
"Assalamualaikum, dengan siapa saya bicara?"
"Am, ini aku Afdal. Gimana kabarmu dan nenek?"
"Afdal?? Kamu ganti nomor ya!"
"Iya handphone aku hilang, ini handphone baru. Untung aku dapat nomor kamu dari medsos kamu. Hehehehe"
"Kamu gimana disana? Udah mulai kerja?"
"Hmmm, iya besok aku udah mulai masuk kerja. Kamu sendiri gimana Am, lancar kan bisnisnya?"
"Alhamdulillah, kan baru buka juga. Jadi harus telaten dan sabar. Kamu disana jaga diri baik-baik ya?"
"Ok, kamu juga ya!"
Usai berbincang dengan Afdal lewat telpon, Amalia menghampiri pelanggan nya yang sedang memilih-milih barang dagangannya.
**"****"****"***"****"*
Keesokan harinya Di sebuah ruangan kantor. Tampak seorang pria yang memakai jas merah sedang berdiri di dekat jendela. Pandangannya berpusat pada gedung-gedung tinggi menjulang di angkasa. Sesekali dia mengembuskan napasnya panjang. Seakan ada beban dalam dadanya.
Sebuah ketukan menyadarkan lamunannya. "Masuk," perintahnya pada seseorang yang ada di balik pintu.
Tampak Niko dan seorang pria muda berjalan mendekatinya.
Angga kemudian kembali duduk di kursinya. Begitupun juga dengan Niko dan pria itu.
"Saya akan mengenalkan menejer produksi yang baru pada Bapak."
"Beliau ini adalah Pak Afdal, pegawai PKL yang sekarang menggantikan pak Dimas," ujar Niko memperkenalkan pria yang ia bawa pada atasannya itu.
"Selamat pagi Pak Angga," sapa Afdal pada bosnya itu.
"Selamat pagi, selamat bergabung di perusahaan kami. Semoga anda betah bekerja di sini," balas Angga pada karyawan barunya.
Mereka berbincang-bincang mengenai produk yang sekarang ini sedang akan di luncurkan oleh perusahaan Angga. Kebetulan produktivitas baru mencapai 30% dari target. Jadi Angga berharap banyak di bawah kepemimpinan Afdal bisa meningkatkan jumlah produksi nya. Mengingat banyak permintaan pasar yang beredar saat ini.
Di sela-sela obrolan mereka. Tangan Angga tidak sengaja menyenggol bingkai foto yang ada di depannya. Sehingga membuat bingkai foto itu jatuh kelantai. Afdal bisa melihat dengan jelas foto yang ada didalam bingkai tersebut.
"Itu kan foto Amalia. Ada hungan apa Pak Angga dan Amalia," batin Afdal sedikit merasa bingung. Tapi dia tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu pada atasannya. Dia tidak mau terlalu mengurusi masalah pribadi orang lain. Apalagi itu adalah bosnya.
Untung bingkai foto itu tidak pecah. Dengan sigap, Niko mengambil bingkai foto itu dan meletakkan kembali ketempat yang tadi.
__ADS_1
********
Usai meeting dengan klien Angga merasa ngantuk berat. Dia berencana akan mampir ke cafe shop yang lagi viral di medsos sebelum kembali ke kantor sekalian makan siang. Angga sudah menawarkan pada Niko untuk ikut dengannya. Namun Niko menolaknya dengan alasan dia ada urusan dengan seseorang. Akhirnya Angga hanya seorang diri pergi ke cafe shop itu.
Saat dia masuk kedalam, dia melihat sosok yang tak asing untuk dirinya. Seulas senyuman terpancar dari bibir Angga melihat sosok itu. Andin sahabatnya, sedang duduk melamun sembari mengaduk-aduk minuman yang ada dihadapannya. Angga menghampiri wanita itu.
"Ndin, Andin!" Seru Angga yang berdiri di hadapan wanita itu. Namun sepertinya wanita itu tak mendengar ucapan nya.
Angga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang terlihat murung. Tangan jahilnya kemudian mengambil minuman yang sedari tadi belum di sentuh oleh pemiliknya.
Angga meminum hot latte yang ada dihadapan Andin. Sontak membuat pemiliknya mendongakkan kepalanya, mencari siapa yang meminum, minumannya.
"Angga." Terdengar suara Andin menyebut namanya. Angga hanya bisa terkekeh melihat ekspresi sahabatnya itu. Angga kemudian meletakkan minuman itu kembali kemeja, dan duduk tepat
diseberang wanita berparas cantik itu.
