Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Plan kedua


__ADS_3

"Angga hanya gak mau, mereka khawatir. Apalagi Mama, dia pasti akan sedih, kalau kita mengulik lagi kematian kak Adi," kilah Angga, menyakinkan papanya.


"Iya, Papa tidak akan membahas masalah itu pada mereka," sahut Pak Dwi yang di dengar oleh Bu Renata dan Amalia.


Mereka baru saja masuk kedalam, dan kehadiran mereka tidak di sadari oleh Angga dan pak Dwi. Sehingga mereka bisa mendengar selintas apa yang sedang di obrolkan keduanya.


"Sayang, Alhamdulillah kamu udah sadar." Bu Renata langsung menghambur kepelukan putranya. Di susul Amalia yang sedikit mulai lega karena suaminya sudah sadar dari pingsannya.


"Alhamdulillah, Ma!" seru Angga dengan nada pelan.


Setelah melepaskan pelukannya dari tubuh anaknya, Bu Renata memberi celah untuk Amalia mendekat kearah suaminya.


"Sayang, aku khawatir banget. Untung kamu gak kenapa-kenapa!" kata Amalia dengan nada serak akibat menahan tangis harunya.


"Aku nggak apa, kok sayang. Azka mana, sini anak Ayah!!" Bocah itu langsung mendekat kearah ayahnya, saat namanya disebut-sebut oleh Angga.


"Ayah hebat, Ayah gak sakit lagi?" tanya bocah kecil itu polos. Angga tersenyum lebar melihat kegemasan anaknya yang semakin hari semakin pintar itu.


"Iya dong, Ayah kan kuat!!!" Angga mengangkat lengannya, setelah itu ditunjukkan pada Azka. Membuat semua orang yang berada di situ tertawa lepas.


"Kamu udah sarapan apa belum, sayang? aku dah buatin bubur ayam kesukaan kamu." Amalia meletakkan rantang yang di tentengnya di atas meja. Setelah itu membukanya. Tercium bau harum dari masakan itu, sehingga membuat perut Angga berbunyi.


"Hmmm kayaknya enak. Aku mau dong, sayang!" pinta Angga.


Amalia mengambil piring kosong yang ada di meja itu. Kemudian menaruh bubur ayam di dalamnya. Dan mulai menyuapkan ke mulut suaminya.


Melihat Angga begitu menikmati bubur itu. Membuat air liur pak Dwi muncul. Dia juga tidak tahan dengan aroma harum, bubur itu. Sehingga tanpa ragu-ragu dia minta bubur itu dari menantunya.


"Bagian Papa gak ada nih, Am." Amalia tersentak mendengar ucapan papa mertuanya, dia lupa menawarinya.


"Ya ampun Pa, Am lupa. Ini masih banyak kok!" Amalia menyiapkan bubur itu untuk diberikan pada papa mertuanya.


"Ini, Pa!" Amalia menyerahkan sepiring bubur Ayam untuk papa mertuanya.


"Oh iya kalian tadi ngobrolin apa, sih! pas Mama baru masuk tadi?" Pertanyaan Bu Renata membius Angga dan pak Dwi untuk saling pandang. Angga menggeleng pelan.

__ADS_1


"Itu soal kerjaan, Ma. Buka apa-apa, kok!" jawab pak Dwi.


"Ya udah, Papa urus administrasi dulu ya. Kamu mau ikut, sayang? Itung-itung sambil cari udara pagi di sekitar rumah sakit ini," ujar pak Dwi menatap kearah istrinya.


"Iya Mama ikut, ayok Pa!" ajak Bu Renata, mereka pun mulai beranjak tapi suara Azka menghentikan mereka.


"Kakek, Nenek! Azka juga mau ikut!" rengeknya berlari memeluk kaki Pak Dwi.


"Ya ampun, iya! Sampe lupa kalau ada cucu Kakek yang pinter ini, ayok!" Pak Dwi langsung menggendong cucunya dan mengacak-acak rambut cucunya, sebagai wujud sayangnya.


Sepeninggal mereka bertiga. Amalia yang baru saja selesai menyuapi suaminya, dengan telaten mengekspresikan sisa makanan yang ada di sekitar bibir Angga. Melihat istrinya begitu telaten mengurusnya, Angga tersenyum manis memperhatikan wajah ayu Amalia.


"Kamu kenapa, sih sayang? kok senyum-senyum gitu, liatin aku. Ada yang aneh, ya!" Angga hanya menggeleng seraya berucap.


"Kamu cantik, gak ada duanya."


"Gombal, ihhhhhhhh!" Mereka tertawa bersama.


"Aku mau tanya sama kamu, sayang."


