
Selang beberapa saat Angga kembali ke kamarnya dengan membawa segelas air bening di tangannya. Dia masuk secara perlahan, takut membangunkan putranya yang sepertinya sudah terlelap. Karena sudah tidak ada suara berisik lagi dari kamarnya. Setelah pintu terbuka, laki-laki yang terlihat masam itu berjalan mendekat di ranjangnya. Ternyata bukan cuma putranya yang sudah terlelap. Istrinya pun ikut terlelap. Menambah rasa kecewa dalam diri laki-laki itu.
Diletakkannya gelas itu di nakas, samping tempat tidurnya. Kemudian tatapannya beralih pada dua makhluk yang sudah berada di alam mimpi. Angga pun menyusul membaringkan tubuhnya disamping putranya. Kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. Namun mata laki-laki itu susah untuk di pejamkan. Entah pengaruh hasrat yang masih mengganjal dalam dirinya atau ada pikiran yang mengganjal di kepalanya.
Lama, dia disibukan dengan pikirannya yang entah tak tahu kemana arahnya. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah putranya. Makhluk kecil itu sangat mirip dengannya, tidak ada yang membedakan antara keduanya. Diusapnya lembut pipi bocah itu.
"Kamu adalah malaikat Ayah, sayang. Ayah tak ingin lagi jauh darimu. Ayah tidak bisa membayangkan, kalau suatu saat kita berpisah." Tanpa terasa bulir air bening sedikit menetes, namun tidak sampai jatuh. Angga begitu takut. Kalau suatu saat papanya akan memisahkan dirinya dari istri dan anaknya lagi.
Puas menandingi wajah anaknya. Tatapan Angga beralih pada seorang wanita yang masih terlihat cantik meskipun dengan keadaan terlelap. Wanita yang merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi. Wanita yang kini menyandang nama nyonya Angga Dwipangga. Laki-laki itu pun tak tahan untuk tidak memegang wajah istrinya. Seulas senyum terpancar dari wajah laki-laki itu kala teringat kejadian beberapa saat yang lalu. Wanita yang selama ini ia kenal sebagai wanita polos. Ternyata sekarang berubah lebih sedikit agresif. Membayangkan itu, membuat sesuatu dibawah sana terlihat berdiri tegak. Mencari tempat bersembunyi di sarangnya. Namun laki-laki itu tak cukup berani membangunkan istrinya yang sudah terlelap.
Dengan sedikit rasa kecewa Angga mencoba memejamkan matanya kembali. Mungkin karena hari semakin larut, membuat laki-laki yang memakai kaos polos dengan celana boxer itu akhirnya terlelap.
Suara kumandang adzan subuh pun sudah mulai terdengar. Mengusik telinga seorang perempuan yang sedang tidur memeluk anaknya. Matanya mulai ia buka perlahan. Yang pertama dilihat adalah putranya. Bergegas wanita itu turun dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya sebelum sholat subuh.
Udara dingin pagi itu tak menghentikan niatnya untuk melakukan mandi wajib. Meskipun semalam, malam pertamanya gagal. Tapi dia sempat mengeluarkan senggamanya. Karena itu wanita itu mengharuskan untuk mandi wajib. Usai mensucikan dirinya, ia pun keluar dari kamar mandi.
Langkahnya terhenti saat dia teringat kalau suaminya belum bangun dari tidurnya. Lalu di dekatinya laki-laki yang masih terlelap dibungkus selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian wanita itu menepuk pelan pundak suaminya seraya berkata, "sayang bangun. Kita sholat subuh berjamaah, yuk!" Tapi tak ada pergerakan dari suaminya. Membuat wanita itu harus melakukan ini.
Tanpa canggung lagi, Amalia mengecup bibir pria yang dicintainya itu. Agar segera bangun. Tapi bukannya membuka matanya. Pria itu menarik tangan istrinya hingga terjatuh pas di atas tubuhnya. Amalia berusaha melepaskan diri, tapi semakin Angga memeluk dirinya erat.
__ADS_1
"Sayang lepasin aku. Kita sholat dulu." Mata Angga pun terbuka. Pertama yang ia lakukan adalah tersenyum licik melihat istrinya yang kesulitan melepaskan dirinya.
