Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Pengakuan


__ADS_3

Seorang pria sedang duduk di sebuah cafe garden,cafe yang terkenal di Jakarta. Pria itu tampak sedang menunggu seseorang. Tujuannya datang ke tempat itu adalah dia akan membuat sebuah pengakuan. Dia sudah tidak sanggup menanggung beban itu sendiri. Dia selalu di hantui rasa bersalahnya. Mungkin benar apa yang di katakan oleh ibunya untuk berkata jujur dan menyerahkan diri pada polisi. Tapi ada yang membuat pria itu ragu untuk melakukan apa yang ibunya sarankan. Jika dia di penjara, lalu siapa yang akan membiayai hidup ibu dan adiknya yang sekarang terbaring di rumah sakit. Itu yang menjadi pertimbangan bagi pria itu untuk melakukan kejahatan, dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Valentino. Tapi hati nuraninya bicara, dia harus mengakhiri kejahatan bos-nya yang


semakin merugikan korbannya. Terlebih kejadian penyekapan itu yang membuat dia yakin dengan keputusannya yang sekarang. Dia tidak mau ada korban lagi, atas kejahatan Valentino. Karena itu dia menghubungi Angga dan akan memberi tahu dimana Valentino menyekap istrinya.


Sudah hampir sepuluh menit dia menunggu kedatangan Angga. Tapi sepertinya yang di tunggu belum muncul juga. Akhirnya dia mengirim pesan lagi pada Angga dengan mengatakan kalau dia sudah ada di tempat yang ia sebutkan semalam. Lima belas menit kemudian, dua orang pria berjalan kearahnya dengan tatapan menyelidik. Dua orang pria itu seperti terkejut saat melihat dia ada di tempat itu.


"Kevin!!" seru Delon membelalakkan matanya. Sedangkan pria yang di sebutkan namanya hanya menunduk tak berani menatap wajah Delon. Betapa tidak, dia sudah mengkhianati persahabatan mereka. Dengan membantu Valentino agar terbebas dari hukuman, dan digantikan oleh sahabatnya itu sendiri.


Sementara Angga dan Delon, mereka langsung bergabung dengan Kevin. Selang beberapa saat, waiters datang menanyakan pesanan mereka. Angga menyebutkan dua buah minuman pada waiters itu. Setelah mencatat pesanan mereka, waiters itu kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanan mereka.


Kini mereka bertiga hanya diam. Suasana tegang mencekam ke tiganya. Mereka bermain dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Angga terlebih dahulu bersuara, "ada keperluan apa anda meminta saya datang ke tempat ini?" tanya Angga penuh selidik. Sedangkan Kevin, pria itu seperti kesulitan untuk menjawab pertanyaan Angga.


Kevin masih mencoba untuk menetralisir keadaan yang sangat mencekam baginya. Dia seperti seorang terdakwa di depan mereka berdua. Hingga dia menemukan celah untuk bersuara. "Sa-ya hanya ingin mengatakan kalau saya tahu dimana istri anda di sekap!" ucapnya terbata-bata.


Delon tertawa getir menanggapi ucapan sahabatnya itu. "Benarkah kamu akan memberi tahu kamu atau..." Delon memberi jeda kalimatnya. Bola matanya menatap penuh selidik pria di depannya itu. "Kamu hanya akan mengecoh kami..." lanjutnya,


Kevin bisa mengerti kecurigaan mereka berdua. Namun itu tak menyurutkan niatnya untuk berkata jujur pada mereka. Dia menatap wajah pria berambut belah pinggir itu. Seraya berkata, "saya tahu kamu tidak akan semudah itu percaya dengan saya. Tapi saya yang akan menjamin, bahwa apa yang saya katakan itu tidak bohong." Delon mencoba mencari tahu apakah pria itu berkata jujur atau tidak lewat tatapan matanya. Sesaat kemudian dia tidak menemukan kebohongan itu ada dimata pria itu. Hingga Kevin kembali bersuara, " saya tahu, saya sudah berbuat kesalahan pada kamu. Tapi.. percayalah, saya punya alasan khusus untuk melakukan itu. Tapi sekarang saya sadar, bahwa apa yang saya lakukan itu sudah sangat merugikan orang-orang yang tidak bersalah. Karena itu saya ingin menebus kesalahan saya dengan memberi informasi dimana Amalia di sekap."


