Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Bukan malam pertama


__ADS_3

Angga dan Amalia berhenti sejenak, kala suara anaknya menyerukan namanya. Setelah ayah bundanya berhenti, bocah itu lari menghampiri mereka berdua.


"Ayah, Bunda. Hati-hati ya! Cepetan bikinin adik nya Azka," cetuk bocah berusia hampir tiga tahun itu. Bocah itu seakan tahu, tujuan Ayahnya menitipkan dirinya di tempat neneknya. Angga tersenyum getir mendengar ucapan anaknya itu. Tersirat rasa bersalah dalam hatinya.


"Sayang, beneran mau tinggal disini? Nggak ikut pulang, aja?" tanya Angga mendekatkan wajahnya ke arah anaknya. Bocah itu menggeleng, setelah itu dia mendekatkan mulutnya ke telinga ayahnya.


"Ayah, jangan nakalin Bunda, ya?" bisik Azka membuat Angga merinding. Setelah itu lari dari tempat ayahnya. Melihat hal itu, Amalia mengangkat sebelah alisnya.


"Azka ngomong apa, Sayang?" tanya ibu muda itu pada suaminya. Angga menggeleng dan tergelak melihat istrinya ingin tahu apa yang dibisikkan anaknya dengan dirinya.


"Nanti aku kasih tahu, kalau sudah sampai dirumahnya," bisik Angga mendapat cubitan mesra dari istrinya.


"Sakit sayang, kamu selalu menggodaku. Gak malu dilihat mana sama papa, ada Azka juga, Lo!" Angga memegangi pinggangnya yang di cubit istri. Melihat kemesraan anak dan menantunya membuat kedua orang tua Amalia tergelak.


Pasangan ibu muda dan hot daddy itu kemudian pamit kembali dengan nenek dan kakeknya Azka. Mereka benar-benar meninggalkan anaknya di rumah pak Sapta. Merasa rencananya berhasil, Angga sangat bersemangat melajukan mobilnya agar cepat sampai. Cara menyetir Angga membuat histeris istrinya. Karena bukan cuma sekali mereka hampir menabrak pengguna jalan lainnya. Sampai-sampai mereka mendapat hujan umpatan dari pemilik kendaraan yang hampir ditabrak mobil Angga.


"Sayang, hati-hati. Dong!" keluh Amalia, namun bukannya memperlambat mobilnya. Angga malah semakin melajukan mobilnya dengan kencang.


Mereka sampai juga di rumah. Amalia langsung turun tidak menunggu Suaminya membukakan pintu mobilnya terlebih dulu. Dia masih kesal dengan suaminya. Karena tidak mau mendengarkan kata-katanya. Melihat hal itu, Angga langsung mengejar istrinya.


"Sayang! Sayang! Tunggu dong!" teriaknya sedikit berlari mengejar istrinya. Amalia bahkan tidak menoleh sedikitpun kearah suaminya. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketakutan.


"Sayang!" Angga menarik tangan Amalia, seketika langkah Amalia berhenti.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Marah sama aku?" Angga sudah mulai terlihat frustasi melihat istrinya cemberut seperti itu.


"Pake nanya segala! Lagian, kamu kenapa nyetir mobil kencang-kencang gitu!" gerutu Amalia. Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia terlihat cengengesan menanggapi pertanyaan istrinya.


"Sayang, dengerin aku. Aku ngelakuin itu. Supaya kita biar cepat sampai rumah. Aku sudah gak sabar pengen EA EA sama kamu," jelas Angga seketika membuat wajah istrinya memerah.


Mendengar suara mobil majikannya, Bu Mina bergegas membukakan pintu untuk majikannya. Setelah pintu terbuka Amalia dsn Angga masuk kedalam, sebelumnya dia menyapa assisten rumah tangganya terlebih dahulu. Setelah itu mereka menuju ke kamar atas.


Saat sudah ada di dalam kamarnya. Amalia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, kini giliran Angga yang masuk ke kamar mandi.


Usai mandi, Angga menuju ke ranjang menghampiri istrinya yang sudah ada di sana. Ia melirik tubuh istrinya. Wanita itu memakai gaun tidur bertali spaghetti, hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang aduhai. Melihat pemandangan itu, seketika darahnya berdesir hebat.