"Kasihan minumannya dari tadi lirik-lirik aku minta diteguk," ujar Angga membuat wanita bernama Andin mendelik sebel melihat tingkahnya.
"Asik bener melamunnya. Ngelamunin apa, sih? Pacar?" tanya Angga sembari menarik tissue kemudian menyapukannya di area bibirnya untuk membersihkan jejak-jejak minuman di sana.
"Dih, sembarangan." Andin menarik diri dan menyandarkan tubuhnya. "Siapa juga yang ngelamun."
"Jangan mengelak! Kakiku hampir kram berdiri di sampingmu, menunggumu sadar akan kehadiranku."
"Ngapain kamu ke sini?" Andin mengalihkan topik.
"Berenang!" Andin membisu, menatap tajam ke arah Angga hingga membuat pria itu kembali tergelak. "Makan lah. Memangnya kesini mau apa lagi. Dasar aneh."
Angga melambaikan tangannya, memanggil wanita berkerudung biru dengan seragam khas cafe tersebut.
"Kamu mau makan apa?" Angga sibuk membolak-balik buku menu yang ada di tangannya. Kemudian menoleh ke arah pelayan dan menunjuk sebuah menu yang tertera di sana.
"Nggak ah. Aku mau minum aja." Pun Andin melirik juga ke arah pelayan. "Mbak, saya pesan es thai tea saja."
"Baik, Mbak?" Pelayan itu mengangguk kemudian mencatat pesanan Andin. "Itu saja?" tanyanya memastikan.
Nyaris saja Andin hendak menjawab sang pelayan, namun tertahan ketika Angga sudah lebih dulu berkata, "samakan saja pesanan dia dengan pesanan saya."
"Aku tidak lapar, Angga," bantah Andin cepat.
"Walau tidak lapar, kamu harus makan. Lihat tubuhmu itu. Kurus, tidak seperti pertama kali aku bertemu denganmu di pesta."
Andin menegakkan tubuhnya sembari menunjuk dirinya. "Dari dulu tubuhku memang begini."
__ADS_1
Mereka terus saja berdebat hingga membuat pelayan itu sedikit kesal.
"Bagaimana, Mas? Jadi pesanannya?" sela pelayan tersebut.
"Iya." Tegas Angga berkata hingga membuat Andin menghela napas dan kembali menyandarkan tubuhnya.
"Nah, 'kan! Melamun lagi." Suara Angga disertai gebrakan di meja terasa meledak ditelinga Andin.
"Apa, sih!"
Seorang pelayan kembali datang dengan membawa nampan berisi pesanan dan mulai meletakkannya di atas meja mereka.
"Ayo kita makan dulu. Biar kuat melamunnya."
Angga tergelak dengan ucapannya sendiri sementara Andin hanya mendengkus. Sebelum akhirnya mereka menikmati menu makan siangnya.
"Kamu tuh, mikirin apa? Pacar kamu selingkuh? Udah gih! Putusin aja. Kamu itu cantik dan terlalu berharga untuk disia-siakan." Angga membelah keheningan yang beberapa saat lalu membungkus keduanya.
Andin meletakkan garpu dan pisau steak di sisi kanan dan kiri piringnya. "Terus saja berasumsi yang tidak-tidak tentangku. Kamu kira aku lagi mikirin seseorang? Buang-buang waktu, tau nggak!" elak Andin geram.
"Itu buktinya."
"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya lagi," putus Andin. "Sekarang ceritakan tentangmu. Apa sekarang kamu masih hobby gonta-ganti pacar?" Andin kembali melanjutkan makannya.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku bukan Playboy. Aku hanya memberi mereka training biar kelak tidak salah dalam memilih pria."
"Hei, Ciripa! Itu sama saja. Dasar bodoh."
Melihat wajah kesal Andin, Angga semakin bersemangat menjahili wanita itu.
"Aku sudah insyaf. Tidak pernah mempermainkan wanita manapun semenjak ...." Angga tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Raut wajahnya tampak frustasi. Angga tampak melamun membuat Andin mengerinyitkan keningnya.
"Semenjak apa?"
"Ehm ... Tidak ada. Tapi serius aku sudah tidak seperti dulu."
"Cieee ... Playboy insyaf nih, judulnya?"
"Terserahlah kamu mau menyebutku apa," ucap Angga. "Oh iya, aku tidak percaya, wanita cantik sepertimu belum memiliki kekasih."
"Mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Tapi yang pasti, aku belum memiliki kekasih." Andin menekankan kalimatnya.
Siang itu mereka habiskan dengan makan siang bersama dan Angga sesekali menggoda Andin. Dengan seperti itu, dia bisa sedikit melupakan masalahnya.
__ADS_1