
Angga meraih ponselnya di saku jasnya, setelah itu dia menelpon pengacaranya supaya mencabut kasus itu dari kepolisian.
"Saya sudah cabut kasus itu, sekarang lepaskan istri saya!!" Teriak Angga diikuti tawa lepas dari Valentino.
"Tidak semudah itu, kalau di lihat-lihat istri kamu cantik juga. Aku akan bersenang-senang dulu dengan dia." Ucapan Valentino membuat darahnya Angga mendidih. Sehingga dia tidak bisa mengontrol lagi dirinya dan berlari mendekati mereka berdua.
"Jangan coba-coba melangkah atau gue gak segan-segan gorok leher istri kamu!!!" teriak Valentino mundur satu langkah.
"Lepaskan dia brengsek!!!! Saya sudah melakukan perintah kamu. Sekarang lepaskan dia." Angga terus meminta untuk Valentino membebaskan istrinya. Tapi pria itu memang licik dan tamak. Sambil menyeret Amalia kebelakang Valentino membawa wanita itu di sebuah ruangan.
"Lepaskan saya! Lepaskan." Amalia mencoba memberontak. Tapi tidak dihiraukan oleh Valentino.
"Valentino... Lepaskan istri saya!!!!" Teriak Angga frustasi. Dia benar-benar Dejavu sekarang. Angga hanya bisa mengacak-acak rambutnya.
Pergerakan Valentino terhenti, saat Kevin yang berada tidak jauh dari dia, dengan sempoyongan menendang tangannya yang masih membawa pisau, hingga pisau itu terjatuh di lantai. Merasa ada celah Angga langsung mendekat kearahnya dan memukulnya hingga Amalia terbebas dari dia. Semua yang ada di tempat itu terlibat baku hantam. Dengan lawan satu-satu.
Amalia mencari tempat yang aman untuk dirinya. Angga menghajar Valentino hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai. Tak jauh dari tempat dia jatuh, pisau yang ia gunakan untuk mencengkeram Amalia ada di situ. Tanpa disadari oleh Angga, Valentino menyaut pisau itu dan berdiri, kemudian dia langsung menunsukkan pisau itu di perut Angga, tapi sayang pergerakan Valentino di ketahui oleh Amalia, dengan cepat wanita itu menghalangi tubuh Angga dengan tubuhnya sehingga pisau yang seharusnya mengenai perut Angga. Kini pisau itu menancap di perut Amalia.
Jleb....darah segar langsung mengalir di tempat itu, bersamaan dengan itu tubuh Amalia roboh ditangan Angga.
"Sayang!!!!!" Teriak Angga histeris. Amalia masih memegangi perutnya yang tertancap pisau. Sesaat kemudian polisi menembakkan senjatanya ke udara sebagai peringatan, sehingga tidak ada pergerakan dari mereka. Dengan cepat polisi mengamankan Valentino dan anak buahnya.
Delon berlari menghampiri Angga dan Amalia. Pria itu tak kalah terkejutnya, sehingga dia gemetar melihat adiknya sudah terkulai lemas bersimbah darah.
"Cepat telpon Ambulance!!!" seru Delon pada siapa saja yang ada di tempat itu.
"Kelamaan." Angga berdiri dan membopong tubuh istrinya, seraya berteriak, "sayang kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku. Sayang!!!" Angga terus berlari membawa Amalia keluar dari tempat itu, diikuti oleh Delon dan yang lainnya. Delon dengan sigap membuka pintu mobil, dan membantu Angga untuk bisa masuk bersama adiknya. Setelah mereka berdua masuk. Delon yang mengalihkan pengemudinya. Dia yang membawa mobil Angga menuju rumah sakit yang terdekat. Mobil Niko hanya mengekor di belakangnya.
Di tempat lain.
Azka yang sedang makan siang ditemani oleh bi Lastri, tiba-tiba tangannya menyenggol gelas di atas meja. Sehingga gelas itu jatuh ke lantai dan pecah. Disaat bersamaan teriakan Azka membuat bi Lastri. "Bunda!!!!!Hua..Hua .." Mendengar cucunya menangis pak Dwi dan Bu Renata langsung datang menghampiri. "Azka mau bunda...bunda...huahuaa.."
