
Genap satu bulan jenazah Pak Dwi di kebumikan. Luka yang dirasakan Bu Renata masih sangat membekas, tapi tak lantas dia menyalahkan siapapun atas kepergian suaminya. Dia menganggap semua yang terjadi pada suaminya adalah takdir dari sang pencipta, pun dengan Angga. Pria itu sekarang lebih menghabiskan waktu di rumah. Pekerjaannya dia limpahkan pada Delon dan assistennya. Dia harus menjaga dua wanita yang dia cintai, dan buah hatinya.
Mereka bertiga sangat terpukul, dengan kepergian pak Dwi. Terlebih Azka, anak itu selalu memanggil kakeknya jika sedang tidur. Angga tidak menyangka sedalam itu rasa sayang anaknya terhadap papanya.
"Mas, kita sarapan yuk!" ajak Amalia saat Angga dihalaman belakang dengan anaknya. "Mama udah nungguin!" lanjutnya.
Angga menghentikan aktivitasnya yang sedang memberi makan ikan-ikan kesayangan Papanya bersama Azka, saat istrinya memanggilnya untuk sarapan. "Kita sarapan dulu, ya sayang. Nanti kita main lagi sama bini dan lili!" Angga mengajak Azka untuk mencuci tangannya terlebih dahulu di kran, tak jauh dari kolam ikan itu berada. Setelah itu, mereka bertiga menuju ke ruang makan, untuk sarapan bersama.
"Nenek!!!" sapa Azka saat mereka sudah di meja makan dan Bu Renata yang masih menata piring di meja.
"Iya cucu Nenek. Kenapa?" Bu Renata beralih pada cucunya yang sudah berdiri di sebelahnya. "Azka mau sarapan pake apa, hari ini?" tanyanya pada Azka. Bocah itu terlihat sedang mikir, dengan tawaran neneknya.
"Azka mau makan sereal di kasih susu. Tapi susunya yang coklat, boleh?" Bu Renata tersenyum, sambil mencubit kecil pipi gembul cucunya.
"Boleh, dong sayang. Nenek buatin dulu, ya!" Azka mengangguk. Tapi saat Bu Renata akan beranjak ke dapur, di cegah oleh Amalia.
"Ma, biar Am aja yang buatin serealnya. Mama sarapan dulu aja!."
"Makasih ya sayang," ucap Bu Renata kembali ke meja makan. Sementara Amalia, dia sudah berjalan kedapur.
"Azka gak mau nasi goreng, sayang. Sini Ayah suapin!" tawar Angga yang sedang menikmati nasi goreng buatan istrinya.
Azka melirik sekilas Ayahnya yang begitu menikmati nasi gorengnya, sehingga membuat air liurnya keluar. "Aaaa." Satu suapan nasi goreng dari Ayahnya mendarat cantik di mulut Azka. "Enak, kan!"
"Iya, Yah. Azka mau lagi," ucap anak itu membuat Ayah dan Neneknya tersenyum.
__ADS_1
"Mau lagi, tapi makan sendiri ya. Azka kan udah gede, bentar lagi akan punya Dede. Jadi, Azka harus belajar mandiri. Ok."
"Ok, Ayah!" Angga menyendokkan nasi goreng kedalam piring Azka, setelah itu mulai di lahap anak itu.
Amalia yang dari dapur membawa pesanan anaknya, hanya bisa menggeleng melihat Azka begitu menikmati nasi gorengnya. Dia mendekat kearah Azka, dan meletakkan semangkok sereal dan susu coklatnya. "Sayang, ini serealnya gak di makan?" Azka melirik kearah semangkuk sereal itu. Sebenarnya dia ingin, tapi perutnya sudah kenyang dengan nasi gorengnya. Kemudian Azka menoleh kearah Ayahnya, untuk meminta pertolongan.
"Bun, serealnya buat Ayah aja. Kayaknya Azka udah kenyang, deh. Iya kan, sayang!" Melihat mimik takut dari wajah anaknya, akhirnya Angga mengambil semangkuk sereal itu dan langsung melahapnya. Seketika wajah Azka terlihat ceria lagi.
"Makasih, Ayah!"
Merasa menikmati sarapannya, senyum Bu Renata sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat. Apalagi, kalau melihat tingkah konyol cucunya. "Oh, iya Ngga. Kamu kok gak ke kantor? Mama udah gak apa, sayang," ujar Bu Renata. Bu Renata tidak ingin Angga mengorbankan pekerjaannya hanya untuk menemani dia yang masih belum bisa melupakan almarhum suaminya.
