
Malam itu Angga pulang dengan perasaan yang tak menentu. Mang Darma yang melihat Angga senyam-senyum sendiri, membuat beliau menggelengkan kepalanya. Mang Darma tidak pernah melihat Angga seperti ini. Angga adalah orang yang cuek, dingin, dan tegas. Orang tuanya mendidik Angga, menjadi pribadi yang seperti itu. Karena Angga adalah anak satu-satunya keluarga pak Dwipangga. Karena itu, Angga harus menjadi pemimpin yang disegani oleh karyawan nya. Angga satu-satunya pewaris kekayaan pak Dwipangga.
Sesampainya di rumah, Angga mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Malam ini, dia bisa tidur dengan nyenyak. Setelah beberapa hari memikirkan pernikahan mantannya. Angga lega, karena Dona percaya kalau Am pacarnya. Kini Angga sudah terlelap, memeluk guling kesayangannya...
Pagi harinya, Am harus berangkat pagi-pagi sekali. Hari ini dia ship pagi, dan ditugaskan untuk membersihkan lobi kantor. Biasanya, kalau membersihkan lobi kantor harus berangkat lebih awal dari yang lainnya.
Am sampai juga di kantor, dia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya. Am mengambil sapu, dan lap bersih. Am segera menuju ke lobi kantor. Belum banyak pegawai yang datang di sana. Dengan teliti, cermat Am menyelesaikan pekerjaan nya. Usai membersihkan lobi, kini Am beralih membersihkan beberapa ruangan di kantor itu.
Semua pegawai tampaknya sudah mulai berdatangan. Am sendiri menuju dapur, untuk membuatkan teh ataupun kopi untuk para pegawai kantor, tempat dia bekerja. Saat sedang menuangkan air panas ke dalam gelas. Tiba-tiba Angel datang, dan menampih teko air panas yang sedang di pegang Am. Teko itu jatuh kelantai, dan air panas nya mengenai kaki Am.
"Aduh..."Am menggoyang-goyangkan kaki nya yang terkena air panas, untuk sedikit menahan rasa sakitnya.
"Kenapa, sakit? itu belum seberapa. Kalau kamu berani coba-coba mendekati Angga, saya gak segan-segan akan melakukan yang lebih dari itu." Siska yang melihat Am kesakitan Berusaha menolongnya. Siska membawakan obat untuk mengobati bekas luka Am.
"Dasar cewek murahan, kamu menggunakan tubuhmu untuk menggoda Angga, kan?" caci Angel menjambak rambut Am. Am menarik tangan Angel, dan dihempaskan dari rambutnya.
"Jaga ucapan anda Bu, saya tidak seperti yang anda pikirkan." Am menunjuk muka Angel. Am memang tidak suka, jika harga dirinya di rendahkan oleh orang lain.
"Berani ya, kamu dengan saya." Saat Angel akan mencekik Am, Angga datang.
"Angelll" teriak Angga yang sudah ada di belakang Angel. Angel terkejut, saat dipergoki Angga akan menyakiti Am.
"Apa-apaan ini, kenapa kamu bersikap seperti itu pada dia!" Angga kemudian mendekati Am, dia melihat kaki Am melepuh.
__ADS_1
"Cepat panggilkan dokter sekarang!" perintah Angga pada salah satu pegawai nya.
"Dan kamu, saya tidak akan pernah memaafkan kamu. Kamu disini cuma sebagai karyawan saya, jika sikapmu tidak baik, saya akan memecat kamu." Angga memeluk bahu Am, membawanya untuk duduk di kursi yang ada disitu. Semua karyawan melihat kejadian itu, hanya bisa diam. Siska segera membersihkan tumpahan air panas, yang sudah berserakan di lantai.
"Ngga kenapa kamu bela dia, sih" Angel berusaha mendekati Angga.
"Jangan dekati saya, lebih baik kamu pergi dari sini " sungut Angga mengusir Angel dari tempat itu. Am yang meringis kesakitan, membuat Angga semakin tidak tega melihatnya.