Seketika Angga menarik tengkuk Amalia dan membungkam mulut istrinya itu. Lenguhan pelan mulai terdengar. Angga tersenyum disela ciumannya karena Amalia tanpa canggung membalas perlakuannya dengan tak kalah hebat. Mungkinkah ini efek rindu yang memuncak di antara keduanya?


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Angga dengan suara serak. Wanita itu mengangguk pelan.


Malam yang terasa dingin itu sama sekali tidak dirasakan oleh kedua insan yang sedang terbakar gairah. Lengkuhan dan desahan menghiasi kamar pengantin baru itu. Angga benar-benar menuntaskan hasratnya malam itu. Tak cukup sekali, dia menanamkan benihnya di rahim istrinya. Mereka melakukan itu lebih dari tiga ronde. Hingga wajah Amalia terlihat pucat, barulah Angga menghentikan aktivitasnya.


Dia benar-benar bahagia. Malam itu menjadi malam yang indah buat Angga. Setelah kejadian empat tahun lalu. Kini hasratnya kembali bergairah, dan itu hanya bisa ia rasakan saat bercinta dengan Amalia.


Keesokan paginya, usai melaksanakan sholat subuh. Amalia kembali ke ranjangnya lagi. Badannya benar-benar seperti tertabrak kereta api. Tulang-belulangnya terasa remuk seperti sedang mendorong tronton yang sedang mogok. Melihat hal itu, Angga tak tinggal dia. Dia beranjak menuju kedapur membuatkan susu jahe untuk istrinya.


Segelas susu jahe hangat di bawa oleh Angga ke kamarnya lagi. Segera ia berikan susu jahe itu pada istrinya.

__ADS_1


"Sayang, minim ini! biar badanmu enakan." Amalia pun mengambil gelas berisi susu jahe itu kemudian menyesap minuman itu. Benar saja, setelah minum minuman itu badan Amalia sedikit lebih baik.


"Maaf ya, sayang. Aku membuatmu lemes begini!" ujar Angga merengkuh tubuh istrinya.


"Aku kelepasan. Habisnya, tubuhmu itu candu untukku."


"Ya memang harusnya begitu. Aku gak mau, kamu sampai melirik wanita lain. Kalau itu sampai terjadi, ku potong burungmu ini." Amalia mengarahkan tangannya ke bagian sensitifnya Angga. Dengan reflek Angga memegangnya sembari menelan Slavinanya.


"Ya ampun sayang, kalau dipotong nanti aku gimana?" tanya Angga dengan wajah memelas.


"Karena itu kamu jangan macem-macem, sayang. Awas aja kalau itu sampai terjadi. Aku gak akan memaafkan mu," ancam Amalia, Angga pun bergidik. Sepertinya ancaman istrinya itu tidak main-main.


"Aku janji sayang. Itu tidak akan pernah terjadi. Karena kan kamu tahu, tole gak mau berdiri kalau gak masuk ke gua kamu," Amalia pun tergelak karena ucapan Suaminya itu.


"Kesalahan apapun akan aku maafkan. Tapi tidak dengan yang satu itu." Sepertinya Amalia masih terbayang dengan masa lalu Angga yang tidak puas menjalin hubungan dengan satu wanita. Sehingga wanita itu bicara seperti itu. Ada sedikit ketakutan dalam diri Amalia. Kalau penyakit suaminya akan kambuh suatu saat nanti. Sehingga sebelum itu terjadi, dia sudah lebih dulu mewanti-wanti Angga.


Pagi itu mereka habiskan hanya di dalam kamar. Bahkan makan pun, Angga yang mengambilnya di dapur. Hari itu, Angga memperlakukan istrinya bak ratu, ke kamar mandi saja Angga temenin. Melihat istrinya yang berjalan seperti pinguin itu, membuat dia tidak tega melakukan aktivitas apapun.


"Sayang kamu lucu, deh! Jalan aja kayak pinguin gitu!" Amalia langsung menatap tajam kearah Suaminya.


"Aku kayak gini karena siapa?" Angga tergelak.


"Udah jangan ngambek, dong." Di sela obrolan mereka, Bu Mina mengetuk pintu kamar mereka mengabarkan kalau ada yang mencari Angga.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2