Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Petunjuk


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya berbincang di kantor. Banyak hal yang di ceritakan Amalia pada Delon. Tapi tidak untuk masalah pribadinya. Perjalanan cintanya bersama Angga, tidak sedikitpun ia Kulik. Bukan menutupi, tapi Amalia tidak mau mengumbar masalah pribadinya dengan siapapun. Biarkan Delon tahu sendiri, dari orangtuanya.


"Kakak, rencananya mau tinggal dimana?" tanya Amalia di sela-sela obrolan mereka.


"Hmmm, belum tahu Am. Tapi Kakak ingin dekat dengan papa dan mama aja. Mungkin nanti, kalau udah di Bogor. Melamar kerja aja di tempat kerja papa," jawab Delon, mengutarakan keinginannya.


"Hmm, Kak. Kenapa gak tinggal di sini aja. Ikut gabung di perusahaan Angga, Kak," saran Angga, mendapat antusias dari Amalia.


"Bener Kak, suami Amalia kan punya perusahaan Segede ini. Masa iya, mau biarin kakak iparnya kerja di perkebunan. Yang jelas-jelas bukan keahlian Kakak," sambung Amalia, melirik suaminya.


"Lagian kakak kan, sempet ambil jurusan Manajemen bisnis waktu kuliah dulu. Itung-itung mempraktekkan ilmunya dulu," imbuh Angga.


Delon tampak berfikir dengan apa yang disarankan oleh Angga. Sebenarnya dia tidak enak kalau langsung menerima tawaran itu. Dia takut dikira memanfaatkan Angga.


"Nggak usah banyak mikir, Kak. Kebetulan Angga sedang butuh bantuan dari Kakak. Untuk handle proyek Angga di perusahaan Santika grup. Perusahaan milik Santika," sahut Angga lagi.


"Jujur, saya tidak enak menerima tawaran kerja dari kamu, Ngga. Saya sudah terlalu banyak merepotkan kamu," ucap Delon dengan segan.


"Kak, kita ini saudara. Dalam kamus saudara gak ada yang namanya merepotkan. Kita harus saling membantu. Udah gak usah bilang gitu," kata Angga memegang bahu kakak iparnya. Kemudian mereka saling melempar senyum.


Dalam benak Delon. Angga ini tidak mewarisi sifat Papanya. Dia orangnya bijaksana dan pekerja keras. Selain itu dia orang yang teliti.


"Iya sudah Ngga. Saya terima tawaran kerja dari kamu. Tapi, saya harus pulang dulu ke Bogor. Bertemu dengan Papa dan Mama," ujar Delon menyetujui kerja dengan Angga.


"Iya Kak. Besok Angga sendiri yang akan antar Kakak kesana. Untuk hari ini Kakak tinggal di apartemen Angga saja," tutur Angga.


"Kita akan ke Bogor, sayang?" tanya Amalia dengan antusias.


"Iya sayang. Sekalian kita mengunjungi Papa dan Mama," jawab Angga mengulas senyum di wajahnya.


"Makasih, sayang. Kamu terbaik!!" Amalia tanpa malu-malu memeluk suaminya di depan kakaknya. Melihat keharmonisan adik dan suaminya. Membuat Delon bahagia. Tapi masih ada yang mengganjal di pikirannya. Apakah kedua orang tua mereka sudah mengetahui kalau menantunya itu adalah anak dari musuhnya?

__ADS_1


Angga mengantar Delon ke apartemennya dulu. Baru setelah itu dia mengantar pulang istrinya. Angga sangat bahagia melihat istrinya bahagia, karena bisa bertemu dengan kakak kandungnya lagi. Dan dari itu Amalia semakin manja pada dia.


Setelah mengantar Delon ke apartemennya. Sekarang mereka berdua menuju pulang. Di senjang jalan Angga disuguhkan dengan ocehan istrinya. Apapun di katakan oleh Amalia. Tentang perasaannya yang sangat mencintai Angga. Dan itu menjadi hiburan di kala kelelahannya beberapa hari ini. Bagi Angga tak ada yang lebih berharga dari senyuman istrinya.


Saat sudah sampai di rumah. Mereka berdua sudah di sambut oleh Azka. Bocah itu menagih janji ayahnya untuk mengajak bermain ayahnya.


"Ayah!!!! Yea,, Ayah datang!!" soraknya kegirangan sambil berlari menubruk kaki Angga. Tak menunggu lama, Angga langsung menyambut pelukan putra kesayangannya itu. Secapek apapun dia, jika bocah itu sudah minta gendong. Tidak akan ada penolakan dari Angga.