"Sebentar lagi, ya!" serunya masih memandangi wajah istrinya. Membuat wajah istrinya tampak merah merona.
"Sayang ih..." Belum selesai wanita itu berbicara. Mulutnya sudah disumpal dengan bibir laki-laki itu. Hingga gairah keduanya mulai merasuk. Kecupan-kecupan itu pun berubah menjadi *******. Amalia pun menikmati permainan suaminya. Hingga suara anak kecil itu memaksa mereka harus menghentikan aktivitasnya.
"Ayah, Bunda kenapa?" Amalia langsung menarik diri dari atas tubuh suaminya. Angga langsung mangkir dari tidurnya.
"Sayang mandi sama Ayah, ya! Kita sholat berjamaah," ujar Amalia memberikan handuk pada suaminya. Angga pun hanya meringis melihat istrinya yang terlihat gugup.
Selepas sholat subuh berjamaah. Keluarga kecil itu memilih lari pagi bersama. Karena udara di sana masih sangat bagus. Masih banyak pepohonan dan jauh dari polusi. Bocah kecil yang tampak cemberut karena menunggu kedatangan bundanya, lantas di gendong oleh ayahnya. Agar tidak tambah merajuk lagi.
"Bunda lama, kita tinggal aja. Yuk yah!" Protes Azka yang sudah ada dalam gendongan ayahnya.
"Maaf ya sayang, Bunda lama. Buatin Azka susu dulu." Wanita itu memberikan dot itu ke tangan putranya.
"Ya udah ayo kita mulai larinya." Angga menurunkan anaknya dari gendongannya. Setelah itu mereka mulai lari pagi.
Mereka lari-lari kecil disekitar rumah mereka. Namun bocah yang memegang dot itu berhenti. Saat melihat buah melon yang berjajar rapi di area perkebunan melon itu.
__ADS_1
"Ayah bohong. Katanya mau ajak Azka ambil buah melon yang enak," tagih Azka pada ayahnya. Angga kemudian berhenti dan mendekati putranya.
"Ini masih pagi sayang. Belum buka. Nanti ya, agak siangan," tutur pria yang terlihat cool dengan baju olahraganya.
"Kita pulang aja kalau Azka tukang merajuk. Bunda gak pernah ajarin Azka jadi tukang merajuk gini Lo!" cetus Amalia yang sedikit kesal karena akhir-akhir ini anaknya lebih manja dari biasanya.
"Sayang, kok Azka nya dimarahi," sahut Angga tidak suka kalau anaknya dimarahi oleh istrinya.
"Iya, habisnya aku kesel sayang. Azka dulu nggak manja gini Lo! Sebelum bertemu kamu. Sekarang, dia lebih manja. Nurun Ayahnya." Angga langsung menggendong putranya agar tidak menangis karena di marahi istrinya.
"Tapi gak gitu juga dong sayang. Dia kan masih kecil. Kasihan kalau dimarahi begini," bela pria itu sedikit kesal pada istrinya.
"Kamu jangan galak-galak dong dengan Azka," lanjutnya. Amalia bisa tahu kalau suaminya tidak suka anaknya dimarahi.
"Bela aja terus Mas. Nanti kebiasaan." Sekarang Amalia yang merajuk dan meninggalkan suami dan putranya.
Selama ini Azka memang diajarkan tidak manja oleh bundanya. Karena Amalia tahu, posisinya yang single parents akan kesulitan jika anaknya tumbuh menjadi anak yang manja. Tapi semenjak bertemu dengan ayahnya, Azka memang sedikit berubah menjadi lebih manja. Apa-apa merajuk kalau tidak dituruti. Amalia mendidik anaknya memang sedikit keras. Dia tidak mau anaknya menjadi anak yang lembek. Apalagi mengingat statusnya waktu itu. Anak diluar nikah. Suatu saat, akan ada yang menggunjingnya karena statusnya itu.
Angga kemudian mengejar istrinya begitu saja pergi meninggalkan dia dan anaknya. Saat dia sedang akan melangkahkan kakinya. Terdengar seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
"Kak Angga!"
To be continued