Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Rencana pernikahan


__ADS_3

Kata-kata Angga terhenti ketika Bu Leha datang untuk menyuruh mereka makan siang. Belum sempat Angga mengucapkan nama papanya, pak Sapta mengajak calon menantunya untuk makan terlebih dulu. Sehingga pak Sapta belum tahu nama papanya Angga.


Disebuah meja maka dengan menu khas Sunda tersaji disana. Angga begitu berselera melihat menu di meja makan itu. Sayur asem, dengan sambel terasinya. Di tambah Pete sebagai lalapan nya. Tak lupa ikan asin goreng dan tempe goreng sebagai pelengkapnya. Menambah selera makan orang-orang yang menyantapnya.


Mereka berlima menyantap makanannya dengan sangat lahap. Sementara Azka karena lelah bermain, akhirnya dia tidur siang lebih awal. Tidak itu makan siang bersama.


Hari ini pak Sapta memang izin tidak masuk kerja. Karena putrinya yang selama hampir empat tahun itu pulang. Usai makan bersama Angga keluar sebentar. Dia akan menghubungi assistennya untuk mengurus bekas-bekas ke KUA. Rencananya dia akan menikahi Amalia, besok lusa. Tapi itupun harus dari persetujuan papanya Amalia.


"Nik, tolong kamu urus berkas-berkas ke KUA hari ini. Kamu urus salah satu anak buah kamu kesini," perintahnya pada Niko melalui ponselnya.


"Baik Pak. Saya akan mengurus anak buah saya untuk menemui bapak di Bogor," jawab Niko dengan nada hormat.


"Oh iya Pak, pak Dwi kemarin menemui saya. Beliau menanyakannya keberadaan Bapak," lanjut Niko memberi tahu informasi mengenai papanya Angga.


"Jangan dulu kamu bocorkan keberadaan saya di mana. Saya tidak ingin papa mengacaukan semuanya. Ya sudah saya tutup dulu telponnya." Setelah menutup telpon dari Niko Angga duduk di bangku di bawah pohon mangga depan rumah pak Sapta. Beberapa pekerja di kebun teh memperhatikan nya dari jalanan. Tapi Angga tak mau ambil pusing, yang penting baginya saat ini bisa bersatu dengan wanita pujaannya.


Pak Sapta yang melihat Angga duduk di bawah pohon, langsung menghampiri calon menantunya itu. Dia pun ikut duduk disana.


"Pa saya rencananya akan segera menikahi Amalia," ujar Angga pada calon mertuanya. Pak Sapta yang mendengar hal itu langsung menghadap ke arah Angga.


"Apa tidak terlalu kecepatan Nak. Mengingat kamu belum mendapat restu dari orang tua kamu."


"Saya tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi Pa. Saya janji setelah pernikahan kami nanti, saya sendiri yang akan membujuk orang tua saya. Lagipula Mama saya sudah merestui hubungan kami. Hanya tinggal Papa yang belum," jelas Angga.


"Saya juga sudah mengutus anak buah saya untuk mengurus semuanya," lanjutnya kemudian. Psk Sapta hanya bisa pasrah dengan keputusan Angga. Apalagi mengingat cucunya memang sangat dekat dengan ayahnya. Jadi pak Sapta tidak punya alasan lagi untuk menunda pernikahan putrinya dengan Angga.


Disaat mereka sedang asik berbincang. Azka yang bangun dari tidurnya langsung mencari ayahnya. Begitu melihat Angga dan pak Sapta sedang berada di bawah pohon, anak itu langsung berlari menuju ke arah ayah dan kakeknya itu.

__ADS_1


"Ayah, kita jalan-jalan yuk. Lihat kebon teh disana." Azka menunjuk kearah perkebunan.


"Masih panas, Sayang nanti sore aja. Ya!" jawab pak Sapta mencoba memberi pengertian kepada cucunya.


"Benelan kakek. Nanti cole, kita jalan-jalan." Pak Sapta pun mengangguk. Azka langsung berjingkrak senang. Karena mau diajak jalan dengan kakeknya.


Amalia yang membawa mangkok berisi makanan Azka, pun ikut gabung dengan mereka bertiga. Karena andilnya belum makan, akhirnya dia menyuapi agar Azka mau makan.


"Azka maem dulu ya, sama tempe goreng dan sayur asem kesukaan Azka." Amalia pun menyuapkan makanan kedalam mulut anaknya.


"Am, Lusa kita neniksh," ujar Angga membuat Amalia terkejut.


