Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Dihargai 300juta


__ADS_3

Selamat siang Pak!" sapa Niko ramah pada Pak Dwi. Pak Dwi hanya tersenyum menanggapi Niko.


"Sekarang kamu boleh pergi dari sini! saya akan bicara pada gadis itu!' perintah pak Dwi, agar Niko mau meninggalkan tempat itu.


"Tapi Pak.."


"Tidak ada tapi-tapi, saya bilang pergi ya pergi. Satu lagi, jangan bilang pada Angga, kalau saya menemui gadis itu!" gertak Pak Dwi, yang tak ingin di bantah.


Dengan ragu, Niko pergi meninggalkan tempat itu. Dia merasa khawatir dengan Amalia saat ini. Tapi dia tidak punya pilihan, dia juga tidak mungkin membantah pak Dwi.


Setelah mendapati Niko pergi dari tempat itu, pak Dwi masuk kedalam. Amalia yang sedang terbaring, seketika terkejut melihat kedatangan pak Dwi.


"Dasar wanita tidak tahu diri! sudah puas kamu menjebak anak saya dengan rencana busuk kamu!" gertak Pak Dwi membuat Amalia menunduk.


"Coba lihat wajah kamu yang sok polos itu, kamu gunakan untuk menjerat anak saya dengan perangkapmu. Kamu pikir setelah kamu hamil dengan anak saya, saya akan menerima kamu menjadi menantu saya. Jangan mimpi kamu!"


"Saya punya penawaran menarik untuk kamu!" Pak Dwi mengintruksikan pada anak buahnya untuk membuka tas yang di bawa. Tas itu berisi uang tunai, diperlihatkan pada Amalia.


"Itu uang tunai tiga ratus juta, akan saya berikan pada kamu!" Pak Dwi menutup kembali tas itu.


"Dengan satu syarat, kamu pergi jauh dari kehidupan anak saya. Tapi kalau kamu masih bersikeras berhubungan dengan anak saya, saya tidak akan segan-segan membuat orang tua kamu yang ada di Bogor menderita!" ancam pak Dwi pada Amalia.


Amalia sudah bisa menduga, kalau rencananya bersama Angga tidak akan bisa berjalan dengan mulus. Karena memang dari awal, hubungan mereka terhalang oleh restu kedua orang tua Angga. Amalia sebenarnya sadar diri, sudah berusaha menjauh dari Angga. Tapi takdir mempertemukan kembali dia dengan Angga. Ditambah lagi janin yang ada dalam kandungannya. Dia butuh seorang ayah yang akan bertanggungjawab. Disisi lain, dia tidak akan bisa melihat orang tuanya menderita. Dengan ancaman Pak Dwi, Amalia yakin itu bukan sekedar ancaman.

__ADS_1


"Jangan cuma nangis kamu! jauhi Angga atau!" gertak Pak Dwi yang semakin emosi, melihat Amalia menangis.


Pak Dwi pergi dari ruangan Amalia dengan meninggalkan koper yang berisi uang tiga ratus juta. Amalia hanya bisa menangisi nasibnya, dia sudah tidak tahu harus berbuat apa. Uang yang ada di dalam koper itu, tak lantas membuat dia bahagia. Bukan uang tujuannya menjalin hubungan dengan Angga. Karena ketulusan cinta Angga lah yang mampu merobohkan pertahanannya untuk tidak dekat-dekat dengan Angga.


Nasi sudah menjadi bubur, Amalia tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan orang tuanya agar dia bisa hidup bersama Angga. Dia memilih pergi meninggalkan Angga, ketimbang melihat orang tuanya menderita.


Di cabutnya jarum infus yang ada di tangannya. Amalia mulai berjalan meninggalkan ruangan itu. Amalia terus berjalan dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Nasibnya sekarang tidak ubahnya seperti seorang pelacur yang hanya dinikmati, dibayar lalu ditinggal pergi. Meskipun ini semua bukan salah Angga, tapi dia juga tidak membenarkan Angga. Andai saja, malam itu Angga bisa mengontrol nafsunya, Amalia tidak akan menderita seperti ini.


