
Angga terkejut saat papanya mendekat kearah dia dan melihat artikel yang sedang dia baca. Dia tidak mau papanya tahu, masalahnya sekarang.
"Gak sengaja kebuka, Pa!" kilahnya, langsung menutup labtobnya. Pak Dwi menjauh dari Angga dan duduk tepat di seberangnya.
"Papa, akhir-akhir ini mimpiin Kakak mu. Dia tertawa lepas di sana. Papa jadi khawatir, apa mungkin urusannya di dunia belum selesai. Jadi dia memberi petunjuk agar Kita tahu." Kata-kata papanya membuat Angga seperti sedang berfikir. Apa mungkin ini petunjuk, kalau orang yang membunuh Kakaknya bukan Delon Saptaradja, kakak dari istrinya.
"Papa yakin, apa yang Papa katakan itu?" tanya Angga penasaran.
"Iya, Papa juga bingung kenapa baru sekarang kakakmu muncul di mimpi Papa." Angga semakin yakin akan menyelidiki ulang kasus kakaknya. Tapi dia belum menemukan petunjuk apapun dari itu.
"Ngga sebaiknya kamu, beritahu langsung rencana resepsi pernikahan kamu ke mertuamu. Tidak enak kalau kamu mengabari lewat telpon," usul Pak Dwi pada anaknya.
"Pa, Angga minta waktu, ya! Resepsinya di undur dulu, sampai urusan Angga selesai," jelas Angga mengutarakan niatnya. Bukan dia tidak mau melakukan apa yang di minta orang tuanya. Tapi dia ingin lebih menyekinkan lagi, dirinya agar tidak salah membenci istrinya. Bukan membenci tapi, setengah hati.
"Kalau itu, kamu bicarakan langsung dengan Mamamu. Papa gak tahu urusannya. Mamamu yang mengurus semua. Kamu kenapa? Papa perhatikan, sikapmu begitu dingin pada istrimu? Ada masalah?" cecar pak Dwi sontak membuat pemilik tubuh atletis itu dia.
Apa begitu kelihatan, perubahan sikapnya terhadap istrinya? Sampai-sampai papanya bertanya seperti itu.
"Angga gak ada masalah kok, Pa. Kamu baik-baik saja," kilahnya menutupi kebohongannya.
"Ya sudah Papa pergi dulu." Pak Dwi meninggalkan anaknya sendirian di situ.
Sekelibat terlintas di benak Angga, kisah cintanya yang begitu rumit. Terus sekarang saat mereka sudah bersatu, dia justru membuat istrinya kecewa. Tidakkah ingat perjuangannya untuk bersatu dengan istrinya. Bahkan takdir dengan sengajanya mempertemukan mereka saat manusia menganggapnya itu mustahil. Terbesit rasa bersalahnya sudah memperlakukan istrinya seperti itu.
'apa aku sudah kelewatan dengan kamu, sayang.'
__ADS_1
Angga langsung bergegas menemui istrinya. Tapi saat dia mencarinya di kamar, Amalia tidak ada di sana. Lalu Angga turun kebawah menuju dapur. Di sana juga tidak ada keberadaan istrinya. Angga mulai frustasi saat di ruang tamu bahkan di taman istrinya pun tidak ia temukan. Dia berhenti di ruang keluarga. Di sana pak Dwi sedang, menonton televisi . Melihat anaknya mematung di sana. Lantas membuat pria paruh baya itu bertanya.
"Kamu kenapa berdiri disitu?" Angga langsung mendekati papanya dan menanyakan keberadaan Azka dan Amalia.
"Pa, Papa lihat Amalia dan Azka nggak?" Pria paruh baya itu bergedik melihat anaknya yang sudah mulai frustasi.
"Tadi di taman, main bareng sama anak mu!" jawab pak Dwi sesuai yang ia lihat tadi.
"Nggak ada Pa, Angga sudah dari sana. Tapi mereka tidak ada di sana." Angga menatap kearah pintu masuk, antara ruang tamu dan ruang keluarga. Perhatian beralih pada seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong anaknya disusul istrinya di belakang. Angga langsung bernafas lega karena yang dicari sudah ada di depannya.
"Ayah! Ayah udah bangun?" Pertanyaan putranya membuat Angga menatap kearah istrinya, mencari jawaban dari wanita itu. Tapi wanita itu beralih menatap arah lain.
"I-ya sayang,' jawabnya terbata. Dia mengira istrinya tengah membohongi anaknya untuk menutupi perubahan sikapnya.
"Azka dari mana, Nak?" lanjut Angga kemudian bertanya pada anaknya.
