Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Menemui titik terang


__ADS_3

Angga akhirnya kembali dengan tangan kosong. Tak cukup di situ, Angga langsung menyebarkan foto pria itu pada anak buahnya untuk mencari keberadaan Kevin. Angga yakin, pria itu tinggal di dekat, tempat itu.


Sesampainya di kantor, Angga langsung menuju ke ruangannya. Sebelum itu, dia menghubungi assistennya untuk ke ruang kerjanya. Ada hal yang akan di bicarakan oleh Angga pada pria itu.


Tak berapa lama, Niko masuk ke ruang Angga. Di lihatnya bosnya sedang serius dengan ponselnya. Pria itu langsung menyapa bosnya.


"Siang Pak Angga! apakah ada tugas untuk saya?" tanya Niko, yang masih berdiri di seberang Angga.


"Duduk, Nik. Ada yang ingin aku sampaikan kepada kamu!" perintah Angga pada bawahannya itu.


Tidak perlu mengulang perintahnya, Niko mendaratkan tubuhnya di kursi yang di tunjuk oleh Angga. Kemudian dia beralih menatap wajah bosnya terlihat serius.


"Ada masalah apa, Pak?" tanyanya dengan nada merendah.


"Tolong kamu cari tahu, mahasiswa yang bernama Santika, angkatan 2014 jurusan manajemen bisnis di fakultas **. Saya butuh identitas wanita itu secepatnya!" perintah Angga lagi.


Niko masih belum mengerti untuk apa atasannya menyuruh dia mencari informasi tentang wanita itu. Dia juga tidak berani menanyakan pada atasannya.


"Saya butuh informasi tentang wanita itu, untuk menyelidiki kasus pembunuhan kakak saya." Terjawab sudah pertanyaan yang melintas di pikiran Niko, Kala Angga menyebutkan alasannya.


"Baik, Pak! Akan saya laksanakan tugas dari Bapak, secepatnya." Angga mengangguk.


"Ada lagi yang lain, Pak?" sambung Niko. Angga seperti sedang berfikir, karena masih ada yang mengganjal dalam pikirannya. Setelah ketemu, dia sampaikan pada assistennya itu lagi.


"Hubungi Angel untuk kembali lagi bekerja di sini," titahnya lagi.


"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi dulu!!"


Setelah mendapat mandat dari atasannya, Niko langsung mengerjakan satu persatu tugas dari Angga. Di mulai mencari identitas Santika, dan menghubungi sekertarisnya Angga yang di pecat beberapa hari lalu.


Niko mengutus anak buahnya untuk mendatangi kampus tersebut. Guna mencari informasi tentang indentitas Santika.


Sementara Angga. Dia membuka email nya. Ada perusahaan baru yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Kebetulan perusahaan itu satu bidang dengan perusahaannya. Awalnya Angga ragu, tapi setelah dia membaca pemilik dari perusahaan itu. Dia tertarik untuk membalas email nya. Nama pemilik perusahaan itu, sama dengan nama wanita yang sedang ia cari.


Mungkin ini yang dinamakan keberuntungan yang berpihak padanya. Angga berharap pemilik perusahaan itu orang yang sama dengan orang yang sedang ia cari. Betapa rumitnya masalah yang ia hadapi saat ini. Tapi sedikit demi sedikit sudah menemui titik terang.

__ADS_1


Satu jam kemudian Niko kembali ke ruangan Angga dengan hasil yang diperintahkan oleh atasannya itu. Dia sudah mengeprint identitas wanita itu dari email yang dikirim anak buahnya.


"Permisi, Pak. Saya sudah menemukan identitas wanita itu," ucap Niko sembari memberikan sebuah dokumen ke atas meja.


Angga langsung membuka dokumen itu. Setelah puas dengan hasilnya, dia berucap "kerja bagus, Nik. Terimakasih, kamu memang bisa diandalkan."


Pria yang di sebut namanya oleh Angga tersenyum tipis saat bosnya memuji kinerjanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Angga menahan assistennya untuk pergi dari ruangannya.


"Tunggu, Nik. Aturkan jadwal pertemuan saya dengan perusahaan Bumi Santika. Saya ingin bertemu langsung dengan pemiliknya," perintah Angga.


"Baik, Pak."