Dengan membawa koper di tangannya, Amalia sudah berada di halaman rumah sakit. Dia memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke kost-an.


Selang lima menit taksi online pun datang, Amalia masuk dan mulai meninggalkan rumah sakit.


Siang yang begitu terik, Amalia menyusuri jalanan ibukota yang mulai sedikit senggang. Dengan taksi online nya, kini Amalia sudah berada dikawasan Tamrin. Sudah dekat dari kost-an nya. Amalia sendiri pun masih bingung, akan membawa kemana janin yang ada dalam kandungannya. Taksi berhenti di depan kostan Amalia. Sebuah kost-an yang kecil, tempat tinggal Amalia selama ini. Amalia turun dari taksi online, kemudian bergegas masuk ke kostnya.


"Arghhhh, kenapa Engkau siksa aku begini ya Allah? Kenapa Engkau tumbuhkan janin di dalam rahimku? kenapa? huhuhu" racau Amalia frustasi. Semua benda yang ada di mejanya habis ia hempaskan.


Amalia masih bingung harus kemana pergi menjauh dari Angga. Pulang ke rumah orangtuanya, itu sangat mustahil. Dia tidak mau menambah beban orangtuanya, dengan membawa janin dalam rahimnya. Jelas semua tetangganya akan menghakimi orangtuanya, jika dia pulang dengan keadaan hamil di luar nikah.


Dirasa perasaannya mulai membaik, Amalia sudah bisa berfikir dengan tenang. Amalia mengambil ponselnya yang ada di tasnya. Dia akan menghubungi sahabatnya, Siska. Dia berniat akan meminta bantuan pada Siska.


"Sis, kamu dimana?" tanya Amalia dengan suara parau.


"Aku masih di kantor, ada apa Am?" tanya balik Siska yang khawatir mendengar suara Amalia.

__ADS_1


"Aku ke kost-an kamu ya, aku tunggu kamu disana aja!"


"Ya udah, aku lanjut kerja dulu ya!"


Amalia menutup telponnya, setelah itu dia mengambil kopernya, dan memasukkan semua pakaiannya di koper itu. Amalia harus cepat pergi dari kost-an nya, dia takut Angga akan berhasil menemukannya.


Dengan membawa koper berisi pakaian dan satunya lagi berisi uang, Amalia pergi meninggalkan kost-an nya menuju ke kost-an Siska. Perjalanan dari kosannya dengan kost-an Siska memakan waktu satu jam.


Amalia sampai juga dikostan Siska. Dia langsung masuk kedalam karena kuncinya ditinggal di bawah pot oleh Siska. Amalia langsung menuju kamar Siska. Badannya masih sangat lemas, dia memutuskan untuk menunggu Siska dengan merebahkan dirinya di ranjang Siska.


Jam pulang kantor pun tiba, Siska yang tidak mendapat lembur malam ini langsung bergegas pulang ke kostan nya. Dia harus cepat-cepat bertemu dengan Amalia, dan menanyakan kondisinya. Siska sampai tidak fokus dalam berkerja, setelah mendapat telpon dari Amalia.


"Assalamualaikum" Siska mengetuk pintu kost-an nya karena terkunci dari dalam.


"Waalaikumussalam" sahut Amalia dari dalam. Amalia membukakan pintunya, setelah pintu terbuka Amalia langsung memeluk Siska.


"Kamu kenapa Am?" tanya Siska bingung, karena mendapati Amalia menangis.


Hiks hiks hiks, suara tangis Amalia semakin membuat Siska khawatir. Dia yakin telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


"Kamu kenapa? ceritakan padaku Am!" seru Siska saat Amalia sudah melepaskan pelukannya. Amalia masih sesegukan, di lapnya sisa air matanya, dan menata hatinya untuk tetap tenang.


Amalia dan Siska sudah duduk di sofa ruang tamu. Amalia masih diam, bingung harus memulai dari mana bercerita pada Siska.

__ADS_1


"Ini minum dulu, sekarang kamu ceritakan semuanya padaku." Siska memberikan segelas air putih pada Amalia.


"Aku hamil Sis!"


__ADS_2