. aku bukannya tidak mau mas, aku hanya..."


"stt, sudah ya jangan berpikir yang tidak-tidak. ini semua salah mas, mas minta maaf ya sayang." ujar alkana sembari membawa Rania ke dalam dekapan hangatnya.


__ADS_2