"Kenapa lama sekali penggilingan dokternya! lihat kasihan dia, Itu pasti sakit sekali." Angga berjongkok, dan mengoleskan salep yang dibawa Siska.
"Aduhh sakit Pak, hati-hati dong Pak!" Am masih kesakitan, karena luka bakar nya lumayan parah.
"Lebih baik, saya antar kamu saja ke rumah sakit. Saya tidak tega melihat luka kamu itu." Angga membopong Am dari dapur kantor menuju ke lobi.
Mereka sudah masuk ke dalam mobil, Angga gak mau melihat luka bakar yang menganga di kaki Am. "Kenapa bisa seperti ini, apa kamu kurang hati-hati" ucapnya lembut menatap Am. "Tangan saya di tampih oleh Mbak Angel, saat saya mau menuangkan air panas kedalam gelas," terang Am menceritakan kejadian tadi. Angga kelihatan kesal sekali dengan Angel. Dia tidak menyangka, Angel akan berbuat senekat ini pada Am.
Mereka sudah sampai di rumah sakit Harapan. Mang Darma membukakan pintu mobil Angga. "Mang, tolong minta kursi roda pada perawat di sana." Angga menunjuk seorang perawat yang membawa kursi roda kosong, di lobi rumah sakit. Angga gak kuat lagi jika harus membopong Am, dari parkiran menuju ruang pemeriksaan.
"Kenapa Bapak gak gendong Am lagi aja!" goda Am melirik Angga.
"Berat tau, lagian makan kamu tuh banyak. Jadi gendut kan!"
"Ah Bapak Cemen, masa gitu aja gak kuat."
__ADS_1
"Apa kamu bilang, kamu mau meremehkan saya!"
"Ya emang gitu kan pak?"
Oh jadi kamu meremehkan saya, ok saya akan gendong kamu sekarang. Puasss" Angga dengan terpaksa menggendong Am. Rasa sakit yang Am rasakan sedikit terobati, karena berhasil mengerjai bos-nya.
Dari kejauhan mang Darma mendorong kursi rodanya. Dengan sedikit mengeluarkan tenaganya, Angga menggendong Am menuju mang Darma. "Cepat Mang!" serunya. Mang Darma sudah ada di hadapannya, dengan pelan Am didudukan di kursi roda.
Mereka sudah berada di ruangan dokter yang menangani Am. Kami Am yang melepuh, diolesi gel penghilang rasa sakit, kemudian diperban agar tidak terkena air.
Am diantar pulang oleh Angga, dan Angga mengizinkan Am untuk tidak masuk kerja. Angga kembali lagi ke kantor, hari ini dia ada meeting penting dengan Pak Surya, terkait kerja sama nya tempo hari. Pak Surya Kusukma sudah menunggu Angga di ruang meeting bersama assisten Niko dan Angel.
"Maaf saya sedikit terlambat," ucap Angga saat sudah ada di ruang meeting.
"Gak apa Pak Angga, baiklah saya akan segera memulai meeting ini." Pak Surya mempresentasikan ide yang akan di buat untuk iklan kerja sama mereka. Lokasi, konsep dan beberapa model viguran yang akan mendampingi Dona. Angga berharap, dengan iklan yang akan di buat pak Surya ini, bisa meningkatkan penjualan produk nya.
Meeting berakhir dengan kesepakatan hasil yang di presentasikan pak Surya. Beliau dengan Assisten nya pun sudah kembali ke kantornya. Di ruang itu, tinggal ada Angga, Niko, dan Angel. Angel bersikap biasa saja pada Angga, namun Angga sepertinya kesal pada Angel.
"Kamu! saya ingatkan lagi ya, jangan coba-coba kamu ganggu Am lagi. Kalau kejadian tadi terulang lagi, saya akan laporkan kamu ke polisi." Teganya pada Angel yang masih bersikap manis di depan Angga.
"Kenapa kamu begitu membelanya? apa jangan-jangan kamu cinta sama gadis itu?"
"Itu bukan urusan kamu, kalau saya cinta dengan dua itu juga bukan urusan kamu. mengerti!.
__ADS_1
To be continued..