Angga dan Delon saling pandang, hingga akhirnya sebuah isyarat yang di berikan Delon membuat Angga bertanya pada pria itu, "katakan dimana mereka menyekap istri saya." Valentino menceritakan di mana Amalia di sekap. Tak hanya itu, dia juga memberitahu cara dan trik untuk membebaskan wanita itu dari sekapan Valentino tanpa harus di ketahui oleh anak buah Valentino yang sedang berjaga di sana.


"Saya akan membantu kalian, ikuti instruksi saya nanti." Angga sedikit ragu dengan Kevin. Tapi tidak ada salahnya mencoba karena memang dia tidak memiliki pilihan lain untuk mengetahui dimana istrinya di sekap.


"Lon, saya minta maaf atas kejadian itu," ucap Kevin tulus menyesali perbuatannya. Delon menyunggingkan senyuman bersahabat pada pria itu. Dia sangat mengerti keadaan pria itu. Pada dasarnya, Kevin memang dalam keadaan terjepit. Hingga dia tega berbuat itu padanya.


"Saya sudah memaafkan mu. Terimakasih, karena kamu sudah mau memberitahu dimana adik saya berada." Kevin bisa tersenyum lega. Akhirnya dia bisa baikan lagi dengan sahabatnya itu.


Kevin mengulurkan tangannya pada Delon, sebagai permintaan maafnya. Tanpa menunggu lama lagi, Delon membalas uluran tangan Kevin. Kini mereka kembali bersahabat. "Kita sahabat," ujar Kevin menggerakkan tangan mereka. "Sahabat," balas Delon mereka tertawa lepas.


Pertemuan itu berakhir dengan terjalinnya lagi persahabatan di antara Delon dan Kevin. Mereka bertiga memisahkan diri. Angga dan Delon kembali ke apartemennya. sementara Kevin, dia kembali' ke tempat dimana Amalia di sekap untuk melancarkan rencananya.


Meskipun sudah tahu keberadaan istrinya, dan sedang membuat siasat untuk membebaskannya. Tapi perasaan Angga masih di liputi rasa kekhawatiran yang teramat dalam. Dia takut rencananya dengan Kevin tidak berhasil. Dan Valentino akan melukai Amalia.


Melihat kegusaran adik iparnya. Delon berusaha menyakinkan Angga kalau semuanya akan baik-baik saja dan rencananya akan berjalan dengan lancar.


"Ngga, lebih baik kamu hubungi polisi juga. Kita harus libatkan mereka. Karena lawan yang sedang kita hadapi ini orang yang licik." Delon mengusulkan itu, karena mereka harus mempunyai plain kedua, kalau sampai rencananya gagal."


"Iya, Kak. Angga sudah memberitahu polisi keberadaan Valentino dan gengnya. Angga juga sudah memberitahu rencana kita pada mereka."


"Semoga rencana kita berjalan lancar!"

__ADS_1


"Aamiin."


Kevin yang saat itu masih dalam perjalanan menuju tempat penyekapan Amalia, menghentikan motornya di sebuah kedai makanan cepat saji. Dia membeli beberapa makanan untuk anak buah Valentino. Setelah membeli beberapa kota pizza dan minumannya. Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Tapi belum sampai di tempat tujuan, motornya kembali berhenti di salah satu apotik yang ada di sana. Dia membeli beberapa obat bius tabur untuk melancarkan aksinya. Setelah mendapat obat itu, tak lupa ia bubukan kedalam makanan dan minuman yang ia bawa. Baru setelah itu dia memacu motornya menuju rumah penyekapan Amalia.


Sesampainya di rumah itu. Dia melihat hanya ada beberapa orang yang berjaga di sana. Sebagian lagi, mungkin ikut dengan Valentino. Kevin masuk ke rumah itu, dan menyapa teman-temannya, "hey brow! Ini gue beli makanan buat kalian." Kevin menunjukkan beberapa kantong plastik pada mereka. Tentu saja, mereka menyambutnya dengan antusias.


