Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Aku rindu saat-saat seperti ini.


__ADS_3

Malam itu Angga menginap di rumah Nek Asih. Dia tidur sekamar dengan Afdal. Azka benar-benar tak ingin pisah dari ayahnya. Sampai mandi pun minta ditemenin oleh ayahnya. Begitupun juga Angga, dia begitu telaten merawat anaknya.


Sekarang mereka sedang makan malam bersama. Azka duduk di sebelah Angga. Sementara Afdal di sebelah Amalia. Nek Asih duduk di bagian tersendiri tidak ada teman di sampingnya.


Semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Malam itu, menunya sangat istimewa. Cumi bakar kesukaan Afdal pun ada di sana.


"Ayah, Azka ambilkan makanan nya!" Pinta anak kecil itu pada ayahnya.


"Azka mau apa sayang. Ayam goreng, atau cumi nya mau?" Angga menawarkan beberapa makanan pada Azka. Tapi sepertinya anak itu kebingungan akan memilih yang mana.


"Azka kesukaannya apa?" tanya Angga pada anaknya.


"Ikan bakar," jawab Afdal dan Amalia bersamaan. Mendengar hal itu, wajah Angga seketika menjadi muram. Dia merasa tidak tahu apa-apa tentang anaknya. Justru orang lain yang lebih tahu apa-apa yang disukai anaknya.


Melihat hal itu, membuat Afdal dan Amalia saling pandang. Mereka merasa tidak enak pada Angga. Apalagi Afdal, dia langsung terlihat canggung di depan bos-nya.


"Ikan bakar, Azka bocan. Azka mau makan cumi nya aja," jawab Azka sembari menunjuk piring yang berisi cumi bakar. Dengan cepat Angga mengambilkan cumi bakarnya kedalam piring anaknya.


"Segini cukup, sayang?"


"Cukup Yah, makasih ya Ayah Angga." Azka pun langsung menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya. Tapi, sepertinya dia kesulitan memotong cuminya.


"Ayah, tolong potongin cuminya. Azka gak bisa," pinta anak itu lagi. Angga pun langsung memotong kecil-kecil cumi yang ada didalam piring anaknya.


Nasi di piring nek Asih sudah habis. Tapi sepertinya dia masih ingin nambah lagi. Tapi karena jarak nasinya terlalu jauh. Dia kesulitan untuk mengambilnya. Afdal dan Amalia ingin mengambilkannya untuk nek Asih. Saat Afdal memegang sendok nasinya, Amalia pun sama. Jadi tangan Amalia menyentuh tangan Afdal. Mereka pun saling pandang. Hingga sebuah deheman menyadarkan mereka berdua.


Angga yang melihatnya, hatinya semakin bergemuruh. Dia merasa cemburu karena kedekatan Afdal dan Amalia. Apalagi mereka selama ini kan sering komunikasi. Dilihat caranya Afdal memandang Amalia pun beda. Tidak seperti sedang memandang adiknya. Tapi lebih ke cara memandang seorang pria yang sedang mengagumi seorang wanita. Dari situlah, timbul cemburu dari hati Angga.


Usai makan Angga keluar. Dia duduk di teras sembari mencari angin. Sehabis makan keringatnya bercucuran, sehingga dia begitu gerah di dalam. Sementara Azka, dia sedang belajar berhitung dengan bundanya.


Afdal pun menyusul Angga di depan. Dia duduk di sebelah Angga. Hening sesaat membuat keduanya terlihat canggung.


"Oh iya Pak, besok rencananya saya mau ke gudang. Apa Bapak mau ikut?" tanya Afdal memecah kecanggungan diantara mereka berdua.


"Iya besok saya akan ikut. Prediksi kamu berapa bulan gudang itu selesai di bangun." Angga balik bertanya pada bawahannya itu.

__ADS_1


"Dua bulan pasti udah siap, Pak. Soalnya pekerjanya memang didatangkan yang profesional. Mereka di kasih deadline dua bulan oleh Pak Brama," terang Afdal, Angga pun mengangguk.


"Afdal, boleh saya bertanya sesuatu?" Afdal pun menjawab.


"Silahkan Pak Angga. Apa yang akan Bapak tanyakan pada saya?"


Angga sebenarnya ragu ingin menanyakan hal ini pada bawahannya. Tapi dia juga merasa harus tahu. Apakah Afdal benar-benar suka pada Amalia. Kalaupun iya, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apalagi kalau bawahannya itu mencoba merebut wanita yang dicintainya itu.


"Apa kamu, suka dengan Amalia?" Pertanyaan Angga membuat Afdal bingung. Bingung akan menjawab apa. Kalau bosnya tahu, dia mencintai wanita pujaannya. Bisa-bisa dia di pecat oleh bosnya.