Selepas kepergian Niko. Angga membuka profil Santika di akun bisnisnya. Berharap nama pemilik perusahaan itu sama dengan file yang di bawa oleh Niko. Setelah mencocokkan beberapa identitasnya, ternyata memang benar. Wanita itu adalah, klien yang akan bekerjasama dengan perusahaannya. Angga tersenyum puas, ada secercah harapan agar dia bisa mengulik informasi dari wanita itu.


Angga memutuskan langsung pulang, saat jam kantor berakhir. Sesuai janjinya tadi pada istrinya, untuk langsung pulang.


Benar dia memang sudah di tunggu oleh mama dan istrinya. Angga Langsung naik ke atas untuk mandi dan bersiap-siap sholat magrib. Beruntung dia, tidak melewatkan sholat ashar nya tadi. Karena sampai rumah sudah menjelang magrib.


Butik itu memang recommended banget. Selain baju-bajunya yang luar biasa bagus. Di butik itu juga menyediakan salonnya. Jadi lengkap.


Tidak ada yang beda dari butik itu. Hanya saja, tatanan ruangan yang lebih rapi dan mudah untuk mencari baju-baju sesuai selera kita.


Bu Renata membawa Amalia menemui langsung pemilik butik itu. Mereka berdua sekarang berada di ruangannya Mrs. Berta. Wanita blasteran indo Belanda, memang berteman lama dengan Bu Renata. Wanita itu menetap di Indonesia untuk mengembangkan usahanya di tanah air.


"Mrs... Gimana kabarnya?" sapa Bu Renata dengan bersahabat.


""Seperti yang Mrs lihat.. udah lama ini gak mampir ke butik saya," balas Mrs Berta menjabat tangan kedua pelanggannya.


"Sibuk, Mrs.. biasalah.. Oh iya, kenalkan ini membantu saya. Amalia!" Mrs Berta kemudian beralih menatap Amalia, dan memujinya.


"Cantik sekali, ini yang comel ini siapa?" puji Mrs Berta, beralih menoel pipi Azka.


"Dia cucu saya!" Jawab Bu Renata. Mrs Berta sedikit bingung.

__ADS_1


"Cucu? Wah Angga benar-benar luar biasa. Nikah gak kasih kabar, tahu-tahu dah punya anak aja, dia!" Bu Renata hanya tersenyum menanggapi banyolan temannya itu.


"Oh iya, ini tumben kesini. Pasti ada sesuatu. Iya kan?"


"Saya mau Mrs Berta buatkan gaun untuk resepsi pernikahan Angga dan Amalia," jelas Bu Renata.


"Ok, coba kamu pilih gaun yang mana yang kamu suka." Mrs Berta memberikan contoh gaun yang berada di sebuah album foto pada Amelia.


Amalia membuka-buka buku itu untuk melihat foto-foto gaun yang ia suka. Banyak pilihan gaun-gaun yang cantik. Amalia malah bingung dengan pilihannya itu.


"Gimana sayang, kamu udah tentuin mana yang kamu suka?" tanya Bu Renata pada menantunya.


"Amalia bingung, Ma. Mana aja yang pilihin buat Am." Amalia menyerahkan album foto itu pada mertuanya. Bu Renata hanya menggeleng, melihat kebingungan menantunya.


"Ini cantik, mana suka. Gak terlalu ramai, tapi masih terkesan mewah." Bu Renata menunjuk pada sebuah gaun berwarna putih dengan sedikit ornamen kristal di bagian dadanya. Dan masih sangat sopan untuk di pakai menantunya itu.


"Kamu suka, sayang?"


"Suka, Ma!"


"Ya udah daya pilih ini aja."


"Ok, kita fitting dulu ya..."


Sementara Angga yang sudah selesai dengan fitting jasnya. Dia duduk di ruang tunggu. Memainkan ponselnya untuk mendapat informasi tentang Kevin. Saat dia sedang mengirim pesan pada anak buahnya. Disaat itu juga sbdk buahnya menelpon.


"Apa ada perkembangan?"


"Apa!! Tahan dia agar tidak lolos lagi!! Saya akan kesana sekarang!!" ucap Angga pada anak buahnya.


Melihat Angga terlihat panik, Pak Dwi pun bertanya pada anaknya itu.


"Ada apa Ngga?"


"Pa, Angga ada urusan sebentar. Angga harus pergi sekarang!!!"

__ADS_1


to be continued


__ADS_2