
"Inalillahi wa innailaihi roji'un, maaf sayang. Aku gak tahu," ujar Amalia tak enak hati.
"Nggak apa, sayang. Kakak meninggal karena ditusuk oleh seseorang. Tapi pelakunya udah masuk ke penjara, kok!" Sesaat kemudian Azka menarik tangan bundanya untuk mengantarnya ke kamar mandi.
"Bun, Azka kepingin pipis," keluhnya memegangi celananya. Melihat hal itu, Amalia langsung membuka celana anaknya dan mengantarnya ke kamar mandi.
Sementara Angga menyiapkan sajadah, untuk mereka sholat bersama. Angga memang lebih rajin beribadah semenjak diingatkan Afdal waktu itu. Itu dia lakukan karena dia sangat bersyukur karena bisa bertemu istri dan anaknya sekarang. Usai menyiapkan semuanya, Angga menyusul istri dan anaknya ke kamar mandi. Setelah itu mereka sholat magrib bersama.
Selepas sholat magrib, Amalia berniat akan membantu menyiapkan makan malam di meja makan. Kebetulan disitu sudah ada mertuanya yang tengah membawa semangkuk sayur SOP ditangannya.
"Ma, biar Am bantu." Amalia mengambil mangkuk itu dari tangan mertuanya. Dan mertuanya sangat senang. Ternyata dugaannya salah, wanita yang dicintai anaknya adalah wanita jahat serakah. Tapi tidak dengan menantunya itu. Dia bisa melihat ketulusan dari dalam hati Amalia.
"Sayang, terimakasih ya. Kamu sudah bujuk Angga untuk pulang ke rumah. Mama sangat tersiksa saat dia pergi. Mama kangen anak Mama satu-satunya itu." Bu Renata menatap kosong ke arah meja makan. Dia teringat saat dia terbaring sakit karena rindu dengan putranya itu.
"Itu sudah kewajiban saya, mengingatkan suami saya, Ma. Sebenarnya dari awal, Am udah ingatkan Mas Angga untuk menemui Papa dan Mama. Tapi, Mas Angga menolaknya," balas ibu muda itu merasa tidak enak. Karena dia, Bu Renata sampai sakit.
"Wajar Angga bersikap seperti itu. Setelah apa yang dilakukan papanya pada kalian berdua. Mama senang, kamu sudah memaafkan kami." Bu Renata langsung menekuk menantunya itu. Bahkan dia berfikir, kalau Angga tidak salah pilih dalam mencari seorang istri.
Sebuah deheman membuat mereka berdua saling melepaskan pelukan. Pak Dwi yang baru saja datang ke meja makan, melihat istri dan menantunya terlihat akur. Ada perasaan sedikit rasa bersalah. Mungkin benar, selama ini dia sudah salah menilai menantunya itu.
"Sayang, susul dulu suami dan anakmu di kamar untuk makan malam bersama," titah Bu Renata pada menantunya.
"Iya, Ma." Ibu muda itu berjalan menuju ke kamarnya untuk memanggil suami dan anaknya.
__ADS_1
Sepeninggal menantunya. Bu Renata ikut gabung dengan suaminya. Dia duduk di sisi kiri pak Dwi. Dia bisa melihat dengan jelas, kalau suaminya itu belum sepenuhnya menerima kehadiran Amalia.
"Pa, sampai kapan Papa akan bersikap dingin sama Amalia, Pa?" Bu Renata mencoba membuka suara setelah keheningan mencengkeram keduanya.
"Pa, walau bagaimanapun anak kita sudah Mencintainya. Apa Papa tega, melihat anak kita menderita." Pak Dwi masih membisu.
"Mama mohon, Papa buka hati ya buat menantu kita." Tak lama setelah itu, Angga dan anak istrinya datang ke tempat itu. Mereka bertiga mengambil tempat masing-masing. Angga duduk di sisi kanan papanya, diikuti Amalia disamping suaminya. Sementara Azka, Andi itu duduk disebelah neneknya.
Mereka mulai mengambil makanan yang tertata di meja makan itu. Bu Renata yang melayani suaminya, dengan mengambilkan makanan di piring pak Dwi. Pun demikian dengan Amalia, dia juga mengambilalih makanan ke piring suami dan anaknya. Melihat keheningan di meja makan itu. Azka membuka suara.
"Kakek, Kakek kok gak pelnah ngomong sama Azka?" Pertanyaan itu tertuju pada pak Dwi. Pria itu langsung tersedak mendengar cucunya menyinggungnya.
"Kakek gak suka ya, sama Azka." Mendengar hal itu, Amalia memperingati anaknya dengan menggelengkan kepalanya kearah Azka.