"Wah...ada angin apa nih, Lo bagi-bagi makanan hahaha..." sahut salah seorang preman itu. Dia hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kebetulan gue dapat sedikit rezeki. Gak ada salahnya kan berbagi sama kalian. Oh, iya yang lain kemana?" Kevin meletakkan kantong plastik itu di meja yang ada di sana.


"Biasalah, diajak bos party!!!" jawab preman yang membalas percakapannya.


"Oh.. gimana tawanan? apa dia sudah sadar?"


"Sudah...tapi kita bikin dia pingsan lagi..habisnya berisik."


"Ya udah, makan gih."


Harapan pria itu, anak buah Valentino tidak menaruh curiga padanya. Dan mau memakan makanan yang ia bawa. Kevin membuka kotak pizza itu, dan menunjukkannya pada mereka, "ayo dimakan!" ajaknya. Namun dia menjadi gerogi saat salah satu temannya meminta dia untuk makan terlebih dulu.


"Lo makan duluan, deh. Gua masih kenyang!" Kevin hanya bisa menelan Slavinanya, dan bersabar hingga mereka mau makan makanan itu.


Untuk menghindari kecurigaan mereka, Kevin mengajak ngobrol dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi haus. Salah seorang temannya berkata, "wah...kayaknya seger nih minumannya." Dia mengambil minuman itu dan langsung menyesapnya. "Beneran seger! Beli dimana Lo, Vin?" Melihat temannya begitu menikmati minuman itu, membuat satu orang lagi ngiler, ingin juga merasakan kesegaran minuman itu. Kemudian, dia mengambil satu cup minuman itu dan langsung menyesapnya.


"Oh, ini! Noh di ujung gang..," jawab Kevin tersenyum kemenangan. Rencananya berhasil, membuat mereka tertidur. Setelah itu Kevin mengirim pesan pada Angga untuk segera datang ke tempat yang sudah ia share tadi.


Dan benar saja, obat biusnya langsung bekerja. Tidak ada dua menit mereka sudah terkulai lemas di tempat itu. Kevin langsung menemui Amalia yang masih pingsan di ruangan lain. Dengan langkah buru-buru, dia menuju ke tempat itu.


Amalia duduk terikat dalam keadaan pingsan. Kevin mendekati Amalia, lalu membuka ikatan di tangannya, di mata, dan mulut Amalia. Setelah terbebas, Kevin menepuk-nepuk pipi Amalia, agar wanita itu bisa segera sadar. Dan mereka bisa langsung pergi dari tempat itu. Tapi Amalia tak sadar juga, akhirnya Kevin berinisiatif untuk membopong tubuh Amalia. Setidaknya membawa pergi sedikit menjauh dari tempat sambil menunggu Angga datang. Tapi sayang, pergerakannya harus berhenti saat Valentino dan kawan-kawannya datang dari pintu belakang.


"Oh, rupanya ada yang mau jadi pahlawan disini!" teriak Valentino membuat Kevin melonjak kaget. Dia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan datang secepat itu dan menggagalkan rencananya.


"Urus dia!!!" perintahnya pada salah satu anak buahnya.


Pria yang di perintahkan oleh Valentino itu, langsung mengajar Kevin hingga dia tidak berdaya. Suara gaduh itu membuat Amalia. sadar dari pingsannya. Wanita itu langsung gemetaran saat Valentino mendekat kearahnya.


"Wah...wah...selera Angga bagus juga. Cantik, kamu sangat cantik!!!" Valentino menyusuri wajah Amalia dengan jemarinya. Pria itu mengagumi wanita yang sedang duduk di bangku kayu itu. Amalia berusaha untuk memukul dengan tangannya. tapi sayang, Valentino lebih dulu menangkap tangannya dan di genggamnya erat hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Pantesan aja, suamimu begitu mencintai kamu. Sampai-sampai dia membebaskan orang yang sudah membunuh kakaknya." Amalia mencerna kata demi kata yang di ucapkan pria itu. Setelah sadar, dia begitu terkejut saat mengetahui bahwa Angga adik dari korban pembunuhan itu. Dan karena itu, kakaknya meringkuk di penjara selama sepuluh tahun.

