
"Valentino lolos lagi, Kak!" Delon hanya tersenyum getir menanggapi ucapan Angga. Dia tahu betul siapa yang sedang dihadapi oleh adik iparnya itu. Dia adalah orang yang sangat licik.
"Sudah saya duga. Dia adalah orang yang licik, Ngga. Lebih baik kita pikirkan lagi caranya agar Valentino masuk ke dalam perangkap kita."
Ada yang mengganjal di pikiran Delon. Dia ingin menanyakan hal itu pada adik iparnya, tapi dia masih ragu. Tapi jika masalah itu tidak cepat di bicarakan, takutnya akan berhimbas pada hubungan Angga dan adiknya.
"Ngga, Kakak mau tanya sesuatu ke kamar?" Angga menoleh kearah Delon. Bisa di lihat dengan jelas wajah Delon yang berubah serius.
"Apa, Kak?'
"Apa Papa tahu kalau kamu adalah putra dari pak Dwipangga?" Jleb pertanyaan itu mampu membuat Angga gemetar, karena terkejut. Mungkin sebaiknya Angga memang harus berkata jujur pada Kakak iparnya itu.
"Belum, Kak," jawabnya dengan nada putus asa.
"Jadi bener dugaan ku, Papa tidak tahu kalau Amalia menikahi putra musuhnya," batin Delon.
Melihat kakak iparnya hanya diam, membuat Angga sedikit canggung. Karena satu kebohongan lagi, di ketahui oleh Delon.
"Kak, apa Papa akan marah jika tahu kalau Angga adalah anak dari orang yang menjebloskan kakak di penjara?" Kali ini Delon yang merasa sedikit terkejut dan bingung akan menjawab apa.
"Sebelum Kakak jawab pertanyaan kamu. Kakak ingin tanya sesuatu ke kamu. Apa saja yang kamu ketahui tentang Papa dan Papamu, selain kasus Kakak?" Angga menoleh kearah Delon. Dia bingung kenapa kakak iparnya itu menanyakan hal itu padanya. Apakah ada sesuatu yang dia tidak tahu tentang papanya dan pak Sapta.
"Angga hanya tahu masalah itu, Kak. Apa ada hal yang Angga tidak tahu tentang mereka?" Delon menghela nafas panjang. Dugaannya benar, Angga tidak mengetahui permusuhan antara pak Dwi dan pak Sapta.
Melihat kakaknya tak bersuara, Angga kembali bertanya. "Kak, apa ada yang Angga gak tahu tentang mereka?" ulangnya.
Delon segera sadar dari lamunannya. Sebelum adik iparnya menaruh curiga padanya. "Nggak ada!" jawab Delon. Mungkin ini belum saatnya untuk Angga tahu, tentang permusuhan pak Dwi dan pak Sapta. Dan membiarkan Angga mengetahui sendiri, itu pilihan Delon.
"Kak, boleh Angga meminta sesuatu pada Kakak?" Delon menoleh kearah Angga.
"Hmmm, katakan apa yang kamu inginkan?" Angga mengatur nafasnya, setelah itu dia menyebutkan permintaannya.
"Jangan katakan dulu pada Papa, kalau Angga adalah anak dari orang yang menjebloskan kakak di penjara," pintanya dan membuat Delon mengerinyitkan keningnya.
__ADS_1
"Biarkan Angga yang mengatakannya langsung pada Papa. Tapi tidak untuk sekarang, Angga perlu waktu," lanjutnya. Delon hanya bisa menghela nafasnya kasar. Dia memang tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan adik iparnya itu.
"Iya, Kakak tidak akan bilang pada Papa," ucap Delon, Angga pun tersenyum lega. Setidaknya dia harus menyiapkan waktu yang tepat untuk dia mengatakan kejujuran pada mertuanya.
Mereka sampai di Bogor pukul 16.00 WIB. Di mana para pekerja perkebunan sudah mulai pulang dari bekerja. Sudah menjadi pemandangan di tempat itu jika jam pergi dan pulang kerja. Akan ada puluhan pekerja yang lalu lalang kembali ke rumah masing-masing. Tetangga samping rumah pak Sapta menyadari kehadiran Angga dan Delon. Dengan jiwa kekepoannya, Bu sutijah mendekati mereka.
