
Rania meneguk salivanya dalam-dalam lalu alkana langsung tertidur kembali dengan posisi mereka yang saling berpelukan, Rania benar-benar sangat bingung di posisi seperti ini. Terlebih lagi alkana malah kembali memejamkan matanya dan memeluk dirinya dengan sangat erat, ternyata lelaki itu tidak sepenuhnya sadar saat menarik tubuh Rania agar tidak terjatuh.
Rania sedang berusaha melepaskan pelukan lelaki itu, tetapi tangan alkana malah semakin erat memeluknya.
"Dia ini maunya apa sih, apa dramanya sudah di mulai?" Gerutu Rania.
Rania menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap wajah alkana dari dekat, tanpa dia sadari senyum manis terbit di wajah cantiknya. Tangannya ingin sekali mengusap rambut alkana yang berantakan, namun dia menghentikan pergerakan tangannya dia mengurungkan niatnya.
Rania ikut memejamkan matanya dan langsung tertidur dengan lelap, kini mereka tidur dengan posisi Rania berada di pelukan alkana. Namun jika lelaki itu terbangun dan melepaskan tangannya maka bisa membuat Rania langsung terjatuh kebawah.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa hari sudah malam, namun sepasang suami istri masih saja tertidur dengan posisi yang sama. Di luar Nilam mengetuk pintu kamar mereka karena sejak tadi anak dan menantunya itu belum juga keluar untuk makan. Pintu terus di ketuk namun tetap tidak ada jawaban sama sekali.
"Rania."
"Alkana."
"Kalian tidak makan malam?"
"Ayo makan dulu loh, kalian sejak tadi siang belum ada makan."
"Nak."
"Kenapa mereka tidak ada yang menjawab? Apa terjadi sesuatu diantara mereka?" Nilam memaksa membuka pintu kamar tersebut namun terkunci dari dalam.
"Ada apa Bu?"
"Ini loh pak, mereka tidak ada suaranya sama sekali. Ibu panggil-panggil juga tidak ada yang menjawab, ibu takut kalau mereka kenapa-kenapa!"
"Mungkin mereka sedang tidur Bu!"
"Ah iya mungkin ya pak, tapi mereka belum ada makan loh pak apa mereka tidak lapar?" Tanya Nilam.
"Nanti kan kalau lapar mereka bangun langsung makan, sudah biarkan saja Bu namanya juga pengantin baru. Seperti tidak tahu saja ibu ini."
"Haha, semoga mereka segera memberi kita cucu ya pak!"
"Jangan dulu dong Bu, Rania kan masih kecil kasihan kalau dia mengandung secepat itu."
"Iya pak, ibu tahu."
"Ya sudah kita ke kamar saja, jangan ganggu mereka lagi." Ajak Hary.
Kini mereka memasuki kamar yang bertuliskan rusak itu, ternyata di dalamnya bagus tanpa ada kerusakan sedikitpun. Ternyata itu hanya akal-akalan Silvi saja agar mereka tidak tidur terpisah.
__ADS_1
Hary dan nilam langsung tidur karena mereka merasa lelah, di kamar sebelah yang terdapat sepasang suami istri baru itu pun mereka sedang menikmati mimpi indah mereka.
"Rania, aku mencintaimu! Mari kita memulai hubungan kita dari nol." Ajak alkana.
"Aku juga mencintaimu, mas! Aku juga bosan jika harus selalu bertengkar denganmu, karena aku ingin di manja." Ujar Rania dengan nada manja.
"Mas, kenapa bunga itu wangi?" Tanya Rania.
"Memangnya kenapa?"
"Karena yang bau itu kamu! hahahah" Jawab Rania dengan tertawa terbahak-bahak.
Alkana langsung mencubit pipi Rania, dan langsung menyerang Rania dengan menggelitikinya hingga wajah Rania memerah menahan geli. Dia memohon agar alkana menghentikan aksinya itu, akan tetapi alkana tidak memperdulikannya yang mana malah membuat mereka kembali bertengkar. Rania menggigit tangan alkana.
"Ck, sini kau!" Sungut alkana.
"Siapa kau? Kita tidak saling kenal ya!" Ketus Rania.
"CK, sialan!" Alkana langsung mengejar Rania membuat Rania berusaha menghindarinya dan membuatnya tersandung hingga terjatuh.
Gdbugh.