"Kamu jawab aja dengan jujur. Saya tidak akan memecat kamu, kalau pun kamu suka dengan Amalia." Mendengar ucapan Angga, Afdal sedikit bernafas lega. Ternyata bosnya itu adalah orang yang bijak.


"Siapa yang tidak suka dengan Amalia. Dia wanita cantik, baik, dan tegar. Yang paling penting adalah dia wanita mandiri. Idaman bukan?" Afdal tersenyum membayangkan sosok yang ia sebut.


"Termasuk kamu?" tanya Angga lagi. Dia merasa belum puas mendengar jawaban dari bawahannya itu.


"Saya memang mencintainya. Tapi saya tidak egois. Saya tidak akan mengejar wanita yang sudah memiliki tambatan hati." Afdal menjawabnya dengan mantap. Karena dari awal, dia sudah pernah bilang pada Amalia. Kalau wanita itu berhak bahagia. Dan kebahagiaan Amalia terletak pada bosnya. Sejak itulah dia sudah mencoba mengubur perasaannya dalam-dalam. Meskipun belum bisa. Tapi dia sudah bertekad akan melupakan wanita itu.


Angga pun bisa bernafas lega. Karena Afdal sudah mulai membuang perasaannya terhadap Amalia.


Mereka bertiga ngobrol bersama. Banyak yang mereka ceritakan. Termasuk awal mulai kedekatan Angga dan Amelia. Sesekali Afdal menjadi bahan gurauan untuk pasangan bucin itu. Angga bahkan tidak canggung menggoda calon istrinya itu di depan bawahannya. Membuat Afdal merinding mendengarnya.


"Hahahaha, sepertinya saya harus belajar banyak dari Bapak. Belajar gombalan cewek-cewek cantik. Biar saya gak jomblo lagi." Angga bisa tertawa lepas di hadapan mereka. Sungguh pemandangan yang belum pernah di lihat oleh Afdal selama bekerja dengan Angga. Kini dia tahu, ternyata pusat moodnya bosnya itu ada pada Amalia.


Malam pun sudah semakin larut. Afdal memilih masuk kedalam. Karena dia tidak mau lama-lama menjadi obat nyamuk diantara Amalia dan Angga. Kini tinggal mereka berdua. Jalanan pun sudah mulai sepi. Saat Amalia akan masuk kedalam. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Angga.


"Mau Kemana?" tanyanya tersenyum jahil pada Amalia.


"Mau kedalam Mas, ngantuk!" Jawab Amalia tersenyum getir pada Angga.


"Sini dulu. Temenin aku dulu. Aku tuh kangen, tau." Angga mencubit hidung Amalia.


"Sakit Mas, ihhh. Suka jahil deh!" Amalia mengganggu hidungnya yang dicubit Angga.


"Tapi kamu suka kan!"

__ADS_1


"Suka, ihh pede banget sih!" Angga pun tidak kuat lagi melihat Amalia terlihat gemas kaldu sedang cemberut begitu. Dia mendekati Amalia, dan mengajaknya berdiri.


"Kamu tahu, saat-saat seperti inilah yang membuatku begitu merindukan mu." Angga kemudian memeluk Amalia dari belakang. Tangannya terlilit dipinggang Amalia. Wajahnya diletakkan di pundak Amalia.


"Mas, jangan gini ih. Nanti kalau dilihat orang gimana." Amalia berusaha melepaskan diri dari Angga. Tapi Angga tidak membiarkan itu.


"Biarin aja, paling-paling kita digrebek warga. Terus dinikahkan. Aku malah seneng kok."


"Iya kalau cuma dinikahkan aja. Kaldu diarak keliling kampung gimana?" Amalia menjadi kesal, karena Angga tidak mau melepaskan pelukannya.


"Biarin aja. Aku gak peduli. Yang penting aku bisa selalu bersamamu. Apapun akan aku hadapi."


"Gombal ih... Sebel deh... Lepasin Mas?!!"


Angga melepas pelukannya. Tapi dia membalikkan tubuh Amalia. Sehingga mereka saling berhadapan. Diangkatnya kepala Amalia perlahan agar dia bisa melihat wajahnya secara sempurna. Setelah itu wajahnya semakin ia dekatkan ke wajah Amalia. Angin yang berhembus semakin kencang seakan menghipnotis keduanya untuk saling bercumbu. Saat bibir mereka sudah saling bersentuhan. Tiba-tiba seseorang berteriak.


"Bunda!!! Ayah!!!!"


To be continued....


Gagal drh ciumannya...


Hehehehe...


Si Angga msh kebiasaan...


Suka nyosor-nyosoor Amalia...


Dasar otak mesum...


Ayo dong...


Jangan kasih kendor....


Like hadiah komen votenya

__ADS_1


Jangan pelit-pelit....😁😁😁


__ADS_2