Perjodohan Siswa SMA

Perjodohan Siswa SMA
sasha


__ADS_3

Rania masih terus berusaha mengejar alkana, "kak, nanti di rumah Rania jelaskan. jangan seperti ini dong malu." ujar rania berusaha membujuk alkana.


"bagaimana bisa? tidak tidur denganmu semalam saja aku tidak bisa tidur, bagaimana kalau kamu ke luar negeri? mau aku turunkan jabatan Kepala sekolahnya, kalau tetap membawa kamu ke luar negeri?" ancam alkana kesal.



*ilustrasi foto alkana,


"ya jangan dong! nanti yang jadi Kepala sekolahnya siapa?"


"si Kenan!" Ketus alkana.


"asikkk, kalau aku jadi kepala sekolah, nanti jam delapan pagi sudah pulang semuanya." sahut Kenan gembira.


"ck, bantu jelaskan dong!" pintar Rania kepada Kenan dan Alex.


"kalau aku yang jadi wakil kepala sekolah, bisa makin maju sekolah Darmayudha ini." sahut Alex.


"Iya maju, sampai ke pasar kaget sana!" timpal Rania kesal.*



*ilustrasi foto Rania, (maaf ya kalo ga sesuai, maklumi ajah😂)


"apa sih dedek Rania, kenapa kesal-kesal terus? kan sudah babang bilang, sama babang Kenan saja. alkana mah begitu, dia memang suka-" ucapan Kenan terpotong karena alkana menatapnya dengan tatapan yang tajam.


kenan langsung kicep dan berpura-pura menyapu sampah lalu memasukkannya ke dalam tong sampah, sedangkan Alex langsung membalikkan tubuhnya dan bernyanyi lagu India.


Alkana langsung berjalan kembali menuju kantor ruang guru, dia benar-benar tidak terima jika Rania akan terpilih sebagai siswa yang akan melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri. Rania langsung menggigit lengan alkana dan menatapnya dengan tajam.


" tunggu kak, dengarkan Rania dulu makanya." sungut Rania.


"apa lagi?"


"kan belum tentu juga Rania yang terpilih, masih harus diseleksi lagi, kenapa kamu sudah marah-marah begini sih kak?"


"walaupun begitu, kamu kan pintar pasti ada peluang besar untuk kamu terpilih. mas tidak rela ya, kalau kamu pergi jauh dari mas."


"astaga mas, lagi pula hanya beberapa bulan saja. mas juga bisa menyusul ke sana kan, atau minta pada guru agar mas juga ikut terpilih ke tukaran pelajar ke luar negeri."


"pertukaran pelajar itu hanya untuk kelas sebelas, mas tidak bisa terpilih lagi karena tahun kemarin mas yang dikirim ke luar negeri." jelas alkana.


Sherly yang sedari tadi mencari keberadaan Rania melihat mereka berdebat dari balik pohon, membuat Sherly mendekat dan membulatkan matanya saat mendengar


Rania memanggil alkana dengan sebutan mas.


"apa hubungan mereka sudah Sedekat Itu?" tanya Sherly pada dirinya sendiri.


Sherly langsung mendekat dan menatap keduanya dengan tatapan mengintimidasi, namun saat ditatap balik oleh mata elang alkana dia langsung tersenyum dan merubah ekspresi raut wajahnya.


"apa tadi? mas alkana? kalian sedang memperdalam drama kalian, ya?" tanya sherly.

__ADS_1


'astaga, kenapa bisa keceplosan di sekolah manggil mas alkana sih. ini anak kepo juga, ada di mana-mana lagi.' batin Rania.


"Rania kamu jangan menjawab di dalam hati, ya." ujar Sherly.


"eh, kamu bisa dengar suara dalam hati?" tanya Rania.


"ya bisa lah."


"coba tebak apa yang sedang aku pikirkan sekarang ini." perintah Rania karena dia takjub dengan kelebihan Sherly.


Alkana yang melihat kedua orang itu hanya menggelengkan kepalanya dan langsung meninggalkan mereka menuju ke ruang guru, sedangkan Rania tidak lagi memperdulikan alkana dan lebih memilih menguji kelebihan Sherly.


'pak Nando cocok deh sama kamu Sherly.' batin Rania.


"coba tebak, aku bicara apa di dalam hati, hah?" tanya Rania.


"bakso bang mamat mantap kan, ayo kita ke kantin aku lapar." jawab Sherly cengengesan, dia langsung menarik tangan Rania menuju ke kantin karena alkana juga telah pergi.


Rania langsung membulatkan matanya dan menepis tangan Sherly, "bukan itu! ih kan, kak alkana pasti sudah pergi. ah gara-gara kamu ini Sherly."


"bucinnya nanti lagi saja, warga tengah lebih penting dan harus segera dituntaskan." jawab Sherly tanpa menerima ocehan dari rania lagi.


mereka Langsung berjalan menuju kantin dan terlihat Sasha mengepalkan tangannya, dia berjalan mendekat ke arah Rania dan juga Sherly dengan tangan yang dilipat di depan dada. Dia sangat kesal sekali dengan Rania karena telah mengambil alkana darinya.


"heh anak baru, siapa namamu?" tanya Sasha.


Rania langsung memperlihatkan name tag miliknya kepada Sasha, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sasha menyeringai dan memajukan langkahnya, sedangkan para siswa dan siswi lainnya yang berada di kantin itu juga sudah mempersiapkan ponsel mereka untuk menangkap momen panas itu.