"Sayang, Kakek bukan nggak sayang dengan Azka. Tapi, Kakek itu orangnya jarang ngomong," kilah Bu Renata menutupi sikap suaminya yang Dimata cucunya tidak suka padanya.
"Kek, Azka sayang Kakek. Azka mau Kakek juga sayang Azka." Tiba-tiba Andi itu turun dari tempat duduknya dan menuju kearah kakeknya. Setelah dekat dengan kakeknya, dua memeluk pinggang Pak Dwi.
Bu Renata, Angga dan Amalia tertegun melihat tingkah Azka. Dia begitu ingin dekat dengan kakeknya. Tapi, pak Dwi belum sepenuhnya menerima kehadirannya. Sesaat kemudian, Pak Dwi melepaskan tangan cucunya dari pinggangnya. Sikap pak Dwi membuat semua yang ada di situ merasa khawatir. Takut kalau pria itu akan memarahi Azka. Tapi di luar dugaan. Pak Dwi mengambil tubuh cucunya untuk diletakkan di pahanya. Dia memangku Azka. Seketika seisi ruangan itu tersenyum lega.
"Kata siapa Kakek gak sayang, Azka. Kakek juga sayang sama Azka." Pria itu tersenyum hangat pada cucunya, Azka yang melihat itu tertawa girang. Seperti seseorang yang mendapatkan hadiah.
"Makasih Kakek." Azka memeluk erat kakeknya. Betapa bahagianya hati kedua orangtuanya melihat kedekatan anak dan papanya. Akhirnya kebencian itu sirna, karena kehadiran Azka.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan malamnya. Pak Dwi dengan telaten menyuapi cucunya terlebih dulu. Baru setelah itu dia memakan makanannya. Dia sangat bahagia, keceriaan di meja makan seperti ini yang sangat ia rindukan. Kaos kesibukannya mengurus perusahaan. Dulu dia tidak pernah memperlakukan anak-anaknya seperti itu. Karena itu kedua anaknya memiliki pribadi yang dingin. Karena mereka kurang kasih sayang dari orangtuanya.
Adipati, kakak Angga. Dia cenderung menjadi pria yang egois. Semua kemauannya harus ia dapatkan. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu. Karena itu, dia memiliki banyak musuh di kampus nya. Salah satunya, yang membunuhnya.
Usai makan malam mereka berbincang-bincang di ruang keluarga. Sesekali mereka tergelak mendengar cerita bocah gembul itu. Azka memang sangat pandai mencairkan suasana. Tak heran siapapun yang melihat anak itu, pasti akan langsung jatuh hati padanya.
"Azka, bobo sama Kakek dan Nenek, ya!" ujar Bu Renata pada cucunya. Bocah itu tampak berfikir, sesaat kemudian mengangguk setuju.
"Ya udah, pamit dulu sama Ayah dan Bunda," titah wanita yang masih terlihat cantik itu, walau usianya tak muda lagi pada Azka. Mendengar perintah dari neneknya, bocah itu mendekati ayah bundanya dan berpamitan pada mereka. Tak lupa cipaka cipiki terlebih dulu.
Bu Renata membawa cucunya ke kamar. Tinggal mereka bertiga yang berada di tempat itu. Suasana berubah menjadi hening, namun setelah itu pak Dwi berbicara.
"Amalia, Papa minta maaf, ya! Papa sudah salah menilai mu," ucapnya pada menantunya. Amalia menjadi tersentuh mendengar pengakuan maaf dari pria itu.
"Pa, biarlah semua itu menjadi kenangan buruk untuk Amalia. Amalia sudah memaafkan Papa, jauh sebelum Papa minta maaf pada Amalia." Pun sama dengan pria itu. Dia begitu terenyuh melihat ketulusan menantunya.
"Kamu memang tidak salah memilih istri, Ngga. Maafin Papa, ya!" Pria itu kemudian tersenyum kearah Angga sembari menepuk pelan pundak anaknya.
"Makasih Pa." Angga pun membalas senyuman untuk papanya. Sekarang diantara mereka sudah tidak ada lagi kecanggungan lagi. Psk Dwi sesekali menggoda menantunya dengan mengatakan kalau menantunya itu cantik. Itu membuat Angga menjadi sangat bahagia. Kini keluarganya menjadi keluarga yang utuh.
Harapannya hanya satu, kelak keutuhan itu tidak akan terpisah lagi.
To be continued
__ADS_1
Udah author wujudkan ya, Psk Dwi menerima Amalia dsn Azka dengan sepenuh hati.
Pokoknya nanti kalau author buat konflik. Jangan dihujat... Ok