"Ini semua gara-gara kamu. Azka sampai nangis kepingin main sama kamu. Tapi kamu, sibuk. Jadi Mama ajak dia jalan ke Mall Deket sini," jawab Bu Renata menurunkan cucunya dari gendongannya.
"Maaf, Ma. Angga memang benar-benar sibuk. Jadi gak bisa main bareng sama Azka. Sayang, Azka main dulu ya sama Nenek. Ayah mau ngomong sama Bunda," ujar Angga menatap wajah anaknya setelah itu beralih ke mamanya.
"Iya, Yah." Azka langsung nemplok lagi, ke neneknya.
Merasa harus bicara dengan istrinya, dia mengajak Amalia menjauh dari tempat itu. Dia mengajaknya ke kamar. Angga gak mau masalah ini menjadikan hubungannya dengan istrinya merenggang. Dia sudah salah, karena bersikap dingin pada wanita itu.
Amalia hanya menuruti kemana suaminya mengajak nya pergi. Dia juga tidak bersuara atau sekedar bertanya kemana. Saat merasa di cuekin dengan suaminya. Dia lebih menjaga jarak dari Angga. Meskipun dalam hati bertanya. Tapi dia enggan bertanya duluan dari Angga. Sekali pertanyaannya tidak di hiraukan. Dia malas untuk bertanya lagi.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf ya!" Akhirnya kata-kata itu lolos dari bibirnya setelah beberapa saat mereka hanya diam. Mendengar hal itu tak lantas membuat wanita itu luluh. Dia sengaja mengambil alih peran Angga tadi. Agar memberi pelajaran suaminya itu.
"Maaf untuk apa?" Menyebut namanya saja tidak ia lakukan.
"Maaf karena aku sudah bersikap dingin sama kamu," sambung Angga memegang kedua tangan istrinya.
"Oh," Jawab Amalia singkat.
"Oh?" Angga menaikan kedua alisnya.
"Cuma itu," lanjutnya menatap wajah istrinya. Wanita itu seperti biasa-biasa saja menanggapi permintaan maaf darinya. Tidak ada kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Terus aku harus bilang apa?" Amalia mulai tertawa dalam hati melihat suaminya bingung dengan sikapnya.
"Kamu sedang sibuk dan gak mau aku ganggu. Ya sudah, aku nggak ganggu kamu. Itu kan yang kamu mau," sambungnya membuat Angga semakin merasa bersalah.
"Sayang, aku salah. Gak seharusnya aku bersikap begitu sama kamu. Aku salah, kamu boleh hukum aku apa aja. Asal kamu gak gantian cuekin aku kayak gini." Angga semakin mengeratkan genggamannya, agar istrinya yakin kaldu dia benar-benar menyesal.
"Sayang, kamu marah denganku?" Merasa tidak ada jawaban, Angga kembali bertanya.
"Aku nggak marah kok, hanya saja...aku kecewa." Amalia berdiri dan beranjak dari tempat itu menuju ke kamar mandi. Angga tak tinggal diam dia menyusul istrinya sampai di kamar mandi, tapi saat dia akan masuk kedalam. Amalia terlebih dulu menutup dan mengunci pintunya.
"Sayang, buka pintunya... please!" Angga menggedor-gedor pintunya. Tapi Amalia tak bergeming dan melanjutkan aktivitasnya hingga selesai. Setelah itu dia keluar, dan suaminya masih menunggunya di tempat itu. Hingga manik mata mereka bertemu. Dan saling pandang, hingga Angga mendekatkan bibirnya ke bibir Amalia. Tapi dengan cepat di dorong oleh wanita itu hingga membuat Angga terjungkal namun tak sampai jatuh.
"Sayang, aku kangen!!!" Saat Amalia akan pergi dari sana, tangannya ditarik dari belakang oleh Angga, dan di peluknya wanita itu dari belakang.
__ADS_1
"Lepasin, aku!!" Amalia berusaha berontak, dan meloloskan diri dari suaminya. Tapi tenaga Angga begitu kuat. Hingga dia tidak berhasil. Merasa gagal meloloskan diri dari dekapan suaminya, wanita itu menggigit lengan suaminya hingga terlepas tangannya dari lehernya, Amalia segera berlari. Sementara Angga masih mengerang kesakitan memegangi bekas gigitan istrinya. Tak tanggung-tanggung tangannya mengecap bekas gigi istrinya. Artinya Amalia benar-benar kuat menggigit tangannya.
"Aku akan maafkan kamu, tapi dengan satu syarat."