"memangnya kenapa?" tanya Rania mengerutkan keningnya.


"kenapa? kenapa kau bilang? alkana itu hanya milikku dan kau tidak pantas dengan dia, level kalian itu jauh berbeda!" hina sasha.


"level? level mie pedas 1.. 2.. atau 3?" tanya Kenan yang baru saja datang bersama Alex.


"heh Sasha, sudahlah. kau jangan mengganggu alkana dan Rania lagi, buktinya sudah jelas kalau selama tiga tahun ini cintamu ditolak terus kan oleh alkana? itu tandanya kau bukan tipe alkana!" timpal Alex pedas.


"kau jangan coba-coba mengancam Rania lagi, alkana tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang. Aku hanya memberi peringatan saja sih padamu." lanjut Alex.


"kalian kenapa jadi membela si anak kampung ini sih?" tanya sasha kesal.


"kami berbicara sesuai sensus perpajakan!" sahut Alex.


"sensus pajak kepala Bapakmu, sensus penduduk, bodoh." timpal kanan.


"apa sih kalian berdua ini bercanda terus, sudah jangan diladeni, ayo lebih baik kita makan saja." Sherly mendorong tubuh mereka bertiga untuk duduk di kursi.


"eh, kau kan yang mengatai aku boneka mampang kemarin?" Sasha menarik tangan Sherly dan mencengkeramnya dengan kuat.


seluruh siswa dan siswi yang ada di kantin langsung tertawa terbahak saat mendengar pertanyaan Sasha, membuat Gadis itu menatap horor ke arah mereka semua. sedangkan Sherly langsung menepis tangan sasha dengan tangan kanannya.


"apa sih, bisa tidak jangan mengganggu orang lain? lebih baik cari uang saja sana." usir Sherly.

__ADS_1


plakkk


tamparan keras mendarat di pipi Sherly, membuat Rania langsung mendekat dan memegang pipi Sherly yang memerah dan meninggalkan bekas telapak tangan. Alex juga ikut melihat bekas telapak tangan Sasha yang ada di wajah Sherly.


"punya mulut itu dijaga, entah apa spesialnya anak kampung itu sampai kalian bela terus-menerus, kalian itu seharusnya sadar kalau kalian itu hanya dimanfaatkan saja oleh dia." ketus Sasha.


"kalau memang masalahmu ada padaku, jangan membawa-bawa orang lain masuk ke dalam lingkaran masalah yang kau ciptakan sendiri. sebenarnya aku sayang sekali sih padamu, em, lebih tepatnya kasihan karena memiliki wajah cantik tapi sayang otaknya tidak berfungsi sama sekali." hina rania dengan tatapan tajam.


"CK, sialan!" Sasha ingin menampar wajah Rania namun langsung segera ditepis kasar oleh Alex.


"cukup ya Sasha, yang dikatakan oleh Rania itu valid no debat, dan otakmu itu memang tidak pernah digunakan dengan baik!" hardik Alex.


"awas ya kalian semua!" Sasha sudah merasa sangat dipermalukan, hingga Dia pergi meninggalkan kantin sedangkan Sherly langsung tersenyum lalu mengacungkan jempol ke arah Rania.


"kamu kenapa, kok tersenyum?" tanya Rania.


"aku bangga sama kamu, adik kecilku sudah semakin pintar sekarang." ujar Sherly tersenyum lebar.


"kau sakit, sher?" tanya Alex.


"tidak kok."


"ya jelas tidak lah! orang tadi sudah babang Kenan obati lewat hati." sahut Kenan.


Sherly hanya memutar bola matanya malas dan menatap ke arah Rania.


"Rania! Rania, kau dipanggil tuh sama pak Nando ke ruang BK." ujar Dani dengan nafas yang tersenggal.


kini pandangan mereka semua teralih ke arah Dani.


"CK, pasti ulah Kak alkana ini." Rania langsung bangkit dan meninggalkan mereka semua menuju ke ruang BK.


"Rania kenapa? ada apa? kenapa kamu dipanggil ke ruang BK?" katanya Sherly khawatir.


"siapa lagi pelakunya, kalau bukan alkana si bucin akut itu." sahut kenan.


mereka berempat berjalan bersama menuju ruang BK, lalu Sherly melirik ke arah kenan, "kak alkana berkelahi lagi? tapi kenapa Rania dibawa-bawa juga?"


"bukan Sherly sayang, tapi alkana tidak terima kalau pacarnya pergi ke luar negeri selama berbulan-bulan untuk pertukaran pelajar." jelas Alex.


"Oh jadi karena itu, jadi ini kak alkana protes begitu ya?"


"benar sekali, pintar sekali sih calon ibu dari anak-anakku ini." jawab Alex tersenyum manis.


"memangnya nanti kau tidak sedih, kalau misalnya sudah menikah dengan Sherly tiba-tiba anak kalian pas sudah besar me-roasting dirimu?" tanya Kenan.


"me-roasting bagaimana?" tanya Alex balik tanpa menoleh ke arah Kenan yang sedang berbicara.


"begini, ma kenapa sih mama menikahnya sama papa, kan aku jadi jelek." sahut Kenan dengan menirukan suara anak kecil.


"CK, berandal sialan!" umpat Alex kesal.

__ADS_1


__ADS_2