"Ada apa Bi?" tanya Bu Renata yang langsung menggendong cucunya.
"Den Azka menjatuhkan gelas Nya, dia manggil-manggil Nyonya Amalia," jelas Bu Lastri, setelah itu dia berlari kebelakang untuk mengambil sapu dan tempat sampah untuk membersihkan pecahan gelas itu.
"Sayang, Azka cucu Nenek yang ganteng. Kita keluar yuk! Cari es krim." Bu Renata mencoba mengalihkan perhatiannya Azka agar tidak memanggil-manggil bundanya.
"Pa, perasaan Mama kok gak enak ya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada mereka," ucap Bu Renata pada suaminya.
"Papa coba hubungi Angga, gimana keadaan mereka," lanjut Bu Renata meminta suaminya untuk menghubungi anaknya. Tanpa menunggu lama lagi, pak Dwi sibuk dengan ponselnya.
"Azka mau bunda...mau bunda," rengek anak itu tak berhenti menangis.
"Iya sayang. Nanti kita ketemu bunda, ya!!" ujar Bu Renata menenangkan cucunya. Tapi Azka memang seperti sudah ada firasat buruk pada bundanya sehingga berbagai cara dilakukan oleh Bu Renata untuk menenangkan anak itu tidak berhasil.
"Gimana, Pa?" Pak Dwi memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Nggak diangkat, Ma!"
"Astaghfirullah, semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka." Azka terus menangis dan tidak mau diam. Anak itu semakin menjadi. Sampai-sampai Bu Renata kualahan menghadapi kerewelan cucunya itu. Dan digantikan oleh pak Dwi yang mengerahkan ide-idenya agar cucunya tidak rewel lagi. Tapi sepertinya tidak mempan, hingga anak itu kecapekan menangis dan tidur dalam gendongan kakeknya.
Diwaktu yang sama. Bu Leha yang sedang beberes rindu tiba-tiba foto Amalia yang menempel jatuh kelantai hingga pecah kaca bingkainya. "Astaghfirullahalladzim, ada apa ini?" Mendengar teriakkan Bu Leha mengundang perhatian pak Sapta yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Ma?" Pak Sapta langsung menghampiri Bu Renata yang sedang membersihkan pecahan kaca bingkai foto itu.
"Foto Am, jatuh pak," jawab Bu Renata. "Kok perasaan Mama gak enak ya Pa. Apa terjadi sesuatu pada anak kita!" Bu Renata memegangi dadanya yang berdebar tak menentu.
"Iya, papa juga ngerasa sama Ma. Coba kita hubungi Angga, apa dia sudah berhasil membebaskan Amalia dari penculiknya." Bu Renata mengangguk. Setelah itu pak Sapta memainkan ponselnya dan menghubungi menantunya. Tapi tidak mendapat balasan. "Nggak diangkat, Ma." Pak Sapta menghela nafasnya panjang. "Semoga gak terjadi apa-apa pada mereka," lanjutnya dan di aamiin kan oleh Bu Leha.
Di perjalanan menuju ke rumah sakit. Darah yang ada di perut Amalia masih merembes hingga mengenai pakaian Angga. Bulir keringat dingin sudah terlihat di sisi dahi wanita itu. Tubuhnya pun sudah semakin dingin. Keadaan Amalia membuat Angga khawatir. "Sayang, kamu harus kuat... Sayang jangan tinggalin aku dan Azka!!!" Angga menciumi bertubi-tubi tangan istrinya. Perlahan mata wanita itu terbuka. Dia tersenyum simpul melihat suaminya ada di sana. "Sayang kamu sadar. Sayang!!!" Angga terlihat senang, tapi dia juga panik karena wajah Amalia semakin pucat. "Kamu harus kuat, demi anak kita," ucap Angga memegang erat tangan wanita itu.
"Sa-yang maafin aku." Wanita itu kembali tak sadarkan diri. Angga pun berteriak sejadi-jadinya.
"Sayang, bangun sayang. Amalia!!!!"
Mobil itu sampai di rumah sakit yang terdekat dari tempat kejadian. Beberapa perawat mendorong brangkar menuju ke mobil mereka. Dengan di bantu oleh perawat itu, tubuh Amalia berhasil di keluarkan dari mobil itu. Mereka kemudian mendorong brangkar itu menuju ke tempat UGD.
