
Keesokan harinya. Amalia begitu sibuk di tokonya. Karena hari ini dia bongkaran barang dagangan yang baru dikirim oleh suplayer dari pekan baru. Dia mengecek kondisi dan jumlah barangnya. Bisnis fashion nya semakin berkembang. Bukan hanya menerima pesanan dari daerah itu. Tapi juga dia sering mengirim barang dagangannya ke luar kota.
Sementara Azka. Dia bermain ditemani oleh nek Asih. Beberapa mainan yang di belikan oleh Angga menjadi mainan favorit baginya. Bahkan dia sering memamerkan pada teman-temannya.
Hari ini adalah hari peresmian pembangunan gudang produksi. Angga dan teamnya sudah berangkat dari pagi. Sebelum mereka mulai bekerja, Angga meminta pada salah satu ustadz disana untuk memimpin doa bersama. Angga berharap kedepannya usahanya di Berkahi oleh Allah. Hingga menjelang sore Angga masih di tempat itu.
Jam kerja pun usai. Angga sudah berada di penginapannya. Malam ini dia mau mempacking barang-barangnya. Karena besok siang, dia dan Niko sudah harus kembali ke Jakarta. Usai mempacking barangnya, Nino pun datang ke kamar Angga. Dia mau membantu bosnya mempacking barang-barangnya.
"Maaf Pak, saya mau bantu packing barang-barang Bapak," ujarnya saat sudah di kamar Angga.
"Makasih udah di bantu." Niko pun memasukkan semua pakaian Angga kedalam koper. Semua pakaian-pakaian itu, adalah pakaian kotor. Selama lima hari disana, Angga pun membawa baju gantinya untuk lima hari. Niko memisahkan pakaian yang akan di kenakan oleh Angga untuk kepulangannya besok.
Setelah semuanya siap. Mereka duduk di teras depan penginapan. Sembari menikmati lalu lalang kendaraan di jalan. Niko bisa melihat kesedihan dari wajah bosnya itu.
"Rasanya saya begitu berat meninggalkan tempat ini," ucap Angga dengan tatapan kosong ke arah jalan.
"Apa karena Bapak tidak bisa berpisah dengan Azka?" Pertanyaan Niko membuat dia semakin sedih. Pertemuannya dengan Azka yang baru lima hari ini. Membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna. Angga setiap hari bermain dengan anak yang menyebutnya Ayah itu. Selalu ada waktu untuk mereka bermain. Meskipun hanya sebentar.
"Saya sudah jatuh hati pada anak itu, dia mengingatkan saya waktu masih kecil dulu. Sering membawa bola kemanapun ia pergi, alergi makan udang. Sama semuanya sama." Angga pun kembali mengingat moment-moment indah bersama Azka.
"Iya Pak. Kalau dilihat-lihat Azka memang mirip dengan Bapak. Mata, bibir, dan wajahnya hampir sama seperti Bapak. Apa mungkin dia anak Bapak dan Amalia." Angga pun menatap kearah Niko. Dia memang berpikiran sama dengan Niko. Kalau Azka itu anaknya.
"Saya sempat berfikiran sama seperti kamu, Nik. Tapi mana mungkin Amalia ada di sini Nik. Sangat mustahil, karena orangtuanya kan orang Bogor. Sementara Afdal, dia memang asli orang Sumatra. Itu tidak mungkin terjadi, Nik." Niko pun hanya mengangguk, membenarkan apa yang dibicarakan oleh bosnya itu.
Keesokan harinya Afdal mengajak Azka menemui bos-nya. Dia tahu hari ini adalah hari terakhir bosnya ada disana. Karena itu, dia ingin mempertemukan Azka dengan Angga untuk terakhir kalinya. Mengingat kedekatan Angga dan anak itu. Beberapa mainan pun dibelikan oleh Angga.
Mobil yang akan mengantar Angga dan Niko pun tiba. Semua barang-barang juga sudah di masukkan ke bagasi. Mereka lebih memilih untuk berangkat agak siangan karena agar tidak terlalu menunggu lama di bandara. Karena jam penerbangan mereka adalah pukul 22.00.
Angga pun sudah siap naik ke mobil. Tapi bayang-bayang Azka selalu melintas dipikirkan nya. Pandangannya pun tak lepas dari rumah bercat hijau, samping ia menginap selama ini.
__ADS_1
Semenjak Afdal, dia sengaja mengajak main Azka di belakang. Takutnya kalau anak itu melihat saat Angga pergi. Anak itu pun tak menaruh curiga. Dia bermain dengan sangat gembira. Beberapa permainan pun ia mainkan bersama ayah Angkatnya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Ayah Angga mana?" tanyanya dengan mimik wajah sedih. Afdal menjadi tidak tega melihat anak itu. Bahkan dia tidak bisa membayangkan jika anak itu tahu, kalau Angga sudah tidak ada disini.
