Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Belum saatnya


__ADS_3

Setelah mengetahui tersangka pembunuh anaknya adalah orang yang sama dengan putranya Bu Rosa. Pak Dwi menyusun rencana agar, Bu Rosa mau memberikan informasi tentang keberadaan anaknya, alias Valentino.


Pak Dwi kembali ke kamar Bu Rosa. Wanita itu masih terisak, sementara suaminya bukannya memberi dukungan. Dia justru sibuk dengan ponselnya. Apa yang di kerjakan oleh suami bu Rosa, sangat mencurigakan. Hingga membuat Pak Dwi ingin tahu, apa yang sedang di lakukan dengan ponselnya


"Ibu Rosa yang sabar! Terus sekarang putranya Ibu ada di mana?" tanya pak Dwi dengan nada prihatin.


Tanpa menaruh curiga, Bu Rosa pun memberi tahu di mana Valentino bersembunyi. Namun saat dia ingin mengucapkannya, tiba-tiba di potong oleh suaminya.


"Dia ada di tempat yang aman, pastinya. Iya, kan Ma?" Kini tatapan suami Bu Rosa beralih pada wanita yang terlihat menyedihkan. Pria itu seperti memberi isyarat agar tidak mengatakan keberadaan putranya.


"Oh begitu, tapi kalau masih di sekitaran kota ini. Mungkin polisi akan lebih mudah menemukannya," pancing, Pak Dwi lagi.


"Dia sudah gak ada di Jakarta," ucap Bu Rosa keceplosan.


Pak Dwi menyunggingkan senyumannya, saat mengetahui informasi yang tidak sengaja di ucapkan Bu Rosa.


"Sudahlah, Ma. Mama gak usah sedih lagi. Maaf Bu Renata dan Pak Dwi, Sepertinya istri saya perlu istirahat. Maaf bukannya mengusir, tapi saya ucapkan terimakasih atas kunjungannya," ucap Laki-laki paruh baya dengan muka sedikit sangat itu.


Pria itu berjalan mendekati istrinya yang masih terisak di pelukan Bu Renata. Melihat suami sahabatnya sudah ada di samping Bu Rosa. Akhirnya, Bu Renata merenggangkan pelukannya. Kini Bu Rosa sudah tidak lagi menyender di bahu Bu Renata.


Bu Renata menarik dirinya dari ranjang tentang dia duduk tadi. Setelah itu berpamitan pada sahabat dan suaminya. Apalagi dari gelagatnya suami sahabatnya tidak menyukai kehadiran mereka disana.


Setelah berpamitan dengan tuan rumah. Pak Dwi dan Bu Renata keluar dari rumah itu. Tapi saat mereka akan masuk mobil, pak Dwi seperti mendengar seseorang yang sedang berbincang, di halaman rumah itu. Tanpa menunggu lama lagi, Pak Dwi mencari sumber suara itu. Dan ternyata benar, ada satu orang pria yang bertubuh besar sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Pria itu menyebut-nyebut kota Malang. Dari nada bicaranya, pria itu sedang berbincang dengan Valentino. Mungkin pria itu adalah orang suruhan pembunuh Adi untuk membantunya kabur.


Dari situ, Pak Dwi bisa menyimpulkan. Kalau Valentino masih ada di Jakarta, dan akan menuju ke kota Malang. Tanpa sepengetahuan pria itu, pak Dwi menguping hingga pembicaraan mereka selesai. Sebelum pria itu menyadari keberadaannya. Pak Dwi terlebih dulu pergi dari tempat persembunyiannya menuju ke mobilnya. Tak hanya itu, psk Dwi langsung masuk kedalam, dan menancapkan gas mobilnya agar bisa cepat memberi informasi pada putranya.


"Pa, Papa kenapa terlihat sedang ketakutan begitu?" tanya Bu Renata saat suaminya sedang mengemudikan mobilnya.


Mendengar hal itu, membuat pak Dwi bergidik kaget. Tak ingin membuat istrinya curiga akhirnya dia mencari alasan yang tepat. "Papa hanya capek, Ma," kilahnya.

__ADS_1


"Capek?" Pak Dwi menoleh kearah istrinya. "Papa, kan seharian cuma di rumah. Gak ngelakuin aktivitas yang berat, kok capek. Apa ada yang Papa tutup-tutupi, ya!" lanjut Bu Renata. Membuat pak Dwi mengerutkan keningnya. Istrinya memang sulit untuk di bohongi, semenjak dia ketahuan selingkuh dengan sekertarisnya dulu.


"Pa, apa Papa punya wanita simpanan lagi?" tuduh Bu Renata, semakin membuat pak Dwi bingung untuk menjelaskan semuanya.