"Sayang kamu harus kuat!!!!" Angga tak henti-hentinya menguatkan Amalia, hingga mereka sampai di ruang itu. Mereka harus memisahkan diri. Amalia di bawa masuk kedalam. Angga ingin ikut masuk kedalam tapi di cegah oleh perawat yang bertugas.
"Maaf Pak, anda sebaiknya tunggu diluar." Delon merengkuh pundak iparnya dan membawanya duduk di kursi yang berada di seberang ruangan itu.
"Kita tunggu disini, Ngga. Amalia akan baik-baik saja." Delon merangkul pundak iparnya dan menguatkan Angga.
"Ngga kamu harus tenang. Kita doakan agar Amalia bisa selamat, ya!" Melihat kegelisahan iparnya membuat Delon membuka suara.
Tapi ucapan Delon tak diindahkan oleh pria itu. Angga masih tetap hilir mudik, berjalan di tempat yang sama. Hingga langkahnya terhenti saat dokter keluar dari ruang itu. Angga langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Angga harap-harap cemas.
"Luka tusukan nya cukup dalam sehingga mengenai organ dalam istri Bapak. Kami akan melakukan operasi untuk menyelamatkan istri Bapak," jelas dokter itu.
"Lakukan! Lakukan yang terbaik untuk istri saya!!" ucap Angga masih dengan kekhawatirannya.
"Baiklah kalau gitu. Kami akan persiapkan semuanya." Dokter itu kembali masuk kedalam untuk menyiapkan operasi pasiennya.
Sementara Angga, dengan lunglai dia duduk di sebelah Delon. Dengan tatapan kosong, dia menatap lantai tempat itu. Selang beberapa saat handphonenya berdering. Rupanya telpon dari papanya. Angga langsung mengangkatnya.
"Ngga, gimana? Kalian ada dimana sekarang?" cecar pak Dwi dari balik telponnya.
"Angga di rumah sakit, Pa. Amalia ditusuk oleh Valentino," jawab Angga dengan suara berat.
"Inalillahi, ya sudah papa akan kesana sekarang!!" Pak Dwi menutup telponnya. Dia langsung memberitahu pada istrinya tentang keadaan menantunya.
"Ya Allah Pa, terus gimana keadaan Amelia sekarang." Reaksi Bu Renata yang begitu panik mendengar berita itu.
__ADS_1
"Papa belum tahu, Ma. Kita kesana sekarang. Kita bawa Azka juga, nanti Bi Lastri kerepotan kalau sampai anak itu rewel lagi." Pak Dwi mengambil kontak mobilnya yang ada di atas meja ruang tengah. Sementara Bu Renata, dia pergi ke kamar Azka untuk membangunkan anak itu.
"Azka, sayang! Bangun sayang!" panggil Bu Renata saat dia sudah berada di ranjang Azka. Dia menepuk-nepuk halus pipi cucunya agar anak itu terbangun dari tidurnya. Sepertinya efek kelelahan hingga tak ada pergerakan sedikit pun dari anak itu. "Ya ampun, kasihan kamu sayang. Pasti kamu lelah, Azka bangun sayang. Kita ketemu Ama bunda, yuk!!!" Mendengar nama bundanya di sebut, anak itu langsung membuka matanya.
"Nenek, Bunda dimana?" tanya Azka dengan polos.
"Kita ke rumah sakit ya, sayang!" jawab Bu Renata mengangkat tubuh cucunya.
"Huaaaaa bunda Azka sakit....huaaaaa." Tangis anak itu pecah lagi. Bu Renata langsung membawa keluar Azka menuju ke garasi untuk segera ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan pun anak itu masih saja menangis. Membuat sepasang suami istri itu menjadi panik. Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Tempat Amalia di rawat. Niko sudah menunggu kedatangan mereka, dan langsung mengantarnya di tempat Angga.
"Ayah!!! Mana bunda?" teriak Azka lari menghampiri ayahnya. Pria itu langsung menyambut kedatangan putranya. Sebelum bicara pada Azka, Angga menghapus sisa-sisa air matanya. Dan sedikit menenangkan dirinya.