__ADS_1


"Apa maksud dari ucapan kamu!!" Amalia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Valentino.


"Apa kamu memang bodoh, hingga di bodohi suami kamu sendiri. Dengarkan saya baik-baik. Korban pembunuhan itu adalah kakak ipar kamu. Dan kamu tahu, siapa yang membayar saksi itu agar tidak datang di pengadilan.... Dia adalah pak Dwi, mertua kamu!!!" Sekali lagi Amalia di buat tercengang dengan ucapan Valentino. Dia tidak menyangka, kalau pak Dwi adalah orang yang sangat di benci Papanya. Yang membuat dia terpukul, kenapa Angga menyembunyikan semua itu darinya.


"Tapi nasib kamu sekarang ada di tangan suami kamu. Kalau dia benar-benar mencintai mu, dia akan mencabut kasus itu dari polisi. Tapi jika dia tidak mencabutnya, siap-siap kamu yang akan menjadi korban selanjutnya. Hahahaha..."


"Ikat kembali wanita ini!" Dengan cepat anak buahnya mengikat tubuh Amalia.


Angga yang mendapat pesan dari Kevin langsung meluncur ke tempat penyekapan itu. Dia sudah mengatur beberapa strategi untuk meringkuk Valentino. Dia tidak sendiri. Delon, Niko, dan beberapa anak buahnya ikut menyelamatkan Amalia. Mereka juga di kawal oleh beberapa polisi.


Saat mereka tiba di tempat itu, Angga melihat ada beberapa mobil terparkir di sana. Salah satunya mobil sedan yang membawa Amalia pergi dari rumah. Ternyata benar apa yang di katakan Kevin, Amalia memang di sekap di tempat itu. Angga bisa melihatnya sebuah lubang yang terletak di dekat jendela. Ternyata plain pertama gagal. Yaitu membawa Amalia dalam keadaan anak buahnya tidak sadarkan diri. Terbukti Valentino dan beberapa anak buahnya masih berdiri di dekat Amalia.


Darah Angga begitu mendidih saat Valentino memegangi wajah Amalia. Hatinya terasa panas. Dia sudah tidak bisa melihat itu lagi, dan langsung melompat masuk ke sana. Diikuti oleh Niko, Delon dan anak buahnya.


"Wah....wah.. superhero kamu sudah datang." Valentino melepaskan tali yang mengikat Amalia. Setelah terlepas dia menarik paksa Amalia untuk berdiri, dan merangkulnya dari belakang dengan pisau yang mengalung di leher Amalia.


"Lepaskan istri saya!!!" teriak Angga lantang. Teriakan Angga mendapat senyuman remeh dari Valentino.


"Bukankah saya sudah memberi penawaran pada anda. Apa anda lupa!!!! Kalau anda lupa akan saya ingatkan kembali. Cabut kasus itu, atau..." Valentino semakin menggeser pisaunya hingga menyentuh kulit leher Amalia. Wanita itu hanya bisa gemetar menahan ketakutannya.


"Jangan coba-coba berani menyentuhnya atau!??" Ucapan Angga di potong oleh Valentino.


"Atau apa?????" Valentino menggeser kan pisaunya ke leher Amalia, sehingga kulit Amalia sedikit tersayat..dengan cepat darah merembes di sana..bersamaan dengan teriakan dari Amalia.


"Arghhhh hiks..hiks..."


Angga semakin memanas, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu kali saja kakinya melangkah, maka keselamatan istrinya akan terancam.


"Lepaskan dia.. saya akan menghubungi pengacara saya untuk mencabut kasus itu." Ucapan Angga membuat Delon menghela nafasnya kasar. Dia sangat menyanyangkan tindakan Angga yang terburu-buru.


To be continued


Apakah yang terjadi selanjutnya...


Apa Valentino akan begitu saja melepaskan Amalia dari cengkeramannya???


Siap-siap dapat kejutan dari author..


Dan sayang nya kejutan itu bikin kalian menangis pilu😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2