"Iya Ma. Nanti Angga akan ke kantor. Semalam Kak Delon menghubungi Angga, ada berita penting katanya." Bu Renata senang, karena Angga sudah mulai beraktivitas lagi di kantornya.
Delon yang di beri tahu sekertarisnya, kalau atasannya sudah datang langsung menemui Angga di ruangannya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada adik iparnya terkait dengan sebuah flashdisk yang ia temukan di laci meja kerjanya. Delon sekarang, menjabat sebagai kreator di perusahaan itu, jabatan itu sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah dulu. Tugasnya yaitu mencari ide untuk produk-produk yang akan di kelola perusahaan itu.
"Ngga, boleh Kakak masuk?" sapanya saat dia di depan pintu ruangan Angga.
"Iya, Kak. Masuklah!"
Setelah mendapat persetujuan dari Angga, Delon masuk kedalam. Dia langsung duduk di seberang Angga. Tampak jelas dari raut wajah Delon, kalau akan ada masalah penting yang akan dia sampaikan. "Ada apa Kak? Apa ada masalah?" Melihat itu, Angga langsung bertanya pada Delon.
"Ngga, Kakak menemukan flashdisk ini di laci meja Kakak. Dan kamu tahu ini isinya apa?" Angga mengajari flashdisk yang di letakkan di meja oleh Delon.
"Apa ini Kak, isinya?" tanya Angga mengambil flashdisk itu.
__ADS_1
"Itu adalah salinan produk yang akan di rilis perusahaan Papa 10 tahun lalu. Yang membuat saya bingung, kenapa flashdisk itu ada di sini?" Angga menatap ke manik mata kakak iparnya. Dia juga tidak tahu jawaban dari kakak iparnya. "Karena dokumen itu saya yang membuatnya, dan produk itu tercetuk dari ide saya sendiri!"
Angga mulai membuka flashdisk itu dari labtobnya. Dan dia mencoba mengingat-ingat produk yang di terangkan di dalam flashdisk itu. Setelah dia ingat. "Angga ingat Kak, produk ini yang mengantar kejayaan Papa pada saat itu. Tapi... Kok!" Kalimat Angga terhenti, dia juga sedang berfikir. "Atau jangan-jangan."
"Ada yang menjual ide produk dari perusahaan Papa!" lanjut Delon.
"Tepat, itu juga yang terlintas di benak Angga."
"Dan kamu tahu, karena perubahan milik Pak Dwi yang merilis dulu prudok itu, investor yang menanamkan modalnya di perusahaan Papa langsung mencabut investasinya. Karena mereka mengira, perusahaan papa kalah saing dengan perusahaan kamu ini."
Angga jadi ingat, setelah produk itu rilis. Banyak investor baru yang menanamkan modalnya di perusahaan Papanya. Dan setelah itu perusahaannya menjadi tenar di jamannya. Apapun prodak yang di keluarkan setelah itu menjadi membludak peminatnya. Yang menjadi pertanyaan Angga, siapa yang sudah menjual ide produk itu pada Papanya.
"Kakak ada petunjuk?" Yahya Angga sesaat membelah keheningan saat mereka sedang bermain-main dengan pikirannya.
"Saat itu yang menjabat sebagai kreator adalah Om Darusman, beliau yang harusnya bertanggung jawab atas kebocoran ini. Tapi, sekarang beliau tidak lagi bekerja di perusahaan samudra cinta." Mereka terdiam lagi. "Om, Guna. Delon yakin dia tahu masalah ini." Delon menyebutkan nama orang kepercayaan Papanya yang masih bertahan di perusahaan pak Burhan.
"Kita temui dia, Kak!" ujar Angga.
"Tunggu Ngga, kita jangan gegabah. Andai Papa kamu masih hidup, kita tidak usah repot-repot lagi menyelidiki masalah ini. Kita bisa langsung tanyakan pada beliau. Yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan Ngga. Dia orang yang licik. Atau jangan-jangan.." Delon menggantung kalimatnya, membuat Angga penasaran.
"Jangan-jangan apa, Kak?"
"Orang ini yang mengadu domba Papa kita!"
To be continued
__ADS_1