"Kamu, bukannya menantu pak Sapta?" tanyanya menunjuk Angga. Bu sutijah memang tahu kalau Angga adalah suaminya Amalia. Karena di saat menggelar pengajian itu, Bu Sutijah yang paling kepo bertanya ini dan itu.
"Iya, Bu!" jawab Angga mengulas senyum ramah pada wanita berperawakan gendut itu. Kini pandangannya beralih pada Delon.
Delon memang baru pertama kalinya menapakkan kakinya di daerah itu. Sehingga warga di situ belum mengetahui siapa dirinya. Karena saat Dia masuk di penjara, pak Sapta dan keluarga masih tinggal di Jakarta. Wanita itu menunjuk ke arah Delon. "Ini, siapa?" tanyanya penasaran.
Angga buru-buru menjawab pertanyaan Bu sutijah. "Ini kakaknya Amalia, maaf Bu kami duluan," ujar Angga meninggalkan Bu Sutijah yang masih berdiri mematung, menatap bingung mereka berdua.
Sesampainya di rumah, Angga mengetuk pintu rumah setengah permanen yang berdiri kokoh di sekitar hijaunya pohon teh. Selang beberapa saat, Reyhan yang membukakan pintunya. Saat melihat Angga yang datang, remaja itu seperti kegirangan. Tapi seketika dia melihat kearah pria yang berada di samping kakak iparnya itu, seakan tak percaya dengan sosok itu. Beberapa kali di mengerjapkan matanya, untuk menyakinkan kalau yang ia lihat adalah nyata. Setelah itu, Reyhan mendekap Delon. "Kakak!!!"
"Siapa, Rey?" teriak Pak Sapta menyusul putranya. Sama halnya dengan Reyhan. Pak Sapta juga tidak percaya kalau pria yang bersama menantunya itu adalah Delon. Tanpa terasa bulir air matanya menetes, terharu melihat anaknya sudah keluar dari penjara. Pak Sapta langsung menghampiri mereka bertiga.
"Papa!!" Delon perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh adiknya. Setelah itu, dia memeluk pak Sapta dengan tangis haru keduanya.
Bu Leha pun sama, sama terkejutnya dengan Pak Sapta dan Reyhan. Mereka tidak menyangka kalau Delon sudah bebas dengan hukumannya. Mereka akhirnya menyuruh anak dan menantunya untuk masuk ke dalam.
Tanpa terasa sudah waktunya untuk makan malam. Dan malam ini Bu Leha masak makanan kesukaan Delon, putra pertamanya itu. Pepes ikan peda, sambel terasi bakar dan nasi bakar yang isinya, teri, rempah-rempah, dan bumbu dapur lainnya. Mereka sudah duduk di tempatnya masing-masing. Bu Leha, meletakkan nasi bakarnya satu persatu di dalam piring mereka.
Angga sangat takjub dengan masakan ibu mertuanya itu. Pria itu tak tanggung-tanggung memujinya di depan Bu Leha langsung. "Ma, ini tuh enak banget." Angga menyuapkan makanan itu tanpa sendok. Dan rasanya lebih nikmat di banding memakai sendok.
"Hmm, Mama mu ini paling jago kalau urusan memasak," puji pak Sapta membuat Bu Leha tersipu malu.
"Bener banget, Pa. Sayang Amalia gak jadi ikut, Azka juga. Padahal mereka kangen banget sama masakan Mama," sahut Angga. Bu Leha jadi ingat dengan cucu kesayangannya itu.
"Oh iya, Ngga. Azka gimana udah turun belum panasnya?" tanya Delon mengkhawatirkan keadaan ponakannya.
"Alhamdulillah, udah Kak. Barusan Am telpon Angga. Katanya udah mau makan lagi," jawab Angga, masih melahap makanannya.
__ADS_1
Makan malam itu mereka habiskan dengan obrolan-obrolan ringan membahas pekerjaan Angga di kantor. Itu yang membuat perasaan Delon tak menentu. Melihat kedekatan papanya dengan Angga yang begitu akrab. Tapi apakah itu akan terjadi, jika pak Sapta tahu siapa Angga yang sebenarnya. Akankah keakraban itu akan tetap ada, atau sebaliknya pak Sapta tidak akan menerima Angga menjadi menantunya.