"Ayah Angga lagi kerja," jawab Afdal berbohong. Tapi sepertinya Azka sudah punya firasat kaldu akan ditinggal oleh ayah kandungnya. Karena itu dia tidak percaya dengan perkataan Afdal.
"Kelja? Ayah Adal gak kelja?" Afdal diam sejenak. Kemudian dia tersenyum sembari mengelus rambut Azka.
"Iya sayang, nanti ayah kerja kok. Sekarang ayah temenin Azka main dulu," jawabnya berbohong.
"Hole....hole... Azka ceneng...."
Angga pun tidak bisa membendung perasaannya lagi untuk tidak berpamitan pada Azka. Akhirnya dia menyuruh supir untuk menunggunya sebentar. Kemudian dia pergi kerumah nek Asih.
Kebetulan di depan ada Nek Asih yang sedang duduk di teras. Angga pun langsung menghampiri beliau.
"Assalamualaikum Nek," sapa Angga sembari mencium punggung nek Asih.
"Ini udah mau berangkat. Saya mau bertemu dengan Azka. Nek. Saya mau pamit padanya," ujar Angga mengungkapkan niatnya pada Nek Asih.
Nek Asih pun tersenyum. Dia tahu betul perasaan Angga pada cucu Angkatnya itu. Beliau menjadi saksi kedekatan mereka. Wajar jika Angga merasa ada yang kurang untuk pergi dari kota ini kalau belum berpamitan pada cucu Angkatnya itu.
"Ya sudah, tunggu disini sebentar ya. Biar Nenek yang panggilkan." Nek Asih kemudian masuk kedalam untuk memanggil Azka. Angga masih berdiri di tempat yang sama.
Selang beberapa saat Azka, Afdal dan nek Asih datang. Azka dengan girangnya langsung memeluk Angga. Angga pun langsung membalas pelukan anak itu. Sudah bisa dilihat Angga memang seperti enggan berpisah dengan anak itu. Angga pun melepas pelukannya dan mendudukkan Azka dipangkunya. Dia masih ragu untuk mengutarakan niatnya berpamitan dengan Azka.
"Sayang, Ayah mau bilang...." Ucapannya pun terpotong. "Kalau Ayah.." Azka menatap wajah Angga. Membuat dia semakin tidak tega untuk mengatakannya.
"Ayah mau kelja, iya." Azka melanjutkan kata-kata Angga. Angga pun tersenyum . Merasa ada celah, membuat Angga pun melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Ayah mau kerja jauh. Tapi Ayah janji akan sering kesini." Seketika wajah anak itu berubah sendu. Terlihat nyata kalau anak itu tidak mau di tinggal oleh Angga.
Nek Asih dan Afdal pun ikut sedih melihat perpisahan mereka. Mereka memang seperti anak dan ayah kandungnya. Karena mereka berdua sangatlah mirip.
"Ayah janji Azka mau ajak Azka. Ayah bohong." Tangis Azka pecah. Anak itu bangkit dari pangkuan Angga dan berlari memeluk kakinya Afdal. Angga pun langsung mendekatinya.
"Sayang, maafin Ayah. Ayah janji akan sering kesini nengok kamu," ujarnya mencoba membujuk Angga.
Azka semakin menangis, Afdal lalu menggendongnya dan ikut menenangkan Azka. Tapi anak itu semakin menjadi. Angga tidak tega melihatnya. Air matanya yang sedari tadi ia tahan pun ikut menetes. Apa yang membuatnya merasa dekat dengan Azka, dia pun tidak tahu. Yang ada di hatinya saat ini adalah Azka itu anak kandungnya.
Mendengar anaknya meraung menangis. Amalia yang sedang memasak pun menghentikan aktivitas nya untuk melihat anaknya. Dia ingin memastikan apa yang terjadi pada Azka. Saat dia sudah sampai di teras. Pandangan nya hanya fokus pada anak yang sedang menangis didalam gendongan Afdal. Dia tidak menyadari ada sosok yang sedang merhatikannya sekarang.
"Sayang kamu kenapa menangis?"
"Amalia!!!!"
To be continued
Tuh udah aku pertemukan mereka...
Jangan di buli ya author ya....
Nangis Lo ntar... Ngambek Lo ntarππππ
Ini belum seberapa?
Kisah mereka akan bikin spot jantungan bagi readers yang baca...
Kalau gak kuat...
__ADS_1
Bisa skip dulu GPP
Bacanya kalau dah tamat....