"Awwws." Ringis Rania.
Rania membuka matanya dan ternyata dirinya terjatuh dan kini berada di alam nyata, lalu dia berdecak saat mengingat mimpi konyol yang muncul di tidurnya.
Alkana membuka matanya dan mengerjap berulang kali lalu melirik ke arah Rania yang sedang duduk di lantai, "sedang apa kau disitu?"
"Sedang apa? Kamu tidak ingat dengan apa yang kamu lakukan tadi?"
"Tidak, memang aku melakukan apa?" Tanya alkana bodoh.
"Bodo ah." Rania langsung berdiri namun pinggang dan bokongnya terasa sakit, ingin sekali dia menonjok kepala alkana namun saat ini dia lebih memilih meninggalkan alkana dan berjalan keluar.
"Apa ibu sudah tidur ya? Hmm, ternyata sudah sangat malam. Huft sakit sekali badanku!" Keluhnya sendiri.
Alkana langsung ikut berjalan keluar karena perutnya sangat lapar, "Rania, kau masak apa?"
"Emmm, enak banget." Alkana langsung duduk di meja makan dan segera melahapnya.
"Kak, Rania belum makan! Ingat ya, jangan di habiskan!" Peringat Rania.
Rania ingin membuatkan kopi untuk alkana, setelah selesai dia langsung duduk di sebelah alkana dan menatap makanan yang sudah habis tak bersisa. Rania langsung menatap tajam alkana.
__ADS_1
"Aku lapar!" Ucap alkana santai tanpa rasa bersalah.
"Kau gofood saja lah, ini enak sekali soalnya!"
"Untung ya ini rumah kamu, kalau bukan sudah aku usir kamu dari sini." Ketus Rania.
Rania langsung mengambil bahan makanan yang ada di dalam kulkas, sekarang ini dia ingin memasak mie instan saja agar menghemat waktu. Dan sebenarnya Rania juga tidak berselera untuk makan nasi, dan untungnya lelaki itu langsung menghabiskan makanan tanpa sisa. Jadi jika ibunya melihat dia memasak mie, itu tidak akan menjadi masalah.
"Kak, eh mas! Aku mau masak mie, mau juga tidak?" Tanya Rania.
"Boleh." Jawab alkana.
Dia juga ingin mencicipi makanan itu, karena selama ini dia tidak pernah memakannya dengan alasan itu tidak baik untuk kesehatan. Akan tetapi jika Rania yang memasaknya dia ingin selalu mencobanya.
"Hmmm, wangi banget." Ujar alkana tersenyum.
"Ya iyalah, siapa dulu dong?" Tanya Rania.
"Istri alkana gitu loh." Jawab alkana dengan rasa bangga.
Lalu saat dia tersadar dia langsung salah tingkah sendiri, sedangkan Rania hanya memasang wajah datar saja, walau sekarang perasaanya sudah tidak karuan.
"Ini untuk kakak." Rania langsung memberikan semangkuk mie pada alkana dan dia langsung ikut duduk untuk segera melahap mie miliknya.
Mereka berdua menikmatinya begitupun dengan alkana,
"Rania mau lagi!" Pinta alkana.
"Tidak ada, sudah habis." Ketus Rania.
"Itu masih banyak." Alkana melirik ke mangkuk rania , dan Rania langsung menyembunyikannya dari pandangan alkana.
Akan tetapi lelaki itu memaksa dan ingin meminta milik Rania, "pelit sekali kau ini."
"Biarin, ini punya ku!" Ketus Rania.
"Bagi dua dong." Pinta alkana lagi.
"Kak alkana doyan apa rakus sih? Kan sudah aku kasih bagian masing-masing!"
"Aku lapar karena sejak tadi siang tidak makan." Ujarnya.
"Ya siapa suruh tidak makan? Tadi aku sudah membangunkan kakak ya, tapi kakak saja yang tidurnya sudah seperti kerbau mati."
__ADS_1
"Pelit sekali, nanti aku adukan pada ibu kau ya? Aku bilang pada ibu bahwa kau tidak mau memasakkan makanan untukku!" Ancam alkana.
"Hissh, ya sudah ini bagi dua." Rania langsung menyuapkan mie itu kembali kedalam mulutnya, lalu alkana secara tiba-tiba mendekat membuat Rania memundurkan wajahnya dan memejamkan matanya.