Sekarang mereka bertiga mengobrol di teras. Sembari menikmati indahnya malam itu. Bintang-bintang yang bertebaran di langit. Menandakan malam itu begitu cerah. Tidak ada mendung sedikitpun yang menyelimuti.
Mereka ngobrol dengan di temani teh hangat dan singkong ketan yang di rebus, dan digoreng sebentar. Makanan yang belum pernah di makan oleh Angga. Dan pria itu begitu menikmatinya makanan itu. Sampai-sampai hampir habis satu piring, sangking enaknya.
"Sekarang ceritakan pada Papa. Bagaimana kamu bisa bebas, secepat ini, Lon?" Pak Dwi membuka obrolan serius mereka.
"Angga berhasil membuktikan kalau Delon tidak bersalah, dan membuktikan pelaku yang sesungguhnya," jawab Delon. Pak Sapta hanya mengangguk, sembari memegangi dagunya. Sesaat kemudian dia beralih menatap Angga.
"Papa salut dengan kamu, Ngga. Sedapat itu kamu bisa membuktikan kalau Delon tidak bersalah," puji pak Sapta.
"Oh iya, Ngga. Kapan kamu akan bawa orang tuamu kesini menemui Papa. Bukannya, beliau sudah menerima pernikahan kalian?" Pertanyaan pak Sapta membuat Angga tersedak, karena kaget. Delon langsung memberikan minuman pada Angga, dan segera Angga meneguknya.
"Iya Pa. Orang tua Angga berencana akan membuat resepsi pernikahan Angga dan Amalia. Nah disaat itu, inshaa Allah Angga akan bawa mereka kesini," ucap Angga dengan nada gugup.
"Ok, Papa tunggu kehadiran mereka."
Mereka melanjutkan perbincangannya di dalam rumah. Udara dingin daerah itu membuat mereka tidak betah lama-lama di luar rumah. Apalagi kesehatan pak Sapta yang akhir-akhir ini menurun. Angga juga meminta papa mertuanya untuk berhenti bekerja, dan akan menanggung biaya hidup keluarganya. Tapi pak Sapta menolaknya dengan alasan, tidak enak jika tidak bekerja. Sudah terbiasa. Dan itu tidak bisa dipaksakan oleh Angga. Dia lebih menghargai keputusan mertuanya itu. Apalagi Delon, yang sudah bergabung dengan perusahaan Angga. Membuat pak Sapta tidak enak lagi, jika harus merepotkan Angga.
Di sebuah rumah mewah yang terlihat sepi itu. Tampak seorang ibu muda sedang menemani anaknya bermain. Sementara Bu Renata dan pak Dwi, mereka pergi keluar dari sore tadi belum kembali lagi ke rumah. Amalia hanya ditemani assisten rumah tangganya, dan satpam yang berjaga di depan.
Sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan pagar rumah itu. Seorang pria berambut gondrong namun tidak terlihat mukanya karena mendidik masker berjalan ke arah pintu pagar rumah itu. Satpam yang menyadari ada seseorang di sana mendekat.
"Permisi Pak, saya mau bertemu dengan pak Angga. Saya dari kantornya untuk memberikan dokumen penting untuk beliau," sapa pria itu pada satpam Angga.
Satpam itu tak lantas percaya dengan pria itu. Karena di lihat gerak geriknya yang mencurigakan. "Pak Angga tidak ada di rumah, beliau ada di Bogor," balas satpam itu, akan beranjak dari tempat itu. Namun pergerakannya terhenti, saat pria itu mendekap mulutnya dengan obat bius. Sehingga, tubuhnya langsung terkulai lemas di lantai. Dan itu langsung di manfaatkan oleh mereka untuk mengambil kunci yang terletak di saku celana satpam itu.
Setelah mendapatkan kunci pagar rumah itu. Pria itu langsung membuka gerbangnya dan menyerukan rekannya untuk turun dari mobilnya, dan melancarkan aksinya.
Dia pria itu masuk ke kawasan rumah pak Dwi. Dan terus berjalan hingga sampai di depan pintu utama. Salah satu dari pria itu menekan bel rumah itu. Tak berapa lama, Amalia datang untuk membuka pintunya dan....
To be continued
__ADS_1
Puncak konflik ya...