"Gimana perkembangan kasus kak Delon. Apa kamu udah bertemu dengan kak Delon?" Angga langsung memasang muka serius.


"Udah, kak Delon juga udah kasih tahu foto saksi kunci itu padaku. Dan aku juga sudah mulai menyelidikinya. Tapi dia lolos, dia kabur lagi. Tapi kamu gak usah khawatir, aku sudah punya rencana lain untuk mengusut tuntas kasus itu. Kamu berdoa aja, sayang! Semoga kasus itu cepat selesai dan kak Delon bisa secepatnya di bebaskan," jawab Angga menjelaskan semuanya pada istrinya.


Rencananya hari ini dia akan bertemu dengan Santika. Orang yang di duga menjadi saksi atas tawuran itu. Karena saat penangkapan Delon waktu itu, dia ada disana. Dia menangisi kematian Adipati.


Tapi wanita itu cerdik, merasa dirinya terancam. Wanita itu sembunyi saat polisi datang menangkap Delon. Dan membuat pengakuan palsu di pengadilan, kalau dia tidak ada di tempat itu.


Mendengar penjelasan suaminya, Amalia bisa bernafas lega. Dan menaruh harapan besar pada lelaki itu.


"Sayang, tolong ambilkan handphone ku di situ." Angga menunjuk ke laci meja di sebelahnya.


Amilase pun mengambil handphone milik Angga dan langsung diberikan pada suaminya itu.


Angga mencari kontak orang suruhannya. Dia perlu tahu perkembangannya seperti apa. Apa neraka berhasil menangkap Kevin atau tidak. Jika tidak berhasil, Angga terpaksa membuat rencana lain agar kasus itu bisa segera terungkap.

__ADS_1


'bagaimana?'


'kehilangan jejak?'


'bodoh!!!'


Beberapa kalian keluar dari mulut Angga saat dia sedang berbicara dengan Anda buahnya.


Kevin berhasil meloloskan diri dari kejaran mereka. Yang membuat Angga curiga adalah mobil yang menjemput Kevin di gudang itu. Dan artinya Kevin tidak sendiri, sehingga dia bisa dengan mudahnya lolos dari sekapan anak buah buah Angga itu.


Seberang Angga mengatur plain yang kedua. Dia berharap rencananya kali ini akan berhasil. Sebelumnya dia mengecek email masuk dari ponselnya. Dan benar saja, Niko sudah mengatur kan pertemuannya dengan Santika. Di sana tertulis, dua hari lagi mereka berdua bertemu di kantor milik Angga.


Sebelumnya dia meminta izin istrinya terlebih dahulu untuk rencananya yang kedua itu. Karena rencana itu sedikit ekstrim menyangkut rumah tangganya dengan Amalia.


Setelah mendengar penjelasan dari Angga, Amalia pun tidak keberatan dengan rencana Angga itu. Dia justru mendukung sepenuhnya, agar semuanya berjalan dengan lancar.


Dua hari berikutnya.


Keadaan Angga sudah semakin membaik pasca kecelakaan itu. Hari ini dia sudah masuk kantor lagi. Sesuai jadwal hari ini, dia akan bertemu dengan kliennya yang bernama Santika pemilik Santika grup.


Selain akan membahas bisnis, Angga juga akan mengulik informasi dari wanita itu. Berharap rencananya kali ini berhasil.


"Pagi Pak Angga, Bu Santika sudah berada di ruang meeting," ucap Niko memberitahu kedatangan kliennya.


"Ok, saya akan langsung menemuinya."


Angga kemudian menuju ke ruang meeting. Tempat dia bertemu dengan Santika. Sesampainya disana, Angga langsung membuka pintu ruangan itu.


Di sana sudah ada seorang wanita single yang berparas cantik sedang duduk di salah satu kursi ruangan itu. Dan seorang perempuan yang menjadi sekertarisnya.


"Pagi Bu Santika, dan Bu Rahma," sapa Angga ramah pada kedua kliennya itu.


"Pagi Pak Angga," balas keduanya.


Mereka kemudian duduk dan mulai membahas kerjasama yang akan mereka jalani. Angga masih fokus memperhatikan Santika dengan seksama. Bukan mengagumi kecantikan wanita itu, tapi dia memahami karakter apa yang dimiliki wanita itu. Sudah sangat bisa dilihat dengan jelas oleh Angga. Santika adalah orang yang gigih, ulet, dan tidak gampang tergoda. Itu artinya akan mempersulit untuk melancarkan rencananya. Tapi Angga tidak sedikitpun mundur, dia harus mendapat informasi dari wanita itu terkait kasus kematian kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2