
Sore itu, usai berdiskusi dengan Delon. Angga memutuskan untuk pulang. Dan mulai mengatur rencana penyelidikan bersama kakak iparnya.
Di tengah padatnya kendaraan, mobil Alphard berwarna hitam berhenti di lampu merah. Sama dengan kendaraan lainnya,Angga harus menunggu dulu lampu hijau menyala. Agar dia bisa melanjutkan perjalanannya. Di saat itulah, Angga melihat pak Burhan bersama seorang pria seumuran dengannya sedang berbincang di dalam mobil milik pak Burhan. Mereka terlihat sangat serius dengan perbincangannya. Hingga mobil mereka perlahan melaju, karena lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Angga berinisiatif untuk mengikuti mobil mereka.
"Kak, susul Angga di alamat ini!" ucapnya pada Delon melalui ponselnya. Angga sengaja mengirim note voice, di nomor Delon dan juga mengirim lokasi dimana dia berada saat ini. Mungkin, pria itu ada hubungannya dengan kasus yang sedang dia selidiki bersama Delon.
Mobil yang ditumpangi pak Burhan berhenti, di sebuah gedung berlantai 16. Tak lama setelah itu, pak Burhan dan rekannya turun dari mobil itu dan berjalan menuju ke lobi gedung itu. Angga hanya bisa mengamati mereka dari kejauhan, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke kantor itu. Harus punya ID card, agar bisa masuk kedalam.
Dari kejauhan Pak Burhan menemui seseorang di lobi gedung itu. Tak lama setelah itu, mereka bertiga kembali ke mobilnya dan mobil itu berjalan keluar dari gedung itu menuju ke suatu tempat. Angga hanya bisa membuntuti sampai mobil itu berhenti. Belum lama mobil itu berjalan dan harus berhenti lagi di sebuah cafe, bernuansa modern. Mereka bertiga turun dan masuk kedalam cafe itu. Di sanalah Angga, bisa mengikuti mereka lebih dekat lagi.
"Apa kabar Pak Burhan?" tanya pria yang baru saja di temui pak Burhan dengan kedua rekannya.
"Hahahaha, seperti yang anda lihat. Saya masih di beri nafas oleh Tuhan..." Perkataan pak Burhan mengundang gelak tawa dari tiga rekannya. Setelah itu, mereka mendaratkan tubuhnya di salah satu meja cafe itu. Angga mencari tempat yang aman, agar dia bisa mengawasi dan mendengar perbincangan Pak Burhan dan kawan-kawannya. Angga duduk tepat di samping meja pak Burhan yang hanya tersekat pilar-pilar yang terbuat dari rotan. Sehingga, tubuhnya tidak bisa di lihat oleh mereka berempat. Sementara Angga, bisa mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan oleh pak Burhan dan kawan-kawannya.
"Jadi gimana, apa Pak Burhan sudah menemukan cara agar perusahaan Siantara grup mau menjualnya kepada saya?" tanya seorang pria bermata sipit pada Pak Burhan. Sepertinya orang itu adalah pengusaha asing yang menanamkan modalnya di perusahaan samudra cinta.
"Bapak tenang saja, saya sudah menyuruh putri saya untuk mencari informasi tentang perusahaan itu. Dan salah satu informasinya, perusahaan itu akan meluncurkan produk terbarunya bulan-bulan ini. Dan produk itu diyakini akan mendongkrak popularitas perusahaan itu sendiri," jelas Pak Burhan pada rekan kerjanya itu. Angga benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pak Burhan.
"Wah, pruduk apa itu Pa?" tanya pria bermata sipit itu lagi.
__ADS_1
"Pruduk minuman dan mi instan. Saya sudah punya salinan konsepnya, tunggu sebentar saya ambilkan dulu!" Pak Burhan mengambil tasnya, dan membukanya setelah itu mengambil sebuah dokumen, lalu memberikannya pada rekan kerjanya. "Itu salinan konsepnya," lanjut pak Burhan tersenyum lebar.
Angga yang mengetahui hal itu, mengeratkan rahangnya. "Brengsek, Angel... kamu!!!" umpat Angga mengepalkan tangannya.