"Anak Ayah, lagi apa tadi sayang?" Angga menciumi Azka bertubi-tubi.


"Mainan Ama Kakek. Kakek payah, Yah. Masak Azka terus yang menang main gunting batu kertas." Angga tampak menautkan kedua alisnya. Dia tidak ngerti apa yang dibicarakan oleh putranya itu.


"Apa itu, sayang?" tanya Angga.


"Oh, no. Ayah gak tau?" Angga menggeleng.


"Gini, loh Yah." Azka mempraktekkan tangan-tangannya sebagai penunjuk permainan yang dia katakan.


"Oh, kayak itu toh! Ayah gak tahu." Angga mengajak anaknya masuk kedalam. Sementara Amalia sudah lebih dulu masuk. Pak Dwi yang duduk di teras, mengekor anak dan cucunya.


Karena belum terlalu sore, Angga mengajak anaknya untuk tidur siang. Tapi Azka tidak mau. Karena bocah itu belum lama tidur bersama Neneknya. Akhirnya, si bocah gangguin ayahnya yang mau tidur siang dan ngajak bermain dengan Angga.


Di ruang tengah. Pak Dwi tampak menikmati teh hangatnya dengan beberapa camilan yang di buat Amalia. Bu Renata yang baru saja dari kamar, melihat suaminya sedang bersantai. Dia ikut gabung bersama pak Dwi.


"Pa...Nanti malam anterin Mama, ya?"


"Kemana, Ma?"


"Ke rumah jeng Rosa. Itu Lo Pa, yang waktu itu datang ke sini, jengunkin Mama," jawab Bu Renata.


"Emangnya ada keperluan apa, Ma?"

__ADS_1


"Jeng Rosa sakit, karena anaknya jadi buronan polisi kasus pembubuhan." Pak Dwi teringat dengan kasus pembunuhan Adipati.


"Iya, nanti Papa antar."


Seperti rencananya sore tadi. Makam ini Bu Renata dan pak Dwi pergi ke rumah Bu Rosa. Bu Rosa adalah sahabat dari Bu Renata. Mereka sudah lama menjalin persahabatan, saat sebelum menikah. Sampai sekarang pun mereka masih menjalin hubungan persahabatan itu.


Menempuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Bu Rosa. Mereka memasuki perumahan mewah di Bintaro.


Sebuah rumah mewah yang bernuansa putih, mobil pak Dwi berhenti. Mereka sudah di cegah beberapa keamanan untuk mewawancarai mereka berdua.


Setelah jelas tujuan mereka. Petugas keamanan itu, langsung menyuruh mereka itu masuk kedalam.


Pak Dwi dan Bu Renata sudah di sambut dengan pelayan-pelayannya yang bekerja di rumah itu. Diantar ke kamarnya Bu Rosa. Awalnya pak Dwi tidak mau di ajak masuk ke kamar. Dia lebih memilih duduk di ruang tamu. Tapi karena Bu Renata yang memaksa. Akhirnya pak Dwi tidak bisa menolak permintaan istrinya.


Setelah sampai di kamar itu. Bu Renata langsung menghambur ke pelukan Bu Rosa. Setidaknya, dia menunjukkan rasa prihatinnya. Karena pernah ada di posisi Bu Rosa. Hanya saja, kasusnya berbeda.


"Kamu yang tenang, ya Jeng!" ucap Bu Renata menguatkan Bu Rosa.


Sembari terisak Bu Rosa menceritakan kejadiaannya pada sahabatnya itu.


Ada yang mengganjal di pikiran pak Dwi tentang kasus yang menimpa anak dari sahabat istrinya itu. Karena kasusnya sama persis dengan yang sedang di selidiki oleh Angga. Akhirnya Pak Dwi menanyakan siapa nama anaknya Bu Rosa itu.


"Valentino!!"


Setelah mendengar informasi itu dari Bu Rosa. Pak Dwi izin keluar sebentar untuk menghubungi Angga. Karena pak Dwi belum tahu, siapa tersangka yang sesungguhnya. Karena itu dia harus tanya dulu pada putranya.


"Ngga, siapa nama tersangka yang sebenarnya?"


"Emangnya kenapa, Pa?"


Pak Dwi menceritakan kesamaan kasus putra Bu Rosa dengan kasus yang sedang diselidiki oleh Angga. Mendengar hal itu Angga langsung memberi tahu nama tersangkanya ke papanya.

__ADS_1


"Valentino, pa!"


To be continued


__ADS_2