"Lusa? Apa gak kecepatan?" cecarnya kemudian. Psk Sapta pun tersenyum melihat reaksi putrinya. Yang mirip dengan reaksinya tadi.


"Sepertinya calon suamimu sudah tidak sabar ingin segera memiliki mu, Am!" Sahut pak Sapta, Angga pun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Boleh Bun, Yah," pinta Azka pada kedua orangtuanya.


"Nggak boleh," jawab Angga dan Amelia kompak.


"Lo kenapa? Biar kalian bisa cepat bikinin adek untuk Azka. Ya kan Sayang." Pak Sapta mencoba memprovokatori cucunya untuk tetap tinggal bersamanya.


"Adek, Azka mau adek. Azka mau kayak adek seni," ujar Azka menyebutkan nama anak perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah nek Asih.


"Papa apaan sih, bilang seperti itu di depan Azka." Amalia merajuk karena papanya terus-menerus menggodanya.


"Papa cuma mau kamu bahagia Am. Setelah apa yang terjadi padamu tiga tahun belakangan ini. Papa ingin kamu bahagia bersama keluarga kecil kamu." Pak Sapta melihat kearah putrinya.

__ADS_1


Sepertinya baru kemarin Amalia meminta uang jajan untuk pergi kesekolah. Sekarang anak perempuannya itu sudah menjadi seorang ibu. Rasanya pak Sapta masih belum percaya. Sekarang putrinya tumbuh menjadi seorang wanita yang mandiri. Mengingat penderitaan yang putrinya alami selama hidup dijakarta. Dia harus bekerja keras untuk membantu dirinya menyekolahkan adiknya. Jika ingat itu, dada pak Sapta menjadi sesak. Sekarang putrinya sudah menemukan kebahagiaan bersama lelaki yang dicintainya. Itu sebuah kebanggaan bagi seorang ayah, seperti pak Sapta yang merasa selama ini belum bisa membahagiakan putrinya itu.


Sesuai janjinya siang tadi. Sore itu pak Sapta mengajak cucunya untuk jalan-jalan ke sekitaran perkebunan. Kebetulan para pekerja pun sudah mulai beranjak pulang. Pak Sapta mengajak Azka ke sungai yang tak jauh dari tempat ia bekerja.


Kebetulan ada ibu-ibu yang sedang mencuci disana. Kedatangannya pun menjadi pusat perhatian ibu-ibu tadi.


"Wah, anak siapa itu Pak Sapta? Meneh kasep pisan?" tanya Bu Retno yang sedang melihat kearah Azka.


"Ini cucu saya. Anaknya Amalia," jawab pak Sapta jujur.


Jawaban dari pak Sapta langsung membuat para ibu-ibu itu berbisik-bisik. Sepertinya mereka sedang membicarakan Amalia. Pak Sapta pun langsung melanjutkan perjalanannya untuk menyusuri sungai yang masih terlihat jernih itu.


"Pak Sapta, kok bisa Amalia sudah punya anak. Emangnya dia udah nikah?" Bu Tari pun memberanikan diri untuk bertanya hal itu pada papanya Amalia.


Seketika pak Sapta diam. Dia bingung harus menjawab apa pertanyaan Bu tari tadi.


"Atau jangan-jangan Amalia hamil diluar nikah?" celetuk Bu Siti yang membuat hati pak Sapta terasa sakit.


"Wah kalau sampai itu benar. Berarti anak itu anak garam dong," sahut Bu tari lagi.


Merasa sudah tersudut akhirnya pak Sapta mencari cara agar ibu-ibu itu tidak semakin menjadi. Pak Sapta tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang Amalia. Bisa-bisa anaknya akan diusir dari kampung itu kalau mereka tahu Amalia hamil di luar nikah.


"Jadi gini ibu-ibu, Amalia memang sudah menikah siri di Jakarta. Jadi dia datang kemari untuk mengurus legalitas dokumen pernikahan mereka," kilah pak Sapta pada ibu-ibu tadi.


"Kok bapak gak jadi walinya kalau benar mereka sudah menikah?" Sepertinya mereka belum percaya seratus persen ucapan pak Sapta.


"Mereka nikahnya juga mendadak. Saya gak bisa hadir jadi wali. Tapi saya sudah wakilkan pada wali hakim kok. Ya sudah saya dan cucu saya pamit dulu, assalamualaikum." Pak Sapta membawa cucunya pergi dari tempat itu. Mereka akan kembali kerumah.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2