Angga berhasil mendapat informasi dari pembicaraan Pak Burhan dan rekan kerjanya itu. Dari situ, Angga mendapat ide untuk menjebak pak Burhan. Sementara Delon, yang sudah sampai di cafe tempat yang di share Angga hanya bisa menunggu di dalam mobil. Karena Angga melarangnya untuk masuk. Bukan cuma itu yang mengejutkan Angga, kalau Angel bekerjasama dengan papanya untuk menghancurkan perusahaan Angga dengan mencuri ide produk yang akan diluncurkan di perusahaan Siantara grup. Tapi satu, yang membuat Angga semakin tercengang.
"Hahaha, dengan cara itu kita bisa mengambil keuntungan dari kehancuran perusahaan Siantara grup. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu, dengan mudahnya saya bisa mendapatkan perusahaannya samudera cinta Daeri tangan Saptaradja. Hanya dengan mengelabui si bodoh Dwipangga. Hahahaha." Tawa mereka lepas, selepas kepergian pria bermata sipit itu dari sana. "Dan, kita akan ulangi lagi cara itu, sekarang!!!" lanjut Pak Burhan, bersulang dengan dua rekannya yang tersisa.
Angga semakin geram mendengarkan kelicikan demi kelicikan yang di perbuat oleh pak Burhan, rasanya dia ingin sekali menghajar pak Burhan di tempat itu juga. Tapi, beruntung emosinya bisa di redam. Karena dia punya cara sendiri untuk membalas kelicikan mereka. Angga langsung meninggalkan tempat itu, setelah mendapat banyak informasi dari Burhan dan kawan-kawannya.
Angga meminta Delon untuk pergi dari cafe itu, dan mereka membuat janji di rumah Angga. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan informasi yang baru saja ia dengar pada Delon.
"Ayah, Paman!??" teriak Azka yang melihat mereka berdua masuk kedalam rumah. Angga langsung membalas pelukan anaknya, dengan mensejajarkan tubuhnya pada anak itu.
"Bunda mana?" tanya Angga yang sudah menggendong Azka.
"Ada, masih di dapul sama Nenek!" jawab Azka dengan cedalnya.
Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang tengah. Setelah sampai disana, Angga menurunkan Azka dari gendongannya. Tak lama setelah itu, Amalia datang dari dapur menghampiri Suami dan Kakaknya. Tak lupa, wanita itu mencium punggung tangan keduanya. Setelah itu, kembali lagi ke dapur untuk membuatkan minuman suami dan kakaknya.
__ADS_1
"Sayang, nanti bilang sama bunda. Minumnya di bawa ke ruang kerja Ayah, ya!" pinta Angga pada anaknya.
"Ok, Ayah!!" balas Azka tersenyum semringah.
"Anak pintar! Ayah keatas dulu ya sama Paman. Azka disini, nonton kartun. Jangan nakal, ya!"
Di dalam ruang kerjanya, Angga menceritakan semua yang ia dengar dari omongan pak Burhan pada Delon. Delon sudah bisa menduga, karena dia melihat sikap Angel akhir-akhir ini ada yang tidak beres. Dari itulah, Angga memiliki rencana yang pasti berhasil menjebak Pak Burhan dan Angel. Tapi, dia memang harus sangat hati-hati dengan rencananya.
"Terus bagaimana selanjutnya?" ujar Delon yang masih belum memahami rencana adik iparnya.
"Kakak, harus bertemu dengan Santika. Kita bisa gunakan dia untuk melancarkan rencana kita," jelas Angga.
"Kenapa harus saya, Ngga? Kenapa gak kamu aja?" tolak Delon.
"Hmmm, kalau Angga yang menemui dia. Berarti Angga harus mengajak Angel. Kalau Kakak sendiri, kan gak harus ngajak siapa-siapa!" kilah Angga, yang memiliki rencana terselubung dari itu.
"Hmmm..kamu gak lagi gak buat rencana yang aneh-aneh, kan!" tebak Delon yang mulai curiga dengan Angga.
Angga memang punya pikiran untuk menjodohkan Santika dengan Delon. Setelah dia tahu dari Kevin, kalau Delon dulu mempunyai perasaan pada Santika. Karena itu, dia ingin membuat keduanya kembali dekat.
__ADS_1
To be continued