Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Persiapan malam pertama


__ADS_3

Disebuah kamar tampak seorang wanita paruh baya terbaring lemah di balik selimutnya. Sesekali wanita itu mengeluarkan air matanya dan menyebut nama anaknya. Kerinduannya pada buah hatinya yang selama hampir lima belas hari ini tidak pulang ke rumah. Membuat wanita itu jatuh sakit. Pak Dwi yang baru saja menelpon dokter keluarganya, kemudian mendekat ke arah istrinya.


"Ma, Mama yang sabar ya!" Pria yang berperut buncit itu memeluk istrinya yang tak henti-hentinya menangis.


"Angga Pa, Angga kemana? Kemana dia kok gak pulang-pulang?" Racaunya dengan suara khas orang menangis.


"Papa coba telpon handphonenya tapi nomornya dialihkan Ma. Papa gak tahu, Angga kemana. Asistennya itu juga tidak di beritahu kemana Angga pergi," jawab pria disampingnya itu sembari mengelus rambut istrinya.


"Mama mau mati aja kalau ngga ketemu dengan Angga. Mama gak sanggup Pa." Tangisnya pun pecah. Bukan lagi menitikkan air mata, tapi sesekali wanita itu meraung. Pak Dwi sangat kebingungan karena istrinya tidak bisa ditenangkan.


Selang beberapa saat, dokter yang dipanggil pak Dwi datang. Dokter itu langsung memeriksa keadaan Bu Renata. Tapi wanita itu menolaknya, dan tidak mau untuk di periksa oleh dokter Gerald. Akhirnya dengan di bantu oleh pak Dwi, dokter itu menyuntikkan obat penenang agar Bu Renata bisa di kendalikan. Bu Renata pun akhirnya tak sadarkan diri karena pengaruh obat penenang itu.


Dokter Gerald menghembuskan nafasnya kasar melihat keadaan Bu Renata yang seperti itu. Dia prihatin, dan takut akan berakibat fatal untuk kejiwaannya.


"Saya harus bagaimana Dok?" Pak Dwi seakan sudah bingung menghadapi istrinya.


"Jalan satu-satunya ya cuma mempertemukan Angga dengan beliau," terang dokter Gerald sembari memberikan beberapa obat untuk pasiennya itu.


"Ini Pak, obat ini semoga bisa menantu beliau. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam." Dokter berperawakan tinggi itu pamit keluar dari kamar itu. Dan pak Dwi pun mengantar tamunya hingga kedepan. Setelah itu dia sibuk dengan ponselnya.


"Tolong lacak nomor yang saya kirim lewat SMS tadi. Berikan informasi secepatnya dimana pemilik nomor itu," perintahnya pada orang di seberang sana.


Pak Dwi pun kembali ke kamarnya untuk menjaga istrinya. Dia tidak menyangka kepergian putranya berimbas fatal untuk kesehatan istrinya. Sekarang beliau sadar. Harta yang dia miliki tidak sebanding dengan kebahagiaan keluarganya. Dan dia sudah memisahkan kebahagiaan anaknya dengan materi. "Pulanglah Ngga, Mama mu merindukan mu," gumamnya sambil terus memperhatikan wajah istrinya yang sedang tidur di ranjang.


Di lain tempat


Amalia yang sedang memasak untuk makan malam keluarga kecilnya, sesekali diganggu suaminya. Membuat dia menjadi kesal. "Sayang udah ih, lepasin aku. Aku masih masak nih." Amalia berusaha melepaskan diri dari pelukan Angga.


Angga sengaja memeluk istrinya dari belakang. Dia ingin mencontoh adegan seperti yang di novel-novel itu. Yang bersikap romantis pada istrinya saat sedang memasak. Dan itu bukannya membuat istrinya senang. Tapi justru membuat Amalia menjadi kesal. Karena masakannya tak selesai-selesai.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih yang repot-repot masak. Biar bi Mina yang masak. Kita ea-ea aja di kamar. Yuk," ajak Angga menarik tangan istrinya agar mau ikut ke kamar.


"Ya ampun sayang, tunggu dulu kenapa. Gak sabaran amat sih. Tuh lihat Azka aja masih terjaga, emangnya mau pas lagi ea-ea dingganggu anak kita," omel istrinya yang menunjuk Azka yang sedang nonton TV di temani oleh Bu Mina.


"Iya juga ya. Hmmm ya udah kamu lanjut aja masaknya. Aku mau hubungi Niko dulu ya." Amalia pun mengangguk. Setelah itu pria berparas tampan itu jalan menuju ke depan. Sementara Amalia melanjutkan masakannya tadi.