"Bunda ada di dalam, sayang. Bunda masih diobati oleh dokter. Kita tunggu disini, dulu ya!" Azka mengangguk patuh.
Pandangan pak Dwi berpusat pada Delon. Pria yang dituduh membunuh anaknya, pria yang di beratkan hukumannya oleh dia. Sama, Delon pun memandang wajah pak Dwi secara seksama. Namun, tidak ada kebencian di dalamnya.
"Pak Dwi, apa kabar?" sapa Delon ramah. Pria paruh baya itu begitu tertegun melihat keramahan Delon padanya, setelah apa yang dia perbuat pada Delon.
"Alhamdulillah, baik," balas pak Dwi dengan suara bergetar.
Pak Dwi sempat berfikir kenapa pria itu ada di sana. Bukankah mereka sudah tidak ada urusan lagi. Beberapa pertanyaan terlintas di benak pria paruh baya itu.
Akhirnya pak Dwi mendekat kearah Angga dan Delon. Begitupun juga dengan Bu Renata. Delon memberi tempatnya untuk pak Dwi dan memilih untuk berdiri karena bangku yang tersedia disitu tidak cukup untuk mereka duduki. "Terimakasih," ucap pak Dwi pada Delon, pria itu hanya tersenyum dan mengangguk sebagai balasan ucapan terimakasih dari pak Dwi.
"Gimana keadaan Amalia, Ngga?" tanya pak Dwi beralih menatap putranya.
"Amalia sedang menjalani operasi, karena tusukannya agak dalam sehingga mengenai organ dalam tubuh Amalia," jelas Angga mereka berdua menghela nafasnya berat.
"Kita doakan saja untuk kesembuhan Amalia," sahut Delon.
"Ayah, Azka mau berdoa di mushola. Azka mau doa bial bunda cepat sembuh," ucap anak itu memandang wajah ayahnya.
Hati Angga begitu tersentuh, melihat kecerdasan dan ketulusan putranya. Angga mengelus-elus rambut anaknya dan berkata, "iya, kita ke mushola sama-sama ya." Azka mengangguk.
Angga mengangkat dirinya dari kursi itu. Dia akan mengantar anaknya untuk berdoa di mushola rumah sakit. Sebelumnya, dia pamit pada ipar dan kedua orangtuanya. "Pa, Ma, Kak, Angga antar Azka ke mushola dulu."
"Ngga, saya ikut. Semakin banyak yang mendoakan adik saya. Semakin cepat Allah menyembuhkan dia." Angga mengangguk, mereka bertiga akhirnya pergi menuju ke mushola meninggalkan Bu Renata dan pak Dwi di tempat itu.
Namun ada yang mengganjal pikiran pria paruh baya itu. Saat mendengar kalimat terakhir dari Delon tadi. Adik, kata itu terngiang-ngiang di benak pak Dwi. Setelah itu dia mulai menghubung-hubungkan dengan kejadian yang sedang mereka alami hingga dia memberi kesimpulan. Apa mungkin Amalia, adik dari Delon. Anak dari Saptaradja, musuhnya dulu.
Pikiran pak Dwi menjadi kacau. Dia menebak-nebak sendiri masalah itu. Hingga pertanyaan Bu Renata membuyarkan lamunannya.
"Pa, pria itu tadi siapa? Dia bukan Niko, kan? Niko yang jemput kita tadi, setelah itu dia pergi dari sini?" cecar Bu Renata penuh selidik. Pak Dwi menghela nafas panjang. Dia juga bingung harus bagaimana menjelaskan istrinya tentang pria itu. Yang dia tahu Delon adalah tersangka yang dibebaskan karena terbukti tidak bersalah atas kematian anak pertamanya.
"Papa kok diem, sih!"
__ADS_1
"Papa juga gak tau, Ma!" kilah pak Dwi pasrah. Dia masih belum bisa mengatakan kebenaran itu pada istrinya. Takut jika istrinya akan terserang panik mendadak bila tahu hal yang sebenarnya. Dia gak sanggup, jika itu terjadi. Mungkin benar apa yang dikatakan Angga, untuk tidak memberi tahu dulu hal itu pada mamanya.