"Kok Mama mikirnya kayak gitu. Papa kan udah insaf, Ma. Udah ya jangan mikir aneh-aneh lagi. Papa gak mungkin khianati Mama lagi. Mama wanita satu-satunya yang ada di dalam hati Papa saat ini," rayu pak Dwi, membuat istrinya melengos.


"Halah gombal."


"Udah, ya jangan marah lagi. Malu sama menantu dan cucu kita." Mereka tergelak.


Semenjak kehadiran Azka dan Amalia. Sedikit banyak merindu sifat suaminya. Pria itu lebih hangat dan perhatian lagi dengan Bu Renata. Apalagi, sosok pak Dwi yang arogan. Rasanya sulit untuk merubah itu. Tapi takdir, merubah segalanya melalui wanita setulus Amalia. Dan anak selucu Azka.


Mereka sampai juga di rumah. Bu Renata langsung masuk ke kamar. Sementara pak Dwi, dia lebih memilih masuk ke ruang kerja Angga.


Saat sudah ada di ruang kerjanya, Pak Dwi mengirim pesan pada Angga untuk menemuinya di ruang kerja.


Amalia yang melihat itu langsung bertanya,"ada apa, sayang?" Amalia penasaran dengan siapa yang mengirim pesan suaminya. "Apa ada masalah?" lanjutnya lagi.


Angga mengelus dagunya, dia masih bingung kenapa papanya memanggilnya di ruang kerja. Apa mungkin ada hubungannya dengan kasus itu. Jika iya, apa yang akan di katakan pada Amalia. Angga hanya takut, akan mencurigainya.


"Papa panggil aku, ke ruang kerja!" Amalia sedikit terkejut, dan merasa takut jika ada masalah lagi dengan suaminya. Terkait Pak Dwi memanggilnya di ruang kerja.


"Ada apa, papa panggil kamu, sayang?" Angga menggeleng.


"Apa kamu berbuat kesalahan?"


"Nggak sayang, ya udah aku ke ruang kerja dulu ya."


Angga ke ruang kerja untuk menemui papanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Angga saat sudah berada di dalam ruangan itu. Kemudian dia mendaratkan tubuhnya di kursi tepat di seberang papanya duduk.


"Papa punya petunjuk penting terkait Valentino!" Angga sedikit membenarkan posisi duduknya.


"Apa, itu Pa?"


"Dia masih di Jakarta, Ngga. Tapi dia akan kabur ke Malang. Lebih baik kamu tugaskan anak buah kamu untuk menjegal, Valentino. Tugaskan mereka di Bandara. Malam ini juga!" saran pak Dwi.


"Papa yakin, informasi ini akurat?"


"Papa yakin!"


Tak lama setelah itu Angga menghubungi anak buahnya untuk melakukan tugasnya sesuai saran dari papanya. Harapan Angga hanya satu, Valentino harus segera tertangkap.


"Ngga, apa rencana kamu pada Delon?" kini topik pembicaraan mereka beralih pada Delon. Sesuatu yang mengganjal di benaknya sedari siang tadi, akan di ungkapkan malam itu oleh Pak Dwi.


"Besok, rencananya Angga akan mengantar kak Delon ke Bogor menemui orangtuanya. Mungkin, kak Delon akan menginap beberapa hari di sana," terang Angga.


"Tapi setelah itu, Angga meminta kak Delon untuk bergabung di perusahaan kita, Pa," lanjut Angga. Sedikit perasaan lega meliputi hati Pak Dwi. Paling tidak dia bisa menebus kesalahannya di masa lalu dengan Delon bekerja di perusahaannya.


"Syukurlah kalau begitu. Itu juga yang papa harapkan. Pertemukan Papa dengan Delon. Papa ingin minta maaf secara langsung padanya," ujar Pak Dwi. Angga tersenyum senang. Karena sifat buruk papanya sudah tidak lagi terlihat di diri Pak Dwi. Pribadinya yang keras kepala, sekarang perlahan melunak.


"Iya, Pa. Setelah kak Delon pulang dari Bogor. Angga akan pertemuan papa dengannya."


"Kenapa Nggak besok aja. Sekalian Papa ingin bertemu dengan Sapta."


Duggg...Angga tiba-tiba diam. Belum saatnya papanya bertemu dengan mertuanya. Karena masih ada rahasia yang belum di ungkap oleh Angga. Angga belum siap mempertemukan mereka berdua. Mengingat pak Sapta sangat membenci orang yang menjebloskan Delon ke penjara. Di tambah lagi Amalia, dia belum tahu kalau papanya yang membuat keluarganya menderita.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2