"Ayah mau kemana?" Tanya Azka yang melihat ayahnya melintas di depannya.


"Ayah mau ke depan. Azka mau ikut?" Tanpa menunggu lama anak yang masih cadal itu pun menghambur ke tubuh ayahnya minta di gendong.


"Anak ayah berat juga ya," ujar Angga seraya menggendong anaknya.


"Kamu bantu ibu aja ya di dapur," titah Angga pada asisten rumah tangga yang bekerja di sana.


Angga akhirnya mengajak Azka ke teras depan. Karena rumahnya jauh dari keramaian kota. Sehingga nampak jelas bulan dan bintang yang bertengger di langit malam itu. Membuat Azka menjadi girang. Setelah menelpon Niko, Angga lanjut mengajak anaknya bermain. Mereka bersenandung ria bersama. Terlihat jelas kedekatan ayah dan anak itu. Disela-sela kesibukannya bermain dengan anaknya. Amalia pun datang dari dalam.


"Sayang, ayo kita makan malam dulu." Amalia mengajak dua orang tersayangnya itu untuk makan malam bersama.


"Cie...ada yang lagi berbunga-bunga nih disanjung anaknya," goda Angga membuat Amalia semakin tersipu malu. Suami dan anaknya memang kompak dalam membuat dia berbunga-bunga.


Mereka bertiga akhirnya menuju ke ruang makan. Tampak bi Munah yang sedang menyiapkan hidangan makan malam di tas meja. Amalia duduk di samping anaknya, sementara suaminya duduk disebrangnya. Mereka bertiga mulai menyantap hidangan yang ada didepan mereka.


"Sayang aku mau bacem tahunya dong," pinta Angga yang berselera melihat bacem tahu. Dengan cepat Amalia mengambilkan bacem tahu ke piring Suaminya.


"Segini cukup!"


"Cukup. Azka gak mau ikannya Nak?" tanya Angga yang melihat tidak ada ikan bakar di piring putranya.


"Ngga Yah, Azka mau bacem tahunya. Enak!!" jawab Azka sembari mengacungkan jempolnya. Mereka berdua pun tergelak melihat tingkah lucu anaknya.

__ADS_1


Makan malam keluarga kecil itu pun terlihat sangat seru. Apalagi Azka yang selalu membuat kedua orangtuanya bahagia dengan kepintaran bocah berusia hampir tiga tahun itu.


Usai makan malam. Mereka pun berkumpul di ruang tengah. Mereka bermain bersama, sesekali Angga di buat kesulitan oleh putranya. Apalagi waktu Azka mengajak Angga bermain robot-robotan. Angga di tuntut menjadi robot, idolanya di Tv. Berbagai gaya pun dilakukan Angga supaya anaknya senang. Tapi Azka justru ngomel melihat Angga yang salah menirukan gaya robot itu. Amalia hanya tergelak, melihat anaknya mengerjai Suaminya.


"Azka, Ayah capek Nak. Udahan ya mainnya. Sekarang Azka nya bobo dulu." Angga mulai menyerah menghadapi Anaknya. Sehingga menyuruh anak yang terlihat gembul itu untuk tidur.


"Ndak mau Ayah. Ayah belum jadi robot Transformer," rengek bocah itu. Membuat Angga melirik kearah istrinya.


"Sayang bantuin dong. Bujuk Azka untuk bobo. Capek sayang dari tadi gak ada benarnya aku," gerutu Angga meminta bantuan istrinya.


"Azka bobo ama bunda yuk. Udah malam Lo sayang. Besok lagi mainnya ya," bujuk ibu satu anak itu mulai merapikan mainan anaknya.


"Ok Bunda," ucap Azka tersenyum lebar. Angga pun melongo.


"Ya ampun Nak, giliran Ama bunda aja kamu nurutnya minta ampun. Giliran sana Ayah, haduh." Angga tak melanjutkan kata-katanya. Karena istrinya memberi lirikan maut, tidak suka kalau suaminya mengeluh.


"Pamit dulu sana Ayah," perintah Amalia pada putranya. Azka pun langsung mencium kedua pipi Angga sembari mengucapkan.


"Selamat malam Ayah."


"Malam anak Ayah," balas Angga balik mencium pipi anaknya.


Amalia pun langsung membawa masuk anaknya untuk masuk ke kamarnya. Sejurus kemudian Angga menghentikan langkahnya. "Sayang aku tunggu dikamar ya, jangan lama-lama," bisik Angga mendapat cubitan kecil dari Amalia.


"Nakal ih!"


To be continued


Apa yang akan terjadi selanjutnya....

__ADS_1


Malam nanti ya gays😍😍😍😍😍


__ADS_2